NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PALING PANJANG

Malam merayap turun, membawa kegelapan pekat yang membungkus kota mati.

Dari puncak atap gedung, Damar berdiri mematung. Pandangannya terpaku lurus pada jalan raya utama di kejauhan. Awalnya, dia berharap indra penglihatannya sedang menipunya akibat kelelahan yang teramat sangat. Namun, semakin lama dia menajamkan mata, semakin nyata horor yang sedang merayap mendekat.

Mereka datang. Jumlahnya ribuan.

Ratusan ribu tubuh yang membusuk bergerak berhimpitan, menjelma menjadi gelombang hitam raksasa yang menyapu bersih jalanan kota. Bahkan dari jarak sejauh ini, gema geraman kolektif mereka sudah terdengar seperti dengungan mesin purba yang mengerikan. Seolah-olah seluruh kota mati ini mendadak kembali bernapas, dan napas itu menuntut darah serta kematian.

Kapten Rendra berdiri kaku di samping Damar. Wajah sang mantan tentara itu sedingin es, namun Damar bisa melihat dengan jelas bagaimana otot rahangnya mengeras hingga berkedut. Itu pertanda buruk. Sangat buruk.

"Berapa banyak, Kapten?" bisik Damar, suaranya tercekat di tenggorokan.

Kapten Rendra menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan. "Terlalu padat. Sudah tidak bisa dihitung lagi."

Detik berikutnya, sirine alarm darurat meraung membelah malam.

Seluruh penghuni markas seketika berhamburan keluar dari ruang tidur mereka di lantai dua. Wajah-wajah yang baru beberapa jam lalu mulai dipenuhi binar harapan setelah rapat logistik, kini mendadak pias, seputih kertas.

Di lantai empat, Rania berdiri mematung di dekat bingkai jendela bersama Pak Rangga. Sepasang matanya membelalak ngeri melihat lautan mayat hidup yang merayap di bawah temaram sisa cahaya langit.

"Pa...Papa..." bisik Rania, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Pak Rangga dengan cekatan langsung merengkuh pundak putrinya, menariknya menjauh dari jendela. "Jangan dilihat, Ran. Masuk ke dalam."

Tapi peringatan itu sudah terlambat. Semua orang sudah melihatnya. Semua orang kini tahu bahwa malaikat maut sedang mengetuk pintu gerbang mereka.

Di aula utama lantai dasar, Kapten Rendra langsung mengambil alih komando. Suara baritonnya yang menggelegar seketika membungkam kepanikan yang mulai berdengung. "Dengar saya baik-baik! Tenang!"

Massa langsung senyap.

"Kita semua masih bernapas di sini. Kita punya dinding beton, kita punya pagar baja, dan kita punya amunisi!" Tatapan mata tajam Kapten Rendra menyapu setiap kepala di ruangan. "Kalau kalian memilih panik sekarang, kalian cuma mempercepat ajal sendiri. Paham?!"

Tidak ada yang berani membantah. Tidak ada suara tangisan. Udara di dalam aula mendadak dipenuhi oleh ketakutan yang murni dan pekat.

Damar melangkah maju ke tengah ruangan, berdiri di sisi Kapten Rendra. "Kita pertahankan gedung ini semampu kita. Kalau kita nekat kabur sekarang, kita cuma bakal terkepung dan habis dibantai di jalanan terbuka. Di dalam gedung ini, kita masih punya peluang untuk menang."

Perlahan, beberapa pria dewasa mulai mengangguk setuju. Mereka sadar, tidak ada opsi cadangan.

Selama dua jam berikutnya, seluruh penghuni gedung bekerja bagai kesetanan tanpa mengenal lelah. Meja-meja kayu besar didorong kasar untuk mengganjal pintu, lemari arsip besi dipindahkan, dan seluruh jendela di lantai bawah dipaku mati menggunakan balok-balok kayu seadanya.

Rudi memimpin penguatan barikade di lini depan. Sebagai mantan teknisi, dia tahu betul di mana letak titik lemah arsitektur gedung ini.

"Tambahkan balok lagi di sebelah kanan!" teriak Rudi, suaranya parau teredam debu. "Kalau pintu gerbang utama sampai jebol, barikade ini pertahanan terakhir kita!"

Sementara itu, Pak Rangga sibuk mengatur evakuasi internal. Rania membantu menggandeng anak-anak kecil dan lansia untuk berpindah ke lantai yang lebih tinggi. Di sudut lain, Alya tampak ikut mengangkat lemari besi berat tanpa mengeluarkan satu keluhan pun. Keringat bercucuran membasahi pelipis dan baju gadis itu, namun dia terus bergerak dengan determinasi tinggi.

Damar memperhatikan riuh kesibukan itu dari tangga. Ada rasa getir sekaligus bangga yang membuncah di dadanya. Mereka bukan lagi sekadar sekumpulan orang asing yang kebetulan menumpang tidur di tempat yang sama. Mereka telah menjelma menjadi sebuah keluarga.

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan absolut. Dan saat itulah, gelombang pertama tiba.

*BRAKK!*

Benturan tubuh pertama menghantam pagar besi luar dengan keras. Disusul benturan kedua, ketiga, hingga akhirnya puluhan tubuh sekaligus menubruk jeruji baja tersebut. Suara pekikan logam yang bergesekan dan beradu menggema memekakkan telinga ke seluruh penjuru kompleks.

*BRAKK! BRAKK! BRAKK!*

Ratusan tangan yang membusuk mencengkeram celah pagar dengan rakus. Ratusan mulut menganga, mengeluarkan liur dan darah hitam, melolong lapar. Mereka terus mendorong maju, saling bertumpuk, memanfaatkan berat massa seolah lautan kematian sedang mencoba mendobrak bendungan.

"Semua ke posisi masing-masing!" perintah Kapten Rendra lantang.

Para penjaga langsung bergerak taktis. Damar dan Alya berlari cepat menaiki tangga menuju atap, Pak Rangga memimpin lini tembak di lantai dua, sementara Rudi tetap tinggal di lantai dasar untuk memastikan kekuatan barikade bawah. Malam paling panjang dalam hidup mereka resmi dimulai.

Satu jam pertama berhasil dilewati dengan ketegangan yang menguras kewarasan. Pagar besi luar masih berdiri, meski tiang fondasinya mulai bergoyang akibat tekanan massa yang terus bertambah. Seolah-olah seluruh *infected* di kota ini telah bermigrasi dan berpusat di halaman mereka.

Dari bibir atap, Salah satu tentara bawahan Kapten Rendra membidik kepala seorang zombie yang berhasil memanjat puncak pagar.

*DUAR!*

Satu dentuman senapan menyalak, dan tubuh itu jatuh terjungkal ke bawah. Namun, posisi kosong itu tidak bertahan sedetik pun; tiga zombie lain langsung naik menggantikannya.

"Hemat amunisi!" teriak Kapten Rendra dari balik pengeras suara darurat. "Tembak hanya yang benar-benar lolos! Kita gak bisa membunuh seluruh isi kota!"

Mereka semua tahu betul kebenaran ucapan itu. Bahkan jika mereka memiliki gudang peluru tak terbatas, jumlah monster di bawah sana terlalu masif untuk dihabisi secara konvensional.

Memasuki jam kedua, bencana yang ditakutkan terjadi. Salah satu pilar pagar besi di sisi timur mulai melengkung parah. Struktur baja yang tadinya terlihat kokoh kini perlahan-lahan menyerah di bawah beban ribuan tubuh.

Rudi yang mengawasi dari balik jendela lantai dasar langsung membelalak. "Sial! Menjauh dari jendela!"

Belum sempat Rudi menyelesaikan kalimatnya, suara robekan logam yang memekakkan telinga terdengar.

*KRAAAANG!*

Pagar sisi timur roboh total, menghantam tanah dengan dentuman keras. Bagaikan air bah yang jebol dari tanggul, puluhan hingga ratusan *infected* langsung membanjiri halaman depan gedung, berlari kesetanan menuju pintu masuk utama.

"Mereka jebol! Semua masuk ke dalam!" teriak salah satu penjaga dari luar. Kepanikan mulai menjalar cepat seperti api.

Kapten Rendra dari pos lantai dua langsung melepaskan tembakan beruntun yang presisi. *DUAR! DUAR! DUAR!* Tiga monster di barisan depan tumbang dengan kepala hancur. "Alya! Damar! Turun sekarang! Jaga koridor bawah!"

Damar dan Alya langsung melesat menuruni anak tangga. Pertempuran jarak dekat kini menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Begitu menapak di lantai dasar, Damar langsung mengayunkan kapak daruratnya sekuat tenaga, menghantam tengkorak zombie pertama yang mencoba menerobos celah jendela.

*BRAK!* Darah hitam pekat memercik, mengenai pipinya.

Satu lagi melompat ke arahnya dengan kuku-kuku tajam. Damar refleks melepaskan tendangan telak ke dada monster itu hingga terjungkal ke belakang. Di sebelahnya, Alya bergerak dengan kelincahan yang luar biasa. Tongkat besi tebal di tangannya mengayun horizontal, menghantam rahang zombie lain hingga hancur berkeping-keping. Meski napasnya mulai terengah-engah dan ototnya kelelahan, setiap gerakan Alya tetap presisi dan mematikan.

Namun, jumlah musuh benar-benar terlalu banyak. Mereka datang tanpa putus, merangkak di atas tumpukan mayat rekan mereka sendiri.

Tiba-tiba, sebuah jeritan histeris melengking dari arah koridor tengah. Damar menyentak kepalanya ke belakang. Doni, salah satu penyintas pria, tampak terjatuh telentang setelah kakinya tersangkut runtuhan puing meja. Sebelum Doni sempat merangkak bangun, tiga *infected* sudah melompat dan menerkam tubuhnya dengan beringas.

"TOLONG! DAMAR, TOLONG—"

Damar memacu langkahnya, berlari sekencang mungkin untuk meraih tangan Doni. Tapi jarak mereka terlalu jauh. Jeritan meminta tolong itu dalam sekejap berubah menjadi lolongan kesakitan yang mengerikan, sebelum akhirnya sunyi, tenggelam oleh suara robekan daging.

Damar mengerem langkahnya mendadak. Dadanya terasa sesak seolah dihantam godam. Doni adalah salah satu orang yang ikut mengucurkan keringat sejak hari pertama mereka membangun barikade di gedung ini. Kini, pria itu tewas mengenaskan hanya berjarak beberapa meter di depan matanya sendiri, dan mereka bahkan tidak memiliki kemewahan untuk menyelamatkan jasadnya.

Malam merayap semakin larut, dan korban dari pihak mereka terus bertambah. Dua orang penyintas mengalami luka cakar parah di lengan, sementara satu orang lagi dilaporkan hilang kontak saat mencoba mengunci pintu akses darurat di bagian belakang. Struktur gedung tua itu mulai bergetar pelan, mengeluarkan suara derit konstan akibat tekanan masif dari luar.

Di sela-sela kekacauan pertempuran, Damar sempat melirik ke sudut tangga. Di sana, Rania dan beberapa anak kecil saling mendekap erat dan menangis histeris. Sementara di depan mereka, Pak Rangga berdiri tegak dengan senapan berburu tuanya yang siap menyalak, pasang badan demi melindungi putrinya dan sisa-sisa nyawa yang ada.

Pemandangan itu seketika memantik kembali sisa-sisa tenaga di tubuh Damar. Mereka tidak lagi sekadar bertarung untuk memperpanjang napas masing-masing. Mereka sedang bertarung demi melindungi nyawa orang-orang yang mereka sayangi.

Menjelang tengah malam, lonceng kematian bagi markas mereka akhirnya berbunyi.

*KRAAAKKK!*

Suara runtuhnya kayu dan besi yang masif menggema dari arah pintu depan lantai dasar. Rudi berlari menaiki tangga dengan langkah gontai, wajahnya pucat pasi tanpa menyisakan sedikit pun darah.

"Kita harus keluar dari sini! Sekarang!" seru Rudi dengan sisa tenaganya.

Semua kepala langsung berbalik menatapnya. "Ada apa, Rud?!" tanya Damar berteriak di tengah kebisingan.

"Barikade pintu utama... sudah hancur total! Mereka sudah masuk ke aula!"

Detik itu juga, Damar merasa aliran darah di tubuhnya mendadak membeku. Pintu utama adalah benteng pertahanan terakhir mereka. Jika titik itu runtuh, maka seluruh interior gedung ini akan berubah menjadi ladang pembantaian dalam hitungan menit.

Kapten Rendra mengambil keputusan krusial dalam hitungan detik. "Evakuasi total! Mundur lewat jalur darurat belakang! Tinggalkan semua barang!"

Tidak ada satu pun yang melayangkan protes. Semua orang tahu, pertempuran memperebutkan gedung ini sudah kalah telak.

Lima belas menit berikutnya adalah perpaduan antara mukjizat dan mimpi buruk. Puluhan penyintas bergerak cepat, berdesakan keluar menyusuri lorong sempit menuju pintu rahasia di bagian belakang gedung. Mereka hanya bisa membawa apa yang melekat di tubuh dan tas ransel yang sempat tergapai. Sebagian besar pasokan logistik pangan yang baru saja mereka data pagi tadi terpaksa ditinggalkan begitu saja di dalam gudang.

Rumah yang mereka bangun dengan sisa-sisa harapan selama berminggu-minggu... harus mereka relakan jatuh.

Damar menjadi orang paling terakhir yang melangkah keluar dari ambang pintu belakang. Dia sempat menghentikan langkahnya sejenak di halaman belakang yang gelap, membalikkan badan untuk menatap bangunan lima lantai berwarna abu-abu itu untuk yang terakhir kali.

Tempat di mana mereka sempat bertukar tawa. Tempat di mana mereka memasak dan makan bersama di satu meja. Tempat di mana mereka baru saja mulai berani bermimpi tentang masa depan yang aman.

Kini, gedung itu telah dipenuhi oleh gema raungan parau *infected*. Kaca-kaca jendelanya pecah berkeping-keping, dan pintu-pintunya jebol hancur. Markas mereka telah runtuh.

Alya berdiri di samping Damar, tangan gadis itu mencengkeram pundak Damar dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Damar..."

Damar tidak menyahut. Matanya masih menatap nanar ke arah bangunan yang perlahan menjauh dari jangkauan mereka.

"Ayo, Mar. Kita harus tetap bergerak," ajak Alya lirih.

Damar akhirnya menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. Namun, sebelum dia membalikkan tubuhnya sepenuhnya menembus kegelapan, dia membisikkan satu kalimat dengan nada mutlak. "Kita bakal bangun lagi, Al."

Alya menatap wajah Damar dari samping.

"Kita pasti bakal punya rumah lagi. Suatu hari nanti," lanjut Damar, menegakkan kepalanya.

Meski dia tidak tahu kapan hari itu akan tiba. Meski dia tidak tahu di belahan bumi mana tempat itu berada. Namun, Damar memilih untuk percaya. Selama detak jantung mereka belum berhenti, dan selama mereka masih berdiri bersama sebagai satu keluarga, harapan itu tidak akan pernah benar-benar mati.

Rombongan kecil para penyintas itu pun berjalan beriringan, melebur masuk ke dalam keheningan malam yang pekat. Di belakang mereka, gedung tua yang pernah mereka sebut sebagai rumah perlahan-lahan lenyap dari pandangan, ditelan oleh lautan *infected*. Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke belakang lagi. Sebab mereka tahu satu hal: perjalanan panjang mereka belum berakhir.

Justru, babak baru yang jauh lebih mengerikan baru saja dimulai.

Di saat yang bersamaan, jauh dari rute pelarian kelompok Damar, sebuah ruangan bawah tanah di dalam fasilitas penelitian yang telah lama terbengkalai mendadak bergetar pelan.

Sebuah lampu indikator berwarna merah pekat mulai berkedip-kedip di sudut ruangan yang gelap. Monitor sebuah komputer kuno yang telah mati total selama berminggu-minggu akibat kegagalan daya, tiba-tiba memercikkan arus listrik kecil dan menyala perlahan.

Di tengah layar yang berkedip tidak stabil, sebuah jendela baris perintah muncul, mengeksekusi sebuah file data yang setengah rusak.

```

[SYSTEM INITIALIZATION...]

[RECOVERING CORRUPTED DATA...]

PROJECT GENESIS

STATUS: ACTIVE

```

Dan untuk pertama kalinya sejak hari di mana dunia runtuh... selembar tirai kebenaran yang mengerikan perlahan mulai tersingkap dari balik bayang-bayang.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!