Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIDIK JARI DAN RAHASIA LAMA
Ah Me masuk tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal. Tas kecil di bahunya hampir terlepas. Ia baru saja naik bus, kemudian ojek online, setelah menerima telepon Ah Ti dari ambulans.
Ia melihat Eng Sok sedang duduk di kursi ruang IGD, lengan kanan terbungkus perban sementara. Dan di depannya, seorang petugas sedang mengarahkan alat kecil ke arah matanya.
Scan iris.
"Sebentar!" teriak Ah Me. Tapi petugas itu sudah menekan tombol.
Layar berkedip. Ah Ti memejamkan mata. Tangannya menggenggam erat ujung baju Eng Sok.
Tiga detik.
Lima detik.
Tulisan hijau muncul di layar:
"DITERIMA. Pasien atas nama SIOH BU."
Ah Ti ambruk—bukan pingsan, tapi lemas. Ia memeluk Eng Sok yang juga hampir terjatuh dari kursinya. Pelukan itu erat, hangat, dan gemetar.
"Koko... Koko..." bisik Ah Ti. Suaranya pecah.
Petugas medis segera datang. Mereka membimbing Eng Sok ke kasur dorong, membaringkannya dengan hati-hati. Ah Me menghela napas panjang—lega, meskipun belum sepenuhnya tenang.
"Siapa yang menolong dia?" tanya Ah Me ke Ah Ti.
"Koko... jatuh dari lantai 8. Nolong orang."
Ah Me menutup mulut. Tidak bertanya lebih lanjut.
---
Beberapa tenaga medis bermasker mulai membersihkan luka di lengan dan punggung Eng Sok. Luka lecet di siku, memar di tulang belikat, dan goresan di pergelangan tangan.
Mereka memasang infus—jarum tipis masuk ke pembuluh darah di tangan kirinya. Eng Sok mengerjap. Aneh. Tidak sakit.
Ia masih setengah sadar. Matanya terbuka pelan-pelan. Di sampingnya, Ah Ti langsung bergerak cepat. Anak kecil itu menempelkan telapak tangannya ke mulut Eng Sok.
"Koh, di sini bukan kayak film Pendekar Bun. Di sini pengobatan kadang pasang selang, kadang potong-potong organ... yang di komik dibilang tabu. Tapi sembuh."
Bisikan Ah Ti cepat, pelan, dan tegas.
Eng Sok menatap adiknya. Anak kelas 5 SD ini sudah tahu lebih banyak tentang dunia modern daripada yang ia kira.
Ia mengangguk kecil. Tenang kembali.
Ah Ti menarik tangannya. Dalam hati, ia bersyukur. Pendekar Bun, makasih udah bantu Koko. Kalau nggak ada kamu... aku nggak tahu harus bilang apa ke petugas.
Tapi ia tidak berani bilang itu keras-keras. Nanti dianggap aneh.
---
Ah Ti pura-pura merengek ke Ah Me.
"Ah Me, pinjam HP dong. Aku lupa mau cari sesuatu."
Ah Me mengernyit, tapi tetap memberikan ponselnya. Ah Ti menerima dengan tangan gemetar—bukan karena takut ketahuan, tapi karena ia sedang mencari jawaban.
Jari-jari kecil itu mengetik di layar.
"Apakah mungkin ada dua orang dengan sidik jari dan iris mata yang sama?"
Enter.
Hasil pencarian muncul. Ah Ti membaca cepat. Matanya menyipit.
"Kemungkinannya sangat kecil. Mendekati nol. Secara ilmiah, tidak mungkin dua orang memiliki sidik jari dan iris yang identik, bahkan pada saudara kembar identik sekalipun."
Ia menelan ludah. Menatap Eng Sok yang sedang ditangani petugas. Lalu kembali ke layar.
"Sidik jari terbentuk sejak dalam kandungan dan dipengaruhi oleh faktor acak. Iris mata juga unik untuk setiap individu."
Ah Ti mematikan layar. Mengembalikan HP ke Ah Me tanpa berkata apa-apa.
Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya:
"Semoga bisa pulang. Soalnya pulang nanti diminta lagi sidik jari."
---
Seorang petugas medis senior—dengan jas putih dan stetoskop melingkar di leher—mendekati ranjang Eng Sok.
Ia membaca hasil rontgen. Matanya bergerak cepat. Lalu ia menempelkan stetoskop ke dada Eng Sok.
"Tarik napas."
Eng Sok menarik napas. Tapi tangannya—yang sedari tadi terulur—masih menggantung di udara.
Ia mengulurkan tangan untuk diperiksa nadinya.
Itu kebiasaan di istana. Tabib istana selalu memeriksa nadi dengan tiga jari. Dari denyut nadi, mereka bisa tahu sakit apa yang diderita pasien.
Tapi petugas itu tidak mengambil tangannya. Stetoskop itu—alat aneh dengan ujung bundar dan dua selang—bekerja tanpa menyentuh nadi sama sekali.
Eng Sok kecele. Tangannya turun pelan.
Ah Ti, yang melihat dari samping, menahan tawa. Koko-nya kuno banget.
---
Pengobatan selesai sekitar satu jam kemudian.
Luka dibersihkan. Infus dilepas. Perban diganti. Eng Sok diberi obat pereda nyeri dan antibiotik—dalam bentuk tablet, bukan ramuan.
"Pasien boleh pulang," kata petugas administrasi. "Tapi sebelum itu, kami perlu sidik jari ulang untuk verifikasi data keluar."
Eng Sok menatap Ah Ti.
Ah Ti menatap Eng Sok.
Lagi.
Keduanya berjalan ke mesin sidik jari yang sama. Eng Sok menempelkan jari telunjuk kanannya—masih sedikit bengkak, tapi sudah lebih baik.
Layar berkedip.
"DITERIMA."
Ah Ti menghela napas panjang—paling panjang sepanjang hari.
Eng Sok hanya diam. Ia menatap jarinya sendiri. Kali ini lolos. Tapi kenapa?
Ia ingat bisikan Ah Ti di ruang IGD tadi:
"Koh, mustahil ada dua orang yang sidik jari dan mata sama, kata guruku."
Mustahil.
Tapi ini terjadi. Sidik jarinya—milik Sioh Bu—cocok dengan data Sioh Bu. Matanya—milik siapa?—juga cocok.
Ia melihat pantulan wajahnya di meja administrasi yang mengkilap.
Wajah Sioh Bu.
Tapi dirinya di baliknya.
---
Sioh Bu dan Lao Ma melayang di sudut ruangan. Mereka diam sejak tadi, hanya menonton.
Begitu Eng Sok dinyatakan lolos, Sioh Bu menghela napas—meskipun ia tidak punya udara.
"Lega," bisiknya.
Lao Ma tidak menjawab. Matanya menyipit. Ia menatap Eng Sok—bukan dari sudut ruangan, tapi dari tempat lain. Dari dimensi yang hanya ia bisa akses.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Sioh Bu.
Lao Ma menggeleng.
"Aku tidak tahu. Mungkin ini bantuan Thien. Atau..."
Ia berhenti. Matanya menyipit.
"Atau memang masih ada darah keluarga Kok dalam keluarga Sioh."
Sioh Bu mengerjap. "Maksud Lao Ma?"
Lao Ma tidak menjawab. Ia melayang mendekati Eng Sok—tidak untuk bicara, tapi untuk melihat. Dari dekat. Wajah pangeran itu, posturnya, bahkan cara dia bernapas.
Ada yang aneh.
---
Di rumah, setelah semua orang tenang—Ah Ti tidur di kamar, Ah Me merapikan obat-obatan—Eng Sok duduk di ruang tengah. Sepi. Hanya suara kipas angin dan detak jam dinding.
Ia membuka hasil pemeriksaan rumah sakit. Lembaran kertas tipis dengan segel resmi.
Golongan darah: A.
Sidik jari: Sesuai data.
Sidik mata: Sesuai data.
Ia menatap lembaran itu. Hatinya sesak—bukan karena luka, tapi karena sesuatu yang lain.
Sesuatu yang ia coba lupakan selama puluhan tahun.
Sesuatu yang terjadi sebelum ia menjadi pangeran. Sebelum ia menikah. Sebelum ia dikenal sebagai "Pangeran Tampan dari Chhai Lian Hoe Po".
Saat ia masih muda. Masih bodoh. Masih takut.
Ah Me lewat di depannya. Membawa segelas air.
"Koh Sioh Bu, minum dulu. Nanti malam makan malam."
Eng Sok menerima gelas itu. Tangannya tidak gemetar. Tapi matanya—ada sesuatu di sana yang tidak Ah Me mengerti.
"Ah Me," panggilnya pelan.
"Ya?"
"... Tidak. Lupakan."
Ah Me mengernyit. Tapi tidak bertanya. Ia pergi ke dapur.
Eng Sok menatap gelas di tangannya.
Air bening. Tidak berwarna. Tidak berbau. Tidak bersisa.
Tapi kenangan lama—tidak semudah itu.
Ia ingat.
---
Dulu, sebelum ia menjadi perdana menteri. Sebelum ia dikenal sebagai pahlawan yang membasmi Suku Gurun. Ia masih pangeran muda yang baru belajar minum ciu.
Suatu malam, setelah pesta di istana, ia mabuk. Bukan mabuk biasa—tapi mabuk yang membuat semua batas menjadi kabur.
Seorang dayang—muda, polos, dengan wajah yang tidak ia ingat lagi—dibawanya ke kamar.
Ia tidak ingat detailnya. Yang ia ingat: pagi harinya, dayang itu menangis. Tanpa selembar benang di badan. Pahanya ada darah mengalir. Dia sendiri juga tidak memakai pakaian apapun dan cuma bisa gemetar ketakutan.
"Pangeran... tanggung jawab..."
Ia takut.
Bukan takut pada dayang itu. Tapi takut pada ayahnya. Takut pada istana. Takut pada skandal yang akan menghancurkan kariernya sebelum dimulai.
Maka ia membuang dayang itu.
Ke luar istana. Ke mana pun. Asal jangan di sini.
Dayang itu pergi sambil menangis. Wajahnya—ia tidak ingat lagi.
Tapi sekarang—setelah puluhan tahun, setelah mati, setelah lahir kembali di dunia yang sama sekali berbeda—
Ia bertanya-tanya.
"Mungkin... dayang itu punya anak. Mungkin... anak itu punya keluarga. Mungkin... keluarga itu... adalah keluarga Sioh."
Ia menenggak air dalam gelas. Sekali teguk. Habis.
"Maka... aku dan Sioh Bu... masih punya darah yang sama?"
Ia tidak tahu. Tidak bisa membuktikan– seribu lima ratus tahun lebih. Tidak berani bertanya.
Tapi di sudut ruangan, Lao Ma—yang mendengar semuanya—memejamkan mata.
"Dunia ini kecil, Pangeran. Sangat kecil."
Agak siang, setelah makan siang, ia mencoba menghubungi Tauke Hok. Menanyakan kabar Ah Chio.
Tauke di sebrang sesenggukan.
---
BERSAMBUNG
---
Darah yang sama. Sidik jari yang cocok. Dan seorang dayang yang mungkin—hanya mungkin—adalah nenek buyut dari Sioh Bu.
Akankah Eng Sok mengungkap rahasia ini?
Atau membawanya ke liang kubur—untuk kedua kalinya?
🪷👩❤️👨💐