"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Bau aspal yang panas dan raungan sirine ambulans yang menyayat langit malam menjadi latar belakang yang mencekam di depan gerbang penjara. Kirana berdiri membeku di tengah kerumunan, menatap pintu belakang ambulans yang ditutup dengan keras oleh petugas medis.
Di dalamnya, Arka terbaring antara hidup dan mati, sebuah akhir yang tragis sekaligus ironis bagi pria yang baru saja mencoba menebus dosa-dosanya dengan menyerahkan nyawanya sebagai taruhan terakhir.
"Jalan! Beri jalan!" teriak petugas paramedis, membubarkan kerumunan tahanan dan penjaga yang masih dalam suasana kacau akibat kerusuhan.
Kirana segera masuk ke dalam mobilnya, mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, dan mengikuti ambulans itu dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar kacau.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Bhayangkara, ia terus menatap jemarinya yang gemetar hebat di atas setir. Ia baru saja menjatuhkan Bram, sang naga dari masa lalu Surya Mahendra, namun harga yang harus dibayar terasa sangat mahal, terlalu berdarah untuk disebut sebagai sebuah kemenangan bisnis.
Rumah Sakit Bhayangkara - Ruang IGD
Lampu merah di atas pintu IGD menyala terang, menandakan operasi darurat tingkat tinggi sedang berlangsung di dalam sana. Kirana duduk di kursi besi yang dingin di lorong rumah sakit yang sepi dan berbau karbol. Ia masih mengenakan setelan kantor merah menyala yang mahal, namun kini ia merasa sangat kecil, rapuh, dan tersesat di tengah hiruk-pikuk medis.
Reza datang dengan napas terengah-engah, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam. "Kirana! Kau tidak apa-apa? Aku melihat berita tentang kerusuhan penjara di TV."
Kirana mendongak, matanya merah karena menahan tangis yang enggan pecah. "Dia ditikam, Reza. Tiga kali. Di dalam selnya sendiri. Bram mengirim orang untuk membunuhnya tepat setelah aku menunjukkan bukti-bukti itu di kantor tadi pagi. Ini salahku... aku yang memaksanya membuka kotak pandora itu."
Reza duduk di sampingnya, suaranya merendah namun tegas. "Kita tidak punya waktu untuk menyalahkan diri sendiri, Kirana. Penangkapan Bram di kantormu tadi pagi hanyalah permulaan dari perang terbuka. Pengacara Bram sudah mulai bergerak. Mereka mengajukan gugatan balik kilat dengan tuduhan bahwa Nirmala Capital mendapatkan data secara ilegal melalui peretasan dan melakukan konspirasi jahat untuk menjatuhkan Mahendra Group demi keuntungan akuisisi pribadi."
"Biarkan mereka menggugat," desis Kirana, amarah yang dingin mulai menggantikan rasa sedihnya. "Jika Arka tidak selamat dari malam ini, aku akan memastikan Bram membusuk di sel yang paling dalam, atau aku sendiri yang akan menghancurkan lehernya dengan tanganku sendiri."
~~
Tiga jam yang terasa seperti selamanya berlalu. Pintu IGD akhirnya terbuka, dan seorang dokter bedah keluar dengan wajah yang tampak sangat lelah. Kirana segera berdiri, seluruh tubuhnya menegang menanti vonis.
"Dokter, bagaimana keadaannya?"
"Pasien menderita tiga luka tusukan dalam di area abdomen. Salah satunya mengenai organ vital, menyebabkan pendarahan internal yang sangat hebat. Kami sudah melakukan operasi besar untuk menghentikan pendarahannya, namun saat ini dia dalam kondisi koma pasca-trauma. Masa kritisnya adalah dua puluh empat jam ke depan. Tubuhnya kehilangan banyak darah," jelas dokter itu pelan.
Kirana merasa dunianya sedikit berputar. Koma. Kata itu terdengar seperti lonceng kematian yang tertunda.
"Boleh saya melihatnya?"
"Hanya sebentar. Dia masih di bawah pengaruh anestesi total dan pengawasan ketat petugas kepolisian, karena status hukumnya masih sebagai tahanan negara."
Kirana melangkah masuk ke ruang pemulihan yang dingin. Di sana, Arka tampak sangat berbeda dari pria sombong dan flamboyan yang dulu ia benci setengah mati. Wajahnya pucat pasi, hampir sewarna dengan seprai rumah sakit yang kaku.
Berbagai selang infus dan kabel monitor menempel di tubuhnya yang kini tampak ringkih. Bunyi ritmis bip-bip dari monitor jantung menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih berdenyut tipis di sana.
Kirana duduk di samping tempat tidur. Ia ragu sejenak, lalu perlahan menyentuh tangan Arka yang terbebas dari infus. Tangan yang dulu sering menggenggamnya dengan penuh kepalsuan itu kini terasa sangat dingin, seperti es yang mencair.
"Kenapa, Arka?" bisiknya lirih, suaranya pecah di tengah kesunyian ruangan. "Kenapa kau harus menjadi pahlawan di saat aku sudah hampir berhasil belajar untuk benar-benar membencimu? Kau membuatku terlihat seperti monster dalam cerita ini, sementara kau... kau justru menjadi martir."
Kirana teringat potongan pesan video Arka. "Aku sudah ditakdirkan mati di sini sejak aku memilih untuk mencintaimu dengan cara yang salah."
Tanpa sadar, air mata Kirana jatuh, membasahi punggung tangan Arka yang lebam. "Bangunlah... jika kau ingin aku benar-benar memaafkanmu, bangun dan hadapi hukumanmu secara jantan sebagai pria. Jangan tinggalkan aku dengan beban rasa bersalah ini."
Di luar dinding rumah sakit, badai konspirasi belum berakhir. Nama Kirana mulai terseret dalam pusaran hukum yang sengaja diciptakan oleh tim hukum Bram. Jaksa penuntut mulai mempertanyakan legalitas asal-usul data yang diserahkan Kirana.
Media massa, yang dipasok oleh dana gelap Bram, mulai memainkan narasi bahwa Kirana adalah seorang femme fatale yang licik, wanita yang memanipulasi Arka untuk mencuri rahasia ayahnya sendiri, lalu setelah mendapatkan apa yang diinginkan, ia membuang Arka ke penjara.
"Ibu Kirana," panggil seorang petugas kepolisian berpakaian sipil di lorong rumah sakit. "Kami memiliki surat perintah untuk membawa Anda ke Markas Besar untuk pemeriksaan tambahan terkait laporan dari pihak kuasa hukum Tuan Bram. Anda diduga terlibat dalam akses ilegal data perbankan internasional dan pencemaran nama baik."
Kirana berdiri, merapikan jas merahnya yang kini tampak seperti zirah perang. Ia menatap ke arah pintu kamar Arka satu kali lagi dengan tatapan yang berat. "Saya akan ikut secara sukarela. Tapi saya minta satu hal, pastikan keamanan di koridor ini diperketat. Bram tidak akan berhenti sampai saksi kuncinya benar-benar bungkam selamanya."
Di ruang interogasi Mabes Polri, cahaya lampu neon yang sangat terang menyinari wajah Kirana yang pucat namun tetap tenang. Di depannya duduk dua penyidik senior yang tampak tidak ramah.
"Nona Kirana, pihak Tuan Bram menyatakan bahwa semua bukti yang Anda serahkan adalah hasil rekayasa digital yang canggih. Bagaimana Anda menjelaskan fakta bahwa Arka Mahendra, yang saat itu dalam kondisi tekanan mental berat, menandatangani dokumen yang tidak dia pahami sepenuhnya?"
Kirana menatap tajam ke mata penyidik itu tanpa gentar. "Arka menandatangani dokumen itu karena dia ingin menebus kesalahannya secara sadar. Dia tahu bahwa ayahnya dan Bram telah melakukan kejahatan pencucian uang selama puluhan tahun. Dia adalah saksi kunci yang memilih untuk jujur, bukan korban manipulasi saya."
"Tapi faktanya, Anda adalah pihak yang paling diuntungkan secara finansial dari jatuhnya Mahendra Group. Bukankah begitu?" pertanyaan itu menusuk tepat ke ulu hati Kirana.
Secara hukum, posisinya sangat sulit. Ia telah menggunakan dendam pribadinya untuk melakukan manuver bisnis yang berada di wilayah abu-abu. Jika Arka meninggal, Kirana tidak akan memiliki saksi hidup yang bisa membuktikan bahwa penyerahan data itu dilakukan atas kemauan Arka sendiri.
Sementara itu, di sel tahanan sementara yang jauh lebih mewah dari sel Arka, Bram duduk dengan tenang sambil menyesap air mineral botol kaca. Ia memiliki akses ke telepon seluler rahasia yang diselundupkan oleh oknum.
"Sudah kau selesaikan anak ingusan itu?" tanya Bram pada seseorang di seberang telepon dengan suara rendah.
"Gagal, Tuan. Dia masih hidup, meski koma. Penjagaan di rumah sakit Bhayangkara terlalu ketat sekarang setelah insiden di blok C. Sulit untuk mendekat lagi," jawab suara di seberang.
Bram menggeram kesal. "Gunakan rencana B. Jika kita tidak bisa membunuhnya secara fisik sekarang, hancurkan kredibilitas wanita itu secepat mungkin. Pastikan besok pagi seluruh media nasional tahu bahwa Kirana adalah tunangan yang mengkhianati calon suaminya demi harta. Biarkan opini publik yang menghakiminya sebelum hakim di pengadilan mengetukkan palu. Aku ingin dia menjadi musuh nomor satu di mata rakyat."
***Tengah Malam - Rumah Sakit***
Reza menyelinap masuk ke kamar Arka dengan bantuan suap kecil pada penjaga. Sebagai mantan pialang yang sangat mengerti teknologi, ia membawa sebuah alat perekam medis portabel yang telah dimodifikasi. Ia mendapati monitor jantung Arka menunjukkan aktivitas yang tidak stabil, garis-garis hijaunya berdenyut liar.
Tiba-tiba, jemari Arka berkedut hebat. Matanya bergerak cepat di balik kelopak yang tertutup.
"Arka? Arka, kau bisa mendengarku?" bisik Reza, mendekatkan telinganya.
Arka tidak membuka mata, namun mulutnya bergerak sangat lambat, seolah sedang berjuang melawan maut untuk membisikkan satu kata terakhir. Reza segera mendekatkan alat perekamnya ke bibir Arka yang pecah-pecah.
"Ki... ra... na..." suara itu sangat lemah, hampir menyerupai desis angin yang hilang. "Dompet... hitam... foto... belakang..."
Setelah itu, detak jantung Arka kembali melemah secara drastis, dan ia kembali jatuh ke dalam kegelapan koma yang lebih dalam.
Reza segera menghubungi Kirana yang baru saja selesai menjalani interogasi panjang selama enam jam. "Kirana, Arka sempat sadar beberapa detik. Dia menyebutkan tentang dompet hitam dan sebuah foto. Apakah kau tahu apa maksudnya?"
Kirana tertegun di dalam mobilnya. Dompet hitam. Ia ingat dengan jelas, saat Arka ditangkap di lobi hotel Bali, Arka sempat bersikeras memegang sebuah dompet kulit tua yang tampak usang dan tidak sesuai dengan gaya hidup mewahnya. Dompet itu disita oleh petugas sebagai barang bukti barang pribadi milik tahanan.
Dengan bantuan relasi lama ayahnya di kepolisian, Kirana berhasil mendapatkan akses terbatas ke barang-barang pribadi Arka yang disita. Di dalam sebuah kantong plastik transparan, ia menemukan dompet hitam yang dimaksud. Itu adalah dompet kulit yang sudah sangat usang, jauh dari kesan mahal.
Di dalamnya, terselip sebuah foto lama yang sudah menguning di bagian pinggirnya. Foto Arka saat masih berusia sekitar tujuh tahun bersama ibunya - *wanita yang kabarnya meninggal karena depresi akibat tekanan Surya Mahendra* - dan seorang pria lain yang wajahnya dicoret-coret secara kasar dengan tinta hitam permanen.
Kirana mengeluarkan foto itu dengan tangan gemetar dan melihat ke bagian belakangnya. Di sana, terdapat deretan angka kecil dan kode alfanumerik yang ditulis dengan tangan - **SEB-2015-X-77**.
"Ini bukan sekadar kode bank lokal," gumam Kirana, otaknya yang cerdas segera bekerja. "Ini nomor seri safe deposit box di sebuah firma hukum swasta di Singapura."
Ia segera menyadari bahwa Arka, di balik semua kepura-puraannya di Bali, telah menyiapkan sebuah 'asuransi nyawa' yang jauh lebih besar daripada sekadar flashdisk kemarin. Arka telah menyimpan bukti pamungkas tentang siapa sebenarnya Bram, bahwa Bram bukan hanya mitra bisnis, melainkan orang yang bertanggung jawab atas kematian ibu Arka bertahun-tahun lalu. Arka telah menyimpan data tentang yayasan-yayasan palsu yang digunakan Bram untuk mencuci uang hasil kartel internasional.
Itulah alasan kenapa Arka begitu terpukul selama di Bali, ia baru menyadari bahwa ibunya hanyalah alat bagi Bram dan ayahnya, dan ia sendiri dibesarkan untuk menjadi alat yang sama.
Kirana berdiri di balkon rumah sakit, menatap fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta yang berpolusi. Di tangannya, ia memegang foto kecil itu, sisa-sisa harapan dari seorang pria yang ia hancurkan, yang kini justru menjadi satu-satunya peluru terakhirnya untuk bertahan hidup dari serangan Bram.
Ia tahu, pertempuran di pengadilan besok akan sangat berdarah. Bram tidak akan menyerah tanpa pertumpahan darah lagi. Namun, saat ia menoleh ke arah kamar tempat Arka terbaring, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hatinya: belas kasih yang murni.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati sebagai penjahat di mata dunia, Arka," janji Kirana dalam hati dengan penuh tekad. "Dan aku tidak akan membiarkan iblis seperti Bram memenangkan permainan ini."
Ponsel Kirana tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah pesan singkat dari dokter jaga muncul. "Kondisi pasien menurun drastis secara tiba-tiba. Detak jantungnya melemah di bawah batas aman. Anda harus segera ke ruang perawatan intensif sekarang!"
Kirana berlari sekencang mungkin menyusuri lorong rumah sakit yang panjang. Di sela-sela langkahnya yang memburu, ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit. Ia bukan lagi mengejar kemenangan bisnis atau sekadar kepuasan dendam.
Ia sedang mengejar waktu untuk menyelamatkan sisa-sisa kemanusiaan yang masih tertinggal dalam diri Arka, dan mungkin, menyelamatkan bagian dari dirinya sendiri yang sempat hilang selama ia menjadi "Ratu Es".
...----------------...
**Next Episode**.....