Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA YANG DIBANGUN DARI HATI DAN MASA DEPAN YANG TERANG LEBIH BANYAK
Mentari pagi menyinari kampus Sekolah Hadian Medan, yang baru saja selesai dibangun dua bulan yang lalu. Qinara, yang sekarang berusia enam belas tahun, berdiri di tengah lapangan olahraga, melihat anak-anak yang sedang bermain bola. Sudah setahun sejak dia berbicara di konferensi PBB di New York, dan banyak hal telah berubah—jaringan Sekolah Hadian sekarang telah mencapai lima cabang di Indonesia, dan yayasan telah menerima dukungan dari organisasi internasional.
Pak Santoso mendekatinya dengan cangkir teh hangat yang dibuat dari daun teh liar yang dia temukan di sekitar sekolah. "Nak, lihat mereka—semua bahagia dan sehat. Ini adalah apa yang ayahmu inginkan, bukan?" ucapnya dengan senyum lemah.
Qinara mengangguk, menyentuh kotak pemberian ayahnya yang dia bawa selalu. Di dalamnya, selain surat ayahnya dan medali penghargaan, sekarang ada surat dari berbagai negara—dari Afrika Selatan, India, dan Brasil—yang memberitahu bahwa mereka telah mengadopsi model Sekolah Hadian di negaranya. "Ya, Pak. Ayahmu pasti senang melihat bahwa warisannya telah menyebar ke seluruh dunia."
Pak Rio muncul dengan surat baru yang tiba dari PBB. "Qinara, ini dari Sekretaris Jenderal. Mereka ingin mengundangmu untuk menjadi duta khusus PBB untuk pendidikan anak-anak. Kamu akan bekerja dengan delegasi dari berbagai negara untuk membuat kebijakan tentang pendidikan di negara berkembang."
Qinara membaca surat itu dengan mata yang penuh kegembiraan. Ini adalah kesempatan yang luar biasa—bisa berkontribusi pada perubahan global secara langsung. "Aku akan terima, Pak Rio. Ini adalah cara yang lebih baik untuk membantu anak-anak di seluruh dunia."
Sore hari, mereka berjalan ke rumah Pak Slamet yang sekarang tinggal di Medan, setelah dia memutuskan untuk pindah dari Jakarta untuk membantu mengelola sekolah di sini. Pak Slamet sudah tua dan lemah, tapi matanya masih penuh tekad. Dia sedang menanam bunga mawar di kebunnya—bunga yang selalu dia berikan kepada Qinara setiap kali dia mengunjungi.
"Qinara, aku mendengar tentang berita duta khusus PBB. Kamu luar biasa, Nak. Aku selalu tahu bahwa kamu akan melakukan hal-hal besar," kata Pak Slamet, memberinya bunga mawar putih.
"Terima kasih, Pak Slamet. Tanpa kamu, aku tidak akan pernah mendapatkan keadilan untuk ayahmu. Kamu adalah bagian dari keluarga ku," jawab Qinara, memeluknya dengan erat.
Di saat itu, Siti datang bersama dengan Rudi—yang sekarang sudah berusia sembilan belas tahun dan sedang menempuh studi kedokteran di Medan. Mereka membawa berita baik: yayasan telah mendapatkan dana untuk membangun sekolah keenam di Papua.
"Kak Qinara, kita sudah menemukan lokasi yang cocok di Papua. Warga sekitar sangat senang dan siap membantu pembangunan," kata Siti dengan senyum lebar.
Qinara merasa bahagia. Papua adalah daerah yang jauh dan sulit dijangkau, tapi banyak anak-anak di sana yang membutuhkan pendidikan. "Baik, kita akan mulai pembangunan bulan depan. Aku akan datang ke sana untuk membantu."
Malam itu, mereka semua berkumpul di rumah Pak Slamet untuk makan malam. Bu Minah yang telah pindah ke Medan bersama Pak Joko, membuat makanan tradisional Indonesia—rendang, nasi goreng, dan sate. Anak-anak dari Sekolah Hadian Medan juga hadir, menyanyi lagu dan berbagi cerita tentang hari-hari mereka di sekolah.
Selama makan malam, Qinara menerima telepon dari Laras. Ini adalah telepon pertama yang dia terima dari ibunya—sebelumnya hanya surat. Laras telah mendapatkan pengurangan hukuman lagi dan akan segera dibebaskan bersyarat.
"Qinara... apa kabarmu? Aku mendengar tentang berita duta khusus PBB. Aku bangga padamu," kata Laras dengan suara lemah.
"aku baik-baik saja, Ibu. Kamu akan dibebaskan segera?" tanya Qinara dengan nada yang tidak terduga lembut.
"Ya, minggu depan. Aku ingin bertemu denganmu, jika kamu mau. Aku ingin minta maaf langsung padamu," jawab Laras.
Qinara diam sebentar, memikirkan. Selama bertahun-tahun, dia telah membenci ibunya untuk mengkhianati ayahnya. Tapi sekarang, dia merasa bahwa waktu telah membekukan rasa sakitnya. "Ya, Ibu. Kita bisa bertemu di Sekolah Hadian Jakarta minggu depan."
Setelah telepon selesai, semua orang melihat Qinara dengan rasa kaguman. Pak Rio berkata, "Kamu sangat kuat, Qinara. Memaafkan adalah hal yang paling sulit, tapi itu juga yang paling berharga."
Minggu berikutnya, Qinara kembali ke Jakarta. Dia menunggu Laras di taman Sekolah Hadian Jakarta, di bangku yang ayahnya pernah buat. Ketika Laras tiba, Qinara melihat bahwa ibunya telah berubah banyak—wajah yang kurus, rambut yang sudah beruban, dan mata yang penuh penyesalan.
Laras mendekatinya dan menangis. "Qinara... maafkan aku. Aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dibatalkan. Aku mengkhianati ayahmu dan kamu. Aku tidak berhak atas pembenaranmu, tapi aku ingin minta maaf."
Qinara juga menangis. Dia memeluk ibunya dengan erat, rasa benci yang lama tiba-tiba hilang. "Aku maafkanmu, Ibu. Aku tahu bahwa kamu telah menyesal. Kita bisa memulai lagi, dari awal."
Laras menangis semakin keras, merasa lega setelah bertahun-tahun menyimpan rasa bersalah. "Terima kasih, Qinara. Aku akan berusaha menjadi orang yang baik lagi. Aku ingin membantu di yayasan, jika kamu mau."
"Ya, Ibu. Kita butuh banyak orang untuk membantu anak-anak. Kamu bisa mengajar di Sekolah Hadian, jika kamu mau," jawab Qinara dengan senyum.
Beberapa hari kemudian, Laras mulai bekerja sebagai guru di Sekolah Hadian Jakarta. Anak-anak menyukainya, karena dia mengajar dengan kasih sayang dan penuh kesabaran. Qinara melihat ibunya bekerja dan merasa bahagia—keluarganya yang dulu hancur, sekarang mulai terbentuk lagi, bukan dari darah tapi dari hati.
Bulan berikutnya, mereka berangkat ke Papua untuk memulai pembangunan sekolah keenam. Jalanan ke lokasi sekolah sangat sulit—melalui gunung dan hutan—tapi mereka semua bekerja bersama-sama. Warga sekitar datang membantu dengan antusias, karena mereka tahu bahwa sekolah itu akan memberikan harapan bagi anak-anak mereka.
Selama pembangunan, Qinara menerima surat dari ayahnya—bukan surat yang lama, tapi surat yang dia tulis sendiri di hati. Dia membacanya dalam pikirannya: "Qinara, kamu telah membangun keluarga yang lebih besar dari yang aku bayangkan. Kamu telah membantu ribuan anak, menyebarkan pesan kebenaran dan kasih sayang, dan memaafkan orang yang telah menyakitimu. Aku sangat bangga padamu. Kamu adalah warisan terbesar yang aku miliki."
Hari pembukaan Sekolah Hadian Papua diadakan pada hari ulang tahun Qinara yang ke-16. Lebih dari 500 orang datang ke acara itu—warga lokal, pejabat, dan anak-anak yang akan bersekolah. Qinara berdiri di panggung, mengenakan baju batik Papua yang cantik. Dia memegang tongkat kayu yang diberikan Pak Santoso dan kotak pemberian ayahnya.
"Hari ini, kita merayakan pembukaan Sekolah Hadian Papua dan ulang tahunku yang ke-16. Ini adalah hari yang spesial, karena kita telah membangun keluarga yang besar—keluarga yang terbentuk dari hati, bukan dari darah. Kita telah membantu lebih dari 1.000 anak di Indonesia, dan pesan ayahku telah menyebar ke seluruh dunia."
Dia melihat ke arah anak-anak yang berdiri di depan panggung, ke arah Laras yang sedang berdiri di samping Pak Rio, Pak Santoso, dan Pak Slamet. "Untuk semua orang yang ada di sini—terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Tanpa kamu, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Masa depan yang cerah menunggumu, dan kita akan menghadapinya bersama-sama."
Suara tepuk tangan yang meriah terdengar dari seluruh tempat, bergema di antara gunung Papua. Mentari menyinari sekolah yang baru dibangun, memberikan cahaya pada masa depan yang terang lebih banyak.
Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia yakin bahwa dia akan mencapai semua impiannya. Dia memiliki keluarga yang dibangun dari hati, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan warisan ayahnya yang abadi. Masa depan menunggumu, dan dia siap untuk menghadapinya dengan senyum di wajah dan cinta di hati.