NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 tahun bersama

London di musim gugur selalu memiliki aroma yang khas—perpaduan antara tanah basah, daun-daun maple yang mengering, dan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. Namun bagi Brixton Vance, musim gugur lima belas tahun yang lalu adalah awal dari sebuah badai yang ia ciptakan sendiri. Dan hari ini, tepat di tanggal yang sama dengan hari pernikahan mereka yang penuh air mata kala itu, Brixton ingin merayakan bagaimana badai tersebut telah berubah menjadi pelangi yang tak pernah pudar.

Ulang tahun pernikahan ke-15. Sebuah angka kristal.

Pagi itu, Brixton tidak membangunkan Alana dengan keributan. Ia membiarkan istrinya tertidur sedikit lebih lama, memandangi wajah Alana yang bagi Brixton sama sekali tidak berubah. Garis-garis halus di sudut matanya saat tersenyum justru menjadi peta perjalanan cinta mereka yang heroik. Brixton mengecup kening Alana pelan, membisikkan doa syukur yang sama setiap pagi selama lima belas tahun terakhir.

"Selamat ulang tahun pernikahan, Istriku," bisiknya.

Rencana hari itu adalah sebuah "Napak Tilas". Brixton telah menyiapkan sebuah mobil klasik—Rolls-Royce Silver Cloud—yang akan membawa mereka mengunjungi tempat-tempat yang menjadi saksi bisu transformasi cinta mereka.

Tujuan pertama mereka adalah sebuah taman kecil di pinggiran kota yang sudah sangat tua. Tempat itu adalah tempat di mana mereka pertama kali makan bersama sebagai suami istri setelah sebuah pertengkaran hebat di awal pernikahan.

"Kau ingat tempat ini?" tanya Brixton sambil membantu Alana turun dari mobil.

Alana menatap bangku kayu tua di bawah pohon ek besar. Ia tertawa kecil. "Bagaimana aku bisa lupa? Kau membawaku kemari dengan wajah marah karena aku tidak mau makan malam di rumah. Kau membelikanku fish and chips di pinggir jalan dan kita makan dalam diam selama satu jam."

Brixton tersenyum malu, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas minyak yang masih hangat. "Hari ini, aku tidak membawamu kemari dengan kemarahan. Tapi aku membawakan makanan yang sama."

Mereka duduk di bangku yang sama. Brixton menyuapi Alana potongan ikan goreng tersebut, persis seperti yang ia lakukan lima belas tahun lalu untuk merayu Alana agar berhenti menangis. Namun kali ini, tidak ada air mata kesedihan. Yang ada hanyalah tawa renyah saat Brixton secara tidak sengaja menjatuhkan saus tartare ke jas mahalnya.

"Dulu kau sangat angkuh, Tuan Vance. Kau bahkan tidak mau menyentuh saus itu dengan jarimu," goda Alana sambil membersihkan noda di jas Brixton.

"Dulu aku bodoh, Nyonya Vance. Aku tidak tahu bahwa kebahagiaan sejati justru ada pada noda-noda kecil seperti ini," jawab Brixton sambil menatap mata Alana dengan intens.

Perjalanan berlanjut menuju sebuah dermaga tua yang kini sudah dipugar menjadi area yang sangat romantis. Di tempat inilah, bertahun-tahun lalu, Brixton pernah membuang sebuah dokumen kontrak yang menjadi simbol "perjanjian" pernikahan mereka ke dalam laut, sebagai tanda bahwa ia ingin memulai pernikahan yang nyata, bukan karena paksaan.

Mereka berdiri di ujung dermaga, menatap air yang tenang. Brixton merangkul pinggang Alana dari belakang, menenggelamkan wajahnya di leher istrinya yang harum.

"Di sini aku berjanji padamu bahwa aku akan menghapus semua sumpah di atas luka," ucap Brixton parau. "Apakah aku sudah menepatinya, Alana?"

Alana berbalik, melingkarkan lengannya di leher Brixton. "Kau melakukannya lebih dari yang aku bayangkan, Suamiku. Kau tidak hanya menghapus luka, kau memberikan kehidupan baru yang jauh lebih indah."

Brixton mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin berbentuk dua tetesan air yang menyatu, bertahtakan berlian biru dan pink—melambangkan Leo dan Aurelia yang menyatukan mereka.

"Lima belas tahun lalu, aku memberikanmu cincin dengan penuh paksaan. Hari ini, aku memberikanmu kalung ini dengan seluruh nyawaku," Brixton memakaikan kalung itu ke leher Alana, lalu mencium tengkuknya dengan lembut.

Puncak dari napak tilas mereka adalah kembali ke mansion keluarga Vance. Namun, alih-alih masuk melalui pintu depan, Brixton membawa Alana menuju ke bagian belakang, tepatnya ke The Alana Conservatory—rumah kaca raksasa yang ia bangun saat Aurelia lahir.

Di dalam rumah kaca itu, suasana sudah disulap menjadi ruang makan pribadi yang dikelilingi ribuan bunga lili putih dan mawar merah jambu. Namun, kejutan sebenarnya bukan pada dekorasinya, melainkan pada dua sosok yang berdiri di sana dengan pakaian formal.

Leo dan Aurelia.

"Selamat ulang tahun pernikahan, Papa! Mama!" seru mereka serempak.

Leo yang kini sudah hampir setinggi ayahnya, melangkah maju memberikan buket bunga besar pada Alana. Sementara Aurelia, yang kecantikannya semakin menonjol, memberikan sebuah album foto buatan tangan yang berisi momen-momen mereka selama lima belas tahun.

"Terima kasih, anak-anak Papa," ucap Brixton, suaranya sedikit bergetar karena haru.

Mereka makan malam bersama sebagai keluarga utuh. Di sela-sela makan malam, Leo dan Aurelia mulai menggoda orang tua mereka.

"Pa, apa benar dulu Papa sangat galak pada Mama?" tanya Aurelia sambil melirik nakal.

Brixton berdehem, melirik Alana yang sedang menahan tawa. "Papa hanya... sedang mencari cara yang tepat untuk menunjukkan cinta, Aurelia. Papa sedikit lambat dalam belajar."

"Lambat? Papa bahkan hampir pingsan di ruang persalinan," celetuk Leo yang disambut ledakan tawa dari Alana dan Aurelia.

"Hei! Itu karena Papa terlalu mencintai Mama kalian!" bela Brixton yang membuat wajah Alana merona merah meskipun sudah lima belas tahun berlalu.

Setelah anak-anak pamit untuk beristirahat, Brixton dan Alana tetap berada di dalam rumah kaca tersebut. Musik klasik yang lembut mengalun dari pemutar piringan hitam di sudut ruangan. Brixton mengulurkan tangannya, mengajak Alana berdansa.

Mereka bergerak perlahan di antara keharuman bunga. Cahaya rembulan menembus atap kaca, menyinari wajah mereka yang tampak sangat damai.

"Suamiku," bisik Alana.

"Ya, Istriku?"

"Jika kau bisa kembali ke lima belas tahun yang lalu, apakah kau akan tetap memilih jalan yang sulit ini?"

Brixton menghentikan langkah dansanya. Ia menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya, menatapnya dengan pandangan yang paling jujur yang pernah ada. "Jika aku harus melewati seribu luka lagi hanya untuk mendapatkan satu detik bersamamu seperti sekarang, aku akan melakukannya tanpa ragu. Kau adalah pencapaian terbaik dalam hidupku, Alana."

Brixton kemudian membungkuk, mencium bibir Alana dengan sangat dalam. Ciuman itu adalah rangkuman dari lima belas tahun perjalanan mereka; rasa sakit di awal, perjuangan di tengah, dan kebahagiaan yang meluap di akhir. Ia mencium Alana cukup lama, seolah ingin menghentikan waktu di tempat itu juga.

"Aku mencintaimu, Istriku. Lebih dari hari pertama kita benar-benar saling mencintai," gumam Brixton di depan bibir Alana.

"Aku jauh lebih mencintaimu, Suamiku," balas Alana.

Lima belas tahun telah berlalu, namun bagi mereka, cinta ini baru saja dimulai setiap paginya. Sumpah di atas luka itu kini telah menjadi sebuah monumen kemenangan. Di bawah langit malam London, di dalam rumah kaca yang penuh bunga, Brixton dan Alana membuktikan bahwa waktu tidak memudarkan cinta, melainkan mengkristalkannya menjadi sesuatu yang abadi dan tak terpatahkan.

Malam itu berakhir dengan mereka yang duduk berpelukan, menatap bintang-bintang melalui atap kaca, menyadari bahwa mereka tidak hanya membangun sebuah keluarga, melainkan sebuah warisan cinta yang akan terus hidup dalam diri Leo dan Aurelia. Perjalanan mereka adalah bukti nyata bahwa seburuk apa pun sebuah awal, cinta yang tulus selalu memiliki kekuatan untuk menuliskan akhir yang paling indah.

1
kalea rizuky
males deh bodohnya kasih kesempatan ke laki doyan selingkuh apapun alasannya munafik
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
Peachy: Sabar sengg, suaminya emang agak agak alana nih.🥹
total 1 replies
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!