Yang Tersisa Di Kota Mati
Aroma solar pembakaran bus kota yang bercampur dengan debu jalanan masih menempel erat di jaket denim lusuh milik Damar Prakoso. Ketika ia melangkah turun dari pintu belakang bus, hal pertama yang menyambutnya adalah langit kota yang aneh. Langit sore itu tidak meluruh menjadi warna jingga keemasan yang hangat seperti yang biasa ia saksikan di atas hamparan sawah bapaknya di desa. Sebaliknya, warna di atas sana tampak keruh; kelabu pekat yang memar di tepi-tepinya, seolah-olah awan sedang menahan beban yang terlalu berat untuk dicurahkan menjadi hujan.
Damar membenarkan letak tali tas ranselnya yang terasa berat berkat tumpukan baju dan harapan-harapan sederhana yang ia bawa dari kampung. Ia merogoh saku, mengeluarkan selembar kertas lusuh berisi alamat kos murah yang sudah ia sepakati dengan pemiliknya dua hari lalu via WhatsApp. Sesuai petunjuk, kakinya membawanya menyusuri gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding beton tinggi tanpa plesteran. Udara di dalam gang itu terasa pengap, terjebak di antara aroma selokan tersumbat dan sisa minyak gorengan dari warung pinggir jalan.
Langkah kaki Damar berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan cat hijau lumut yang sudah mengelupas di sana-sini. Kamar nomor empat belas berada di sudut paling ujung lantai dua. Begitu anak kunci kuningan yang berkarat itu diputar dan pintu kayu tripleksnya terbuka, bau apek khas ruangan yang lama ditinggalkan langsung menyengat hidungnya.
"Ya... namanya juga kota," gumam Damar pelan, mencoba menghibur diri sendiri.
Ia menghempaskan ransel gembung itu ke lantai semen yang dingin tanpa ubin. Serta-merta, pundaknya terasa ringan, namun di saat yang bersamaan, ada kekosongan yang mendadak menghimpit dadanya. Tubuhnya remuk redam. Duduk di kursi bus ekonomi berhimpitan dengan penumpang lain, kepulan asap rokok ilegal, dan tangisan bayi yang tak kunjung reda—telah sukses membuat seluruh persendiannya kaku dan kepalanya berdenyut nyeri.
Namun, Damar segera menepis rasa lelah itu. Di desa, bekerja sampai punggung serasa mau patah bukanlah pilihan hidup, melainkan satu-satunya cara agar dapur tetap mengepul. Kini, ia sudah berada di Ibu Kota. Kota ini, dengan segala keangkuhan bangunan pencakar langitnya yang mulai menyala di kejauhan, adalah ladang baru yang harus ia taklukkan. Kota berarti peruntungan baru.
Damar mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Kasur busa tipis berselimut seprai biru pudar itu terasa keras, seolah-olah ia sedang duduk di atas tumpukan kardus bekas. Ia mengedarkan pandangan, mengabsen isi kamar berukuran tiga kali tiga meter tersebut: sebuah lemari pakaian plastik yang salah satu pintunya sudah copot, sebuah kipas angin dinding kecil yang berdebu, dan satu colokan listrik yang tampak agak longgar. Semuanya sangat minimalis, bahkan cenderung menyedihkan. Namun bagi Damar, ini sudah lebih dari cukup untuk memulai segalanya.
"Yang penting dapet kerja dulu. Apa aja, yang penting halal," bisiknya pada keheningan kamar, mencoba menyuntikkan optimisme ke dalam hatinya sendiri.
Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Layar retak sedikit di bagian atas, tapi masih berfungsi normal. Dia membuka aplikasi lowongan kerja yang sudah dia simpan sejak di desa.
Dengan sabar, Damar mengusap layarnya ke bawah, memindai daftar pekerjaan yang tersedia. Ia tidak punya ijazah sarjana, pun tidak memiliki keahlian khusus di bidang teknologi. Jari telunjuknya berhenti pada beberapa lowongan: kuli gudang logistik di daerah Kota, penjaga toko kelontong 24 jam, dan buruh harian lepas untuk proyek bangunan. Semuanya ia masukkan ke dalam daftar favorit tanpa berpikir panjang. Saat ini, ia tidak berada dalam posisi bisa memilih-milih makanan. Selama fisiknya mampu, ia akan mengambilnya.
"Besok pagi-pagi bener, mending langsung keliling masukin lamaran fisik," gumamnya, menyusun rencana di dalam kepala.
Namun, tepat sebelum Damar sempat mengetuk detail persyaratan lowongan kerja kuli gudang, layarnya mendadak macet. Ponselnya bergetar panjang, sebuah notifikasi muncul.
VIDRO VIRAL — KEJADIAN TIDAK WAJAR DI PUSAT KOTA, WARGA DIHIMBAU WASPADA
Damar mengernyitkan dahi. "Vidro? Maksudnya video kali ya? bikin judul aja belepotan," gerutunya pelan.
Biasanya, Damar akan langsung mengusap notifikasi seperti itu ke samping demi menghemat kuota internetnya yang sudah sekarat.
Namun, entah mengapa, kali ini matanya seperti terpaku pada layar. Ada sesuatu yang janggal dari gambar pratinjau (thumbnail) video tersebut yang blur. Warnanya terlalu kelam, dan kalimat "Kejadian tidak wajar" kalimat itu terasa mengganggu.
Setelah ragu selama beberapa detik, Damar akhirnya mengetuk tautan video tersebut.
Awal rekaman video normal. Jalanan kota yang rame, orang - orang lalu lalang ada juga yang sedang berburu makan. Motor - motor penuh di jalan raya, suara klakson kendaraan, ada juga pedagang kaki lima.
Kamera bergoyang agak parah, menandakan si perekam sedang berjalan atau memegang ponselnya dengan cara disembunyikan di dekat dada—seperti seseorang yang sedang merekam kejadian secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan.
Damar menggeser posisi duduknya, bersandar pada dinding kamar yang terasa dingin. Ia mendengus pelan. "Halah, paling-paling juga prank orang gila baru, atau promosi film horor marketing murahan," gumamnya santai.
Namun, spekulasinya langsung runtuh tepat pada detik kesepuluh.
Seseorang masuk Frame. Seorang pria dewasa, langkahnya aneh. Kepalanya terkulai lunglai ke depan, sementara kedua bahunya terangkat kaku.
Damar otomatis mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit menatap layar yang retak. "Ini orang kenapa? Mabuk kecubung apa gimana?"
Pria itu tiba-tiba berhenti tepat di tengah pembatas jalan yang ramai. Ia menoleh ke arah kamera. Matanya kosong, bukan kosong lelah atau mabuk tapi kaya engga ada orang di dalemnya.
Damar mendadak menegakkan punggungnya. "Eh... ini beneran bukan akting?" bisiknya, mulai merasa ada yang tidak beres.
Di dalam video, pria itu bergerak cepat. Menerjang orang di depannya, orang itu jatuh. Terdengar suara teriakan dari video itu, kamera juga bergoyang sangat keras. Damar refleks berdiri dari tempat tidur, kedua kakinya gemetar tanpa ia sadari. "Woy! Woy! Itu orang diapain?!" serunya pada layar mati, seolah-olah orang-orang di dalam video bisa mendengarnya.
Apa yang terjadi selanjutnya di dalam rekaman tersebut adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Pria dalam video itu menggigit korban, bukan memukul atau berkelahi. Video makin kacau, orang - orang berlari, beberapa terjatuh tapi beberapa juga bangun lagi. Tapi cara bangun mereka beda, terlalu lambat, terlalu patah dan matanya kosong.
Damar merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak surut ke kaki. Tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat. "Anjir... ini gila. Ini pembunuhan beneran?!"
Video tiba - tiba jatuh, hanya terlihat langit namun tidak lama gelap, sinyal hilang.
"Editan. Pasti editan digital. Orang kota kan pinter-pinter bikin video tipuan kayak gini buat nyari viewers," cetusnya pelan, suaranya terdengar sangat rapuh di tengah kesunyian.
Ia mencoba memaksa dirinya untuk tertawa, menyindir betapa bodohnya dia karena sempat memercayai rekaman tersebut. Namun, tawa itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi gumpalan rasa takut yang menyumbat jalan napasnya. Logikanya mencoba menolak, namun insting hewani yang tertanam jauh di dalam dirinya berteriak bahwa apa yang baru saja ia lihat adalah sebuah kebenaran yang mutlak dan mengerikan.
Damar berjalan mendekati jendela satu-satunya di kamar itu. Jendela kaca kecil yang dilapisi teralis besi berkarat. Ia menyingkap gorden kain semenit, lalu melemparkan pandangannya ke luar, ke arah gang dan jalanan utama di ujung sana.
Di luar, semuanya masih tampak normal. Beberapa pengendara motor masih melintas dengan kecepatan sedang. Orang-orang masih berlalu-lalang di trotoar.
"Tuh, kan. Hoaks. Cuma video sampah," kata Damar, kali ini dengan nada yang dipaksakan lebih tegas demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia melepaskan pegangannya pada gorden, membiarkan kain itu kembali menutup kaca.
Damar berbalik, berniat mengambil botol air mineral dari ranselnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering kering kerontang.
Namun, ia gagal mengelabui pikirannya sendiri. Bayangan sepasang mata kosong milik pria di video tadi seolah telah tercetak permanen di dinding matanya.
BRAK!!!
Suara keras dari luar membuat Damar menoleh.
"Apaan itu?!"
Ia tidak berani bergerak dari posisinya. Kamar itu mendadak terasa seperti kotak jebakan. Suara langkah kaki. Ini adalah suara entakan kaki yang terburu-buru, berat, dan tidak beraturan. Jumlahnya bukan hanya satu atau dua orang, melainkan banyak tidak beraturan.
Damar perlahan-lahan melangkah mendekati pintu kamarnya. Tepat saat jemarinya menyentuh permukaan gagang pintu, suara jeritan manusia pecah dari luar gang, menembus sela-sela pintu kayu kamarnya yang tipis.
"JANGAN KELUAR! JANGAN KELUAR DARI RUMAH!!!"
"PANGGIL POLISI! ANJIR, ADA ORANG GILA GIGITIN ORANG-ORANG DI DEPAN GANG!!!"
Mendengar kata "gigit", Damar merasa seluruh persendiannya mendadak lemas bagai dilolosi. "Gigit...? Enggak, enggak mungkin..." bisiknya dengan bibir yang mendadak kelu.
Suara-suara di luar bertambah kacau dalam hitungan detik. Terdengar suara pintu-pintu kamar kos lain di koridor luar dibanting dengan keras. Sesuatu yang berat—mungkin rak sepatu atau motor yang diparkir di lorong—tumbang menyentuh lantai dengan bunyi kelontangan yang bising. Ada juga suara seretan yang berat, disusul oleh pekikan tertahan dari seorang wanita yang tinggal di kamar sebelah Damar, sebelum akhirnya suara itu lenyap digantikan oleh suara kunyahan yang basah dan mengerikan.
Damar menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa seperti menelan pecahan kaca. Melalui celah sempit berjarak dua sentimeter di bagian bawah pintunya, Damar bisa melihat bayangan kaki-kaki manusia yang berlarian kesetanan di koridor kos yang remang-remang. Beberapa pasang kaki berlari melewati kamarnya begitu saja dengan kecepatan penuh. Namun, ada satu pasang kaki yang tiba-tiba berhenti tepat di depan kamar nomor empat belas.
Bayangan kaki itu tampak aneh. Posisinya tidak simetris; salah satu pergelangan kakinya tampak menekuk ke dalam dengan sudut yang mustahil bagi manusia hidup, seolah-olah tulang pergelangan kakinya telah patah total namun tetap dipaksa untuk menumpu beban tubuh. Kaki itu bergeming di sana, tidak bergerak selama beberapa detik, sebelum akhirnya mulai terseret maju-mundur dengan gerakan yang sama sekali tidak sinkron dengan biomekanika tubuh manusia normal. Gerakan itu... sangat tidak manusiawi.
"EVAKUASI! SEMUA WARGA DIHARAPKAN KELUAR SEKARANG JUGA! MENUJU KE JALAN UTAMA!"
Sebuah suara pria paruh baya—mungkin pak RT atau pemilik kos—berteriak menggunakan pengeras suara dari ujung lorong luar. Suaranya penuh dengan keputusasaan dan ketakutan yang mencekam.
Evakuasi? Damar mengernyitkan dahinya, dilanda kebingungan yang luar biasa. Haruskah ia membuka pintu dan ikut berlari keluar bersama massa yang panik? Ataukah ia harus tetap mengunci diri di dalam kamar sempit ini? Di tengah pergulatan batinnya yang hebat, ponsel di genggaman tangannya kembali bergetar dengan ritme yang konstan dan panjang.
Kali ini, getaran itu berasal dari sistem Peringatan Darurat Nasional yang otomatis memotong seluruh fungsi ponsel. Layarnya berubah menjadi merah menyala, memamerkan teks tebal yang berkedip-kedip:
PERINGATAN DARURAT: VIRUS MUTASI TINGKAT TINGGI TERDETEKSI DI BEBERAPA TITIK KOTA. GEJALA MELIPUTI KEHILANGAN KESADARAN, PERILAKU AGRESIF EKSTREM, DAN KANIBALISME. SELURUH WARGA DIMINTA UNTUK TETAP BERADA DI DALAM RUANGAN ATAU SEGERA MENUJU TITIK EVAKUASI TERDEKAT. JANGAN MENDEKATI INDIVIDU YANG MENUNJUKKAN GEJALA!
Jari-jari tangan Damar mendadak kehilangan sensasi rasa, terasa sedingin es balok. Ponselnya tergelincir dari genggamannya, jatuh berdebum di atas kasur.
Virus mutasi.
Video itu muncul lagi di kepalanya. Orang itu. Gigitan itu. Matanya.
Tok... tok... tok...
Suara pintu diketuk dengan pelan tapi jelas.
Damar mendadak mengunci rapat-rapat mulutnya, bahkan menghentikan aliran napasnya sendiri agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Jantungnya berdegup begitu kencang di dalam rongga dadanya, berdentum sangat keras hingga ia takut makhluk di balik pintu bisa mendengarnya.
"Si... siapa?" tanya Damar dengan suara yang nyaris tidak berupa bisikan, tercekik oleh rasa takut yang luar biasa.
Tidak ada jawaban kata-kata dari balik pintu. Kesunyian malam mendadak terasa begitu pekat dan menekan.
TOK!!!
Kali ini lebih keras, gagang pintu juga bergerak seperti seseorang memaksa masuk dengan pintu masih terkunci.
Damar refleks melompat mundur sejauh dua langkah, matanya melebar menatap gagang pintu yang bergerak-gerak liar tersebut.
Dari celah udara di pinggir pintu, suara itu akhirnya terdengar. Bukan suara sapaan manusia yang meminta perlindungan. Itu adalah suara embusan napas yang sangat berat, serak, dan basah, disusul oleh suara geraman rendah yang bergetar di tenggorokan—sebuah suara berlendir yang lebih mirip dengan suara binatang buas yang sedang mengendus aroma daging segar daripada suara seorang manusia.
Damar menatap pintu tripleks hijau itu tanpa berani berkedip barang satu milidetik pun. Keringat dingin kini sudah membanjiri pelipis dan punggungnya, membuat kaosnya basah kuyup. Dan pada detik itulah, akal sehat Damar akhirnya dipaksa untuk menerima kenyataan pahit yang paling mengerikan.
Apa pun yang berdiri di balik pintu kamarnya saat ini... sudah bukan lagi makhluk yang bisa disebut sebagai manusia.
BRAAAKKK!!!
Pintu kamar kos itu dihantam dengan kekuatan penuh dari luar, hingga menyebabkan kayu di sekitar area selot pintu mulai retak dan mengeluarkan serpihan kayu kecil.
Damar langsung mundur hingga punggungnya membentur dinding semen di sudut belakang kamar.
"Anjir... anjir... demi apa ini..." umpat Damar dengan suara gemetar, air mata keputusasaan mulai menggenang di sudut matanya.
Gagang pintu bergerak lagi kali ini lebih kuat dan lebih liar. Dari luar tidak ada lagi suara manusia, hanya suara nafas mengerikan yang terdengar. Malam yang seharusnya menjadi awal dari perjuangan Damar untuk mengadu nasib di kota, kini mendadak berubah menjadi panggung perjuangan paling primitif: perjuangan untuk tetap hidup.
Saat engsel pintu kamarnya mulai mengeluarkan bunyi patah yang nyaring, Damar tahu bahwa dunia lamanya telah berakhir. Dan di luar sana, dalam kegelapan malam kota yang terinfeksi, peradaban manusia sedang retak dan hancur berkeping-keping.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Maharani Martosono
😄😄
2026-05-30
0
T28J
keren keren keren 👍
2026-05-25
1