NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Hari-hari berlalu, dan rutinitas Reno perlahan terbentuk. Setiap pagi, ia bangun jauh sebelum matahari terbit, persis seperti kebiasaan yang ia jalani di pesantren. Di tengah kemegahan kamar tidurnya yang luas dan dingin, ia melipat kasur empuknya sendiri, merapikan selimut dengan rapi, lalu duduk bersila di tepi jendela yang terbuka. Angin pagi kota yang kering dan berdebu menyapa wajahnya, namun pikirannya melayang jauh, kembali ke angin sejuk yang membawa aroma rumput basah dan tanah subur di sekitar Pesantren Al-Falah.

Di tangannya, selalu ada buku catatan kecil pemberian Kyai Ahmad. Buku itu sudah lusuh, ujung-ujung kertasnya mulai menguning, tapi bagi Reno, isinya jauh lebih berharga daripada semua dokumen saham dan sertifikat tanah yang tersimpan di brankas ayahnya. Halaman demi halaman berisi pesan-pesan singkat, nasihat, dan kalimat-kalimat bijak yang kini menjadi kompas hidupnya. Dan di halaman paling belakang, terselip selembar kertas kecil berisi tulisan tangan Zahrana: “Jadilah pohon yang rindang, tempat orang lain berteduh. Dan ingat, rasa kurang itu bukan kekurangan, tapi tanda bahwa hatimu masih tumbuh.”

Kalimat itu yang selalu menjadi mantra setiap kali Reno melangkah keluar dari pintu rumahnya, menuju gedung pencakar langit tempat ia kini memegang kendali besar.

Transformasi yang dibawa Reno ke dalam perusahaan Wijaya Group bukan sekadar perubahan gaya manajemen, melainkan sebuah revolusi budaya yang mengejutkan semua orang. Di bawah kepemimpinannya, yang dulunya perusahaan yang kaku, penuh tekanan, dan hanya berorientasi pada angka keuntungan, kini perlahan berubah menjadi tempat yang manusiawi dan bermartabat.

Reno mulai dengan hal-hal sederhana namun mendasar. Ia menghapus sistem lembur paksa yang biasa dilakukan manajemen lama. Ia menaikkan gaji staf kebersihan dan buruh lapangan hingga dua kali lipat, karena ia ingat betapa berharganya kerja keras yang dilakukan Pak Yasin dan para petani desa dengan upah yang seadanya. Ia membangun kantin yang menyajikan makanan bergizi dengan harga sangat murah bagi seluruh karyawan, karena ia tak pernah lupa bagaimana nikmatnya makan bersama di meja panjang pesantren, di mana semua orang duduk sejajar tanpa memandang pangkat.

“Keuntungan itu penting,” ujar Reno dengan tenang dalam rapat pimpinan mingguan, tatapan matanya tajam namun teduh, persis seperti sorot mata Kyai Ahmad saat berbicara. “Tapi keuntungan yang membuat orang lain menderita, atau yang didapat dengan menginjak harga diri sesama, itu namanya kerugian besar. Kita bekerja bukan hanya untuk mengisi dompet kita, tapi untuk mengisi perut dan harapan orang banyak.”

Para direktur tua yang dulunya meremehkannya kini hanya bisa diam dan mengangguk takjub. Mereka melihat sosok pemuda yang berbeda, sosok yang berbicara dengan wibawa yang tidak dipaksakan, yang mengambil keputusan dengan hati namun tetap tegas, dan yang bekerja lebih keras daripada siapa pun di sana. Setiap kali Reno lembur, ia tak pernah merasa lelah. Justru rasa lelah fisik itu membuatnya merasa hidup, membuatnya merasa sedang menebus segala rasa kurang yang selalu membekas di dada.

“Masih kurang, Zahra. Kerja keras ini belum sebanding dengan satu senyummu. Tapi biarlah aku terus bekerja, supaya saat aku pulang nanti, aku membawa bekal yang cukup untuk membuatmu bangga.”

Namun, perubahan besar selalu menimbulkan gesekan. Tidak semua orang senang dengan cara Reno. Di balik senyum hormat para pegawai, ada kelompok penasihat lama dan mitra bisnis yang merasa posisi dan keuntungan mereka terancam. Bagi mereka, prinsip kejujuran dan kemanusiaan yang dibawa Reno hanyalah naivitas anak muda yang belum tahu kerasnya dunia.

Salah satu ujian terbesar datang di pertengahan bulan keempat Reno memegang kendali. Sebuah kesepakatan besar bernilai ratusan miliar rupiah di depan mata. Proyek pembangunan pusat perbelanjaan di lahan yang dulunya adalah kawasan hijau dan tempat tinggal warga berpenghasilan rendah. Mitra bisnis utama, Pak Hendra, sosok yang berpengaruh dan sudah lama menjadi teman karib Bapak Wijaya, datang menemui Reno dengan senyum penuh janji.

“Reno, Nak,” ujar Pak Hendra sambil menepuk bahu pemuda itu dengan akrab. “Proyek ini akan membuat kekayaan perusahaan berlipat ganda. Ayahmu saja sudah setuju sejak lama. Tinggal tanda tanganmu ini yang kurang. Dan sebagai tanda terima kasih, ini ada sedikit bonus khusus, hanya untukmu.”

Pak Hendra menyodorkan sebuah amplop tebal berisi cek bernilai fantastis, jumlah yang bahkan bisa membuat siapa pun tergoda untuk lupa segalanya. Itu adalah suap, dibungkus rapi dengan istilah komisi.

Di ruangan mewah ber-AC itu, Reno menatap amplop itu, lalu menatap wajah Pak Hendra yang penuh harap. Sesaat bayangan melintas di benaknya. Ia teringat wajah Pak Surya yang hidup sederhana namun penuh ketenangan. Ia teringat pesan Kyai Ahmad: “Harta yang membawa ketakutan, nilanya lebih murah dari batu. Harta yang membawa ketenangan, nilanya setara dengan jiwa yang bebas.” Dan yang paling jelas, ia teringat wajah Zahrana, dan janjinya untuk menjaga dirinya tetap bersih dan pantas.

Rasa kurang itu kembali muncul. Kali ini bukan rasa kurang harta, tapi rasa kurang menjaga prinsip. Ia sadar, jika ia mengambil amplop ini, rasa kurangnya pada Zahrana akan berubah menjadi rasa bersalah yang tak akan pernah bisa ia bayar lunas.

Dengan gerakan tenang namun tegas, Reno mendorong amplop itu kembali ke arah Pak Hendra. Wajahnya tetap tersenyum, namun sorot matanya berubah tajam dan dingin.

“Maaf, Pak Hendra. Saya tidak butuh ini. Uang ini terlihat mengkilap, tapi baunya tidak sedap. Proyek ini saya tolak. Kami tidak akan membangun kemegahan di atas penderitaan orang lain, dan saya tidak akan menumpuk harta yang bukan hak saya, walau seujung kuku sekalipun.”

Wajah Pak Hendra berubah merah padam karena kaget dan marah. “Kamu… kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan, Reno! Ayahmu tidak akan setuju dengan kedangkalan pemikiranmu ini! Kamu merusak nama baik dan rekanan kami!”

“Bapak saya mengajarkan saya untuk mencari uang, benar. Tapi Kyai Ahmad mengajarkan saya cara menjaga kehormatan yang jauh lebih mahal dari uang. Dan saya memilih untuk membawa ajaran yang terakhir ini. Silakan Bapak pergi, dan tolong jangan pernah tawarkan hal seperti ini lagi kepada saya atau siapa pun di perusahaan ini.”

Pertengkaran itu terdengar sampai ke telinga Bapak Wijaya. Malam itu, Reno dipanggil ke ruang kerja ayahnya. Ia masuk dengan hati tenang, siap menerima kemarahan atau kekecewaan. Namun yang ia temukan justru wajah ayahnya yang duduk diam, menatapnya lekat-lekat, seolah sedang menemukan sosok baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

“Kamu tahu berapa kerugian yang kita terima karena menolak tawaran Pak Hendra?” tanya Bapak Wijaya pelan.

“Tahu, Ayah. Secara angka, itu besar. Tapi secara hati, saya tidak rugi sama sekali. Saya merasa menang, karena saya tidak menjual diri saya sendiri.”

Reno maju selangkah, suaranya lembut namun penuh keyakinan.

“Ayah, dulu saya pergi ke pesantren dengan tangan kosong dan hati yang rusak. Saya pulang membawa rasa kurang. Dulu saya pikir rasa kurang itu karena saya miskin ilmu, miskin pengalaman. Tapi ternyata rasa kurang itu adalah rasa bahwa selama ini apa yang kita punya belum cukup memberi manfaat. Saya ingin mengubah itu. Saya ingin perusahaan ini menjadi tempat yang tidak hanya menguntungkan kita, tapi juga memberkati orang lain. Apakah Ayah mau mendukung saya, atau menganggap saya anak yang bodoh?”

Keheningan memenuhi ruangan selama beberapa menit. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama. Perlahan, mata Bapak Wijaya berkaca-kaca. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan mendekat. Tangan kasarnya menyentuh bahu anaknya, lalu ditariknya Reno ke dalam pelukan hangat.

“Tidak, Nak. Ayah tidak menganggapmu bodoh. Ayah justru merasa… Ayah yang selama ini belum cukup. Ayah yang selama ini hanya mengejar angka dan lupa arti menjadi manusia. Kamu benar-benar pulang membawa harta yang tak ternilai harganya. Kamu pulang membawa kebenaran yang selama ini hilang dari kita.”

Sejak hari itu, dukungan Bapak Wijaya menjadi mutlak. Ia berdiri di belakang Reno, mendukung setiap keputusan dan perubahan yang dilakukan anaknya. Kabar tentang ketegasan dan kejujuran Reno perlahan menyebar. Awalnya dianggap konyol, lama-kelamaan justru membuat nama Wijaya Group semakin bersinar. Klien-klien yang bersih dan jujur mulai berdatangan, karyawan bekerja dengan hati, dan perusahaan tumbuh bukan karena jalan pintas, tapi karena pondasi yang kokoh dan kepercayaan yang dibangun perlahan.

Namun, di tengah kesibukan dan kesuksesan yang mulai menyelimutinya, malam-malam Reno tetap milik kesendirian dan rasa rindu yang mendalam.

Setiap malam, setelah selesai beribadah dan merapikan segala laporan pekerjaan, Reno akan duduk di balkon kamarnya, memeluk kain sarung tenun buatan tangan Zahrana. Ia akan berbicara pada angin, seolah-olah angin itu adalah utusan yang akan menyampaikan suaranya ke seberang sana.

“Zahra… hari ini aku berhasil menolak godaan yang sangat besar. Hari ini aku berhasil membuat orang-orang di sini mulai menghargai kejujuran. Hari ini aku merasa aku sedikit lebih baik dari kemarin. Tapi tetap saja, rasanya kurang. Kurang mendengar suaramu memuji atau menegurku. Kurang melihatmu tersenyum bangga padaku.

Setiap rupiah yang aku dapatkan, setiap pujian yang aku terima, rasanya tak ada apa-apanya dibandingkan satu detik bersamamu. Tapi aku janji, rasa kurang ini aku jadikan tangga. Aku akan menaiki tangga ini setinggi mungkin, sampai aku merasa cukup pantas untuk kembali dan menjemputmu. Aku akan mengubah dunia di sini, supaya saat kita bersama nanti, kita bisa mengubah dunia yang lebih luas lagi.”

Di pesantren yang jauh itu, di balik jendela kamar kayu yang sama, Zahrana juga sedang menatap bulan yang sama. Di tangannya, selembar surat yang dikirimkan Reno sebulan sekali—selalu ditulis dengan tangan, penuh dengan tinta yang kadang berantakan karena ditulis di sela-sela waktu istirahat, penuh dengan cerita, perjuangan, dan kalimat rindu yang tak pernah berubah: “Masih kurang, tapi aku sedang membangun semesta untukmu.”

Zahrana tersenyum lembut, menyeka air mata yang menetes pelan di pipinya. Ia meremas surat itu di dada, merasakan ketulusan yang mengalir dari setiap baris tulisan itu. Ia bangga, sangat bangga. Ia tahu, laki-laki yang ia tunggu ini sedang menjadi besar bukan karena kekayaannya, tapi karena hati yang sedang ia tempa dengan rasa kurang yang tak pernah habis itu.

“Teruslah melangkah, Reno,” bisiknya pelan ke dalam malam. “Teruslah merasa kurang, karena itu artinya kau masih tumbuh, masih mencinta, dan masih pulang. Aku di sini, tetap sama, menunggu dan berdoa. Karena aku tahu, rasa kurang yang sama itu juga ada di dadaku, dan itu yang akan menyatukan kita kembali dengan utuh dan sempurna nanti.”

Di tengah dua dunia yang berbeda, di tengah jarak yang memisahkan, dua hati itu terikat kuat oleh satu perasaan yang sama. Rasa kurang yang tak pernah penuh, yang bukan menjadi luka, melainkan menjadi bahan bakar abadi untuk terus berjuang, terus bertumbuh, dan terus saling menunggu sampai waktu berkata: Sudah cukup. Kalian utuh sekarang.

Dan Reno pun melanjutkan hari-harinya, membawa semangat baru, menyadari bahwa di luar sana, ada wanita yang menjadi rumahnya, dan di dalam hatinya, ada rasa kurang yang menjadi kekuatan terbesarnya untuk menaklukkan apa pun yang ada di depan mata.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!