NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 2

​Pagi di Jakarta selalu diawali dengan orkestra yang memekakkan telinga, deru mesin kendaraan yang terjebak macet, klakson yang bersahutan, dan kepulan polusi yang menyelimuti langit kelabu. Namun, di dalam kantor Kencana Jewelry, dunia seolah berhenti berputar. Suasana di sana selalu tenang, sejuk, dan beraroma melati yang menenangkan saraf.

​Kirana duduk tegak di balik meja mahagoninya yang berat. Di hadapannya, draf kontrak untuk pameran perhiasan musim gugur tampak seperti labirin kata-kata. Matanya yang tajam, yang telah terlatih melihat cacat terkecil pada sebuah zamrud, kini menyisir setiap baris kalimat. Ia tidak akan membiarkan satu koma pun salah tempat. Baginya, kesalahan administrasi adalah bentuk kecerobohan mental.

​"Ibu Kirana," suara Maya memecah konsentrasi Kirana. Asistennya itu masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak sedikit pucat, dan napasnya agak tersengal. "Ada kiriman untuk Anda. Sangat... sangat besar."

​Kirana tidak segera mendongak. Ia menandai sebuah paragraf dengan pena emasnya sebelum akhirnya mengangkat wajah. Alisnya bertaut rapat. "Dari siapa? Bukankah saya sudah memberikan instruksi yang jelas, Maya? Jangan terima bingkisan apa pun dari vendor sebelum kontrak resmi ditandatangani. Saya tidak ingin ada isu suap atau gratifikasi di departemen saya."

​"Ini bukan dari vendor, Bu. Maksud saya... bukan vendor yang sedang kita tinjau," Maya melangkah mundur, memberi jalan bagi dua petugas pengantar bunga yang tampak kepayahan membawa sebuah rangkaian raksasa.

​Itu bukan sekadar buket bunga. Itu adalah instalasi seni. Ratusan mawar merah kualitas terbaik Grand Prix Roses yang tampaknya diimpor langsung dari Belanda, memenuhi sudut ruangan Kirana. Harumnya begitu menyengat dan dominan, seketika menenggelamkan aroma melati yang biasanya menjadi ciri khas ruangan itu. Warna merahnya yang pekat tampak kontras dengan interior kantor yang minimalis dan dingin.

​"Dari Pak Arka Mahendra," cicit Maya pelan.

​Kirana berdiri. Namun, tidak ada binar kekaguman di matanya. Ia berjalan mendekati tumpukan bunga itu seolah-olah sedang memeriksa sebuah barang bukti kejahatan. Ia mengambil sebuah kartu kecil berwarna krem yang terselip di antara kelopak mawar yang masih basah oleh embun buatan.

​"Untuk wanita yang menganggap waktu lebih berharga daripada basa-basi. Semoga mawar ini bisa mencuri sedikit waktu Anda pagi ini agar tidak hanya memikirkan angka. - Arka."

​Kirana menutup kartu itu dengan sekali sentakan jari yang tajam. Tidak ada rona merah di pipinya. Tidak ada senyum malu-malu. Yang ada hanyalah kilatan kejengkelan yang dingin di matanya. Pria ini benar-benar tidak mengerti kata 'tidak'.

​"Maya," panggil Kirana dengan nada suara yang rendah namun sarat perintah.

​"Ya, Bu?"

​"Pindahkan semua ini ke lobi utama. Letakkan di meja resepsionis agar semua orang yang masuk ke gedung ini bisa menikmatinya. Dan buat memo internal, siapa pun pengirimnya, jangan biarkan bunga atau hadiah pribadi apa pun masuk lagi ke ruangan saya tanpa izin tertulis dari saya."

​Maya ternganga, matanya membelalak tak percaya. "Tapi Bu... ini mawar kelas satu. Harganya mungkin setara dengan gaji satu bulan staf magang. Dan Pak Arka adalah putra mahkota Mahendra Group... apakah tidak sebaiknya kita menjaga perasaannya?"

​"Maya," Kirana memotong dengan nada yang memberi peringatan keras. "Di kantor ini, identitas pengirim tidak mengubah protokol. Perasaan Pak Arka bukan tanggung jawab departemen pemasaran Kencana Jewelry. Bawa keluar sekarang juga."

​Sementara itu, beberapa blok dari kantor Kirana, di sebuah kafe rooftop yang eksklusif, Arka Mahendra duduk bersandar di kursi rotan yang nyaman. Kacamata hitam menutupi matanya, namun senyum miring di bibirnya tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Di hadapannya, pemandangan gedung-gedung Jakarta tampak seperti mainan kecil.

​Dion, yang duduk di seberangnya, menyesap kopi hitamnya sambil menggelengkan kepala. "Bagaimana rencanamu, Casanova? Mawar itu pasti sudah sampai. Kau menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk tanaman yang akan layu dalam tiga hari."

​Arka menyesap espresso-nya, menikmati rasa pahit yang tertinggal di lidah. "Wanita seperti Kirana tidak akan melompat kegirangan karena bunga, Dion. Dia bukan gadis remaja yang haus validasi. Justru sebaliknya, dia akan merasa terusik. Dia akan marah. Dan dalam permainan penaklukan, marah jauh lebih baik daripada acuh tak acuh. Terusik adalah langkah pertama untuk benar-benar diperhatikan."

​Ponsel Arka yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah satu informannya, seorang staf di gedung Kencana yang telah ia amankan dengan beberapa lembar uang.

​"Bunganya baru saja dipindahkan ke lobi utama atas perintahnya langsung. Dia bahkan tidak menyentuh mawarnya lebih dari lima detik. Dia terlihat sangat tidak senang."

​Dion tertawa terbahak-bahak setelah Arka menunjukkan pesan itu. "Skor sementara - Kirana satu, Arka nol. Mobil sport-ku sepertinya masih betah di garasiku, kawan. Kau baru saja ditampar secara halus di depan seluruh karyawannya."

​Arka tidak tampak tersinggung. Sebaliknya, matanya justru berkilat penuh gairah kompetisi yang berbahaya. "Dia punya dinding yang sangat tebal, Dion. Sangat menarik. Menghancurkan dinding yang kokoh memberikan kepuasan yang jauh lebih besar daripada sekadar membuka pintu yang tidak terkunci. Dia pikir dia menang? Dia baru saja memberiku alasan untuk datang sendiri."

~

​Sore harinya, hujan mulai membasahi aspal Sudirman, menciptakan kemacetan yang lebih parah dari biasanya. Kirana bersiap untuk pulang, merapikan tas kulitnya dengan gerakan mekanis. Kepalanya sedikit berdenyut setelah rentetan rapat yang menguras energi dan emosi.

​Namun, saat ia melangkah keluar dari lobi gedung, langkahnya terhenti. Sebuah mobil Bentley hitam mengkilap terparkir tepat di depan pintu keluar, menghalangi jalur mobil jemputan kantornya. Beberapa orang di lobi mulai berbisik-bisik, mengenali kendaraan mewah tersebut.

​Kaca jendela mobil itu turun perlahan dengan suara desis yang halus, menampakkan wajah Arka yang tampak sangat santai di balik kemudi.

​"Anda lagi," ucap Kirana saat ia mendekati mobil itu. Suaranya datar, tanpa ekspresi terkejut sedikit pun.

​"Kebetulan sekali, bukan?" Arka melepas kacamata hitamnya, memberikan senyum yang biasanya mampu membuat wanita mana pun luluh dalam hitungan detik. "Saya baru saja selesai pertemuan di gedung sebelah dan teringat ada detail teknis soal proyek Bali yang belum sempat kita diskusikan semalam."

​"Pertemuan bisnis dilakukan di jam kantor, Pak Arka. Dan menurut jam tangan saya, sekarang sudah pukul setengah enam sore."

​"Justru itu esensinya. Ide-ide kreatif dan strategis sering kali muncul saat otak kita tidak lagi merasa tertekan oleh dinding kantor," Arka turun dari mobil, berjalan mengitari kap mobil dengan langkah yang angkuh namun elegan untuk berdiri tepat di hadapan Kirana. Ia sengaja memperpendek jarak fisik di antara mereka, mencoba mendominasi ruang udara Kirana dengan aroma maskulinnya. "Ada restoran Italia baru di kawasan Senopati. Sangat privat. Kita bisa bicara tanpa gangguan asisten atau telepon kantor."

​Kirana menatap pria di hadapannya. Ia bisa melihat kepercayaan diri yang meluap-luap dari gestur Arka. Pria ini tidak terbiasa ditolak, dan itu adalah sifat yang paling Kirana benci dari kaum pria kelas atas. Sombong dan merasa memiliki segalanya.

​"Saya sudah memiliki rencana lain malam ini," bohong Kirana dengan lancar.

​"Rencana apa? Kembali ke apartemen sunyi Anda untuk makan salad sambil menatap laporan keuangan sampai mata Anda merah?" Arka terkekeh, suara tawa yang terdengar mengejek sekaligus menggoda. "Mari kita jujur, Kirana. Anda butuh makan malam yang layak, dan saya butuh keahlian Anda agar proyek hotel saya tidak berantakan. Satu jam saja. Jika dalam satu jam saya gagal meyakinkan Anda soal keseriusan proyek ini, saya berjanji tidak akan mengirimi Anda mawar lagi. Bagaimana?"

​Kirana terdiam sejenak. Ia menyadari satu hal - jika ia terus menghindar, Arka akan terus mengejarnya dengan cara yang lebih eksentrik. Pria seperti Arka adalah tipe yang akan semakin penasaran jika terus diputus aksesnya.

​"Lebih baik aku hadapi sekarang," pikir Kirana. "Beri dia apa yang dia mau soal bisnis, buat dia bosan, dan pastikan dia tahu bahwa aku adalah tembok yang tidak akan bisa dia panjat."

​"Baiklah," ucap Kirana akhirnya. "Satu jam. Dan saya tegaskan kembali, kita hanya bicara soal bisnis."

​"Tentu saja," jawab Arka, meski matanya berkilat penuh kemenangan yang tersembunyi. Ia membukakan pintu mobil untuk Kirana dengan gerakan yang sangat terlatih, seolah ia adalah seorang pelayan yang paling setia.

​Restoran di Senopati itu adalah definisi kemewahan yang tersembunyi. Cahayanya remang-remang, didominasi oleh kayu gelap dan kaca patri. Musik jazz yang tenang mengalun di latar belakang, memberikan atmosfer yang sangat intim.

​Tanpa bertanya, Arka memesankan menu tasting terbaik dan sebotol anggur merah yang harganya mungkin setara dengan kalung emas di toko Kirana. Itu adalah tindakan dominan yang sengaja ia lakukan, untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali di meja ini.

​Kirana, sebaliknya, tidak terpesona. Ia segera mengeluarkan iPad-nya dan meletakkannya dengan tegas di atas meja, tepat di samping piring porselen putih yang mahal.

​"Mengenai konsep perhiasan untuk hotel di Bali," Kirana memulai tanpa basa-basi, suaranya jernih dan profesional. "Saya menyarankan penggunaan batu alam lokal seperti black sand pearl yang dipadukan dengan emas putih 18 karat agar memberikan kesan modern namun tetap memiliki jiwa lokal. Hal ini akan meningkatkan nilai jual pada turis mancanegara..."

​"Kirana," potong Arka dengan suara yang lembut namun tegas. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menopang dagunya dengan tangan, menatap Kirana dengan intensitas yang tidak nyaman. "Bisakah kita berhenti menjadi robot untuk sejenak? Anggap saja ini jeda dari dunia yang membosankan."

​Kirana berhenti bicara. Ia menatap Arka dengan tatapan menyelidik. "Mengapa Anda ingin tahu? Apakah profil pribadi saya akan menambah profit sepuluh persen pada proyek ini?"

​"Sangat mungkin. Saya tidak pernah berbisnis dengan perusahaan, saya berbisnis dengan manusia. Dan saya ingin tahu manusia seperti apa yang bersembunyi di balik topeng Manajer Pemasaran yang sempurna ini. Apa yang membuatmu begitu defensif, Kirana?"

​Kirana menutup iPad-nya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke meja sebelah. "Saya adalah orang yang menghargai profesionalisme, Pak Arka. Jika Anda mencari teman bicara untuk curhat, menggoda, atau mengisi kekosongan waktu Anda, Anda salah orang. Ada ribuan wanita di luar sana yang akan mengantri untuk duduk di kursi saya saat ini, tapi saya di sini untuk bekerja."

​Arka tertegun sejenak. Biasanya, wanita akan tersanjung jika ia mulai menanyakan hal pribadi. Namun Kirana justru membangun benteng yang lebih tinggi. Arka tertawa, kali ini tawanya terdengar lebih jujur, tanpa dibuat-buat. "Anda benar-benar tidak memberi celah sedikit pun. Menarik."

​"Saya di sini untuk bekerja," ulang Kirana. "Jika Anda tidak berniat membahas kontrak Bali malam ini, saya anggap makan malam ini selesai dan waktu satu jam saya sudah habis."

​Kirana hendak berdiri, namun dengan refleks yang cepat, Arka memegang pergelangan tangan Kirana. Sentuhannya hangat, namun cukup kuat untuk menahan gerakan Kirana. Untuk sedetik, mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Kirana segera menarik tangannya dengan tatapan tajam yang seolah bisa mengiris kulit.

​"Maaf," ucap Arka cepat, mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Saya hanya ingin bilang... saya terkesan. Sangat terkesan. Baiklah, mari kita bicara soal Bali. Saya ingin desain yang mencerminkan kekuatan sekaligus keanggunan. Seperti kesan pertama saya pada Anda."

​Sepanjang sisa makan malam, Arka benar-benar menepati janjinya untuk bicara soal bisnis. Namun, ia adalah seorang manipulator ulung. Ia menyelipkan pujian-pujian halus di dalam argumen bisnisnya. Ia mendengarkan Kirana dengan perhatian penuh, membuat Kirana secara tidak sadar merasa dihargai secara intelektual, sesuatu yang jarang ia dapatkan dari rekan pria lainnya.

​Saat makan malam berakhir, hujan sudah reda meninggalkan aroma tanah yang basah. Arka mengantarnya pulang ke apartemen tanpa mencoba melakukan gerakan agresif apa pun. Ia bersikap sebagai pria sejati yang sempurna.

​"Terima kasih untuk malam ini, Kirana. Anda benar, ide-ide Anda tentang penggunaan material lokal sangat brilian. Saya akan menunggu draf resminya hari Senin di kantor saya," ucap Arka saat mereka sampai di depan lobi apartemen Kirana.

​Kirana mengangguk singkat. "Selamat malam, Pak Arka."

​Saat Kirana berjalan masuk ke lobi dan pintu kaca tertutup di belakangnya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada sedikit getaran di dadanya, bukan cinta, tapi semacam ketegangan yang belum tuntas. Ia segera menepis perasaan itu. Dia hanya klien yang haus perhatian, tegasnya pada dirinya sendiri.

​Di dalam mobil Bentley-nya, Arka menyalakan mesin dan segera menghubungi nomor Dion.

​"Bagaimana?" tanya Dion di seberang telepon, suaranya terdengar tidak sabar.

​Arka menyeringai, menatap pantulan dirinya di spion tengah. Matanya berkilat penuh kemenangan. "Dindingnya masih berdiri kokoh, Dion. Tapi fondasinya mulai bergetar. Dia sudah mau masuk ke mobilku, dia sudah mau makan malam denganku, dan dia mulai merasa 'nyaman' berdebat denganku. Wanita sekeras apa pun akan luluh jika kita memberi mereka panggung untuk merasa paling pintar. Dan aku baru saja memberinya panggung terbesar."

​Arka memacu mobilnya membelah malam Jakarta yang semakin larut. Baginya, Kirana hanyalah sebuah teka-teki rumit yang sedang ia pecahkan langkah demi langkah untuk mendapatkan hadiah utama. Ia tidak peduli bahwa ia sedang bermain dengan api yang kelak bisa menghanguskan seluruh dunianya.

​Sementara di atas sana, dari jendela apartemennya yang dingin, Kirana berdiri menatap lampu-lampu jalan. Ia tidak menyadari bahwa di balik kemewahan dan tawa malam ini, sebuah taruhan kejam telah dimulai, dan dirinya hanyalah pion dalam permainan besar seorang Arka Mahendra.

...----------------...

Next Episode....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!