Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 pengenalan
Isak tangis yang kedengaran sedih banget itu perlahan bikin Nara sadar. Barengan sama suara tangisan Nyonya Mu, ingatan asing yang menyakitkan tiba-tiba muncul dan menyatu di dalam otak tubuh kurus yang dia tempati sekarang.
Nara akhirnya tahu kalau pemilik tubuh ini punya jalan hidup yang kasihan banget.
Keluarga tempat dia tinggal sekarang bermarga Yan. Yang paling berkuasa di rumah itu adalah Kakek Yan dan istrinya, Nenek Lou. Mereka punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Anak pertamanya namanya Yan Shong—dia ini ayah kandung Nara—dan istrinya adalah Nyonya Mu, wanita yang lagi menangis di sebelahnya. Terus ada bibi yang sudah menikah dan ikut suaminya, paman muda namanya Yan Ming, dan bibi paling kecil namanya Yan Ling.
Nara lahir tanggal empat belas bulan tujuh. Kata orang-orang, itu waktu paling seram karena gerbang alam gaib lagi terbuka. Pas dia lahir, jari tangan kirinya ada enam, tumbuh satu jari kecil di sebelah jempolnya. Di desa itu, punya enam jari dianggap bawa sial. Parahnya lagi, dukun bayi yang bantu melahirkan Nara langsung patah kaki pas jalan pulang hari itu juga.
Gara-gara kejadian itu, gosip langsung menyebar cepat ke seluruh desa. Semua orang jadi tahu kalau Keluarga Yan punya anak perempuan pembawa sial karena jarinya enam.
Makanya, pas hari Nara lahir, orang-orang di rumah itu sudah berniat mau menenggelamkan dia ke ember kotoran biar Nara hilang. Untung ada Nyonya Mu yang nekat melindungi Nara sambil taruhan nyawa. Akhirnya, Kakek Yan terpaksa mengizinkan Nara tetap hidup, dan dari situlah Nara bisa selamat.
Tapi gara-gara melahirkan anak berjari enam, posisi Nyonya Mu di rumah langsung jatuh. Yan Shong malah memanfaatkan kesempatan ini buat berbuat semena-mena. Bukannya membela anak istrinya, dia malah membawa wanita lain masuk ke rumah.
Wanita itu namanya Han Ruo, orang yang sudah lama dia taksir. Bahkan pas Nyonya Mu belum sembuh total setelah melahirkan, Han Ruo sudah tinggal di sana dan langsung hamil. Anak dari istri kedua itu namanya Yan Ran, umurnya cuma beda delapan bulan dari Nara.
Karena punya enam jari, Nara enggak pernah dikasih nama yang bagus. Ibunya cuma panggil dia "Nara, Nara kecil," sedangkan orang lain panggil dia Si Jari Enam atau Anak Pembawa Sial. Orang-orang di rumah Yan kayak sengaja melupakan dia dan enggak pernah peduli soal namanya.
Di rumah itu, selain ibunya dan adiknya yang bernama Yan Ning, Nara selalu jadi pelampiasan amarah. Ayah kandungnya sering memukul dan memaki mereka bertiga setiap kali lagi kesal.
Anak-anak desa juga suka menjahatinya, dan orang tua di sana melarang anak-anak mereka main sama Nara karena takut ketularan punya enam jari. Nara tumbuh jadi anak yang pendiam dan tertutup, yang bikin orang-orang makin enggak suka sama dia. Setiap kali ada kejadian buruk di desa atau di keluarga Yan, pasti Nara yang disalahkan.
Waktu Nara umur tujuh tahun, Desa Wu kena musim kemarau paling parah yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun. Ladang kering dan enggak ada panen sama sekali. Semua orang menuduh Nara sebagai penyebabnya. Warga yang emosi bahkan meminta Nara dibakar hidup-hidup buat persembahan ke Dewa Langit.
Pas Nara sudah diikat di tiang kayu dan apinya mau dinyalakan, tiba-tiba angin kencang datang, langit jadi gelap, dan hujan deras langsung turun. Orang-orang ketakutan dan langsung kabur, jadi Nara selamat lagi.
Setelah kejadian itu, Nara makin dijauhi dan jadi anak yang murung. Tapi dia aslinya keras kepala. Biarpun dilempari batu sama anak-anak desa sampai berdarah, dia enggak pernah menangis atau mengeluh. Dia cuma memendam semuanya sendiri. Sementara itu, ibu tiri dan adik tirinya makin menjadi-jadi karena selalu dibela sama Yan Shong. Mereka suka menyiksa Nara, ibu, dan adiknya diam-diam.
Terus gimana pemilik tubuh ini bisa mati?
Ceritanya, paman mudanya gagal lagi pas mau melamar perempuan. Keluarga si perempuan menolak karena tahu ada anggota keluarga Yan yang jarinya enam. Nenek Lou langsung mengamuk dan melimpahkan semua kesalahannya ke Nara dan Nyonya Mu. Dia memaki mereka habis-habisan, bilang kalau mereka beban, dan menyuruh Yan Shong buat menceraikan Nyonya Mu.
Kakek Yan yang biasanya segan karena dulu ayah Nyonya Mu pernah menolongnya, kali ini cuma diam saja.
Diamnya kakek itu bikin Nara kehilangan harapan. Malam itu, setelah mendengar ibunya menangis semalaman, Nara melihat jari keenamnya dengan perasaan benci.
Karena enggak tahan lagi mendengar makian Nenek Lou, dia nekat pergi ke dapur, mengambil pisau, dan langsung memotong jari tambahan itu di depan Nenek Lou. Nara mikir kalau jarinya hilang, dia bakal jadi anak normal, ibunya enggak jadi diceraikan, dan mereka enggak bakal dipukuli lagi.
Tapi di zaman kuno yang belum ada obat-obatan bagus, dia malah mati karena menahan sakit yang luar biasa dan kehabisan darah.
Pemilik tubuh yang asli sudah meninggal, dan sekarang, jiwa dari dunia lain yang punya nama mirip malah masuk ke tubuh yang malang ini—menjadi si anak cacat berjari enam, Nara.