Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Lima
Sore mulai turun perlahan di rumah besar itu. Cahaya matahari yang tadinya terang kini berubah lebih hangat, masuk lewat jendela-jendela lebar dan memantul di lantai marmer yang mengilap. Suasana rumah cukup tenang.
Dari arah dapur, aroma manis kue bolu baru matang mulai memenuhi udara.
Hana berdiri di depan oven sambil memakai sarung tangan kain tebal. Wajahnya sedikit berkeringat karena hawa panas dapur padahal ruangan itu ada pendinginnya, tapi matanya tampak fokus memperhatikan kue bolu yang baru saja ia keluarkan.
“Wah, untung nggak bantat,” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Permukaan bolu itu tampak mengembang sempurna dengan warna kuning kecokelatan yang cantik. Hana meniup pelan poni yang menempel di dahinya lalu meletakkan loyang di atas meja.
Sudah beberapa hari ini ia mulai terbiasa menghabiskan waktu di rumah itu. Dan entah kenapa, memasak atau membuat camilan kecil seperti ini membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah depan rumah. Han baru saja kembali.
Pria itu berjalan santai sambil melepas jas kerjanya. Ekspresinya tetap datar seperti biasa, tapi ada sedikit rasa puas di wajahnya setelah pertemuannya dengan Farhan tadi berjalan lancar.
Ia langsung menuju ruang kerja Arsaka. Mengetuknya dengan pelan.
“Masuk.”
Han membuka pintu lalu melangkah masuk. Arsaka sedang duduk di kursinya sambil membaca beberapa dokumen. Tatapannya langsung beralih pada Han.
“Bagaimana?” tanyanya singkat.
Han berdiri tegak. “Farhan setuju mengurus surat cerai resminya.”
Tatapan Arsaka berubah sedikit tajam. “Dia tidak curiga?”
“Sedikit,” jawab Han jujur. “Tapi dia terlalu tergiur kerja sama perusahaan untuk banyak bertanya.”
Arsaka terdiam beberapa detik. Jari-jarinya mengetuk meja pelan sebelum akhirnya ia menyandarkan tubuh ke kursi.
“Bagus.”
Han mengangguk tipis. “Dia bahkan bilang ingin segera menyelesaikan semuanya demi menikahi perempuan itu secara resmi.”
Entah kenapa, rahang Arsaka langsung mengeras mendengar kalimat itu. Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Han yang berdiri di depan meja hanya diam. Ia sudah cukup lama bekerja dengan Arsaka untuk tahu kalau bosnya sedang menahan sesuatu di pikirannya.
Beberapa detik kemudian Arsaka kembali bicara. “Awasi terus.”
“Baik, Pak.”
Setelah itu Han pamit keluar dari ruang kerja. Namun baru beberapa langkah meninggalkan ruangan, aroma manis dari dapur kembali menyeruak sampai membuat langkahnya berhenti.
Han menoleh. Di meja makan, Hana sedang memotong kue bolu yang tadi baru matang.
Wanita itu tampak serius memindahkan potongan bolu ke piring kecil. Melihat Han berdiri di sana, Hana langsung tersenyum ramah.
“Pak Han sudah pulang?”
Han mengangguk kecil. “Iya.”
Tatapan Hana lalu jatuh pada wajah pria itu beberapa detik sebelum akhirnya ia berkata santai, “Mau coba kue bolu? Baru matang.”
Han melirik bolu di meja lalu kembali menatap Hana. “Boleh.”
Hana langsung tersenyum lebih lebar. “Duduk aja dulu.”
Han menurut. Ia menarik kursi di meja makan lalu duduk santai. Sementara Hana sibuk mengambil piring dan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Suasana sore itu terasa jauh lebih santai dibanding biasanya.
“Bu Hana ternyata bisa bikin kue juga,” ujar Han sambil memperhatikan bolu di depannya.
Hana tertawa kecil. “Emangnya saya kelihatan nggak bisa masak?”
Han berpikir beberapa detik dengan wajah serius. “Lebih kelihatan bisa bikin masalah.”
Hana langsung melotot. “Pak Han!”
Han tertawa pelan melihat ekspresi kaget Hana. Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, Hana benar-benar tertawa lepas.
“Bercanda,” ujar Han santai.
Hana menggeleng sambil tersenyum kecil lalu meletakkan teh di depan Han. “Nih tehnya.”
“Terima kasih.”
Han mulai mencoba bolu itu pelan. Beberapa detik kemudian ia mengangguk tipis.
“Enak.”
Mata Hana langsung berbinar sedikit. “Beneran, Pak?”
“Iya.”
“Syukurlah,” ucap Hana lega. “Saya tadi takut gagal.”
Han menyesap tehnya sebelum berkata santai, “Kalau gagal pun paling rumah ini yang jadi korban.” Hana kembali tertawa.
“Pak Han ini ternyata suka bercanda juga ya.”
Han mengangkat bahu santai. “Tergantung lawan bicaranya.”
Obrolan mereka terus berlanjut ringan. Mulai dari cerita kecil soal percobaan masakan Hana yang pernah gosong, sampai Han yang diam-diam pernah salah mengirim email penting perusahaan.
“Terus gimana?” tanya Hana penasaran.
Han menghela napas dramatis. “Saya dimarahi Pak Arsaka selama dua jam penuh.”
Hana membelalak. “Serius, Pak?”
“Iya.”
“Menakutkan banget.”
Han menatap Hana lalu berkata datar, “Waktu itu saya juga hampir resign.”
Hana langsung tertawa lagi sampai bahunya ikut berguncang kecil.
Dan tepat saat itulah langkah kaki terdengar dari arah lorong. Arsaka keluar dari ruang kerjanya.
Pria itu awalnya tampak biasa saja. Namun langkahnya perlahan melambat ketika melihat pemandangan di meja makan.
Hana sedang tertawa. Dan di depannya ada Han. Tatapan Arsaka langsung berubah. Suasana hangat yang tadi terasa ringan mendadak berubah aneh.
Hana yang menyadari keberadaan Arsaka langsung menghentikan tawanya perlahan. “Eh .…”
Han menoleh santai. “Pak.”
Namun Arsaka tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertahan beberapa detik pada wajah Hana yang masih menyisakan senyum kecil. Dan entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
“Ada apa, Pak?” tanya Han akhirnya.
Arsaka memalingkan pandangan cepat. “Masuk ke ruang kerja saya." Nada suaranya datar.
Han mengernyit samar tapi tetap berdiri. “Baik, Pak.”
Sebelum pergi, Hana sempat melirik Arsaka pelan. Namun pria itu sama sekali tidak menatapnya. Pintu ruang kerja tertutup.
Begitu hanya mereka berdua di dalam ruangan, Arsaka langsung berdiri di dekat meja dengan wajah dingin seperti biasa.
Han menunggu. Beberapa detik hening. Lalu akhirnya Arsaka bicara. “Apa yang kalian bicarakan?”
Han berkedip pelan. “Hm, maksud Bapak siapa?”
“Kamu dan Hana.”
“Oh.” Han tampak santai. “Cuma ngobrol biasa.”
“Biasa bagaimana?”
Han mulai merasa pertanyaan itu aneh. “Tentang hal receh aja. Saya cuma bercanda sedikit.”
Arsaka menatapnya tajam. “Sampai dia tertawa seperti itu?”
Han semakin bingung. “Iya … memangnya kenapa, Pak?”
Arsaka terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar ia bertanya lagi dengan nada lebih rendah.
“Kenapa dia bisa tertawa denganmu?”
Han menaikkan alis. Tak paham maksud dari pertanyaan sang bos.
“Tapi kalau denganku dia malah kelihatan sungkan," ucap Arsaka lagi.
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Han sampai menatap Arsaka beberapa detik penuh seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
Di sisi lain, Arsaka sendiri baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan. Namun terlambat.
Han perlahan menahan senyum. “Pak .…”
Arsaka langsung memalingkan wajah. “Jawab saja.”
Han berdeham pelan, berusaha tetap profesional walau dalam hati ia mulai ingin tertawa.
“Mungkin …,” ucapnya dengan hati-hati, “karena nama kami mirip.”
Arsaka menoleh cepat. “Apa?”
“Han dan Hana,” jawab Han polos. “Mungkin dia merasa lebih nyaman karena nama kami hampir sama.”
Beberapa detik ruangan kembali hening. Lalu tiba-tiba Arsaka bicara, “Kalau begitu besok kamu ganti nama.”
Han langsung membeku. “… Hah?”
Wajahnya benar-benar terkejut. Sementara Arsaka tetap berdiri dengan ekspresi dingin tanpa terlihat bercanda sedikit pun.