“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18
Albiru kembali ke rumah sakit untuk menemui istrinya, dia menyampaikan pada semua keluarganya kalau Naya sudah dia laporkan ke polisi dan sudah dia jatuhkan talak tiga. Adipati segera memberitahu Arman atas apa yang menimpa putrinya. Cukup tidak terima Arman dan keluarga besarnya kalau Naya diperlakukan seperti itu sehingga terjadi pertengkaran antara Adipati dengan Arman.
“Kalau kau ingin masalah ini selesai, datang ke sini dan pertanggungjawabkan perbuatan kedua anakmu di meja hukum. Kita semua tau kalau menantuku, Alisha, sudah sangat menderita karena ulah kedua anakmu itu.” Adipati mengakhiri panggilan setelah mengatakan hal tersebut.
Sungguh muak dia meladeni amarah Arman yang mana sudah jelas kalau anaknya bersalah.
Arman langsung menghubungi Rafi yang masih di Jakarta, Rafi awalnya membela diri tapi pada akhirnya, dia mengakui kalau memang dia dan Naya sudah menganiaya Alisha selama ini. Arman tak mampu lagi berkata-kata, seketika citra keluarganya rusak parah karena perbuatan hina itu.
Rafi sangat gelisah setelah mengetahui adiknya masuk penjara, karena dia yakin kalau saat ini polisi sudah memburunya. Saat dia membuka sosial media, Albiru telah menyebarkan video penganiayaan atas Alisha sehingga Rafi dikecam dari berbagai pihak.
Rafi memutuskan untuk kabur dari Jakarta menggunakan mobil, dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya di penjara seperti Naya. Apalagi Alisha masih hidup dan bisa bersaksi atas semua kejahatannya itu.
...***...
Albiru menyuapi istrinya makanan, sudah dua hari ini Alisha hanya makan sedikit saja. “Sekarang, cuma kamu istriku satu-satunya, Sha. Kita akan membangun rumah tangga yang bahagia setelah ini dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan kita ini.” Albiru mengusap lembut kepala Alisha yang saat ini masih terlihat pucat.
“Aku tidak menyangka kalau hubungan kita akan sampai dititik ini ya, Bi. Saat aku meninggalkan kamu, aku berpikir tidak akan pernah bertemu kamu lagi. Nyatanya Tuhan masih mengizinkan aku untuk menjadi istri kamu, aku bahagia, Bi. Sangat bahagia,” ungkap Alisha dengan sedikit haru, air matanya menetes perlahan.
“Sama. Aku juga berpikir demikian, apalagi saat kamu tidak bisa dilacak keberadaannya. Aku sudah sangat putus asa.”
Albiru menaruh piring makanannya dan memeluk Alisha, memberikan kenyamanan dan kehangatan pada istri cantiknya itu.
“Tapi kasian juga sih sama Naya, dia cinta sama kamu sampai melakukan apapun agar mendapatkan cinta kamu, Bi.”
“Sekeras apapun dia mencoba, kalau aku gak cinta ya gak bisa dipaksa, Sha. Mungkin dulu aku sempat nyaman sama dia dan aku merasa bisa mencintai dia, tapi aku kembali melihat kamu lalu setelah menikah aku mengetahui kalau perbuatannya cukup kejam, sejak itu aku semakin tidak bisa menerima dia di hatiku.”
“Tapi dengan kamu menjatuhkan talak tiga, dia akan semakin gila nanti, Bi.”
“Biarin aja, itu hukuman yang pantas untuk dia. Lagian dia sendiri yang cari masalah kan.”
“Apa itu gak keterlaluan?”
“Enggak sayang. Dia harus belajar kalau tidak semua keinginannya bisa dia dapatkan apalagi dengan menghalalkan segala cara.”
“Gimana kalau nanti dia berbuat lebih nekat lagi? Apalagi Rafi masih belum tertangkap kan.”
“Aku akan berusaha untuk melindungi kamu dan keluargaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian, aku sangat yakin kalau Rafi bisa datang kapan saja dihadapan kita tapi kamu gak perlu khawatir karena aku sudah meminta bantuan polisi agar melindungi kita semua.” Alisha merasa tenang mendapat jawaban dari Albiru, dia memang khawatir kalau Rafi balas dendam dan melakukan hal lebih gila lagi.
...***...
Arman begitu prihatin melihat kondisi Naya di dalam sel, anaknya itu terlihat seperti orang gila yang terus berteriak-teriak memanggil nama Albiru. Arman sudah bersedia membayar jaminan agar hukuman anaknya bisa lebih ringan lagi tapi Albiru tidak mau kalau hukuman Naya biasa saja. Semua akan tetap diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Naya tidak bisa dulu mendapat kunjungan karena kondisinya yang bisa dibilang tidak stabil sama sekali, dia bahkan sampai menyakiti diri sendiri dan akan dipindahkan ke ruangan khusus.
Sepulang dari penjara, Arman merasa dadanya amat sakit hingga pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat segera.
...***...
Beberapa hari setelahnya, Alisha sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, Ibnu dan Dhevi diminta oleh Albiru untuk tinggal di rumah mereka agar Alisha memiliki teman. Albiru sudah membersihkan semua barang-barang Naya dari rumahnya dan Alisha. Tak ada lagi kenangan Naya di sana sehingga rumah itu murni menjadi milik Alisha sepenuhnya.
Alisha direbahkan di ranjang dengan hati-hati oleh Albiru, dia harus memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja setelah ini.
“Kamu mau makan apa? Biar aku buatkan.”
“Aku mau tidur aja, Bi. Ngantuk banget.”
“Ya udah, aku ke bawah dulu buat nyiapin makanan ya. Nanti aku bangunkan kalau makanannya udah siap, kamu belum makan lo dari tadi pagi.”
“Iya Albi. Gak usah masak yang ribet, jangan repot-repot juga.”
“Iya sayang.”
Albiru menutup pintu kamar perlahan. Ia turun ke lantai bawah, memastikan pintu-pintu terkunci, lalu masuk ke dapur. Di sana, Dhevi sedang mencuci buah, sementara Ibnu duduk bersandar di kursi makan, menatap layar ponselnya yang sejak tadi tak berhenti bergetar.
“Ayah sama Bunda udah makan?” tanya Albiru.
“Udah, Bi. Ini lagi mau bikinin jus buat Alisha,” jawab Dhevi sambil tersenyum tipis.
Ibnu mengangkat wajahnya. “Bi… Rafi belum ketangkep, ya?”
Albiru menghela napas pendek. “Belum Yah. Tapi polisi udah lacak pergerakannya. Kita cuma perlu waktu.”
Ibnu mengangguk pelan, meski rasa gelisah masih jelas di matanya karena ini menyangkut keselamatan putri kesayangannya.
Sementara itu, di sebuah rest area pinggir tol, Rafi duduk di dalam mobilnya dengan tangan gemetar. Wajahnya kusut, matanya merah karena kurang tidur. Ponselnya bergetar tanpa henti—notifikasi, pesan ancaman, makian, bahkan beberapa pesan dari kenalan yang dulu menghormatinya.
Ia menutup semua aplikasi dengan kasar. “Semua gara-gara perempuan itu,” gumamnya penuh amarah.
Rafi menyalakan mesin dan kembali melaju, tapi pikirannya tak lagi jernih. Di kepalanya hanya ada satu nama yang terus berdengung yaitu Alisha. Satu-satunya saksi atas perbuatannya itu.
Di rumah, Alisha tertidur pulas. Nafasnya masih sedikit tidak teratur, wajahnya pucat, tapi jauh lebih damai dibanding beberapa hari lalu.
Albiru masuk dengan langkah pelan. Ia duduk di sisi ranjang, menatap istrinya lama, lalu meraih tangan Alisha dan menggenggamnya.
“Sekarang kamu aman,” bisiknya. “Aku janji.”
Albiru mengusap lembut wajah perempuan yang sudah menderita karena dirinya sendiri, karena obsesi seorang Naya, Alisha yang harus menanggung kekejaman tersebut.
Albiru tidak akan tinggal diam mengenai sikap ini, dia akan memastikan kalau Alisha aman dan juga sangat ingin menghabisi Rafi dengan tangannya sendiri. Bagi Albiru, Rafi adalah orang yang pantas dia bunuh secepatnya karena sudah berani mengusik ketenangan dan kenyamanan seorang Alisha—istri tercintanya.