Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Manis Untuk Sang Ratu
Meja kerja Alina yang terbuat dari kayu mahogany mengkilap itu biasanya bersih dari sampah. Namun pagi ini, selembar brosur tebal dengan kertas glossy berwarna emas tergeletak mencolok di atas tumpukan laporan keuangan.
ROYAL SPOON - Premium Catering & Lunch Box.
Taste of Aristocrat.
Logo sendok bermahkota itu berkilau tertimpa cahaya lampu ruangan. Di bawahnya, tertera foto-foto makanan yang ditata sangat estetis, lengkap dengan daftar harga yang cukup untuk membuat karyawan biasa menelan ludah—bukan karena lapar, tapi karena mahal.
Seorang staf administrasi junior berdiri gemetar di depan meja Alina.
"Ma-maaf, Bu Alina," cicit staf itu. "Tadi kurir dari Royal Spoon memaksa menitipkan ini. Katanya khusus untuk Ibu. Saya sudah mau buang, tapi..."
Alina mengangkat tangannya, menghentikan permintaan maaf itu. Ia mengambil brosur tersebut. Jari-jemarinya yang lentik menyusuri desain mewah itu. Ia bisa mencium aroma parfum Sisca yang samar menempel di kertas itu—sebuah upaya branding yang berlebihan.
Bukannya marah atau merobek brosur itu, sudut bibir Alina justru tertarik ke atas.
Ia tersenyum.
Bukan senyum sinis, melainkan senyum yang sulit diartikan. Senyum seorang pemain catur yang baru saja melihat lawannya melangkah ke petak jebakan.
"Desainnya bagus," komentar Alina tenang. "Sangat... Sisca."
"Jadi... boleh dibuang, Bu?" tanya staf itu ragu.
"Jangan," jawab Alina. Ia membuka halaman menu. Matanya memindai deretan paket makan siang. "Kebetulan siang ini ada rapat direksi gabungan dengan tim audit. Kita butuh makan siang, kan?"
"Be-benar, Bu. Biasanya kita pesan dari restoran Jepang langganan Pak Wisnu."
Alina menutup brosur itu dan mengetukkan jarinya di atas meja.
"Ganti vendor hari ini. Pesan dari sini," perintah Alina santai.
Staf itu melongo. "Maksud Ibu... Royal Spoon? Tapi ini kan..." Staf itu tahu rumor permusuhan antara Alina dan keluarga pemilik Royal Spoon.
"Pesan Paket Sultan Executive. Lima puluh kotak. Minta dikirim jam dua belas teng. Bayar lunas pakai petty cash kantor. Dan pastikan..." Alina menatap stafnya dengan tatapan tajam, "Pastikan kamu bilang pemesannya adalah kantor CEO Abraham Group, atas nama Alina Oktavia."
"Ba-baik, Bu. Lima puluh kotak."
Staf itu bergegas keluar, bingung setengah mati. Sementara Alina kembali menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk.
"Makanlah yang banyak, Sisca," gumam Alina pelan. "Aku beri kamu uang. Aku beri kamu rasa menang. Terbanglah setinggi-tingginya, supaya nanti saat aku potong sayapmu, jatuhnya akan sangat, sangat sakit."
Satu jam kemudian, di kantor Royal Spoon.
"AAAARGHH!!"
Teriakan Sisca membuat koki di dapur kaget hingga nyaris menjatuhkan panci. Rendy yang sedang merekap stok bahan baku di kantor belakang langsung berlari keluar.
"Kenapa, Sis? Ada tikus lagi?" tanya Rendy panik.
"Bukan tikus, bodoh! Lihat ini!" Sisca menggoyang-goyangkan tablet pemesanan di depan wajah suaminya. Wajahnya merah padam karena kegirangan.
New Order: 50 Pax Sultan Executive Box.
Customer: CEO Office - Abraham Textile Group (u.p. Alina Oktavia).
Total: Rp 12.500.000,-
Mata Rendy membelalak. "Alina? Alina pesan makanan kita? Lima puluh kotak?"
"Iya! Kamu lihat kan?!" Sisca tertawa lepas, tawa kemenangan yang angkuh. "Ternyata nyalinya cuma segitu! Dia pasti ngiler lihat brosur yang aku kirim. Atau mungkin... dia sadar kalau dia nggak bisa mengabaikan eksistensi kita!"
"Sis, ini aneh..." Rendy merasa curiga. "Alina benci kita setengah mati. Kenapa dia kasih kita omzet dua belas juta dalam sehari? Jangan-jangan dia mau ngeracunin makanannya terus nuduh kita?"
"Aduh, Rendy! Kebanyakan nonton sinetron kamu!" cibir Sisca. "Dia nggak bakal ngeracunin makanannya sendiri, itu bunuh diri karir. Ini tuh artinya dia mengakui kekalahan! Dia mengakui kalau Royal Spoon itu levelnya high class, layak buat direksi Abraham Group."
Sisca merasa dadanya membusung bangga. Uang Alina masuk ke kantongnya. Bagi Sisca, ini adalah simbol bahwa dia berhasil menaklukkan ego Alina.
"Siapkan pesanan ini dengan sempurna!" perintah Sisca pada kepala dapur. "Pakai bahan terbaik! Plating-nya harus gila-gilaan mewahnya! Aku mau Alina makan ini dan sadar kalau masakan istri sah Rendy jauh lebih enak daripada selera kampungan dia!"
Sisca tersenyum lebar. Ia merasa di atas angin. Ia merasa Alina mulai melunak, atau mungkin mulai takut pada kebangkitan finansial keluarga Santoso.
"Terima kasih untuk uang jajannya, Alina sayang," ejek Sisca sambil mencium layar tabletnya.
Pukul 12.30 di Ruang Rapat Abraham Tower.
Lima puluh kotak makan siang eksklusif dengan wadah hitam dan pita emas tersaji rapi di meja rapat yang panjang. Para direktur dan auditor tampak terkesan dengan kemasannya.
Wisnu Abraham membuka kotak miliknya. Isinya nasi briani, daging wagyu lada hitam, udang bakar madu, dan salad organik. Tampilannya memang menggugah selera.
Wisnu menyuap satu sendok. Ia mengunyah perlahan, lalu menatap Alina yang duduk di sampingnya. Alina juga sedang makan dengan tenang.
"Lumayan," komentar Wisnu datar. "Sedikit terlalu manis bumbunya, tapi presentasinya bagus."
Wisnu meletakkan sendoknya, lalu berbisik pada Alina agar tidak didengar direktur lain.
"Kenapa kamu memesan dari mereka? Saya pikir kamu mau mematikan bisnisnya, bukan menjadi investor utamanya."
Alina menyeka bibirnya dengan serbet kain. Ia menatap kotak makanan mewah seharga 250 ribu per porsi itu dengan tatapan analitis.
"Dalam perang, Pak, kadang kita harus memberi makan musuh agar mereka kenyang dan mengantuk," jawab Alina berbisik.
"Maksudmu?"
"Sisca itu impulsif dan gila hormat. Kalau saya memboikotnya, dia akan waspada dan main aman. Tapi kalau saya memesan darinya... dia akan merasa menang. Dia akan merasa produknya sudah sempurna. Dia akan menjadi sombong."
Alina menunjuk udang di dalam kotaknya dengan garpu.
"Lihat udang ini, Pak. Ukurannya besar, kualitas export. Dengan harga jual segini dan biaya sewa ruko di HR Muhammad, margin keuntungannya tipis sekali kalau dia pakai bahan premium terus."
Mata Wisnu berbinar mengerti arah pikiran Alina.
"Dia membakar uang demi kualitas di awal," simpul Wisnu.
"Betul. Dan pesanan besar dari kita hari ini akan membuatnya semakin percaya diri untuk ekspansi gila-gilaan. Dia akan menambah stok, menambah karyawan, mungkin buka cabang baru dengan hutang lagi, karena dia pikir pasar korporat sudah di tangannya."
Alina tersenyum miring.
"Saya sedang membantunya menggali lubang kuburnya sendiri, Pak. Biarkan dia senang hari ini. Biarkan dia merasa kaya. Semakin tinggi dia terbang dengan beban operasional yang berat... semakin hancur saat saya tarik karpetnya nanti."
Wisnu menatap asistennya dengan kekaguman yang bercampur rasa ngeri. Alina bukan lagi sekadar pendendam. Dia adalah ahli strategi yang mematikan.
"Habiskan makanannya, Pak," ucap Alina santai, kembali menyendok nasi. "Kita sudah bayar mahal untuk ego Sisca. Sayang kalau dibuang."
Di seberang sana, Sisca sedang merayakan kemenangan semunya. Di sini, Alina menikmati makan siangnya dengan tenang, tahu bahwa setiap rupiah yang ia berikan adalah pemberat yang akan menenggelamkan kapal Royal Spoon suatu hari nanti.