NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Fantasi Wanita
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 TAWA DALAM RUMAH.

Pagi menjelang siang ketika matahari mulai hangat, menyinari halaman belakang rumah megah itu.

Rumput hijau terawat terbentang luas, dihiasi ayunan kecil, perosotan mini, dan sebuah kolam dangkal khusus anak-anak. Tempat itu jarang digunakan. Biasanya hanya menjadi pemandangan indah dari balik jendela, bukan ruang yang benar-benar hidup.

Namun hari ini berbeda.

Sari Ayunda berjongkok di atas rumput, menggulung ujung celana seragamnya sedikit agar tak kotor. Di hadapannya, Nona kecil Briana Queen berdiri dengan ember plastik berwarna kuning di tangan. Wajah kecil itu tampak serius, seolah sedang menjalankan misi besar.

“Kita bikin kue pasir,” ucap Queen dengan suara polos namun penuh semangat.

Sari tersenyum, matanya berbinar. “Baik, Chef Queen. Kak Sari siap membantu.”

Queen terkekeh kecil. Suara tawa itu masih terdengar asing karena baru hari ini Sari mendengarnya dengan begitu lepas.

Beberapa hari lalu, Queen bahkan menolak berada satu ruangan dengannya. Tatapan curiga, diam yang dingin, dan penolakan tanpa kata. Namun entah bagaimana, kesabaran Sari dan kehadirannya yang tak memaksa mulai meruntuhkan dinding kecil di hati anak itu.

“Ini telurnya,” Queen menunjuk batu kecil.

“Wah, telurnya banyak sekali,” sahut Sari pura-pura kagum. “Nanti kuenya bisa untuk Papa juga?”

Queen berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan. “Papa suka kue?”

Sari terdiam sesaat, lalu menjawab lembut, “Papa pasti suka apa pun yang Queen buat.”

Queen tersenyum. Senyum kecil, namun begitu manis hingga membuat dada Sari terasa hangat.

Tak lama kemudian, Sari berdiri dan membantu Queen naik ke ayunan kecil. Ia mendorong perlahan, memastikan anak itu aman.

“Pelan-pelan ya, Nona.”

“Lebih tinggi, Kak Sari!” seru Queen sambil tertawa.

Sari tertawa ikut terbawa suasana. “Baik, tapi pegang yang kuat.”

Tawa Queen menggema di halaman belakang, jernih dan renyah. Suara itu memantul ke dinding rumah, menembus jendela-jendela besar yang biasanya hanya menyimpan keheningan.

Di lantai dua, Ammar Abraham berhenti melangkah.

Ia baru saja keluar dari ruang kerjanya, berkas di tangan, pikiran penuh dengan angka dan keputusan penting. Namun suara itu tawa kecil yang terlalu jarang ia dengar membuat langkahnya terhenti.

Queen?

Ammar melangkah mendekati jendela. Dari balik kaca, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku.

Putrinya tertawa.

Bukan senyum tipis atau tawa sopan seperti saat bersama Sabrina. Ini tawa lepas, polos, tanpa beban.

Queen duduk di ayunan, rambut ikalnya bergerak mengikuti hembusan angin. Di belakangnya, Sari berdiri, wajahnya cerah, senyumnya tulus.

Ammar tak sadar ia menahan napas. Sejak kapan terakhir kali Queen tertawa seperti itu?

Tangannya mengepal pelan. Ada perasaan aneh yang menyelinap antara lega, heran, dan sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari kepala pelayan.

[Video diterima]

Ammar menekan layar. Sebuah video pendek diputar.

Dalam video itu, Queen berlari kecil di halaman sambil mengejar Sari. Tawa mereka bercampur, alami, tanpa dibuat-buat. Sari berpura-pura kalah, jatuh duduk ke

rumput, membuat Queen tertawa lebih keras.

“Menang!” teriak Queen dalam video itu.

Ammar menatap layar tanpa berkedip.

Hatinya bergetar pelan. Ia mematikan video, lalu menatap halaman lagi. Pemandangan yang sama, namun kini terasa berbeda lebih nyata, lebih dekat.

“Sejak kapan…” gumamnya lirih.

Dalam benaknya, wajah Sabrina melintas. Istrinya yang cantik, sibuk, selalu dikelilingi lampu sorot dan kamera. Wanita yang mencintai Queen dengan caranya sendiri, namun jarang hadir secara utuh.

Ammar menghela napas panjang.

“Sabrina… apa kamu tidak akan iri melihat putrimu tersenyum renyah dengan pelayan?” gumamnya dalam hati.

Pertanyaan itu terasa berbahaya. Ammar tahu itu. Ia segera memalingkan wajah dari jendela, seolah pemandangan itu adalah sesuatu yang tak boleh ia nikmati terlalu lama.

Di halaman, Sari dan Queen duduk di bawah pohon kecil. Sari mengelap keringat di dahi Queen dengan sapu tangan.

“Capek?” tanya Sari lembut.

Queen menggeleng cepat. “Main lagi.”

Sari tertawa. “Kita istirahat sebentar ya. Minum dulu.”

Queen menurut. Ia duduk bersandar di samping Sari, menyandarkan kepala kecilnya di lengan gadis itu. Gerakan spontan, tanpa ragu.

Sari terkejut, namun tak menjauh. Ia justru mengusap rambut Queen pelan, seperti seorang kakak atau mungkin, seperti seorang ibu.

“Queen suka Kak Sari,” ucap Queen tiba-tiba.

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Sari, rasanya seperti dunia berhenti berputar sejenak.

“Sari juga suka Queen,” jawabnya jujur, suaranya bergetar tipis.

Di dalam rumah, Ammar kembali melangkah. Namun kali ini, pikirannya tak lagi sepenuhnya di ruang kerja. Bayangan tawa itu terus terngiang. Ia masuk ke ruang tamu, bertemu Betran yang sedang memeriksa jadwal.

Di dalam rumah, Ammar kembali melangkah. Namun kali ini, pikirannya tak lagi sepenuhnya di ruang kerja. Bayangan tawa itu terus terngiang. Ia masuk ke ruang tamu, bertemu Betran yang sedang memeriksa jadwal.

“Queen di belakang?” tanya Ammar, nadanya datar seperti biasa.

“Iya, Tuan. Bersama Sari.”

Ammar mengangguk singkat. “Pastikan mereka aman.”

“Baik, Tuan.”

Ammar kembali melangkah, namun kakinya membawanya ke arah pintu kaca yang menghadap halaman. Ia berdiri di balik tirai, mengamati dari jauh cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tetap menjaga jarak.

Ia melihat Queen menyodorkan botol minum ke Sari.

“Kak Sari juga minum,” kata Queen.

Sari menerima botol itu, tertawa kecil. “Terima kasih, Nona.”

Ammar memejamkan mata sesaat. Ada rasa hangat yang menyusup ke dadanya. Rasa yang sudah lama tak ia rasakan di rumah ini. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula rasa bersalah. Ia tahu batas. Ia tahu posisinya.

Sari hanyalah pelayan. Gadis desa yang datang membawa kesederhanaan ke dalam rumah yang terlalu dingin. Dan ia… adalah pria beristri.

Ammar membuka mata, lalu menarik tirai perlahan. Ia memutuskan menjauh. Namun keputusan itu terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.

Di halaman belakang, tawa Queen kembali pecah.

Dan tanpa mereka sadari, tawa itu bukan hanya mengisi ruang kosong di rumah megah itu tetapi juga mulai menggoyahkan dinding-dinding hati yang selama ini terkunci rapat.

1
Reni Anjarwani
terlalu bodoh ammarrt
Felycia R. Fernandez
Makanya jadi laki laki itu yang tegas,bukan hanya nafsu doank.di ajak hiha hiho langsung melempem.gak ingat apa yang udah terjadi ma Sari.bukannya cepat2 dinikahi.
ollyooliver🍌🥒🍆
gak usah peduliin, nanti ammar malah kesenangan..merasa direbutkan dua wanita😒
Felycia R. Fernandez: setuju
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ibu SETAN!
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kamu kenap gak tegas sebagai kepala keluarga Ammar,masa istri durhaka begitu masih dipelihara..
Nurminah
wanita tidak tahu diri plus tidak bersyukur
Felycia R. Fernandez
ya sakit donk... karena Ammar juga sudah memperkosa mu
Apriana Suci
bagus ammer kamu harus tegas💪💪
Felycia R. Fernandez
firasat seorang ibu gak akan pernah salah 🥺
Felycia R. Fernandez
Harus...Ammar harus bisa bertanggung jawab...
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kasihan Sari🥹
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagus Ammar kamu harus tegas jadi laki² apalagi kamu kaya jangan mau disetir sama istrimu🥹
ollyooliver🍌🥒🍆
suaminya gak tegas pdhl kepala RT, pantas istri dan mertua semena" ..banyak mengalah, orng suaminya kek kue lapis.


lembek🙃
ollyooliver🍌🥒🍆
rumah tangga siapa yg punya? siapa.yg menjalani?...

kaulah ,...bodoh!
ollyooliver🍌🥒🍆
kerja keras apaan..lo dari jalur orng dlm njirrr😒
ollyooliver🍌🥒🍆
tdk sopan🙄
Sweetie blue
queen anak yang manis😍
Sweetie blue
Sari semangat💪
Felycia R. Fernandez
jiaaaah...
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...
Felycia R. Fernandez
😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!