Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 KESIBUKAN DI TERAS RUMAH
Sejak pukul delapan pagi, pemandangan di teras rumah Abdul telah berubah total. Suara deru halus dari dua mesin jahit listrik saling bersahut-sahutan dengan ritme yang konstan, menciptakan atmosfer produktivitas yang kental di area depan rumah reot tersebut. Rian dan Jaka tampak duduk berhadapan dengan tumpukan kain bahan drill berwarna biru tua yang berserakan di atas meja potong. Keduanya bekerja dengan fokus tinggi, sesekali diselingi tawa ringan mengenang masa-masa sekolah mereka dulu.
"Yan, ini kerah bajunya mau dibuat model V atau bulat biasa?" tanya Jaka sambil mengarahkan selembar kain di bawah injakan jarum mesin jahitnya yang bergerak cepat.
Rian mendongak dari meja potong, mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil.
"Dibuat kerah bulat aja, Jak. Sesuai sama catatan pesanan dari ibu-ibu kader Posyandu kemarin. Pastikan jahitannya double ya, biar gak gampang robek. Si Abdul minta kualitasnya harus nomor satu biar pelanggan gak kecewa."
"Siap, bos muda aman urusan itu mah," jawab Jaka sambil terkekeh, kembali menginjak pedal gas mesin jahitnya hingga mengeluarkan suara menderu yang khas.
Aktivitas konveksi mini yang sangat sibuk ini tentu saja tidak luput dari perhatian para warga Gang Seng yang berlalu-lalang di depan rumah Abdul. Salah satunya adalah Bu RT yang kebetulan sedang berjalan pulang dari warung sambil menenteng plastik belanjaan.
Langkah kakinya sengaja diperlambat saat melewati pagar rumah Abdul. Matanya yang tajam mengamati setiap sudut teras dengan tatapan penuh selidik dan raut wajah yang tampak kurang suka.
"Pagi, Bu RT! Mau belanja ya?" sapa Rian dengan ramah dari atas teras, mencoba menjaga kesopanan sebagai warga baru di lingkungan tersebut.
Bu RT menghentikan langkahnya, tersenyum paksa dengan bibir yang dibuat-buat manis.
"Eh, iya, Rian. Ramai banget ya terasnya sekarang. Ibu dengar si Abdul sekarang jadi juragan jahit ya? Hebat banget, padahal kemarin ibu dengar dia baru kena PHK dari pabrik."
Jaka yang mendengar nada sindiran halus itu hanya diam, tetap fokus pada jahitannya. Namun Rian yang sudah diberi pengarahan oleh Abdul langsung menjawab dengan tenang.
"Alhamdulillah, Bu. Abdul dapet kepercayaan modal dari mantan bosnya di kota buat buka cabang di sini. Makanya kami berdua diajak kerja buat bantuin kelola pesanan warga."
"Oh... gitu ya. Bagus deh kalau halal mah," ucap Bu RT dengan penekanan pada kata 'halal' sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan pinggul yang diayun-ayunkan kesal.
Di dalam hatinya, Bu RT merasa gengsinya terusik melihat keluarga Abdul yang biasanya miskin dan terpuruk kini mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan ekonomi, bahkan sampai bisa mempekerjakan dua orang karyawan sekaligus.
Sementara itu, di dalam kamar belakang yang tertutup gorden rapat, sang pemilik usaha yang sebenarnya justru sedang menikmati perannya dengan sangat maksimal. Abdul berbaring santai di atas kasur lantainya sambil memegang handphone android barunya yang mengkilap. Ia sedang asyik menatap layar AMOLED yang jernih, mengagumi tampilan aplikasi m-banking Bank Suka yang kini menampilkan saldo total sebesar Rp45.385.000,00 setelah terpotong biaya pembelian HP dan mesin jahit kemarin.
"Mantap banget ini HP baru, layarnya bening banget gak kayak HP jadul aku yang bikin mata katarak," gumam Abdul dengan senyum puas menempel di wajahnya.
Dari luar kamar, sayup-sayup terdengar suara mesin jahit yang terus menderu konstan beserta obrolan seru antara Rian dan Jaka. Abdul menghela napas lega, memposisikan bantalnya agar lebih nyaman di kepala. Kehadiran teman-temannya di teras benar-benar menjadi tameng pelindung yang sangat sempurna baginya. Siapa pun warga yang berniat nyinyir atau curiga tentang perubahan finansial keluarganya akan langsung terbungkam begitu melihat aktivitas nyata di teras rumahnya.
Bagi seluruh warga Gang Seng, Abdul adalah pemuda pekerja keras yang berhasil bangkit dari keterpurukan PHK menjadi seorang pengusaha konveksi mandiri yang sukses.
Tidak ada satu pun orang yang tahu, bahkan termasuk Rian dan Jaka sendiri, bahwa modal utama dan sumber kekayaan Abdul yang sebenarnya didapatkan murni dari aktivitas rebahannya di dalam kamar terisolasi ini. Abdul memejamkan matanya dengan tenang, bersiap untuk tidur siang dengan hati yang sangat damai tanpa perlu mencemaskan masa depan lagi.