Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kabur
"Biarkan dia bertindak sesukanya."
Sean, laki-laki itu duduk di ranjang hotel tempatnya menginap. Ketika tangannya sibuk menerima panggilan, mata laki-laki itu justru fokus mengamati objek yang terdapat pada layar laptop miliknya.
Mata setajam elang itu berkilat dengan tatapan yang bak benang kusut. Tak bisa dicerna ataupun diselami. Terlalu rumit dan penuh misteri.
"Jangan halangi. Jika dia ingin, maka biarkan."
"Baik Tuan."
Tut.
Panggilan Berakhir. Sean mematikannya sepihak. Menggeletakkan benda pipih itu di samping tempatnya duduk.
Saat objek di layar laptopnya tengah mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, Sean menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering.
Rasa itu tiba-tiba muncul. Hasrat ingin menyentuh dan mencum-bu. Sial! Bagian bawahnya mendadak terasa sesak.
Andai saja Sean berada di sana. Di dekatnya, ingin sekali dia menarik rambut setengah basah itu. Lalu memblokir pergerakannya dan mengunci mulut yang kerap mencacinya itu. Mengeksploitasasi segala sesuatu di dalamnya.
Entah sejak kapan. Tapi semua yang ada di dalam diri dia sungguh membuat Sean tidak bisa berpikir rasional.
"Alissa, kau benar-benar membuatku kehilangan akal."
Tawa kecil mengudara dari bibir se-xi milik Sean. Tawa yang menyaratkan akan...ledekan? Atau mungkin ancaman. Entahlah, segala tentang laki-laki itu terlalu abu-abu. Misterius dan sulit ditembus.
"Kau ingin kabur ya?" Sean sugar rambut hitam lebatnya ke belakang.
"Baiklah. Kali ini kuijinkan. Bahkan akan kupermudah." antagonis itu menyunggingkan satu sudut bibirnya.
"Karena kau memang harus diberi pengertian, Alissa."
.
.
"Elis, sepertinya aku mengidam."
Alissa mengadu pada kepala pelayan yang tengah berkutat dengan susu untuk dirinya.
"Mengidam? Wah...calon Tuan Muda kita menginginkan apa Nyonya?" mata Elis berbinar semangat. Ia serahkan segelas susu hangat yang sudah diaduknya pada sang Nyonya.
"Aku...ingin buah peach. Sepertinya memakannya dengan saus gula yang dicampur dengan cabai akan terasa segar."
Elis mengangguk paham. "Tapi kita tidak punya buah peach. Saya akan menyuruh pelayan lain untuk membelikannya."
"Itu dia masalahnya, Elis." Alissa menatap Elis ragu. Apakah dia harus melanjutkan ucapannya?
"Masalah...apa Nyonya?"
"Aku ingin buah peach yang langsung dari pohonnya. Aku pernah lihat, pohon peach di perempatan jalan sedang berbuah lebat."
"Dan...aku ingin kau dan Rion yang memetiknya. Harus kau dan Rion!"
Mata Elis berkedip bingung. Otaknya mencoba mencerna permintaan istri majikannya yang aneh.
"Nyonya meminta saya untuk mencuri?" tanyanya hampir tak percaya.
Bahkan dia yakin. Tuannya bisa membeli berhektar-hektar kebun buah peach.
"Bukan aku." Alissa menggelengkan membantah.
"Tapi dia!" tunjuk Alissa pada perutnya. Lagi-lagi dia menggunakan kehamilannya sebagai tameng.
"Kau mau kan, Elis? Kumohon..." Alissa menampilkan ekspresi memelasnya.
"Tapi ini mencuri Nyonya. Apa kata dunia pelayan dari kediaman Balrick mencuri buah peach di jalan raya."
Bukan apa. Tapi Elis takut. Bagaimana jika nanti dia dan Rion dihajar warga karena ketahuan mencuri untuk sang majikan yang sedang mengidam. Memikirkanya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Tapi ini permintaan calon Tuan Muda-mu."
"Nyonya--
"Kami akan melakukannya, Nyonya." entah darimana tiba-tiba Rion datang. Sepertinya laki-laki sudah mendengarkan pembicaraan kepala pelayan dan istri dari tuannya.
"Kau serius, Rion?!" seru Alissa semangat.
Bawahan Sean itu mengangguk lugas. "Tentu saja. Ini permintaan Tuan Muda kami. Tidak mungkin kami akan menolak. Bukankah begitu Elis?"
Elis gugup saat Rion menatapnya. Rasanya sangat sulit untuk mengucapkan sepatah katapun.
"Elis?"
"Aa--akh...jika Tuan Rion setuju, saya akan melakukannya." gagap kepala pelayan itu tersenyum paksa.
Pada akhirnya, Rion dan Elis pergi sesuai dengan permintaan Alissa. Meninggalkan istri dari majikan mereka yang tersenyum puas. Ini sudah ia rencanakan. Alissa berharap, semua rencana yang sudah ia susun berjalan tanpa hambatan.
"Step satu selesai. Sekarang...saatnya step dua." guman perempuan itu.
Alissa sambar tas miliknya yang sudah ia siapkan sejak kemarin malam. Segala keperluannya ada di tas mungil yang harganya puluhan juta dollar itu.
Alissa hampiri supir pribadi di kediaman Sean. "Apa kau bisa mengantarku ke tempat Elis dan Rion memetik buah peach?"
"Maaf Nyonya. Sebaiknya anda menunggu di rumah. Mereka akan pulang sebentar lagi." balas supir itu yang secara tidak langsung menolak permintaan Alissa.
"Tapi aku ingin ikut memetik." kata Alissa dengan wajah memelasnya.
"Tapi, Nyonya---
"Kau menolak keinginanku? Mau kuadukan pada Sean?" ancam Alissa menggunakan nama suaminya.
Supir itu mana berani menolak jika sudah mendengar nama tuannya yang menyeramkan itu. Maka dengan anggukkan pasrah dia iyakan perintah dari Alissa. Membuat perempuan itu tersenyum puas.
Step dua selesai.
Selang beberapa menit, mereka sampai pada tempat tujuan. Ramai kendaraan berlalu lalang hingga jalanan sedikit macet.
"Kau tunggu di dalam mobil saja. Aku akan menyusul Elis dan Rion." ujar Alissa yang akan keluar dari mobil.
"Saya ikut Nyonya. Saya tidak mungkin membiarkan anda berjalan sendirian."
"Ck, aku bukan anak kecil!" tukas Alissa kesal.
"Nyonya--
"Bisa tidak jangan membantah?" jengah Alissa. Ia tatap sang supir tajam.
"Ba--baik jika Nyonya memaksa." balas supir itu yang tidak berani lagi membantah.
Alissa keluar dari mobil. Merasa dirinya sudah jauh dari jangkaun mobil yang di dalamnya ada supir pribadi di kediaman Sean, Alissa membelokkan langkahnya. Perempuan itu tidak menuju tempat di mana Elis dan Rion berada.
Di sana, mobil taxi sudah menunggunya. Tanpa menunggu lama, dia gegas memasuki mobil itu. Jangan sampai para bawahan Sean itu melihat dirinya.
Brak.
"Akhirnya..." desah Alissa merasa lega.
Sekarang dirinya aman. Selanjutnya adalah, Alissa harus kabur sejauh-jauhnya. Dan itu harus cepat. Sebelum mereka menyadarinya jika dirinya menghilang.
"Terminal kota Pak."
Supir itu mengangguk tanpa sepatah kata. Kemudian mobil melaju pelan. Membawa Alissa dengan perasaannya yang ringan.
Alissa sudah memutuskan ini. Ia akan tinggal di perdesaan. Tempat asri yang jauh dari keramain. Di sana, dia akan memulai hidup baru dengan anaknya.
Istri Sean itu tersenyum kecil dengan tangan yang mengusap perutnya penuh kasih sayang.
Semoga ini adalah keputusan yang tepat.
Sudah setengah jam, dan mobil masih melaju pelan. Mereka melewati hutan dengan banyak pohon besar menjulang tinggi.
Mulanya tidak ada yang aneh. Tapi saat, supir itu berbicara pada seseorang di telepon, Alissa mendadak panik.
"Saya sudah mendapatkannya."
"Tenang saja, saya akan membawanya dengan aman kepada anda."
"Baik."
"Pak? Apa kita masih jauh?" Alissa bertanya khawatir.
Lagi-lagi dia melakukan kebodohan dengan tidak terlebih dahulu memeriksa rute menuju terminal. Yang ia cari hanya keberadaan terminal itu. Dan sekarang perempuan itu di ambang kebingungan. Apakah supir taxi ini dapat dipercaya atau sebaliknya.
Kepanikan Alissa semakin menjadi saat sang supir membelokkan mobilnya menuju ke dalam hutan. Saat itulah dia menyadari jika dirinya....tengah diculik.
"Pak, kau mau membawaku kemana?!" seru Alissa dengan rautnya yang pias.
"Ke tempat yang semestinya."
Jawaban ambigu itu tidak membuat Alissa merasa tenang. Malah, kepanikannya semakin menjadi.
"Pak, saya turun di sini saja!"
Supir itu tidak menggubris dan tetap fokus mengemudikan kendaraan roda empat miliknya itu.
"Tolong!" Alissa berteriak. Meskipun mungkin usahanya hanya sia-sia.
"Tolong aku!"
"Pak, turunkan aku!!"
"Sebaiknya anda diam, Nyonya."
"Tidak..." Alissa menggeleng takut. Di saat seperti ini, dia malah teringat pada laki-laki yang dicapnya sebagai baji-ngan.
Sean, selamatkan aku...