NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Delapan Tahun Dicari Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Lari Saat Hamil / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.

Delapan tahun berlalu.

Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semalam Sebelum Hari H

Mobil itu perlahan berhenti di pinggir jalan pesisir. Dari balik kaca gelapnya, sepasang mata tajam memperhatikan layang-layang yang sama persis seperti foto peserta yang ia lihat semalam.

“Layang-layang itu…” gumam Kael pelan.

Entah kenapa dadanya kembali terasa aneh. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan setiap kali melihat gambar sederhana itu.

Tatapannya terus mengikuti layang-layang tersebut hingga perlahan turun ke arah orang-orang yang sedang tertawa di bibir pantai.

Dan di detik itulah… mata Kael nyaris menangkap sosok seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari anak kecil pemegang benang itu.

Rambut panjangnya bergerak pelan diterpa angin laut. Tubuhnya ramping. Dan entah kenapa… siluet itu terasa begitu familiar.

Kael sedikit menyipitkan mata seolah mencoba memastikan sesuatu. Namun belum sempat ia melihat lebih jelas suara sopir mengalihkan pandangannya.

“Maaf Tuan, kita harus segera ke lokasi dermaga,” ujar sopir dari depan.

Brmmm—

Mobil itu kembali melaju perlahan meninggalkan kawasan pantai. Tatapan Kael masih tertinggal di belakang, tepat pada sosok wanita yang nyaris saja terlihat jelas tadi.

Namun beberapa detik kemudian semuanya kembali tertutup jarak tanpa sadar di bibir pantai sana, Alena baru saja menoleh ke arah jalan raya saat mobil hitam itu sudah menghilang jauh dari pandangan

☘️☘️☘️☘️

Malam itu suasana rumah kayu sederhana milik Alena terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Lampu ruang tamu yang tidak terlalu terang membuat suasana terasa damai meskipun kelelahan masih jelas terlihat di wajah keempat wanita itu.

Setelah latihan layang-layang tadi sore, Kai terlihat begitu bahagia. Anak itu bahkan belum berhenti tersenyum sedari tadi.

Sesekali tangannya memegang kartu ID festival miliknya, lalu melihat layang-layang biru yang kini disimpan hati-hati di sudut ruang tamu.

“Ma…” panggil Kai sambil duduk selonjor di lantai.

“Iya Sayang?” sahut Alena yang sedang melipat pakaian di dekatnya.

“Besok Kai benar-benar ikut festival ya?”

Pertanyaan polos itu membuat tangan Alena berhenti sesaat. Wanita itu menatap anaknya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum lembut.

“Iya,” jawabnya pelan. “Besok anak Mama ikut festival besar.”

Seketika senyum Kai semakin lebar. Senna yang sejak tadi sedang meniup kopi panas langsung mendengus kecil.

“Bukan cuma ikut.” Wanita itu menunjuk Kai cepat. “Anakku besok harus bikin semua orang melongo!”

Kai sampai tertawa kecil mendengar ucapan heboh itu. “Ibu Senna lebay.”

“Heh! Ini namanya percaya diri!”

Anne yang sedang membantu merapikan perlengkapan festival hanya menggeleng geli melihat keduanya.

Sementara di sisi lain, Rina duduk di dekat layang-layang Kai sambil memperhatikan salah satu ujung kain ristop yang sedikit terangkat.

“Sebentar,” gumamnya pelan.

Wanita itu segera mengambil jarum dan benang kecil dari tasnya lalu mulai memperbaiki bagian ujung layang-layang itu dengan teliti.

Kai langsung mendekat. “Ibu Rina lagi ngapain?”

“Memperkuat bagian sini,” jawab Rina lembut. “Biar besok layang-layangnya nggak gampang goyang kena angin.”

Mata Kai berbinar kecil.

“Makasih…”

Rina tersenyum tipis lalu mengusap rambut anak itu pelan. “Festival tinggal besok, masa kita nggak kasih yang terbaik buat anak kita?”

Kalimat sederhana itu membuat suasana kembali menghangat. Karena tanpa sadar mereka benar-benar sudah melakukan layaknya seorang ibu kandung pada satu anak itu.

☘️☘️☘️☘️☘️

Malam semakin larut. Kai akhirnya tertidur di kamarnya setelah hampir satu jam penuh bercerita tentang festival besok. Kartu ID peserta itu bahkan masih berada di dekat bantalnya.

Sementara di ruang tamu, keempat wanita itu masih belum tidur. Suasana mulai jauh lebih sunyi. Hanya suara ombak dari kejauhan yang terdengar samar menemani malam mereka.

Senna duduk sambil memijat pinggangnya sendiri.

“Aduh…” keluhnya pelan. “Kayaknya besok aku benar-benar nggak bisa berdiri lama.”

Anne langsung menoleh. “Masih sakit?”

“Lumayan.” Senna tertawa kecil. “Tapi nggak apa-apa.”

Alena yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara pelan. “Aku takut.”

Seketika suasana kembali hening. Rina perlahan menatap Alena.

“Takut apa?”

Alena menunduk pelan sambil memainkan ujung bajunya sendiri. “Kalau besok Kai kalah…”

Kalimat itu keluar begitu lirih dan cukup membuat dada mereka terasa sesak seketika.

“Aku takut dia kecewa,” lanjut Alena pelan. “Kai terlalu berharap pada festival ini.”

Anne menghela napas kecil. “Festival sebesar itu pasti pesertanya hebat-hebat.”

“Dan mereka pasti punya perlengkapan jauh lebih bagus,” tambah Rina lirih.

Suasana kembali hening, untuk sesaat mereka semua merasakan ketakutan yang sama. Bukan takut kehilangan uang. Tapi takut melihat mimpi kecil Kai patah di depan matanya sendiri.

Hingga beberapa detik kemudian… Senna tiba-tiba bersandar santai sambil melipat tangan di dada.

“Menurutku…”

Wanita itu berhenti sebentar. Tatapannya perlahan mengarah pada layang-layang biru milik Kai.

“Anak itu sudah menang sejak pertama kali dia berani bermimpi.”

Deg.

Seketika ketiga wanita lainnya langsung terdiam. Senna tersenyum kecil.

“Coba pikir,” lanjutnya pelan. “Anak sekecil itu rela nabung sendiri… rela bantu nelayan… bahkan nggak pernah sekalipun maksa kita.”

Tatapannya mulai memanas. “Dan lihat hasil layang-layang itu.”

Anne perlahan tersenyum haru. Sementara Alena mulai menunduk menahan air matanya sendiri.

“Jadi menurutku…” suara Senna mulai melembut. “Besok menang atau kalah bukan hal paling penting.”

“Karena Kai sudah berhasil membawa kita sampai sejauh ini.”

Dan untuk beberapa saat… tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara lagi, karena akhirnya mereka sadar dalam perlombaan pastinya ada yang menang dan juga kalah.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara itu… Di hotel mewah terbesar dekat kawasan dermaga, suasana terasa sangat berbeda.

Dingin dan juga sepi seolah penuh tekanan. Kael Ardion berdiri di depan jendela besar kamar hotelnya sambil menatap hamparan laut gelap di kejauhan.

Lampu-lampu kapal terlihat samar dari kejauhan, sementara angin malam menggoyangkan tirai tipis di belakang tubuhnya.

Tok tok tok.

“Masuk.”

Edgar segera masuk membawa tablet dan beberapa dokumen acara. “Tuan, ini rundown festival besok.”

Kael bahkan tidak menoleh. “Bacakan singkat.”

Edgar langsung membuka data tersebut.

“Besok acara dimulai pukul sembilan pagi. Setelah sambutan peresmian dermaga, festival layang-layang akan dimulai.”

Kael mendengus kecil seolah malas mendengarnya. Namun beberapa detik kemudian Edgar kembali melanjutkan.

“Dan peserta anak bernama Kailan Alvero cukup menarik perhatian panitia.”

Untuk pertama kalinya malam itu… Kael menoleh. Tatapannya tajam.

“Siapa?”

Edgar sedikit gugup. “Kailan Alvero, Tuan.”

Entah kenapa… nama itu kembali membuat dadanya terasa aneh. Sama seperti saat melihat foto layang-layang biru itu.

Kael perlahan mengambil gelas whiskey di dekatnya namun kali ini tidak langsung meminumnya.

“Kailan…” gumamnya pelan.

Nama itu terus terngiang di kepalanya tanpa alasan yang jelas. Edgar sendiri tidak berani bertanya lebih jauh.

Sementara Kael kembali menatap laut gelap di luar sana. bayangan layang-layang biru dengan empat wanita di bawah rembulan itu belum juga hilang dari pikirannya.

Padahal besok… tanpa ia tahu, takdir yang terpisah selama delapan tahun itu akan mulai saling mendekat.

Bersambung .....

Gak terasa sudah 20 bab. Minta doanya ya Kak semoga lolos bab terbaik 🤲🤲🤲🤲

1
Sugiharti Rusli
bahkan dengan kekayaan yang si Kael miliki berapapun, ga akan membuat Alena silau sejak dulu dan sampai kapanpun,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia mengatakan ingin menebus kesalahannya dulu, tapi luka yang Kael buat terlalu dalam bagi Alena,,,
Sugiharti Rusli
padahal dalam rahim Alena saat itu sedang dikandung putra yang dulu tidak dia harapkan kehadirannya,,,
Sugiharti Rusli
dan itu dulu Kael lakukan dengan sadar saat gengsi dalam dirinya terlalu tinggi dan meremehkan perempuan rendah menurut dia seperti Alena,,,
Sugiharti Rusli
yah terkadang manusia tuh baru menyadari kalo sebenarnya dia sudah kehilangan harta paling berharga karena keegoisannya sendiri yah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya dia harus melakukan pendekatan berbeda kepada Alena sih, karena dia pasti trauma kalo sampai berhadapan kembali sama si Kael
Sugiharti Rusli
masa iya si Kael akan melakukan hal yang sama kepada yang dia yakini kalo Kai adalah putra kandungnya sendiri
Sugiharti Rusli
karena baik Alena dan teman" nya tidak tahu masa lalu Kael yang sangat kelam tentang ibunya yang dibunuh ayahnya sendiri kan,,,
Sugiharti Rusli
padahal di sisi lain justru si Kael takut Alena akan pergi lagi begitu melhat dirinya, apalagi saat melihat dirinya kecil pada wajah Kai,,,
Sugiharti Rusli
di sini Alena dan sahabatnya mengkhawatir kan apa yang akan bisa Kael lakukan terhadap putranya yah,,,
tia
ditunggu kelanjutannya thor
Sugiharti Rusli
entah apa yang nanti Alena akan lakukan setelah kembali bertemu si Kael setelah 8 tahun berusaha hidup dengan tenang meski serba sederhana bersama sang putra,,,
Sugiharti Rusli
kalo si Kai mungkin masih belum nyadar yah kalo wajah laki" itu ada kemiripan dengannya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi dulu dia yang menyarankan agar Alena mendatangi si Kael ke kantornya,,,
Sugiharti Rusli
tapi seharusnya Rina tahu kan kalo dulu Alena dilecehkan oleh bos Ardion itu namanya,,,
Sugiharti Rusli
memang jadi semacam ada rasa tegang dan canggung tanpa semua yang di sana ketahui yah,,,
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Ayu Alina segera saja kabur lagi sejauh-jauhnya!
tia
hayo gerak kael jgn lemot lemot.
Hesty
good
Hesty
yah thorrr up gi☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!