Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Phoenix
Pukul 04.00 pagi. Suhu di pegunungan turun hingga minus lima derajat. Elara berdiri di tengah lapangan aspal yang membeku, hanya mengenakan kaos singlet hitam dan celana kargo taktis. Napasnya mengepul putih di udara yang setajam silet. Di depannya, dua puluh anggota Unit Phoenix berdiri seperti patung batu, dipimpin oleh seorang sersan raksasa bernama Kael yang memiliki bekas luka melintang di rahangnya.
Zian Arkana berdiri di balkon bunker, mengamati dari atas dengan tangan bersedekap. Dia tampak seperti dewa perang yang bosan, menunggu untuk melihat mangsanya hancur.
"Mayor Vanya," suara Sersan Kael menggelegar, memecah keheningan pagi. "Kolonel bilang kau adalah 'spesialis'. Di Unit Phoenix, spesialis berarti kau bisa melakukan apa yang kami lakukan, tapi dua kali lebih cepat dan tanpa mengeluh. Kau siap untuk dihancurkan?"
Elara tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengikat rambut pirangnya menjadi kuncir kuda yang ketat dan melakukan peregangan leher singkat. Tatapannya lurus ke depan, mengunci mata Kael.
"Mulai!" teriak Kael.
Latihan dimulai dengan brutal. Lari sepuluh kilometer mendaki lereng curam sambil memanggul beban empat puluh kilogram. Elara tidak tertinggal. Dia merasakan paru-parunya terbakar, otot paha yang berteriak protes setiap kali kakinya menghantam tanah yang licin karena es. Para prajurit pria di sampingnya mencoba memacu kecepatan untuk menjatuhkannya, tetapi Elara menggunakan teknik napas yang ia pelajari di intelijen tingkat tinggi. Dia tidak hanya berlari; dia menari dengan rasa sakit.
Setelah lari, mereka langsung menuju kolam air es. "Masuk!" perintah Kael.
Elara menceburkan diri tanpa ragu. Rasa dingin itu seketika melumpuhkan sarafnya. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk kulitnya sekaligus. Di dalam air, dia harus menahan napas selama tiga menit sementara Kael menggunakan galah untuk memastikan tidak ada yang muncul ke permukaan sebelum waktunya. Elara menutup matanya, memvisualisasikan api di dalam dadanya. Ketika dia akhirnya diperbolehkan keluar, tubuhnya gemetar hebat, tetapi wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Zian turun dari balkon. Dia berjalan perlahan menuju Elara yang sedang berusaha mengontrol detak jantungnya. "Tidak buruk untuk seorang gadis kota," ejek Zian, suaranya rendah dan tajam. "Tapi prajurit bukan hanya soal ketahanan. Ini soal insting membunuh. Kael, bawa dia ke ring."
Ring itu adalah lingkaran tanah yang dikelilingi oleh kawat berduri. Aturannya sederhana: tidak ada aturan. Hanya ada satu pemenang yang berdiri.
"Lawanmu adalah Sersan Kael," kata Zian dengan seringai tipis. "Jika kau menang, kau boleh sarapan. Jika kau kalah, kau akan membersihkan seluruh bunker ini dengan sikat gigi."
Kael melangkah masuk ke lingkaran. Berat badannya hampir dua kali lipat berat Elara. Para prajurit Phoenix mulai bersorak, mengharapkan pembantaian. Mereka ingin melihat "Tentara Seksi" kiriman pusat ini tersungkur di tanah.
Kael menyerang duluan dengan pukulan jab yang sangat cepat untuk ukuran tubuhnya. Elara menghindar dengan gerakan yang hampir mustahil, meluncur di bawah lengan Kael. Dia tidak membalas dengan pukulan; dia tahu dia tidak akan menang dalam adu kekuatan otot.
Kael menggeram, mencoba menangkap leher Elara. Elara menggunakan momentum pria itu, menangkap pergelangan tangannya, dan menggunakan teknik aikido tingkat lanjut untuk memutar tubuh Kael. Namun, Kael adalah veteran. Dia menyeimbangkan tubuhnya dan menghantamkan sikunya ke bahu Elara.
Brak!
Elara terlempar ke pinggir kawat berduri. Bahunya terasa mati rasa. Darah merembes dari luka gores di lengannya. Sorak-sorai prajurit semakin keras.
Zian memperhatikan, matanya tidak berkedip. Dia ingin melihat apakah Elara akan menggunakan 'pesonanya' atau kemampuannya.
Elara bangkit. Dia meludah ke tanah—darah segar bercampur debu. Dia melepaskan kaos singletnya yang basah, menyisakan sports bra hitam yang memperlihatkan otot perutnya yang kencang dan bekas luka peluru tua di pinggang kirinya. Pemandangan itu membuat beberapa prajurit terdiam. Itu bukan pemandangan seorang model; itu adalah peta dari semua pertempuran yang pernah ia lalui.
"Lagi," tantang Elara.
Kael menerjang seperti banteng. Kali ini, Elara tidak menghindar jauh. Saat Kael mendekat untuk melakukan tackle, Elara melompat dan melingkarkan kakinya di leher Kael—gerakan triangle choke yang dilakukan sambil berdiri. Berat badan Elara membuat Kael kehilangan keseimbangan. Mereka terjatuh ke tanah dengan dentuman keras.
Elara mengunci lengan Kael dengan posisi armbar. Dia menariknya dengan kekuatan penuh, siap untuk mematahkan sendi siku sersan itu.
"Menyerah, Sersan," desis Elara di telinga Kael.
Kael meronta, wajahnya memerah karena kehabisan napas dan rasa sakit yang luar biasa. Dia mencoba membanting tubuh Elara ke tanah, tetapi Elara tetap menempel seperti lintah.
"Cukup!" teriak Zian.
Elara segera melepaskan kunciannya dan berdiri dalam satu gerakan halus. Kael terbatuk-batuk, memegang sikunya yang hampir lepas, tetapi menatap Elara dengan rasa hormat yang baru.
Zian melangkah masuk ke dalam lingkaran. Keheningan jatuh di lapangan itu. Dia mendekati Elara hingga dada mereka hampir bersentuhan. Elara bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Zian, bercampur dengan aroma keringat dan maskulinitas yang memabukkan.
"Kau punya teknik," kata Zian, tangannya tiba-tiba terulur dan mencengkeram dagu Elara, memaksanya menatap matanya. "Tapi di lapangan, Kael akan langsung menembak kepalamu sebelum kau sempat melompat ke lehernya. Jangan pernah sombong dengan kemenangan di dalam ring, Mayor."
Zian melepaskan dagu Elara dengan kasar. "Pergi ke ruang persenjataan. Kita punya misi nyata malam ini. Sebuah konvoi intelijen bayangan terlihat di perbatasan utara. Gedeon ingin mereka dihentikan. Aku ingin melihat apakah kau bisa menarik pelatuk secepat kau menarik perhatian orang."
Elara mengambil kaosnya dan memakainya kembali. "Aku akan membuktikannya, Kolonel. Tapi jangan salahkan aku jika aku sampai di target lebih dulu darimu."
Misi itu dimulai pada tengah malam. Unit Phoenix bergerak seperti hantu melalui hutan pinus yang lebat. Mereka menggunakan kacamata night vision (NVG) generasi terbaru. Elara berada di posisi scout (pengintai) bersama Zian.
"Target di depan. Tiga truk lapis baja. Dua jip pengawal," bisik Elara melalui radio. "Mereka membawa lebih dari sekadar dokumen. Berat truk itu... mereka membawa emas atau plutonium."
"Ambil posisi di bukit," perintah Zian. "Kau adalah marksman malam ini. Aku akan memimpin tim serbu di bawah."
Elara memanjat pohon pinus raksasa dengan kecepatan atlet panjat tebing. Dia mengatur senapan runduk (sniper) 338 miliknya. Melalui teropong, dia melihat konvoi itu berhenti. Para penjaga keluar, mereka mengenakan seragam hitam tanpa lencana—tentara bayaran elit.
"Zian, ini jebakan," Elara memperingatkan. "Mereka tidak sedang beristirahat. Mereka sedang menyiapkan perimeter pertahanan silang. Mereka tahu kita akan datang."
"Terlambat untuk mundur, Mayor. Phoenix, serbu!"