"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Vultures ( Tentara Elit )
Suara itu mengagetkan Budi hingga menjatuhkan radio HT-nya ke lantai.
TAK!
Ia berbalik dengan wajah pucat pasi, menatap Bumi yang kini sudah berdiri tegak dengan palu godam miliknya itu.
"Bu... Bumi! Aku... apa yang kau lakukan di sini? Kau- kau salah paham Bumi. A- a- aku---" Budi mencoba menjelaskan meskipun ia tergarap. Langkah nya perlahan mundur untuk menjauh.
Tapi..
DUAAAK!
Ia tersandung dan menjatuhkan tumpukan ban bekas.
Suara kegaduhan itu membangunkan Genta dan Sarah. Keduanya langsung menatap pemandangan di depan mereka dengan bingung.
"Ada apa ini?" tanya Genta sambil mengucek mata.
Bumi memungut radio HT yang terjatuh di lantai. Ia menekan tombol bicara, lalu menghancurkannya berkeping-keping di depan mata Budi.
"Dia mencoba menjual kita, Genta," kata Bumi. "Dia menghubungi sisa-sisa anak buah Baskoro. Dia ingin menukar senjataku dan nyawa kita dengan tiket masuk ke tim mereka."
Sarah menutup mulutnya dengan tangan, menatap Budi dengan tidak percaya. "Budi... kenapa? Padahal ia sudah menyelamatkan nyawa kita di supermarket!"
"Menyelamatkan...?!!! " Budi berteriak frustrasi, air mata mulai mengalir. "Dia itu monster! Kalian lihat sendiri bagaimana dia menghancurkan pilar gedung itu? Dia tidak peduli pada kita! Dia hanya akan menjadikan kita umpan saat keadaan mendesak! Aku ingin hidup! Aku ingin ke Iron Cage!"
Bumi melangkah mendekat.
"Kau benar, Budi. Dunia ini memang tentang bertahan hidup," Bumi mengangkat palu godamnya, bukan ke arah kepala Budi, melainkan ke arah pergelangan kaki pria itu. "Tapi ada satu aturan di kelompokku, Pengkhianatan tidak akan pernah dibayar dengan kesempatan kedua."
KRAAAKKKK!
Bumi menghantamkan sisi tumpul palunya ke kaki Budi dengan presisi yang hanya menghancurkan tulang tanpa membunuhnya. Teriakan kesakitan Budi menggema di seluruh bengkel.
"Bumi! Cukup!" Sarah mencoba maju, namun Bumi menatapnya dengan pandangan yang begitu dingin hingga Sarah terpaku di tempat.
"Jika aku memaafkannya satu kali, dia akan melakukannya lagi. Dan lain kali, mungkin kalian yang akan mati oleh orang ini," ucap Bumi. Ia lalu menyeret Budi yang mengerang kesakitan menuju pintu keluar bengkel.
Bumi membuka pintu baja, lalu melempar Budi ke jalanan yang basah.
"Kau ingin bersama mereka? Pergilah. Mereka akan sampai di sini dalam beberapa menit," Bumi menunjuk ke arah lampu mobil yang mulai terlihat di ujung jalan. "Tapi kau harus merangkak ke sana tanpa senjata, dan tanpa kaki yang berfungsi."
"Tidak! Tolong... Jangan Bumi. Aku minta maaf!! Mereka takkan menerimaku dengan keadaan seperti ini. Aku mohon!"
Bumi tetap dengan ekspresi dingin. Ia dengan cepat menutup kembali pintu baja itu dan menguncinya rapat-rapat.
Di dalam bengkel, suasana menjadi sangat sunyi, kaku, dan awkward. Sarah sendiri hanya bisa menangis pelan sambil memeluk Rian, sementara Genta menatap Bumi dengan rasa takut yang baru.
Bumi kembali duduk di posisinya yang awal. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang baru saja mati, digantikan oleh cangkang yang lebih keras dan kejam.
"Mulai sekarang," suara Bumi memecah kesunyian, "jangan pernah berbuat bodoh seperti Budi, dan menyentuh senjataku tanpa ijin. Tidurlah. Kita punya misi besar besok."
[ Notifikasi Sistem!
Keadilan Berhasil Ditegakkan: Reputasi 'Cold-Blooded Leader' Meningkat.
Peringatan: Komunikasi dunia sedang diputus secara total oleh Admin Sistem.]
[Misi Darurat Baru:Menara Pemancar!]
· Tujuan: Ambil alih Menara Pemancar Sektor Ash dalam 12 jam.
· Hadiah: Peta Real-Time Monster (Global) & Skill: [Map Distortion].
Bumi menatap layar hologram itu dengan datar. Komunikasi diputus artinya Iron Cage sedang menutup diri sepenuhnya, meninggalkan warga sipil di Sektor Ash untuk membusuk.
Satu-satunya cara untuk tahu apa yang sedang terjadi adalah menara itu.
Bumi harus bisa sampai di sana, apa pun yang terjadi, bahkan jika ia harus meninggalkan sisa rasa kemanusiaan yang ia miliki.
___
Hujan dan angin yang turun di Sektor Ash tidak pernah terasa menyegarkan, yang ada membawa sisa-sisa jelaga dan bau amis dari bangkai monster yang mulai membusuk di selokan.
Di dalam bengkel mobil yang suram, Bumi Aksara berdiri tegak, membiarkan keheningan yang menyesakkan menyelimuti kelompok kecilnya.
Sarah masih memeluk Rian di pojok ruangan, matanya menghindari tatapan Bumi. Genta, di sisi lain, sedang sibuk mengepak sisa kaleng makanan ke dalam tas ransel miliknya.
Layar hologram biru di depan mata Bumi berkedip-kedip dengan intensitas yang tidak biasa. Notifikasi itu berwarna merah menyala, menandakan urgensi tingkat tinggi.
[ Peringatan Sistem: Pemutusan Komunikasi Global Sedang Berlangsung...
Progress: 88%... 89%...
Efek: Peta Statis akan dinonaktifkan. Seluruh radar Survivor di bawah Peringkat Adept akan mengalami 'Blind Status'. ]
"Genta," suara Bumi memecah kesunyian, "periksa tabletmu. Apakah sinyalnya masih ada?"
Genta segera menyalakan layar perangkatnya. Wajahnya semakin pucat. "Hilang, Bumi. Radar monster di aplikasiku tidak muncul, hanya ada statis biasa. Forum komunitas juga tidak bisa diakses. Kita... kita benar-benar dikurung. Sinyal lumpuh total!"
Bumi mengencangkan lilitan kain pada gagang palu godamnya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Para penguasa di "Iron Cage" sedang menarik jaring mereka.
Dengan memutus komunikasi, mereka mengisolasi para penyintas di sektor luar, membiarkan mereka tersesat di tengah kepungan monster tanpa navigasi. Tanpa informasi, manusia hanyalah domba yang menunggu giliran untuk diterkam.
"Kita tidak punya pilihan," ucap Bumi, suaranya terdengar dingin. "Satu-satunya sumber informasi yang tersisa adalah Menara Pemancar di Distrik 7. Jika kita bisa mengambil alih kendalinya, sistem akan memberikan akses Peta Real-Time. Hanya itu satu-satunya cara kita bisa melihat pergerakan monster dan rute aman menuju gerbang utama Iron Cage."
[ Misi Darurat Diaktifkan: Jantung Informasi ]
· Tujuan Utama: Infiltrasi dan Ambil Alih Ruang Kendali Menara Pemancar.
· Batas Waktu: 11 Jam 15 Menit.
· Hadiah: Peta Real-Time Global & Skill Unik: [Map Distortion].
· Kegagalan: Kehilangan navigasi permanen dan pengepungan monster skala besar.
"Tapi Bumi, itu daerah militer," Sarah akhirnya angkat bicara, suaranya serak karena habis menangis. "Menara itu pasti dijaga ketat. Bukan hanya oleh monster, tapi oleh orang-orang Iron Cage. Kau baru saja membuang Budi... kita hanya tinggal berempat, dan satu di antaranya hanya anak kecil."
Bumi menatap Sarah dengan mata yang berkilat ungu tajam. "Justru karena itu kita harus pergi sekarang. Saat semua orang masih bingung karena kehilangan sinyal, itulah kesempatan kita. Budi adalah pengingat bahwa di dunia ini, ancaman terbesar bukan hanya monster, tapi orang yang ada di sekeliling mu, bahkan yang berdiri paling dekat denganmu."
___
Mereka berangkat saat fajar yang suram mulai menyingsing. Jalanan menuju Distrik 7 adalah labirin maut. Tanpa radar, setiap tikungan bisa menjadi jebakan. Bumi berjalan paling depan, mengaktifkan [Eyes of the Merchant] secara berkala. Dunia sekarang di matanya berubah menjadi rona hijau-hitam yang memperlihatkan tanda-tanda kehidupan melalui panas tubuh dan kepadatan energi.
Ia bisa melihat kawanan Scavenger yang bersembunyi di dalam toko-toko yang hancur. Dengan status Kelincahan yang ia miliki, Bumi memimpin mereka melalui rute-rute tikus, memanjat pagar, dan menyelinap di balik reruntuhan bus untuk menghindari pertempuran.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam yang menegangkan, menara itu akhirnya terlihat. Berdiri kokoh di atas bukit buatan, Menara Pemancar itu tampak seperti jarum raksasa yang menusuk langit kelabu. Namun, pemandangan di sekitar menara membuat langkah mereka terhenti.
Bukan monster yang menjaga gerbang utamanya.
Dua kendaraan taktis lapis baja terparkir di depan gerbang. Sekelompok pria berseragam hitam dengan perlengkapan tempur lengkap—helm balistik, rompi anti peluru tingkat tinggi, dan senapan serbu otomatis, berjaga di pos-pos dengan titik paling strategis.
Bumi yakin.... Mereka semua bukan tentara pemerintah biasa.
"The Vultures," Genta berbisik ngeri.
"Mereka adalah tentara bayaran swasta paling kejam yang disewa oleh konsorsium elit Iron Cage. Lihat lambang di lengan mereka, itu ---"
****