Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mineral dan Tamu Tak Diundang
Udara malam yang dingin terasa menyegarkan setelah adrenalin Aulia terpacu di lintasan roller coaster. Ia merasa lebih rileks daripada sebelumnya. Rizki, yang sedari tadi memperhatikan dengan wajah pucat, menunjukkan perhatian yang sangat tidak biasa. Pria itu mengambil sebotol air mineral, membukakan tutupnya, dan menyerahkannya kepada Aulia dengan gerakan lembut.
Namun, sebuah kejadian spontan terjadi saat Aulia mengembalikan botol itu. Rizki menerima botol tersebut dan langsung meminumnya dari lubang yang sama dengan bekas bibir Aulia.
Aulia membeku di tempatnya. Bagi pasangan lain, berbagi botol minum adalah hal yang sangat sepele. Namun bagi Aulia, ini adalah sebuah keajaiban yang terasa menyakitkan. Ingatannya terseret pada awal pernikahan mereka, saat ia secara tidak sengaja meminum dari cangkir Rizki. Kala itu, Rizki langsung menghardiknya dengan tatapan penuh kebencian, lalu membuang cangkir mahal itu ke tempat sampah.
"Kotor. Jijik. Jangan sentuh barang-barangku lagi," suara dingin Rizki saat itu masih terngiang jelas.
Melihat Rizki yang sekarang—pria yang rela mengabaikan obsesi kebersihannya demi dirinya—membuat hati Aulia bergetar dalam kebingungan. Apakah pria ini benar-benar sedang mencoba berubah, ataukah ini hanya akting demi meredam rasa bersalah?
Tepat saat Aulia hendak mengajak Rizki menuju wahana rumah hantu, suara lengkingan Pamela memecah keheningan taman hiburan.
"Kak Rizki! Ternyata benar kalian di sini!"
Pamela melangkah mendekat dengan wajah penuh kemenangan, menarik Meli yang tampak anggun namun terlihat lemah di sampingnya. Pamela sengaja membawa Meli ke sana karena mengira Rizki menyewa taman hiburan ini untuk memberikan kejutan Valentine yang tertunda bagi Meli.
"Kak, taman hiburan ini keren banget! Hanya Kakak yang bisa seromantis ini buat Kak Meli. Aku sudah bilang pada Kak Meli kalau Kakak pasti punya kejutan besar malam ini!" seru Pamela dengan nada bangga yang meluap-luap.
Meli tersenyum malu-malu, menatap Rizki dengan binar mata yang penuh harap. Ia segera menerima "kejutan" yang sebenarnya bukan untuknya itu dengan tangan terbuka, seolah-olah seluruh lampu yang menyala di sana memang didedikasikan untuk kehadirannya.
Aulia hanya berdiri mematung. Kehangatan singkat dari botol air mineral tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. Ia kembali diingatkan pada kenyataan pahit: di mata keluarga Laksmana dan di dunia Rizki, tempatnya selalu bisa digantikan oleh Meli dalam sekejap mata.
Tanpa sepatah kata pun, Aulia berbalik. Ia tidak ingin menjadi penonton figuran dalam drama romantis suaminya dengan wanita lain.
"Aulia, mau ke mana?" panggil Rizki, suaranya terdengar panik saat ia melangkah maju menahan lengan Aulia.
"Pulang," jawab Aulia datar, tanpa menoleh.
"Bukannya tadi kamu bilang ingin ke rumah hantu?" tanya Rizki lagi, berusaha menahan Aulia agar tidak pergi.
Aulia berhenti sejenak, lalu menoleh dengan senyum pahit yang menyayat hati. "Tidak perlu lagi. Melihat kemesraan kalian di bawah lampu indah ini jauh lebih menyeramkan dan menyesakkan daripada rumah hantu mana pun di dunia ini."
Rizki kini berada di posisi terjepit yang mematikan. Ia telah mengeluarkan biaya dan usaha luar biasa untuk menyewa tempat ini khusus bagi Aulia. Namun, kedatangan Meli yang dibawa oleh Pamela telah merusak seluruh suasana yang ia bangun dengan susah payah.
Jika ia membiarkan Aulia pergi sekarang, maka usahanya untuk "bertobat" malam ini akan sia-sia sepenuhnya. Namun, jika ia mengusir Meli di depan Pamela, ia akan melukai wanita yang selama lima tahun ini selalu ia jadikan prioritas utama.
Pamela dan Meli pun tertegun. Mereka baru menyadari ketegangan di antara Rizki dan Aulia. Mereka mengira Aulia hanyalah "benalu" yang kebetulan ikut karena tidak tahu diri, namun melihat Rizki yang justru memohon pada Aulia membuat wajah Meli perlahan memucat.
Akankah Rizki berani menegaskan di depan Meli dan Pamela bahwa malam ini adalah milik Aulia? Ataukah ia akan kembali pada kebiasaan lamanya: membiarkan Aulia pergi dengan luka, demi menjaga perasaan "sang penyelamat" masa lalunya itu?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.