NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

3. TGD.3

Pagi itu, suasana di rumah kayu sederhana milik keluarga Shelly terasa berbeda. Bukan lagi aroma masakan biasa yang tercium, melainkan aroma haru yang memenuhi setiap sudut ruangan. Di dalam kamar kecilnya, sebuah koper tua milik Abangnya sudah terbuka di atas tempat tidur. Shelly sedang melipat beberapa potong pakaian sekolah yang masih layak pakai dan beberapa baju rumah kesayangannya.

“Nduk, ini bawa sambal teri kesukaanmu sama serundeng. Nanti kalau di kos belum sempat beli makan, bisa makan pakai ini dulu,” suara Ibu terdengar dari ambang pintu. Beliau membawa beberapa toples kecil yang dibungkus rapi dengan kain.

Shelly mendongak, matanya sedikit sembab. “Ibu jangan banyak-banyak, nanti berat bawaannya di bus.”

Ibu hanya tersenyum tipis, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya yang kasar mulai membantu Shelly merapikan pakaian. “Di kota nanti jangan telat makan. Jangan karena sibuk tugas kuliah, kamu lupa sama badan sendiri. Kabari Ibu sama Bapak kalau sudah sampai.”

Shelly mengangguk, ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Baginya, melipat baju-baju ini seperti melipat kenangan masa kecilnya untuk disimpan rapat-rapat. Ia akan pergi jauh, melintasi kabupaten, menuju kota besar yang belum pernah ia injaki sebelumnya.

---

Satu jam kemudian, mereka semua sudah berkumpul di depan halaman rumah. Sebuah mobil travel yang akan membawa Shelly ke terminal kota sudah menunggu di pinggir jalan. Bapak berdiri di dekat pagar, mengenakan topi capingnya seolah bersiap pergi ke sawah setelah ini, namun matanya tidak lepas menatap anak perempuan satu-satunya itu.

“Semua sudah masuk, Dek?” tanya Abangnya sambil memastikan koper dan tas besar Shelly sudah aman di bagasi mobil.

“Sudah, Bang,” jawab Shelly singkat. Suaranya bergetar.

Shelly mendekat ke arah Bapak. Ia meraih tangan pria tua itu dan menciumnya lama. “Pak, Shelly pamit. Doakan Shelly kuat di sana. Maaf kalau selama ini Shelly banyak salah.”

Bapak mengelus kepala Shelly dengan lembut. Tidak ada banyak kata yang keluar dari bibir pria pendiam itu, namun sorot matanya bicara lebih banyak dari ribuan kalimat. “Belajarlah yang rajin. Jangan pikirkan beban di sini. Sawah itu akan tetap Bapak jaga buat makan kita. Kamu fokus jadi orang sukses, biar nanti kalau Bapak sama Ibu sudah nggak ada, kamu bisa jaga adik-adikmu.”

Tangis Shelly pecah. Ia memeluk Bapaknya erat-erat, lalu beralih memeluk Ibu yang sudah terisak sejak tadi. Si bungsu, yang biasanya jahil, kini hanya terdiam lesu sambil memegangi ujung baju Shelly.

“Kakak jangan lama-lama ya di sana. Nanti nggak ada yang bantuin aku bikin PR,” gumam si bungsu sambil mengusap matanya yang mulai basah.

Shelly berlutut sebentar untuk memeluk adiknya. “Adek harus rajin sekolah juga. Bantu Ibu sama Bapak di rumah, ya. Jangan nakal sama Abang.”

Terakhir, Shelly menatap Abangnya. Abang yang sebelumnya menawarkan diri untuk merantau demi biayanya itu kini tersenyum tegar. Ia menepuk bahu Shelly dengan bangga. “Ingat janji kita, Dek. Kamu bawa ijazah sarjana, Abang yang jaga benteng di rumah ini. Pergilah, kejar mimpimu.”

---

Suara klakson mobil travel memecah keheningan haru itu. Shelly menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya. Ia melangkah masuk ke dalam mobil. Dari balik jendela kaca yang sedikit berdebu, ia melihat keluarganya berdiri berjajar di depan rumah kayu mereka.

Saat mobil mulai bergerak perlahan, Shelly melambaikan tangannya. Ia melihat Bapak yang masih berdiri tegak namun sesekali mengusap matanya dengan punggung tangan. Ia melihat Ibu yang bersandar pada bahu Abang sambil melambaikan sapu tangan kecilnya. Dan si bungsu yang berlari kecil mengejar mobil beberapa meter sebelum akhirnya berhenti dan melambai lesu.

Rumah itu semakin mengecil di kejauhan, begitu juga bayangan orang-orang yang paling ia cintai. Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan desa menuju kota, Shelly menggenggam erat tas ranselnya. Di dalamnya ada surat beasiswa dan doa-doa keluarganya yang ia bawa sebagai jimat paling sakti.

Shelly menyadari, perpisahan ini bukan untuk meninggalkan, melainkan untuk menjemput masa depan yang lebih baik bagi mereka semua. Di bawah langit yang mulai meninggi, ia berjanji dalam hati: ia akan kembali ke rumah ini bukan sebagai Shelly yang bimbang di depan tungku dapur, melainkan sebagai Shelly yang telah berhasil mewujudkan mimpi besar keluarganya.

Perjalanan baru saja dimulai, dan aroma tanah sawah Bapak serta masakan Ibu akan selalu menjadi kompas yang menuntunnya pulang suatu hari nanti.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!