"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bab 23
"Eh tadi gue tadi kok berani banget ya, gimana kalau dia marah sama gue?" setelah selesai emosi Nabila baru sadar kalau tadi sikapnya tidak sopan sama Alka.
"Tapi kan dia sudah jahat banget, wajar dong kalau Aku marah." keluh Nabila lagi.
Saat sendirian Nabila Rania menghampirinya dan menyapa Nabila.
"Nabila, kamu ada di sini?" sapanya, dan hanya Anita yang mau berteman dengan Nabila dari pertama kali ia magang, sepertinya yang lain sedikit sensi terhadap dirinya tapi Nabila tak ambil pusing, tujuannya hanya satu yaitu mencari ilmu dan pengalaman setelah lulus ia mau melamar ke perusahaan lain yang tentu lebih besar dari pada milik suaminya ini.
"Eh iya Anita, ini gue mau pulang sih, kamu sendiri?" tanya Nabila balik.
"Oh Aku masih ada pekerjaan, oh ya kamu jadi bahan gosib di kantor karena jdi sekertaris Pak CEO. Kamu dengar nggak kalau Bu Sinta diam-diam selama ini menyukai Pak Alka, katanya sih dia masih punya hubungan dekat gitu tapi nggak tahu faktanya karena selama ini Pak Alka sangat dingin dan tertutup banget soal cewek tapi jujur ya, kayaknya Pak Alka sukak sama kamu deh La," ujar Anita tersenyum tipis.
"Ah kamu An. Ada-ada saja mana mungkin, itu mustahil. lagian tujuanku ke kantor ini untuk bekerja dan mencari pengalaman serta tugasku cepet selesai tidak ada yang tujuan lain," sahut Nabila yang tadinya sempat terkesiap dengar penuturan Anita.
"Kamu serius tidak tertarik sama Pak Alka! dia genteng banget loh! Masak sih tidak terpikat?"
"Tidak! lebih baik terikat sama kucing dari pada yang lebih jelas menggemaskan."
"Hah! Kamu tidak salah ngomong La? Pak Alka adalah idola semua orang yang ada di kantor ini termasuk gue, eb kamu ini masak Pak Alka setampan itu kamu bandingkan dengan kucing, huf! Kamu itu tidak sadar kalau semua yang ada pada Pak Alka punya daya tarik yang memikat jantung, mulai dari wajahnya, tubuhnya semua memiliki nilai nafsu yang tinggi, ah pasti kalau soal A-nu Pak Alka paling hebat." Anita yang lagi menghalu.
"Memang iya," gumam Nabila.
"Apa, kamu pernah tidur sama Pak Alka?" Nabila terkesiap karna ia sudah salah bicara.
"Tidak." serunya cepat.
"Ya udah, Aku pulang duluan ya An, kebetulan aku sudah nggak ada urusan lagi," pamit Nabila karena tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya tidak enak.
"Ye Allah, kenapa sakit banget ya," batin Nabila.
Nabila!" panggil Alka tiba-tiba, shontak Nabila menoleh ke arah suara tersbeut.
Helaan napas langsung keluar dari mulutnya, selalu ia capek bertemu dengan orang tersebut.
Sementara Alka tidak menghiraukan wajah lesu sang istri yang paham kalau dirinya masih marah.
"Ikut saya ke ruangan!" titahnya cepat.
"Maaf Pak, sa- Aku mau pulang." pekik Nabila melotot ke arah suaminya, benar sudah sabar stok sabarnya di tambah ia saat ini merasa tidak nyaman dalam tubuhnya.
"Ssst.....,"
Alka langsung menarik tangan istrinya masuk, tetapi sebelum ia menutupi pinggangnya dengan Jaz hitamnya.
"Kamu apa-apa'an sih Pak, Aku mau pulang kenapa main paksa masuk lagi, oh jangan-jangan Bapak masih belum puas ya?" ujar Nabila marah.
"Saya belum puas? Atau kamu yang ketagihan?" ringai Alka santai.
"lihat tuh wajah kamu sudah memerah, itu artinya memang kamu yang ketagihan," ulang Alka tersenyum nakal.
Nabila mendengus kesal, suaminya benar tidak punya hati dan perasaan gampang sekali memutar fakta dan playing victim.
"Kamu lagi datang Bulan?" tanya Alka.
Nabila menyerngit sambil menggelang kepala pasalnya ia sendiri tidak tahu apakah dirinya datang Bulan tidak.
"Itu apa?" tunjuk Alka pada diri Nabila lebih tepatnya di arah yang tepat.
Nabilal langsung balik badan menoleh, matanya langsung melebar pasalnya darahnya sudah keluar banyak, pantes saja sedari tadi ia merasa tidak nyaman tapi kenapa darahnya langsung banyak begitu biasanya kalau hari pertama tidak.
"Kamu tidak bawa pembalut?" tanya Alka lagi.
"Aku tidak tahu kalau mau datang Bulan Pak, lagi pula tadi kita waktu--," Nabila terhenti bingung mau melanjutkan apa.
Alka tersenyum tipis istrinya begitu pemalu dan polos.
"Waktu kita bercinta kamu belum PMS." jawab Alka.
"Ayo, pulang." ajak Alka.
"Sama Bapak?"
"Kamu mau pulang sama laki-laki lain?" delik Alka.
"Bu-kan, maksudku Bapak kan mau ada meeting katanya Aku bisa pulang sendiri," sahut Nabila gugup.
"Kamu lupa suami mu ini siapa?"
"Iya Pak," sahut Nabila karana tidak mau buat Alka marah.
Alka dan Nabila keluar dari ruangannya dan memanggil asistennya.
"Meeting hari di tunda, saya mau keluar dulu." ucap Alka pada Lucas yang berjaga di depan ruangannya.
"Siap, Pak." jawab Lucas tidak banyak bertanya, sebab ia tahu kalau kepergiannya pasti ada alasannya dengan perempuan yang ada di sampingnya dan hanya Lucas yang tahu kalau Nabila isterinya dan hubungan itu belum di izinkan untuk di sebar sebelum Alka sendiri yang memintanya.
Sementara para karyawan yang lain mulai sadar kalau anak magang yang baru beberapa hari itu bergabung telah menjadi pusat perhatian yang khusus lebih-lebih oleh Shinta wanita yang selama ini mengagumi bosnya.
"Bu Shinta, sepertinya anak magang itu telah merayu Pak Bos sejak dari awal dia datang selalu saja masuk ke ruangan Bos, memang sih dia sekertarisnya tapi dia hanya anak magang, aneh bukan sih kalau tidak punya niat lain," ujar salah satu karyawan memanasi atasannya yang tahu betul kalau selama ini Shinta adalah orang yang berharap Alka menjadi kekasihnya.
"Selidiki dia dan segara kasih tahu ke saya." ucapnya tegas.
"Baik, Bu."
"Di rumah ada stok pembalut?" tanya Alka saat sampai di dalam mobil.
Nabila terdiam berpikir apakah dirinya udah punya pembalut atau belum.
"Kayaknya nggak Pak, soalnya kemaren aku lupa pas belanja." Nabila sadar kalau darahnya makin keluar banyak sampai mengotori mobil Alka.
"Aduh, dia marah nggak ya, mobilnya kotor begini?" batin Nabila tidak enak sekaligus takut Alka marah, ya walau memang betul dirinya yang salah.
"Ceroboh!" cibir Alka, lalu melajukan mobilnya keluar dari kantor dan setelah ada toko Alka langsung berhenti, Nabila yakin suami killernya itu meminta dirinya untuk membeli pembalut lebih dahulu.
"Aku turun dulu ya Pak," izin Nabila, walau dirinya malu untuk turun dalam keadaan seperti ini tapi tak ada pilihan lain karena mana mungkin Alka yang mau membelinya, kalau pun ia itu mustahil dan Nabilla bukan cewek beruntung yang begitu di cintai oleh pasangannya layaknya di drama korea.
"Mau ngapain?" tanya Alka yang hendak melepas sabuk pengaman.
"Mau beli pembalut Pak," sahut Nabila, dalam batunya Nabila bertanya apakah dirinya sudah salah mengira kalau Alka menepikan mobilnya memang itu untuk menyuruh dirinya membeli pembalut.
"Kamu lihat diri mu dulu, tidak malu keluar dengan pakaian kotor seperti itu?" tanya Alka sambil menatap heran pada diri Nabila yang sudah jelas tahu keadaan dirinya.
Nabila melirik ke bawah ternyata darahnya sudah mengalir deras banyak dan rok prisketnya pun basah oleh darah.
"Ya ampun kenapa banyak sekali begini, Pak, maaf Aku tidak sengaja biasanya kalau hari pertama tidak sebanyak ini." Nabila menjadi panik karena hal pertama yang ada di otaknya adalah gimana caranya ia membersihkan mobil Alka yang sudah banjir oleh darah.
"Tunggu sebentar," ucap Alka segera turun, sedang Nabila masih sok sendiri dan baru sadar saat Alka menutupi pintu mobil.
Bug!.
Alka menutup mobil, lalu masuk ke dalam toko yang lumayan besar dan lengkap.
"Selamat datang di toko Basmallah Mart tempat belanja nyaman dan tenang!" sapa pelayan toko dengan ramah sambil memberikan senyuman sopan, sesuai logo yang ada di toko tersebut.
"Tempat pembalut ada di sebelah mana?" tanya Alka the poin karena memang itu yang dia butuhkan dan ia tidak merasa risih mengucapkannya karena pasti pelayan tahu ia membelinya untuk sang istri.
Gimana, dirinya sudah keliatan seperti aktor baik hati di luar sana kan!.
"Oh di sebelah sana Mas," sahut pelayan langsung menunjuhkan kerah rak yang berisi pembalut dengan varian merk.
Alka mengangguk dan langsung menuju ke rak tersebeut juga mengambil keranjang kecil .
"Huf! Kenapa tadi saya tidak nanyak dulu Nabila maunya merk yang mana tuh anak?" Alka menggelengkan kepalanya kebingungan karena banyak merk yang tertata rapi.
"Ya ampun kok gue yang meleleh padahal pacarnya yang dapat spik laki-laki keren seperti dia," bisik salah satu pelayan pada pelayan lainnya.
"Iya, mana tampan banget dia kayak aktor drama yang lagi hits."
"Idaman banget, udah wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, perfect pokoknya," timpal yang lain ikut gemas.
Sementara Nabila di dalam mobil menunggu dengen gelisah.
"Kok lama banget sih, masak tidak tahu pembalut? Atau dia malah keasyikan ngobrol sama cewek genit di sana ya." dumel Nabila sendiri, kenapa ia malah jadi sensi.