"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Konsultasi Cinta di Jam Operasi
Tekanan darahnya naik seketika saat ia membaca pertanyaan di catatan itu yang menanyakan apakah Adrian sudah siap untuk melakukan konsultasi cinta di jam operasi berikutnya. Adrian meremas kertas merah itu hingga menjadi bola kecil tidak berbentuk lalu membuangnya ke tempat sampah dengan akurasi yang sangat tinggi. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan saraf saraf yang terasa menegang akibat aksi ugal ugalan gadis sekolah tersebut.
"Anak ini benar benar tidak paham arti dari sebuah kata berhenti," gumam Adrian sambil menyeka peluh di dahinya.
Saat ia melangkah menuju koridor depan, ia mendapati kerumunan pasien yang sedang tertawa tawa di depan sebuah papan pengumuman besar. Adrian mengerutkan dahi lalu menerobos kerumunan itu untuk melihat apa yang sedang menjadi pusat perhatian publik rumah sakit pagi ini. Di papan itu tertempel sebuah poster buatan tangan dengan hiasan kelopak bunga mawar yang sangat mencolok dan menyilaukan mata.
"Buka Praktik Khusus: Konsultasi Patah Hati dan Galau Stadium Akhir, Spesialis Dokter Adrian yang Dingin di Luar Hangat di Dalam," tulis poster tersebut.
"Lala! Keluar kamu sekarang juga atau saya akan benar benar memanggil direktur rumah sakit ini!" teriak Adrian dengan suara yang menggelegar di seluruh koridor.
Sosok gadis berseragam abu abu itu muncul dari balik pot tanaman besar sambil membawa sebuah buku catatan kecil dan pena berwarna merah muda. Lala tersenyum tanpa dosa sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena bersembunyi terlalu lama di sana. Ia melangkah mendekati Adrian dengan gaya yang sangat percaya diri seolah ia sedang melakukan tugas mulia bagi kemanusiaan.
"Jangan berisik, Dokter, pasien konsultasi pertamaku sudah mengantre sejak tadi di depan pintu ruangan Dokter," ucap Lala sambil menunjuk seorang remaja pria yang tampak bingung.
"Kamu pikir rumah sakit ini adalah pasar malam tempat kamu bisa membuka stan ramalan cinta?" tanya Adrian dengan nada yang sangat tajam dan menusuk.
Lala hanya mengerucutkan bibirnya sambil terus mencatat sesuatu di dalam buku kecilnya dengan sangat serius dan telaten. Ia tidak tampak takut sedikit pun terhadap amarah Adrian yang sudah berada di ambang batas kesabaran seorang pria dewasa. Baginya, kemarahan Adrian hanyalah bumbu penyedap dalam drama pengejaran cintanya yang sangat gila gilaan ini.
"Pasien ini sedang menderita penyakit jerawat rindu, Dokter harus memberikan resep yang tepat agar dia tidak merana," sahut Lala dengan wajah yang sangat sungguh sungguh.
"Resep yang tepat adalah kamu pulang ke sekolah sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi hari ini!" bentak Adrian sambil merebut buku catatan milik Lala.
Tiba tiba seorang wanita paruh baya yang merupakan salah satu perawat senior mendekati mereka berdua dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. Adrian merasa dunianya runtuh saat perawat itu melihat poster konyol tersebut lalu menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang dokter bedah paling berprestasi kini sedang dipertaruhkan di depan umum karena ulah bocah ingusan ini.
"Dokter Adrian, apakah benar Anda membuka layanan tambahan seperti yang tertulis di poster itu?" tanya perawat senior itu dengan suara yang tertahan.
"Tentu saja tidak, ini hanya perbuatan jahil dari siswi yang sedang mencari perhatian berlebihan," jawab Adrian dengan wajah yang memerah padam.
"Tapi Dokter tadi menatap mata asistennya lama sekali di ruang persiapan, kami pikir Dokter memang sedang belajar memahami perasaan," goda perawat itu sambil berlalu pergi.
Wajah Adrian kini benar benar terasa panas dan ia ingin sekali menghilang dari tempat itu sekarang juga agar tidak perlu menanggung malu lebih jauh. Ia menoleh ke arah Lala yang justru sedang memberikan jempol kepada perawat senior tadi sebagai tanda kesepakatan rahasia yang tidak diketahui Adrian. Pria itu menyadari bahwa pengaruh Lala di rumah sakit ini mulai menyebar luas layaknya virus yang sangat sulit untuk dimusnahkan.
"Lihat, semua orang setuju kalau Dokter butuh sedikit kehangatan dalam hidup yang terlalu steril ini," bisik Lala sambil mencoba mengambil kembali bukunya.
"Ikut saya sekarang juga ke ruangan, kita harus menyelesaikan masalah ini tanpa ada penonton lagi," perintah Adrian sambil menarik ujung tas sekolah Lala.
Di dalam ruangan kerja yang tertutup rapat, Adrian duduk di kursinya dengan posisi yang sangat tegap dan penuh dengan wibawa yang menekan. Lala duduk di hadapannya sambil terus memainkan ujung rok seragamnya dengan gerakan yang tidak bisa diam dan sangat lincah. Adrian menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat dingin seolah ia sedang melakukan diagnosa terhadap penyakit yang sangat misterius.
"Lala, saya tidak punya waktu untuk bermain main dengan perasaan anak sekolah yang masih sangat labil seperti kamu," ucap Adrian dengan nada yang sangat rendah.
"Aku tidak labil, aku sangat konsisten menyukai Dokter sejak pertama kali aku pingsan di IGD yang estetik itu," balas Lala dengan binar mata yang sangat berani.
"Cinta itu butuh kedewasaan, bukan hanya poster konyol dan aksi menyusup ke ruang operasi yang sangat berbahaya," sahut Adrian sambil menyandarkan punggungnya.
Lala terdiam sejenak lalu menundukkan kepalanya dalam dalam hingga rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang mulai terlihat mendung. Ada keheningan yang cukup lama di antara mereka berdua hingga suara detak jam dinding terasa sangat keras di telinga. Adrian merasa sedikit menyesal karena ucapannya mungkin terlalu keras untuk hati seorang gadis remaja yang sebenarnya hanya ingin diperhatikan.
"Maaf kalau aku terlalu berlebihan, aku hanya ingin Dokter tahu kalau aku ada di sini," bisik Lala dengan suara yang hampir tidak terdengar karena sangat parau.
"Belajarlah yang rajin, tunjukkan pada saya kalau kamu bisa menjadi dewasa dengan cara yang benar," jawab Adrian dengan nada yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Lala bangkit dari kursinya lalu berjalan perlahan menuju pintu keluar dengan bahu yang tampak sedikit layu dan tidak bersemangat lagi. Sebelum ia membuka pintu, ia menoleh sejenak ke arah Adrian dan memberikan sebuah senyuman yang sangat tipis namun mengandung sejuta makna yang dalam. Adrian tertegun melihat perubahan sikap Lala yang tiba tiba menjadi sangat tenang dan tidak banyak bicara seperti biasanya.
"Sampai jumpa besok, Dokter, semoga Dokter tidak merindukan asisten konyol ini saat jam operasi nanti," kata Lala sebelum benar benar menghilang di balik pintu.
Adrian terdiam sendirian di dalam ruangan yang kini terasa sangat luas dan sangat sunyi tanpa keberadaan suara cempreng milik Lala. Ia mencoba fokus kembali pada tumpukan dokumen pasien namun pikirannya justru terus melayang pada wajah sedih Lala yang baru saja pergi. Tanpa ia sadari, tangannya meraba raba area pipinya sendiri yang entah mengapa terasa sedikit gatal dan sangat aneh secara medis.
Sangat aneh secara medis bagi seorang Adrian yang sangat menjaga kebersihan kulitnya, saat ia berkaca dan menemukan sebuah benjolan merah kecil di pipi kirinya.