NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

"Halo, ini siapa?" suara lembut seorang perempuan terdengar dari seberang saat Dimas menerima panggilan telepon.

"Ini Dimas. Kamu yang kasih nomor kemarin. Aku baru beli ponsel, jadi kupikir aku telepon duluan, sekalian nanya kabar kamu," ujar Dimas, yang sebelumnya sempat memberi uang padanya untuk membantu.

"Dimas? Oh iya, aku ingat. Iya, semuanya udah beres. Aku baru aja nguburin bapak di kampung halamannya. Malam ini aku nginep di sini dulu, besok baru balik. Jadi… bisa ketemu besok?" tanya Anin lembut, dengan suara penuh rasa terima kasih. Ia masih belum percaya ada orang sebaik Dimas, yang datang bagai malaikat dan menolongnya di saat tersulit.

"Tentu bisa, tapi habis kelas ya. Kelas selesai jam empat sore," kata Dimas. Ia tidak ingin melewatkan pelajaran yang sangat berguna baginya. Meskipun merasa cukup pintar, ia tahu masih banyak yang bisa dipelajari.

"Oh gitu. Ya udah, berarti janji besok ya. Kita ketemu di mana?" tanya Anin, suaranya terdengar sedikit ceria.

"Hmm… gimana kalau di Hotel Margonda? Deket kampus juga," jawab Dimas. Ia ingat tempat itu sering jadi lokasi nongkrong mahasiswa, nggak terlalu mewah tapi cukup nyaman.

"Tentu, aku ke sana jam setengah lima, ya," kata Anin sambil terkikik kecil mendengar pilihan tempat yang familiar itu.

"Oke, deal. Sampai ketemu besok," jawab Dimas sambil mengakhiri panggilan. Ia pun melanjutkan perjalanan ke toko elektronik untuk membeli laptop baru.

Bagi Dimas, punya laptop akan sangat membantu. Ia bisa belajar, kerja sampingan, dan menyalurkan hobi. Tapi ia juga sadar satu hal ia mulai terlalu candu dengan iPhone 15.

“Aku harus hati-hati. Jangan sampai kecanduan hal kayak gini,” pikirnya dalam hati.

Mobil Dimas melaju mulus di jalan raya kota Depok. Bahkan di hidup sebelumnya, ia belum pernah merasakan mobil sehalus ini. Setiap kali ia membelok, ia hanya bisa terkagum-kagum dengan kenyamanan mobil tersebut.

Saat berhenti di lampu merah, hanya ada satu mobil lain di sampingnya. Ia duduk santai sambil menikmati suasana malam, lampu jalan berkelap-kelip memantul di bodi mobilnya. Tiba-tiba, suara deru mesin keras terdengar mobil di sebelahnya menyalip dengan cepat. Dimas melirik, dan ternyata itu Toyota Supra hitam yang mengilat di bawah lampu jalan.

Dimas tersenyum tipis, kagum melihat mobil legendaris itu, lalu menyalakan mesinnya dan sedikit menginjak gas. Ia jadi teringat masa-masa main Need for Speed dulu, di mana Supra adalah mobil impiannya. Tapi kini, ia benar-benar sedang duduk di balik kemudi BMW M3 E46 miliknya mobil ikonik yang dulu cuma bisa ia lihat di layar.

Tak lama, Porsche 911 hijau ikut berhenti di samping mereka dan ikut menyalakan mesin, suara knalpotnya bergema. Dimas merinding tiga mobil legendaris, berdampingan di jalan.

Meski tergoda untuk adu cepat, Dimas menahan diri. Ia sadar, ini dunia nyata bukan game.

“Aku bukan tokoh utama yang bisa lolos dari masalah cuma karena beruntung,” gumamnya sambil tersenyum. “Kalau kena tilang ya tetap aja harus tanggung sendiri. Jadi… makasih, tapi aku gak balapan.”

Lampu merah berganti hijau. Supra hitam dan Porsche 911 hijau itu langsung melesat membelah lalu lintas malam. Dimas hanya tersenyum kecil, memutar kemudi ke kiri menuju arah ITC, tempat toko elektronik tujuannya berada. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia sampai.

Ia memarkir mobil di parkiran Basment lalu masuk menuju Toko komputer bertuliskan “ElectroPoint”, lalu melangkah masuk. Suasana di dalam tak seramai yang ia bayangkan, tapi baginya tak masalah yang penting barangnya bagus.

Dimas berjalan langsung ke konter dan tersenyum pada pria muda yang berjaga di balik meja. Pria itu membalas dengan senyum ramah dan postur sopan.

“Mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya sang penjaga toko, nadanya sopan dan berwibawa.

“Saya butuh laptop. Tapi tolong, jangan produk Apple. Budget gak masalah,” kata Dimas dengan tenang sambil menyelipkan tangan di saku celananya.

“Wah, kalau gitu saya punya barang yang cocok banget buat anda.”

Pria itu tersenyum lebar, lalu bergegas masuk ke gudang di belakang.

Dua menit kemudian, pegawai itu keluar membawa sebuah kotak besar bertuliskan “SONY” dengan huruf besar mengilap.

Dimas langsung tersenyum. Ia masih ingat betapa dulu di hidup sebelumnya, ia hanya bisa menatap laptop Sony Vaio di etalase toko tanpa pernah punya cukup uang untuk membelinya.

“Silakan, Pak, kita cek di meja samping, biar Mas nya bisa coba langsung,” kata si pegawai, mempersilakan Dimas duduk.

Di atas meja, pegawai itu membuka kotak dan mengeluarkan laptop berwarna hitam elegan.

“Ini, Pak. Sony Vaio seri 14 inci. Layarnya 14 inci resolusi HD, menggunakan prosesor Intel Core i5 generasi pertama, RAM 4 GB, dan hard disk 500 GB. Sudah terpasang Windows 7 Professional. Bobotnya sekitar 2 kilogram, desainnya tipis dan elegan untuk ukuran laptop saat ini. Sangat cocok untuk kerja kantor, presentasi, atau kebutuhan kuliah,” jelas pegawai itu dengan penuh percaya diri.

Dimas membelai lembut permukaan laptop itu halus dan solid, terasa mahal.

“Oke, saya ambil. Berapa harganya?” tanyanya singkat.

“Barang ini Rp 20 juta, Pak. Seri flagship, bahan bodinya dari serat karbon premium, dan cuma beberapa unit yang masuk ke Indonesia,” jawab sang pegawai dengan senyum percaya diri.

Beberapa menit kemudian, semua transaksi selesai. Pegawai itu bahkan ikut keluar mengantarkan Dimas ke mobil sambil membawa kotak besar berisi laptop barunya.

“Terima kasih, ya. Namamu siapa? Kasih kartumu, siapa tahu nanti aku butuh sesuatu lagi,” ujar Dimas saat sudah duduk di kursi pengemudi.

“Saya Leo, Pak. Leo Gunawan. Ini kartu nama saya kalau ada apa-apa, langsung hubungi aja,” ucapnya sambil menyerahkan kartu kecil itu dengan kedua tangan.

Dimas mengangguk, menyelipkan kartu itu di sakunya, lalu menutup kaca jendela.

Mobilnya pun melaju perlahan meninggalkan basement.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!