NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Penyamaran di Pasar Tradisional

Kokok ayam jantan baru saja saling bersahutan saat kabut tipis masih menyelimuti Desa Makmur Jaya. Udara pagi itu begitu menusuk tulang, namun aktivitas di pasar desa sudah berdenyut kental. Suara deru motor pengangkut sayur dan teriakan kuli panggul menciptakan simfoni khas pedesaan yang sibuk.

Arum berdiri di depan cermin kamar. Ia melepaskan gaun tidurnya dan memilih pakaian yang sangat kontras dengan penampilannya kemarin. Sebuah daster motif bunga pudar yang sudah agak longgar, dibalut dengan kardigan rajut tua milik mendiang ibunya. Ia mengikat rambutnya asal-asalan, menutupi sebagian wajahnya dengan caping bambu dan masker kain bermotif batik.

Di tangannya, ia membawa tas belanja anyaman plastik warna-warni atribut wajib ibu-ibu di pasar.

Baskara, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu, tertegun melihat sosok di depannya. "Arum? Kamu... benar-benar mau pergi dengan tampilan seperti itu?"

Arum menoleh, matanya yang tajam tetap terlihat meski sebagian wajahnya tertutup. "Kenapa, Mas? Kurang meyakinkan sebagai warga yang ingin menawar harga cabai?"

Baskara mendekat, menatap istrinya dengan cemas. "Bukan itu. Tapi pasar jam segini sangat kacau. Preman-preman pasar biasanya berkumpul di dekat pos retribusi. Kalau terjadi apa-apa, aku tidak ada di sana."

Arum menepuk pundak Baskara pelan. "Justru karena kamu tidak ada di sana, aku bisa bergerak bebas. Ingat, Mas, hari ini tugasmu adalah membuat Pak Sabar merasa sedang berada di dalam ruang sidang. Jangan beri dia napas."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Arum melangkah keluar melalui pintu belakang, menghindari pandangan warga yang mungkin sudah mulai berjaga di depan rumah dinas.

Pasar Desa Makmur Jaya adalah jantung ekonomi yang kotor namun vital. Arum berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang becek. Ia tidak langsung belanja. Matanya terus bergerak, memperhatikan setiap interaksi.

Ia berhenti di sebuah lapak sayur kecil di pojok yang sepi. Penjualnya adalah seorang nenek tua, Mbok Sumi, yang wajahnya penuh kerutan sedalam parit di sawah.

"Cabainya berapa, Mbok?" tanya Arum, mengubah suaranya menjadi sedikit lebih serak dan medok.

"Dua puluh ribu seprapat, Nduk," jawab Mbok Sumi lesu.

Arum mengernyit. Di kota saja, harga cabai sedang turun menjadi lima belas ribu. "Kok mahal sekali, Mbok? Di pasar kecamatan cuma dua belas ribu."

Mbok Sumi menghela napas panjang, tangannya yang gemetar membungkus cabai ke dalam plastik. "Gimana lagi, Nduk. Biaya lapak naik lagi pagi ini. Belum lagi 'uang kebersihan' yang ditarik orang-orang berbadan besar itu setiap dua jam. Kalau tidak bayar, dagangan diangkut."

Arum memperhatikan sekeliling. Benar saja, di ujung lorong, dua pria berkaos ketat dengan tato di lengan sedang berjalan membawa buku catatan kumal. Mereka menarik uang dari setiap pedagang dengan kasar. Salah satu dari mereka merampas sebuah jeruk dari lapak pedagang lain tanpa membayar.

"Itu orangnya Pak Broto?" bisik Arum.

Mbok Sumi segera meletakkan jarinya di bibir. "Sst! Jangan keras-keras, Nduk. Mereka itu telinganya tajam. Di sini, Pak Broto itu yang punya aspal dan tanah. Bahkan Pak Kades yang dulu saja tidak berani melarang."

Arum mengangguk pelan, otaknya mulai bekerja. Ia membayar cabai itu, lalu sengaja berjalan menuju pos retribusi di pintu utara. Di sana, ia melihat sebuah papan pengumuman usang tentang tarif resmi pasar. Angka yang tertera di sana jauh berbeda dengan apa yang ia lihat barusan.

Ia mengeluarkan ponselnya di balik tas belanja, berpura-pura sedang mencari sesuatu sambil merekam interaksi preman-preman itu saat menarik uang dari pedagang daging.

"Woi! Ibu siapa?!"

Teriakan kasar itu membuat Arum tersentak. Salah satu preman, yang memiliki bekas luka di pelipisnya, mendekat dengan wajah garang. "Ngapain di sini bolak-balik? Mana belanjaannya? Kalau cuma mau liat-liat, sana ke taman kota!"

Arum menundukkan kepala, memegang erat tas anyamannya seolah ketakutan. "Maaf, Mas... saya lagi cari tukang bumbu langganan saya. Katanya pindah ke dekat sini."

"Gak ada tukang bumbu di sini! Pergi sana!" bentak preman itu sambil mendorong bahu Arum.

Arum mundur selangkah. Dalam hatinya, ia mencatat koordinat dan wajah pria itu. Namun, sebelum ia pergi, ia melihat sesuatu yang lebih menarik. Sebuah truk besar bermuatan pupuk berlogo "Mandiri Jaya" berhenti di depan gudang besar di seberang pasar.

Pupuk itu adalah pupuk subsidi pemerintah yang seharusnya didistribusikan ke kelompok tani secara gratis atau dengan harga sangat murah. Namun, Arum melihat karung-karung itu dipindahkan ke dalam gudang milik perorangan, dan label subsidinya mulai dilepaskan oleh beberapa pekerja di sana.

Mafia pupuk, batin Arum. Ini jauh lebih besar dari sekadar bibit busuk.

Sementara itu, di Balai Desa, suasana di ruang kerja Baskara sangat mencekam. Pak Sabar duduk di kursi kayu yang keras, terus-menerus mengelap keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya. Di depannya, Baskara duduk dengan punggung tegak, menatap laporan aset desa yang tampak berlubang di sana-sini.

"Pak Sabar, saya baru saja meninjau laporan inventaris traktor desa tahun 2024," ujar Baskara dengan nada dingin yang belum pernah didengar Pak Sabar sebelumnya. "Di sini tertulis ada lima unit yang berfungsi. Tapi laporan dari kelompok tani minggu lalu mengatakan hanya dua yang ada di lapangan. Tiga unit lainnya ke mana?"

"Anu... Pak Kades... itu... sedang diservis di kota," jawab Pak Sabar terbata-bata.

"Diservis selama enam bulan? Di bengkel mana? Karena saya baru saja menelepon bengkel resmi di kabupaten, dan mereka bilang tidak pernah menerima unit dari desa kita tahun ini."

Pak Sabar nyaris terjatuh dari kursinya. Ia menatap Baskara dengan tidak percaya. Baskara yang dulu biasanya hanya menandatangani apa pun yang disodorkan, kini berubah menjadi singa yang siap menerkam.

"Atau..." Baskara memajukan tubuhnya, memberikan tekanan psikologis. "Apa benar rumor yang beredar di warga bahwa tiga traktor itu disewakan secara pribadi oleh seseorang ke desa tetangga, dan uang sewanya tidak masuk ke kas desa?"

"Itu... fitnah, Pak Kades! Siapa yang bicara begitu? Pasti Bu Tejo, ya?" sentak Pak Sabar mencoba membela diri.

"Tidak penting siapa yang bicara," potong Baskara tegas. "Yang penting adalah fakta. Saya beri waktu sampai sore ini untuk menghadirkan tiga traktor itu di halaman balai desa. Jika tidak, saya akan meminta pendampingan dari Inspektorat Kabupaten untuk mengaudit seluruh gudang kita."

Baskara teringat kata-kata Arum semalam: Berikan dia tekanan sampai dia merasa tidak punya tempat berlindung.

Sesaat setelah Pak Sabar keluar dari ruangan dengan langkah gontai, ponsel Baskara bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Begitu ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Itu adalah foto Arum yang sedang berdiri di depan pos retribusi pasar, dan di belakangnya, preman pasar tadi sedang menatapnya dengan curiga. Di bawah foto itu tertulis pesan singkat:

"Istrimu terlalu cantik untuk jadi mata-mata pasar. Pulangkan dia, atau dia tidak akan pulang selamanya."

Baskara langsung berdiri, wajahnya memucat. Ia meraih kunci motornya dan berlari keluar ruangan, mengabaikan Marno yang meneriakkan jadwal rapat koordinasi.

Di sisi lain, Arum yang masih berada di kawasan pasar, merasa ada yang mengikutinya. Ia sengaja masuk ke gang sempit yang menuju ke arah persawahan. Saat ia berbalik, tiga pria sudah menutup jalan keluarnya.

Salah satu dari mereka adalah preman yang membentaknya tadi. "Ibu Kades cerdik, ya? Pakai baju gembel begini tetap saja bau parfum kota."

Arum melepaskan capingnya, tidak lagi berpura-pura takut. Ia menegakkan punggungnya, menatap ketiga pria itu dengan tenang. "Jadi, Pak Broto sudah tahu saya di sini? Cepat juga informannya."

"Bos tidak suka ada orang luar yang ikut campur urusan perut kami," ujar preman itu sambil mengeluarkan pisau lipat.

Arum tersenyum tipis, tangannya masuk ke dalam tas anyaman plastiknya. "Kalian tahu apa kesalahan terbesar orang-orang seperti kalian?"

"Apa?!"

"Kalian pikir kecerdikan itu hanya soal bicara di depan meja," ujar Arum tenang. Tangannya keluar dari tas, namun bukan memegang uang, melainkan sebuah tabung kecil semprotan merica (pepper spray) dan sebuah alat kejut listrik (stun gun) yang ia bawa sebagai antisipasi.

"Maju selangkah lagi," tantang Arum, "dan saya pastikan wajah kalian akan jauh lebih busuk daripada bibit yang kalian kirim ke warga kemarin."

 

Ketiga preman itu tertawa terbahak-bahak melihat Arum yang berdiri sendirian di gang sempit yang becek. Bagi mereka, ancaman wanita ini tidak lebih dari gertakan kucing kecil yang terpojok.

"Halah! Gaya-gayaan pakai alat mainan begitu," preman dengan bekas luka itu melangkah maju, tangannya terjulur hendak merenggut kerah kardigan Arum. "Ayo ikut kami, Bos Broto mau ajak Ibu minum teh."

Namun, sebelum tangan kotor itu menyentuh kulitnya, Arum melakukan gerakan yang tidak mereka duga. Ia tidak mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju secara diagonal, menghindari jangkauan tangan si preman, dan ZAP!

Alat kejut listrik di tangan kanannya menghujam rusuk pria itu dengan presisi. Suara gemeretak listrik bertegangan tinggi memenuhi udara gang yang pengap. Preman itu memekik tertahan, tubuhnya kejang seketika, dan ia ambruk ke kubangan air dengan suara gedebuk yang keras.

Dua temannya tersentak, tawa mereka mati seketika.

"Kurang ajar! Serang!" teriak yang satu lagi sambil mengayunkan sebilah kayu.

Arum dengan cepat mengganti senjatanya. Dengan tangan kiri, ia menyemprotkan pepper spray dalam gerakan menyapu. Cairan pedas berkonsentrasi tinggi itu tepat mengenai mata kedua preman tersebut.

"Aaaargh! Mataku! Pedas!"

Gang sempit itu kini dipenuhi suara erangan. Arum berdiri tegak di tengah kekacauan itu, napasnya sedikit memburu, namun tangannya tidak gemetar sama sekali. Ia merapikan kardigannya, lalu mengambil ponsel dari kantong dasternya.

Ia mengarahkan kamera ponselnya ke wajah preman yang pingsan karena setruman, lalu ke dua preman lainnya yang sedang berguling-guling memegangi mata. Klik. Klik.

"Foto ini akan dikirim ke grup WhatsApp Polda sebagai daftar pelaku premanisme di pasar desa," suara Arum kembali ke nada lembutnya yang mematikan. "Dan untuk kalian tahu, alat kejut listrik ini memiliki nomor registrasi keamanan. Jika kalian menyentuh saya, hukumannya bukan lagi pidana umum, tapi percobaan pembunuhan terhadap istri pejabat negara."

"Ampun, Bu... ampun..." rintih salah satu preman yang matanya memerah hebat.

Arum tidak memedulikan rintihan itu. Ia melangkah melewati mereka dengan anggun, seolah-olah baru saja melewati tumpukan sampah biasa. Namun, saat ia sampai di mulut gang, sebuah motor meluncur kencang dan berhenti mendadak dengan suara rem yang mencit.

Baskara turun dari motor dengan wajah pucat pasi. Ia berlari menghampiri Arum, mencengkeram bahu istrinya dengan tangan yang gemetar.

"Arum! Kamu tidak apa-apa? Mereka menyakitimu? Mana pelakunya?!" suara Baskara penuh kecemasan dan amarah yang meluap-luap.

Arum menatap suaminya, lalu tersenyum menenangkan. Ia menunjuk ke dalam gang dengan jempolnya. "Mereka sedang 'istirahat' di dalam, Mas. Sebaiknya kamu panggil Marno atau polisi desa untuk menjemput mereka. Kasihan, mereka sepertinya butuh obat tetes mata."

Baskara menoleh ke dalam gang dan ternganga melihat tiga pria berbadan besar itu sudah tidak berdaya di tangan istrinya yang hanya memakai daster bunga-bunga.

"Kamu... kamu melakukan ini sendirian?" tanya Baskara tidak percaya.

"Aku kan sudah bilang, Mas. Aku pernah ikut kelas bela diri taktis saat kuliah untuk jaga-jaga kalau lembur di kantor," jawab Arum enteng. "Tapi terima kasih sudah datang. Setidaknya aku tahu suamiku punya niat untuk jadi pahlawan, meskipun agak terlambat."

Baskara merasa campur aduk. Ia merasa lega luar biasa Arum selamat, namun di sisi lain, ia merasa egonya sebagai pelindung benar-benar hancur berkeping-keping.

"Ayo pulang," ujar Baskara pendek sambil menarik tangan Arum menuju motor. "Dan jangan harap kamu bisa ke pasar sendirian lagi tanpa pengawal."

"Siap, Pak Kades," goda Arum sambil naik ke boncengan motor.

Sepanjang jalan pulang, Arum memeluk pinggang Baskara. Ia bisa merasakan jantung suaminya masih berdegup kencang. Di balik punggung Baskara, Arum tersenyum. Ia telah mendapatkan apa yang ia cari: bukti foto mafia pupuk, wajah para preman pasar, dan yang paling penting, ia tahu bahwa Baskara benar-benar peduli padanya.

Namun, saat mereka sampai di depan rumah dinas, keceriaan itu sirna. Di sana sudah terparkir sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat dikenal Baskara.

"Itu mobil Siska," gumam Baskara dengan nada tidak senang.

Arum menyipitkan mata. Siska. Mantan kekasih Baskara yang disebut-sebut dalam risetnya sebagai perwakilan pengusaha properti yang ingin mencaplok lahan desa.

"Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang, Mas," bisik Arum sambil merapikan daster dan capingnya. "Mari kita lihat, apa yang dibawa si 'Mantan' untuk mengganggu sarapan kita."

Perang di balai desa mungkin sudah mereda, tapi perang di rumah sendiri baru saja dimulai.

1
Wanita Aries
keren thor
Wanita Aries
seruu dan menegangkan
Wanita Aries
keren thorr
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!