tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Di Bawah Bayang-Bayang Korporat
Lima tahun telah berlalu sejak peristiwa di gua pertemuan dua sungai itu. Dunia seolah berubah total. Kekuatan purba yang dulu diperebutkan akhirnya dikembalikan ke asalnya oleh Rian, menghilang dari jangkauan siapa pun, namun jejak dari kekayaan dan pengetahuan yang didapat dari penemuan itu mengubah hidup Rian selamanya.
Kini, Rian bukan lagi pemuda yang berjalan kaki di hutan belantara. Ia adalah Direktur Utama Perusahaan Grup Arka, sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang teknologi dan pengelolaan sumber daya alam, yang berdiri kokoh sebagai warisan yang ia bangun sendiri—berbekal kecerdasan dan visi yang diwarisi dari ayahnya, Raka.
Gedung pencakar langit Arka Group kini menjadi ikon di pusat kota, simbol kekuasaan, kemewahan, dan pengaruh.
Arka Group perusahaan yang masih di bawah
Raka karya utama.
Arka Group adalah perusahaan yang di bangun Rian itu sendiri
Namun, di balik kaca gedung yang berkilau itu, permainan yang jauh lebih berbahaya sedang berlangsung.
Pagi itu, Rian duduk di kursi kebesarannya di ruangan kerja yang luas dan mewah. Di atas meja besar yang terbuat dari kayu mahoni, tertata rapi berkas-berkas proyek besar yang nilainya bernilai miliaran rupiah. Pikirannya tidak lepas dari satu orang: Sara.
Serli adalah manajer keuangan andalan di perusahaan itu. Wanita cerdas, cantik, dan berkarisma yang telah bekerja bersama Rian sejak hari-hari awal pendirian perusahaan. Di mata semua orang, mereka adalah pasangan yang serasi. Hubungan asmara mereka berjalan rahasia namun penuh gairah dan kehangatan.
Bagi Rian, Serli bukan sekadar kekasih, melainkan pendamping, orang yang ia percaya sepenuhnya—satu-satunya orang yang tahu sisi lemahnya, orang yang hadir saat ia merasa lelah memikul beban perusahaan sendirian.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Serli masuk, mengenakan setelan jas elegan, wajahnya terlihat tenang namun ada kilatan yang sulit dimengerti di matanya. Ia berjalan mendekati meja Rian, meletakkan secangkir kopi panas seperti biasa.
"Kau kelihatan lelah, Rian," ucapnya lembut, suaranya sehalus sutra. Ia melingkarkan tangannya ke leher Rian, memberikan usapan manja yang selama ini selalu membuat ketegangan di bahu Rian hilang seketika.
Rian tersenyum, menangkap tangan wanita itu dan mengecup telapak tangannya. "Ada banyak hal yang harus dipikirkan, Sayang. Proyek ekspansi ke wilayah utara itu cukup rumit. Tapi selama ada kau di sini, aku merasa semuanya bisa diatasi."
Sara tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kau terlalu mempercayaiku. Kadang aku bertanya-tanya... apa yang akan kau lakukan jika aku ternyata bukan orang yang kau kira?"
Rian tertawa kecil, menganggap itu hanya candaan. "Mustahil. Kau Serli. Wanita yang menemaniku saat kantor kami masih berupa gudang sempit. Kau separuh dari hidupku sekarang."
Serli melepaskan pelukannya perlahan, berbalik memunggungi Rian agar ekspresi wajahnya tidak terlihat. Di luar jendela besar yang memandang ke arah kota, matanya menatap tajam ke arah gedung pesaing utama mereka, Perusahaan Darmawan. Nama itu adalah nama lama, nama yang melekat pada sejarah kelam masa lalu, namun kini bangkit kembali sebagai perusahaan saingan yang agresif.
Di balik layar, Darmawan—yang selamat dari kejadian lima tahun lalu dan kehilangan kekuatannya—kini menyalurkan seluruh ambisinya ke dunia bisnis. Ia bersumpah akan menghancurkan apa pun yang dibangun oleh keturunan Raka. Dan untuk itu, ia sudah menyiapkan senjata paling ampuh: seseorang yang berada tepat di sisi Rian, seseorang yang paling ia percayai.
Sore itu, Rian harus menghadiri pertemuan penting dengan para investor besar. Keberhasilan kesepakatan ini akan membuat Arka Group menjadi penguasa pasar mutlak, namun kegagalan sedikit saja akan menjerumuskan perusahaan ke jurang kebangkrutan.
Sebelum berangkat, Rian menyerahkan satu berkas rahasia kepada Serli. Di dalamnya terdapat rincian strategi penawaran dan angka tertinggi yang berani ia tawarkan. Dokumen itu adalah nyawa perusahaan, yang hanya diketahui oleh dirinya dan Sara saja.
"Simpan ini di brankas utama. Jangan biarkan siapa pun melihatnya, bahkan staf kepercayaan kita sekalipun," perintah Rian dengan serius.
Serli mengangguk, menerima map cokelat itu dengan tangan yang stabil. "Tenang saja, Rian. Semuanya akan aman bersamaku. Kau pergi saja, raih kesepakatan itu. Aku akan mengurus sisanya di sini."
Rian pergi dengan hati yang ringan, penuh keyakinan. Namun, begitu pintu lift tertutup dan Rian benar-benar meninggalkan lantai itu, ekspresi wajah Serli berubah drastis. Kelembutan dan kasih sayang yang tadi ada lenyap seketika, digantikan oleh dinginnya tekad.
Ia berjalan menuju ruangan data pusat. Di tangannya masih tergenggam erat dokumen rahasia itu. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat ke sebuah nomor yang tersimpan dengan nama samaran: 'Bahan bakar sudah ada di tangan. Api akan menyala tepat saat dia berbicara di depan investor.'
Balasan masuk seketika: 'Bagus. Hari ini kita akhiri warisan Raka selamanya. Kau akan mendapatkan posisi yang pantas setelah ini selesai.'
Serli mematikan layar ponselnya, lalu menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Di benaknya, kenangan masa kecilnya berputar kembali—bagaimana keluarganya hancur karena perselisihan masa lalu, bagaimana Darmawan yang menolongnya dan membesarkannya dengan satu tujuan: menjadi orang terdekat Rian, meruntuhkan pertahanannya, dan menusuknya tepat di jantungnya saat ia paling bahagia.
Ia mencintai Rian, itu benar. Namun, dendam, hutang budi, dan ambisi yang ditanamkan sejak kecil ternyata jauh lebih kuat daripada rasa cinta itu.
Beberapa jam kemudian, di ruang pertemuan hotel mewah, Rian berdiri di depan para investor dan pemegang saham besar. Ia mulai memaparkan rencananya, penuh percaya diri. Namun, belum selesai ia berbicara, layar besar di ruangan itu tiba-tiba menyala sendiri. Di sana, terpampang jelas seluruh isi dokumen rahasianya, angka-angka strategis, dan rencana rahasia yang baru saja ia serahkan kepada Serli.
Hening seketika menyelimuti ruangan. Di sudut layar, muncul logo Darmawan Group.
Rian terpaku. Darah seolah berhenti mengalir di pembuluh darahnya. Ia mengerti apa yang terjadi, tapi ia menolak percaya. Ia berlari keluar ruangan, menuju mobilnya, melesat kembali ke kantor dengan kecepatan tinggi. Hatinya berdebar kencang, campuran antara marah, takut, dan rasa sakit yang luar biasa.
Saat ia sampai di lantai kerjanya, pintu ruangan Serli terbuka. Serli sudah berdiri di sana, sudah bersiap pergi, membawa tas kerjanya. Di belakangnya, berdiri beberapa orang berjas hitam dari Darmawan Group.
Rian berhenti di ambang pintu. Matanya menatap wanita yang ia cintai dan percayai lebih dari nyawanya sendiri. Wajahnya pucat, suaranya tercekat.
"Kenapa... Serli? Kenapa harus kau?" tanyanya pelan, hampir tak terdengar.
Serli menatapnya, kali ini tanpa topeng lagi. Matanya basah, ada air mata yang menetes, tapi ia tetap berdiri tegak, tidak mundur selangkah pun.
"Kau tanya kenapa, Rian?" suaranya bergetar. "Karena sejak awal aku dikirim untuk ini. Aku ada di sisimu bukan karena kebetulan, bukan karena cinta. Aku ada di sini untuk memastikan kau jatuh, sama seperti ayahmu menjatuhkan semua orang yang ada di sisiku dulu."
Ia melangkah melewati Rian, berbisik tepat di samping telinganya dengan nada yang dingin namun penuh kepedihan:
"Cintaku padamu nyata, Rian. Tapi pengkhianatanku... jauh lebih nyata lagi. Selamat tinggal. Warisanmu berakhir hari ini."
Rian diam terpaku, melihat sosok wanita yang ia banggakan berjalan pergi bergandengan dengan musuh bebuyutannya, membawa hancur bersamanya kepercayaan, cinta, dan masa depan perusahaan yang ia bangun dengan keringat dan air mata.
Di tengah ruangan yang kini terasa begitu sepi dan kosong, Rian menyadari satu hal pahit: musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berdiri di hadapanmu dengan pedang terhunus, melainkan mereka yang tidur di sampingmu, memegang kunci hatimu, dan menunggumu lengah untuk menghancurkan segalanya dalam satu kali tusukan dari belakang.
Dan pertempuran ini baru saja berubah menjadi jauh lebih kejam daripada sekadar perebutan kekuasaan. Ini adalah pertempuran untuk membalas rasa sakit hati, dan membangun kembali apa yang telah direnggut oleh orang yang paling dicintainya.