Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Umpan untuk Sang Tikus
Rasa sesak di dada Alana belum juga hilang bahkan ketika malam telah berganti pagi. Kamar mewah bernuansa gelap itu terasa begitu sepi, menyisakan keheningan yang seolah siap menelan dirinya bulat-bulat.
Alana menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun mewah tadi malam sudah diganti dengan pakaian rumah yang sederhana. Namun, jejak kepemilikan Devano di bibir dan lehernya masih terasa panas. Sentuhan pria itu tidak pernah lembut, selalu ada tuntutan mutlak yang membuat Alana sadar bahwa dirinya tidak lebih dari seutas tali yang siap ditarik kapan saja oleh sang pemilik kuasa.
Brip.
Ponsel di atas meja nakas berbunyi pendek. Alana berjalan pelan, mengambil benda itu dengan tangan yang sedikit dingin. Sebuah pesan baru masuk. Bukan dari Siska, melainkan dari nomor tidak dikenal yang ia yakini adalah asisten pribadi Devano.
Sebuah foto bukti transfer bank.
Angka di sana tertulis dengan sangat jelas: Rp 500.000.000. Nama penerimanya adalah rekening rahasia milik Siska Wijaya. Di bawah foto tersebut, ada pesan teks singkat.
"Masuk ke ruang kerja Tuan Devano sekarang."
Alana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang kembali berpacu liar. Uang itu sudah dikirim. Siska sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi Alana tahu, ini bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan awal dari babak baru yang jauh lebih berbahaya.
Dengan langkah ragu, Alana berjalan menuju ruang kerja Devano. Pintu kayu hitam itu tertutup rapat. Alana mengetuknya dua kali dengan pelan.
"Masuk," suara yang berat terdengar dari dala.
Alana mendorong pintu dan melangkah masuk. Di balik meja kerja yang dipenuhi tumpukan dokumen korporat, Devano duduk di atas kursi roda elektriknya. Pria itu mengenakan kemeja hitam polos dengan kancing atas yang dibiarkan terbuka, menampilkan sedikit dada bidangnya yang tegap. Sepasang matanya yang tajam bak elang langsung mengunci pergerakan Alana sejak wanita itu melintasi garis pintu.
"Tutup pintunya, Alana," perintah Devano tanpa mengalihkan pandangan.
Alana berbalik, menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan mendekat hingga menyisakan jarak tiga langkah di depan meja kerja pria itu. "Tuan Devano, saya sudah menerima pesan dari asisten Anda. Terima kasih karena sudah... mengirimkan uang itu."
Devano meletakkan pena emas yang sejak tadi dipegangnya ke atas meja dengan ketukan halus yang terdengar mengintimidasi di dalam ruangan yang sunyi. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Alana dengan seringai tipis yang tidak pernah mencapai matanya.
"Kau pikir aku melakukan ini karena berhati mulia, Istriku?" tanya Devano, menekankan kata terakhir dengan nada mengejek yang kental.
"Saya tahu tidak ada yang gratis di dunia Anda, Tuan," jawab Alana dengan suara yang diusahakan tetap tenang, meski jemarinya di balik saku rok sudah meremas satu sama lain. "Anda bilang uang itu adalah harga untuk kepatuhan total saya."
Devano terkekeh rendah. Suara tawanya terdengar seksi namun sarat akan ancaman yang bisa membekukan darah. Pria itu menggerakkan kursi rodanya, memutari meja kerja besar itu hingga kini ia berada tepat di hadapan Alana.
"Kepatuhanmu adalah hal yang mutlak, Alana. Tanpa uang itu pun, kau sudah berada di dalam genggamanku," kata Devano. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya yang besar, mencengkeram pinggang Alana dengan satu sentakan cepat, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga perut Alana menempel pada sandaran tangan kursi rodanya.
Alana terkesiap, kedua tangannya refleks bertumpu pada bahu lebar Devano untuk menjaga keseimbangan. Aroma parfum maskulin yang bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh Devano langsung mengepung indra penciumannya, membuat logikanya mendadak tumpul.
"Lalu... kenapa Anda tetap mengirimkannya?" cicit Alana, matanya yang bulat menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat milik Devano.
Devano menatap bibir mungil Alana yang sedikit terbuka. Kilat kepemilikan yang gelap berkobar di matanya. "Karena aku suka melihat tikus yang kelaparan masuk ke dalam jebakan dengan sukarela. Kakak tirimu yang serakah itu berpikir dia telah menang. Dia berpikir dia berhasil memeras seorang Devano Adhitama."
Tangan Devano bergerak naik ke tengkuk Alana, meremas rambut panjang wanita itu dengan tekanan yang pas, memaksa wajah Alana sedikit menunduk ke arahnya.
"Uang lima ratus juta itu adalah umpan, Alana. Jefri sudah melacak aliran dana tersebut. Begitu Siska menyentuh uang itu di tempat persembunyiannya, pasukanku akan mengunci posisinya. Aku akan membiarkan dia menikmati kemenangan semunya selama beberapa jam, sebelum aku menyeretnya kembali ke kota ini untuk membayar setiap tetes air mata yang dia timbulkan di rumah ini," bisik Devano tepat di depan bibir Alana.
Napas Alana memburu. Skema pemikiran Devano terlalu jauh dan terlalu kejam untuk bisa ia ikuti. Pria ini tidak pernah melepaskan mangsanya. Siska mengira dia memegang kendali, padahal dia hanya sedang menuntun dirinya sendiri menuju lubang eksekusi.
"Apakah... apakah Anda akan membunuhnya?" tanya Alana dengan suara bergetar.
Devano menyeringai, sebuah ekspresi yang membuat ketampanannya terlihat begitu berbahaya. "Kematian terlalu mudah untuk orang seperti dia, Alana. Aku lebih suka menghancurkan apa yang paling dia agungkan. Harga dirinya, kecantikannya, dan impiannya untuk menjadi wanita kaya. Aku akan membuat dia memohon untuk bertukar posisi denganmu di lantai kamar ini."
Alana merinding mendengar kalimat itu. Ia tahu Devano tidak sedang menggertak. Pria ini memiliki segala sumber daya untuk mewujudkan setiap kata-kata kejamnya menjadi kenyataan.
"Sekarang, mari kita bicarakan soal utangmu padaku," suara Devano mendadak berubah menjadi lebih serak dan rendah, menciptakan ketegangan baru yang membuat seluruh tubuh Alana meremang.
"Utang saya?"
"Uang lima ratus juta itu sudah keluar dari rekeningku. Dan aku adalah seorang pengusaha yang tidak pernah mau merugi, bahkan untuk satu detik pun," ucap Devano. Jemarinya yang panjang kini bergerak turun ke leher Alana, meraba perlahan jejak kemerahan yang ia tinggalkan semalam, membuat Alana menahan napas menahan sensasi aneh yang menjalar ke tulang belakangnya.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan Devano?" tanya Alana pasrah, matanya mulai berkaca-kaca menghadapi dominasi yang begitu menyesakkan ini.
Devano menarik tubuh Alana lebih rapat, mengabaikan batasan kursi roda di antara mereka. Wajahnya bergerak maju, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lambat namun penuh dengan tuntutan yang menguras seluruh tenaga Alana. Alana memejamkan mata erat, meremas kemeja hitam Devano seiring dengan rasa takut dan gairah asing yang mulai membakar akal sehatnya. Devano mengunci pinggang Alana dengan kekuatan yang membuat wanita itu tidak bisa mundur barang satu sentimeter pun.
Ketika ciuman itu terlepas, napas Alana tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.
"Mulai hari ini, kau akan menjadi asisten pribadiku di kantor. Kau akan ikut ke mana pun aku pergi. Aku ingin memastikan barang milikku ini selalu berada di bawah pengawasanku, dua puluh empat jam sehari," bisik Devano seksi, menyeka sisa saliva di sudut bibir Alana dengan ibu jarinya. "Bersiaplah, satu jam lagi kita berangkat ke kantor pusat Adhitama Group."
Devano melepaskan cengkeramannya, membiarkan Alana berdiri kembali dengan lutut yang lemas. Alana hanya bisa mengangguk pelan, menyadari bahwa rantai yang mengikatnya kini telah diperpanjang hingga ke dunia luar.