Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesakitan
Suara mesin pemantau jantung yang monoton menjadi satu-satunya melodi yang mengisi kamar luas itu saat Alana akhirnya membuka matanya. Langit-langit putih yang tinggi terasa seolah sedang runtuh menimpanya. Sensasi pertama yang ia rasakan bukanlah kelegaan karena telah melewati masa kritis, melainkan rasa sakit yang luar biasa di bagian bawah perutnya dan kekosongan yang amat dalam di jiwanya.
Di samping tempat tidurnya, Dr. Aris sedang memeriksa selang infus. Melihat pasiennya sadar, dokter tua itu menghela napas lega, namun matanya memancarkan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.
"Kau sudah bangun, Alana?" tanya Dr. Aris dengan suara selembut mungkin.
Alana mencoba menggerakkan bibirnya yang pecah-pecah. "Dokter... apa yang terjadi?"
Dr. Aris terdiam sejenak, memegang tangan Alana yang dingin. "Tubuhmu mencapai batasnya, Nak. Tapi ada alasan lain mengapa kau sangat lemah. Alana... kau sedang mengandung. Usia kehamilanmu memasuki minggu kelima."
Mendengar kata-kata itu, dunia Alana seolah berhenti berputar. Tangannya yang bebas secara refleks meraba perutnya yang masih rata. Namun, alih-alih pancaran kebahagiaan yang biasanya dirasakan seorang ibu, yang muncul adalah gelombang ketakutan yang murni. Air mata seketika tumpah, membasahi bantal sutranya.
"Hamil?" bisik Alana, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Tidak... jangan sekarang. Kumohon, jangan anak ini..."
Ia merasa sedih. Sedih karena nyawa kecil yang tidak berdosa ini harus tumbuh di dalam rahim seorang wanita yang jiwanya sedang hancur. Ia takut. Takut jika anak ini hanya akan menjadi alat baru bagi Brixton untuk menyiksanya, atau lebih buruk lagi, anak ini akan mewarisi kekejaman ayahnya. Di matanya, kehamilan ini bukanlah anugerah, melainkan rantai baru yang akan mengikatnya selamanya di neraka yang diciptakan Brixton.
"Tenanglah, Alana. Kau harus menjaga emosimu demi bayi ini," Dr. Aris mencoba menenangkan, meskipun ia tahu kata-katanya terdengar sia-sia.
Pintu kamar terbuka. Brixton melangkah masuk. Sosoknya yang jangkung dan tegap seolah menyerap seluruh oksigen di ruangan itu. Ia menatap Alana dengan ekspresi yang sulit diartikan—ada secercah kepuasan yang dingin, namun juga ada posesifitas yang lebih pekat dari biasanya.
"Dokter, tinggalkan kami," perintah Brixton tanpa mengalihkan pandangan dari Alana.
Dr. Aris memberikan tatapan peringatan pada Brixton sebelum akhirnya keluar dengan berat hati. Kini, di dalam kamar itu, hanya ada mereka berdua—dan rahasia baru yang ada di rahim Alana.
Brixton berjalan mendekat, duduk di kursi di samping ranjang. Ia meraih tangan Alana yang gemetar, namun Alana mencoba menariknya kembali. Brixton mempererat cengkeramannya, tidak membiarkan wanita itu menjauh.
"Kau sudah dengar, bukan?" suara Brixton rendah, hampir seperti bisikan predator. "Kau membawa ahli waris Vance di dalam dirimu."
"Lepaskan aku, Brixton..." tangis Alana semakin menjadi. "Biarkan aku pergi. Ambillah semuanya, tapi jangan biarkan anak ini tumbuh di sini."
"Jangan konyol!" bentak Brixton, namun suaranya tertahan. "Kau tidak akan pergi ke mana pun. Sekarang kau jauh lebih berharga daripada sebelumnya. Kau membawa masa depan keluargaku."
Sejak saat itu, Brixton menunjukkan perubahan sikap yang aneh. Ia mulai memerintahkan pelayan untuk membawa makanan-makanan paling bergizi ke kamar Alana. Ia membelikan vitamin terbaik dan memastikan suhu ruangan selalu sempurna. Namun, semua "perhatian" itu terasa seperti seorang kolektor yang sedang merawat barang antik yang mahal agar tidak rusak, bukan seorang suami yang mencintai istrinya.
Ia tetap dingin. Ia tidak pernah bertanya apakah Alana merasa bahagia, atau apakah ia butuh teman bicara. Brixton hanya peduli pada kondisi fisik rahimnya. Ia menjadi sangat posesif; Alana tidak diizinkan keluar dari kamar tanpa izinnya, dan setiap gerak-geriknya diawasi oleh pengawal di depan pintu. Alana kini benar-benar menjadi tawanan di dalam sangkar emas.
Namun, di balik semua perhatian materialistik itu, sisi gelap Brixton tidak pernah benar-benar padam. Nafsunya yang liar dan kebutuhannya untuk mendominasi Alana tetap ada, bahkan justru semakin menjadi-jadi karena ia merasa memiliki "hak mutlak" atas tubuh wanita yang mengandung anaknya itu.
Tiga hari setelah Alana sadar, saat kondisinya baru saja sedikit stabil namun masih sangat lemas, Brixton masuk ke kamar di tengah malam. Ia tidak bicara. Ia langsung naik ke tempat tidur dan menarik daster sutra Alana ke atas.
"Brixton, jangan... kumohon," rintih Alana, mencoba menahan tangan suaminya. "Dokter bilang aku harus banyak istirahat. Tubuhku masih sakit, dan... bagian bawahku masih terasa lecet dan perih dari yang terakhir kali."
Brixton tidak berhenti. Ia mencium leher Alana dengan kasar, mengabaikan rintihan kesakitan istrinya. "Dokter hanya bilang kau harus menjaga nutrisimu. Melayani suamimu tidak akan membunuh bayi itu."
"Tapi ini sakit, Brixton! Benar-benar sakit!" Alana memohon, air matanya membasahi bahu Brixton. "Aku merasa perih sekali, kumohon... sekali ini saja, biarkan aku tenang."
Brixton berhenti sejenak, menatap Alana dengan mata yang gelap oleh nafsu dan kebencian yang tersisa. "Kau pikir karena kau hamil, kau bisa lepas dari kewajibanmu? Justru karena kau hamil, aku harus memastikan kau tahu siapa tuanmu di sini. Kau milikku, Alana. Rahimmu, tubuhmu, rasa sakitmu... semuanya milikku."
Tanpa mempedulikan penjelasan Alana tentang luka lecet dan rasa lemas yang luar biasa, Brixton kembali memaksakan kehendaknya. Ia melakukannya dengan dingin, tanpa ekspresi cinta sedikit pun. Baginya, Alana adalah pelampiasan yang sah. Ia tidak peduli jika Alana menggigit bibirnya menahan tangis, atau jika tubuh wanita itu gemetar karena rasa sakit fisik yang nyata.
Ia melakukan aktivitas itu seolah-olah ia sedang menaruh tanda kepemilikan. Setiap gerakannya mencerminkan ego yang terluka karena masa lalu, yang kini ia tumpahkan seluruhnya pada Alana. Ia tidak peduli meski Alana berkali-kali membisikkan kata "sakit" di telinganya. Brixton seolah tuli terhadap penderitaan manusia di bawahnya; yang ia pedulikan hanyalah kelegaan nafsunya sendiri dan pengakuan bahwa ia adalah penguasa atas hidup Alana.
Setelah selesai, Brixton bangkit dan membenarkan letak celananya. Ia menatap Alana yang meringkuk, memeluk perutnya dengan posisi melindungi, seolah-olah ia sedang mencoba menyembunyikan bayinya dari kemarahan ayahnya sendiri.
"Besok pagi, habiskan semua sup yang dikirim Bibi Martha," ucap Brixton datar, seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi. "Aku tidak ingin anakku kekurangan gizi hanya karena kau ingin mogok makan."
Ia keluar dari kamar, meninggalkan aroma parfumnya yang memuakkan dan rasa perih yang menjalar di tubuh Alana.
Alana terisak dalam kegelapan. Rasa perih di tubuhnya terasa seperti diingatkan berkali-kali bahwa ia hanyalah sebuah objek. Ia menatap tangannya yang gemetar, lalu perlahan menyentuh perutnya lagi.
"Maafkan Ibu, Nak..." bisiknya lirih. "Maafkan aku karena membawamu ke dunia yang sekejam ini."
Ia merasa sangat kesepian. Di rumah yang penuh dengan pelayan ini, tidak ada satu pun orang yang bisa melindunginya dari suaminya sendiri. Perhatian Brixton berupa makanan dan barang-barang mewah terasa seperti penghinaan. Pria itu memberinya makan agar anaknya hidup, tapi ia merusak mental dan fisik ibunya tanpa ampun.
Setiap hari berjalan seperti itu. Brixton akan datang dengan wajah acuh tak acuh, memberikan instruksi tentang kesehatan kehamilannya, namun di malam hari, ia akan kembali menjadi monster yang melampiaskan nafsu tanpa mempedulikan kondisi Alana. Seringkali Alana mencoba menjelaskan bahwa ia merasa mual hebat atau pusing, namun Brixton hanya akan menjawab, "Itu biasa bagi wanita hamil, jangan manja," sebelum akhirnya kembali menggunakan tubuhnya.
Pernah suatu malam, Alana benar-benar tidak sanggup lagi. Ia mencoba mendorong Brixton menjauh saat pria itu mulai menyentuhnya dengan kasar.
"Hentikan, Brixton! Ini benar-benar sakit! Ada luka di sana, aku lecet... tolong, mengertilah!" teriak Alana dengan sisa tenaganya.
Brixton justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Alana dan menekannya ke atas kepala ranjang. "Jika kau terus menolak, aku akan memastikan ayahmu mendekam di penjara karena utang-utangnya yang belum lunas. Apa kau mau itu terjadi saat kau sedang mengandung?"
Ancaman itu selalu berhasil. Alana akan segera bungkam, menutup matanya rapat-rapat, dan membiarkan air matanya mengalir dalam diam sementara Brixton melakukan apa yang ia inginkan. Ia merasa jiwanya perlahan-lahan terkikis habis. Ia merasa seperti mayat hidup yang hanya berfungsi sebagai inkubator bagi ahli waris keluarga Vance.
Minggu-minggu berlalu dengan ketegangan yang semakin memuncak. Brixton mulai sering mengajak Alana keluar untuk pemeriksaan dokter, memamerkan "kebahagiaan" mereka di depan publik. Orang-orang akan memuji betapa perhatiannya Brixton, betapa beruntungnya Alana memiliki suami yang selalu menggandeng tangannya dan memastikan ia tidak kelelahan.
Namun, begitu mereka masuk ke dalam mobil, Brixton akan melepaskan tangan Alana seolah-olah tangan itu adalah bara api yang panas. Ia akan kembali ke dunianya sendiri, menatap ponselnya, dan mengabaikan kehadiran Alana sepenuhnya hingga mereka sampai di rumah dan ritual menyakitkan di malam hari terulang kembali.
Ketakutan Alana bukan lagi hanya tentang dirinya sendiri, tapi tentang bayi di rahimnya. Ia takut jika stres dan rasa sakit fisik yang ia alami akan membuat janin itu tidak selamat. Namun, di sisi lain, ada bagian gelap di hatinya yang bertanya-tanya: Apakah akan lebih baik jika bayi ini tidak pernah lahir ke dunia yang penuh benci ini?
Malam itu, setelah Brixton kembali meninggalkannya dalam keadaan hancur setelah pelampiasan nafsunya, Alana duduk di tepi jendela, menatap bulan yang tertutup awan. Ia meraba perutnya, merasakan denyut kehidupan yang sangat tipis di sana.
"Kita berdua terjebak, Nak," bisiknya pada kegelapan. "Kita terjebak di dalam sumpah yang dibuat di atas luka yang tidak akan pernah sembuh."
Di ruang kerjanya, Brixton duduk sendirian sambil memegang segelas wiski. Ia menatap foto Elena yang tersembunyi di dalam laci mejanya. Ia merasa menang karena telah mengikat Alana dengan anak itu, namun di sudut hatinya yang terdalam, ada rasa kosong yang semakin lebar. Ia tahu ia sedang menghancurkan Alana, dan anehnya, melihat Alana hancur tidak lagi memberinya kepuasan yang sama seperti dulu. Ada rasa tidak nyaman yang mulai mengusik tidurnya, sebuah rasa yang ia labeli sebagai "gangguan," namun sebenarnya adalah awal dari rasa bersalah yang akan menghancurkannya suatu saat nanti.
Namun untuk sekarang, ia tetaplah Brixton yang kejam. Seorang pria yang mengurung istrinya dalam sangkar emas, memberinya makan dengan kemewahan, namun mencabut nyawanya secara perlahan melalui nafsu dan pengabaian. Babak baru dari penderitaan Alana telah dimulai, dan kali ini, ada nyawa lain yang ikut menanggung bebannya.