Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanggil Para Serigala
Kenji melangkah keluar dari ruko Koh Darwin dengan rahang yang terkatup rapat. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai terik, langkah kakinya tidak lagi santai seperti tadi. Setiap ketukan sandal jepitnya di atas semen pasar seolah membawa getaran kemarahan yang tertahan.
Aliansi Siber Hitam sudah melintasi batas yang paling sakral dalam hidupnya: mereka berani mengancam Hana.
Drrt...
Ponsel di saku celana Kenji bergetar. Layarnya menampilkan nama Genta.
"Tuan Besar Zeus!" suara Genta di seberang sana terdengar sangat panik dan terengah-engah. "Baru saja... lima menit yang lalu, seluruh sistem komputer di Menara Narendra kena serang lagi! Kali ini bukan cuma server satelit, tapi database keuangan utama kami dikunci pakai enkripsi berlapis. Mereka minta tebusan, Tuan!"
"Gua udah tahu," potong Kenji dingin sambil terus berjalan menuju halte bus terdekat. "Itu bukan kerjaan hacker amatir kayak Pluto. Itu kerjaan inti dari Aliansi Siber Hitam. Mereka sengaja ngasih serangan pembuka buat gertak gua."
"L-lalu kita harus bagaimana, Tuan? Tim IT kami bener-bener angkat tangan. Mereka bilang butuh waktu berbulan-bulan cuma buat pecahin satu lapis kodenya," suara Genta kedengaran putus asa banget.
Kenji berhenti di pojok halte yang sepi, bersandar pada tiang besi yang berkarat. "Genta, jemput gua di halte pasar loak sekarang. Bawa laptop titanium gua yang ada di kamar kos. Bilang sama Hana kalau gua ada kerjaan lembur di luar kota beberapa hari."
"Siap, Tuan! Lima menit kami sampai!"
Sesuai ucapannya, sebuah mobil Mercedes-Benz hitam langsung berhenti mulus di depan halte dalam waktu kurang dari lima menit. Genta sendiri yang turun dan membukakan pintu depan untuk Kenji. Di kursi belakang, tas ransel hitam berisi laptop Zeus-01 milik Kenji sudah tergeletak rapi.
Begitu Kenji masuk dan mobil mulai melaju kencang menuju Menara Narendra, Kenji langsung merobek tasnya dan mengeluarkan laptop titanium tersebut. Dia membukanya di atas pangkuan, jari-jarinya langsung mengetik dengan kecepatan yang bikin Genta yang lagi menyetir cuma bisa melirik takjub lewat spion tengah.
"Genta, kalau cuma mengandalkan jaringan Narendra Group, kita bakal kalah cepat. Aliansi Siber Hitam punya ribuan server bayangan yang tersebar di seluruh dunia," ucap Kenji tanpa mengalihkan pandangan dari layar merah darahnya.
"Lalu... apa Anda butuh bantuan dari kepolisian siber internasional lagi, Tuan?" tanya Genta ragu-ragu.
Kenji mendengus sinis. "Polisi itu terlalu banyak prosedur resmi, kelamaan. Buat memburu monster yang sembunyi di dalam lumpur gelap internet, gua butuh monster juga."
Jari Kenji menekan tombol enter dengan keras. Layar komputer portabelnya langsung membagi tampilan menjadi empat kotak dialog chat rahasia yang terenkripsi menggunakan jaringan satelit pribadi. Ini adalah The Den, sebuah forum obrolan legendaris di Dark Web yang cuma bisa diakses oleh lima orang terpilih di dunia.
Kenji mengetik satu baris kalimat pendek di forum tersebut:
‘Singa tua sudah bangun. Gua butuh taring kalian malam ini.’
Hanya butuh waktu tiga detik sampai kotak obrolan pertama membalas dengan logo tengkorak neon hijau.
‘Demi Dewa! Zeus?! Lu beneran masih hidup, Bajingan?! Gua pikir lu udah jadi santapan hiu tiga tahun lalu!’ – Sandi Operasional: Poseidon (Hacker spesialis pembobol bank asal Rusia).
Kotak kedua langsung menyusul dengan logo rubah perak.
‘Hahaha! Gua tahu lu gak bakal mati semudah itu, Bos! Jadi, siapa yang berani bikin lu keluar dari kuburan?’ – Sandi Operasional: Hades (Hacker spesialis pencuri data militer asal Jerman).
Dua kotak lainnya, Ares dari Jepang dan Hermes dari Brasil, langsung ikut menyala, mengirimkan simbol hormat bertubi-tubi di layar Kenji. Mereka adalah para "Serigala Siber" yang dulu pernah bertarung di bawah bendera yang sama dengan Zeus sebelum Kenji memalsukan kematiannya.
Kenji tidak membuang waktu untuk basa-basi reuni. Jari-jarinya menari cepat, mengirimkan cetak biru serangan Aliansi Siber Hitam yang tadi masuk ke ruko Koh Darwin.
"Gua gak butuh basa-basi," ketik Kenji dingin. "Aliansi Siber Hitam baru aja ngancem adik gua. Gua mau lokasi semua server utama mereka yang ada di Asia Tenggara hancur rata dengan tanah sebelum matahari terbit besok pagi. Siapa yang ikut?"
Suasana di forum obrolan rahasia itu mendadak senyap selama dua detik, sebelum akhirnya rentetan pesan balasan masuk bagai air bah dengan logo petir merah menyala di samping nama mereka masing-masing.
‘Kalau mereka berani nyentuh keluarga lu, berarti mereka nyari mati. Poseidon, join.’
‘Hades, sistem militer Jerman siap gua pinjam buat bantu lu, Bos. Let’s go!’
‘Ares, join. Gua bakal acak-acak server Jepang mereka.’
‘Hermes, join. Malam ini kita bikin internet mereka kiamat!’
Kenji menyandarkan punggungnya ke jok mobil mewah itu, matanya memancarkan kilat kemenangan yang dingin. Aliansi Siber Hitam mengira mereka bisa memojokkan Zeus dengan cara mengancam orang terdekatnya. Mereka lupa, kalau Zeus bukan cuma sekadar hacker tunggal, melainkan raja dari para monster siber yang paling ditakuti di planet ini.
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya berbelok memasuki lobi megah Menara Narendra. Saat pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan, Kenji melangkah turun dengan memegang laptop titaniumnya yang masih menyala.
"Badai digitalnya udah siap, Genta," ucap Kenji sambil mendongak, menatap gedung pencakar langit di depannya yang malam ini akan menjadi pusat komando dari perang siber terbesar dalam sejarah modern. "Bilang sama bos lu... malam ini jangan ada yang tidur."