NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suasana ruang server masih penuh kepanikan. Bunyi alarm darurat sesekali terdengar, sementara barisan teknisi mengetik cepat, wajah mereka tegang karena waktu terus berjalan.

Alexander berdiri tegak di depan layar utama, rokoknya tinggal separuh, namun matanya merah penuh amarah.

“Ava, sudah ada kabar?” tanyanya dingin.

Ava menggeleng pelan. “Saya sudah menghubungi semua jalur komunikasi yang biasa digunakan Leo S. Email khusus, jalur enkripsi, bahkan server bayangan yang dia buat sendiri. Tapi…” ia menarik napas berat. “…tidak ada respon sama sekali.”

Alexander mengepalkan tangannya, menghantam meja logam hingga terdengar dentuman keras. “Sial!”

Para teknisi menunduk, tak berani menatap bos mereka.

“Biasanya,” lanjut Ava dengan suara hati-hati, “Leo S merespon dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tapi sekarang… sudah lebih dari satu jam. Semua pesan kita seakan masuk ke ruang kosong.”

Alexander menatap layar penuh kode merah yang terus bergerak. Virus itu semakin menggila, melumpuhkan satu demi satu server cadangan.

“Seolah-olah…” Ava menambahkan pelan, “…dia sepertinya memang sengaja tidak ingin menjawab.”

Alexander menoleh cepat, menatap tajam asistennya. “Apa maksudmu? Kau pikir dia yang menyerang kita?”

Ava tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap layar, sorot matanya penuh arti. “Hanya Leo S yang punya cukup kecerdasan untuk menembus sistem BioShield. Dan hanya dia yang tahu celahnya.”

Alexander mengerang rendah, menghisap rokoknya dengan kasar lalu membuang puntungnya sembarangan ke lantai.

“Kirim pesan lagi,” perintahnya dingin. “Aku tidak peduli berapa banyak. Katakan padanya… kalau dia mau, aku akan membayar sepuluh kali lipat dari kontrak sebelumnya.”

Ava mengangguk, segera mengetik instruksi lewat jalur terenkripsi khusus. Namun setiap pesan yang terkirim hanya mendapat balasan otomatis: 404 Invalid Node. Connection Denied.

Alexander berulang kali berjalan mondar-mandir, jas hitamnya terbuka, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia bukan hanya marah, ia panik.

“Kenapa dia tidak merespon…” gumamnya dengan suara berat, nyaris seperti geraman.

---

Di sisi lain kota, di dalam mobil yang melaju pelan, Elena memangku Leon yang sedang pura-pura tidur. Steve yang menyetir sesekali melirik ke kaca spion.

Elena mengusap rambut putranya lembut. Ia tak tahu, di balik kelopak mata yang terpejam, Leon sebenarnya terjaga.

Dalam keheningan, ponsel mungil di sakunya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk.

[THORNE_CORP]

Emergency Request: Immediate Assistance Needed. Payment ×10.

Leon membuka matanya sedikit. Senyum tipis terukir. Ia melihat pesan itu, lalu tanpa ragu menutup layar dan mematikannya.

‘Papa… mungkin aku tidak akan menolongmu. Rasakan lah rasanya putus asa. Rasanya tak berdaya. Sama seperti yang Mama rasakan.’

Tangannya yang mungil menggenggam lebih erat jari Elena. Wajahnya tetap polos, tapi dalam hatinya, Leo S telah memutuskan untuk membiarkan Alexander tenggelam sendirian dalam badai ciptaannya.

---

Sementara itu di ruang server, Alexander menendang kursi hingga terjungkal. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

“Kenapa dia tidak menjawab?!”

Tak ada yang berani bicara. Hanya Ava yang tetap berdiri tegak, meski wajahnya tegang.

Alexander memijat pelipisnya kasar, matanya merah. Untuk pertama kalinya, pria itu benar-benar tampak terdesak.

“Leo S…” desisnya pelan tapi penuh tekanan. “Siapapun kau… aku akan menemukanmu. Dan saat itu terjadi…” Rahangnya mengeras, suara rendahnya nyaris seperti janji terkutuk. “…kau akan menyesal pernah menantangku.”

Namun dalam diam, jauh di luar jangkauannya, bocah kecil bernama Leon tersenyum dalam pelukan Mamanya.

Beberapa jam kemudian…

Malam mulai turun di kediaman Thorne. Lampu-lampu kristal di ruang utama berkilau temaram, namun suasana di kantor sunyi. Alexander masih di ruang server bersama para teknisi, berjuang melawan virus yang terus melumpuhkan sistem.

Sementara itu, di kamarnya, Leon duduk di ranjangnya. Bocah kecil itu menatap pintu kamar yang tertutup rapat, lalu turun diam-diam dari ranjangnya. Ia berjalan ke arah pintu, menguncinya dari dalam, memastikan tak ada seorang pun yang bisa masuk.

Leon duduk di kursi belajarnya, menarik keluar laptop mungil berwarna hitam dari laci rahasia di bawah meja. Layarnya menyala, menampilkan logo bergaya huruf S berwarna biru. Dalam sekejap, wajah polos bocah lima tahun itu lenyap, berganti menjadi sosok jenius misterius yang dikenal dunia maya sebagai Leo S.

Pesan yang tadi ia biarkan kini masih ada di layar. Tanda merah [Urgent] berkelip cepat.

Leon menarik napas panjang, jemari mungilnya mengetik dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh anak seumurannya.

Leo S: Request received. Problem identified. I’ll help.

Balasan otomatis dari sistem Thorne Corp masuk seketika, memberi akses khusus ke server utama. Leon tersenyum kecil, wajahnya serius.

‘Sudah cukup, Papa. Kau sudah merasakan bagaimana rasanya putus asa. Aku tidak akan membiarkanmu kalah total… bukan karena aku peduli padamu, tapi karena aku tidak ingin Mama ikut terseret jika kerajaanmu runtuh.’

Tangannya menari di atas keyboard. Kode demi kode muncul, melawan virus yang ia ciptakan sendiri. Ia tahu titik lemah ciptaannya, tahu pintu rahasia yang tak akan pernah ditemukan oleh siapapun kecuali dirinya.

Di ruang server, Alexander yang hampir kehilangan harapan tiba-tiba melihat keajaiban. Layar yang semula penuh kode merah perlahan berubah menjadi hijau. Satu per satu sistem yang lumpuh kembali hidup. Server cadangan bangkit, lalu jaringan utama stabil kembali.

Para teknisi bersorak kecil, lega. Ava menoleh ke arah Alexander dengan mata berbinar. “Tuan… dia merespon! Sistem kita kembali pulih! Leo S sedang bekerja!”

Alexander menegang, matanya menatap layar dengan intens. Nafasnya terasa berat, dadanya naik turun cepat. “Akhirnya…” desisnya rendah, suara yang terdengar seperti campuran amarah, dan kagum.

Di kamar atas, Leon mengetik pesan terakhir sebelum menutup laptopnya.

Leo S: System secured. Virus eliminated. You owe me ×10. Next time, don’t repeat the same mistake.

Ia menutup laptopnya rapat-rapat, lalu menyembunyikannya kembali ke laci. Wajah polosnya kembali terpampang saat ia naik ke ranjang, berbaring dengan selimut menutup tubuh kecilnya.

Senyum samar muncul di bibirnya sebelum ia memejamkan mata.

‘Ingat, Papa. Aku bisa menyelamatkanmu… tapi aku juga bisa menghancurkanmu kapan saja. Jika kau menyakiti Mama lagi, aku tidak akan ragu.’

**

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!