NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 01: ANAK EMAS

BAB 01: ANAK EMAS

Bagi Revanza Dirgantara, rumah bukanlah tempat untuk pulang dan beristirahat, melainkan sebuah panggung sandiwara melelahkan di mana ia selalu dipaksa memegang peran sebagai figuran yang tak kasat mata.

Sore itu, langit di atas Jakarta tampak mendung pekat. Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela ruang tamu, menciptakan atmosfer dingin yang seolah mendukung suasana hati Revan yang sedang berantakan. Cowok bertubuh tegap itu duduk di sudut sofa usang, menatap seragam SMA-nya yang kotor dan robek di bagian lutut. Di balik kain yang koyak itu, kulitnya tampak memar kebiruan dengan sisa darah kering akibat tergelincir dari motor saat pulang sekolah tadi.

Rasa perih di lututnya sama sekali tidak seberapa. Rasa sesak yang bergemuruh di dadanya setiap kali ia menginjakkan kaki di rumah ini jauh lebih menyiksa.

Dari arah meja makan yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang tamu, suara tawa kecil terdengar memecah keheningan. Revan menolehkan kepalanya perlahan. Di sana, ia melihat Ibunya sedang sibuk menyendokkan sup ayam hangat ke dalam mangkuk seorang pemuda yang duduk dengan tegap.

Arkael Dirgantara. Kakak laki-lakinya. Sang anak emas di keluarga Dirgantara.

"Ayo dihabiskan supnya, Arka. Kamu belakangan ini kelihatan pucat banget, Ibu jadi khawatir. Ibu sengaja beliin ayam kampung di pasar tadi pagi biar stamina kamu terjaga buat ujian olimpiade besok," ucap Ibu dengan nada suara yang begitu lembut. Jenis nada suara yang hampir tidak pernah Revan dengar jika Ibu berbicara dengannya. Ibu bahkan mengusap rambut Arka dengan penuh kasih sayang.

Arka hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk sopan.

 "Terima kasih, Bu. Tapi ini terlalu banyak, buat Revan aja sebagian. Dia baru pulang, pasti lapar."

"Nggak usah. Gak sudi," potong Revan cepat dari ruang tamu. Suaranya yang dingin seketika memotong kehangatan di meja makan.

Revan berdiri dari sofa, menyampirkan tas ranselnya yang berdebu di satu bahu. Ia berjalan melewati meja makan dengan langkah tegap, sengaja mengabaikan tatapan kedua orang itu.

Ibu menghela napas panjang, raut wajahnya yang semula penuh kehangatan langsung berubah drastis menjadi ketus dan tegas saat memandang Revan. "Revan! Kamu itu baru pulang jam segini kerjaannya cuma cemberut dan bikin repot. Lihat pakaian kamu, kotor dan robek begitu. Kamu tawuran lagi di luar?"

Revan menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga pertama. Ia menoleh sedikit, menatap Ibunya dengan senyum sinis yang tersungging di bibir. "Jatuh dari motor karena jalanan licin, Bu. Bukan tawuran. Tapi terserah Ibu mau mikir apa."

"Makanya kalau naik motor itu hati-hati, jangan serampangan! Kamu itu udah besar, harusnya bisa mikir. Jangan bikin Ibu cemas terus, Ibu udah capek urus rumah!" sahut Ibu, nadanya meninggi, terdengar seperti sebuah keluhan yang teramat melelahkan.

Capek urus rumah, atau capek urus Kak Arka yang harus selalu nomor satu? Kalimat itu tertahan di tenggorokan Revan, hampir saja meledak keluar.

Revan melirik ke arah Arka. Kakaknya itu kini tengah menatapnya dengan sepasang mata yang tenang—terlalu tenang sampai terlihat angkuh di mata Revan. Arka selalu seperti itu, berlagak sebagai anak penurut yang sempurna dan membiarkan Revan menanggung semua predikat buruk di rumah ini. Revan paling benci dikasihani, terutama oleh orang yang telah merebut seluruh atensi, kasih sayang, dan keadilan di rumah ini sejak mereka masih kecil.

sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar, polanya tidak pernah berubah. Jika Arka meminta sesuatu, baik itu buku pelajaran baru, laptop mahal untuk menunjang kompetisinya, atau fasilitas apa pun, Ibu dan Ayah akan mengusahakannya secepat mungkin. Alasan mereka selalu sama: Arka adalah masa depan keluarga, anak pertama yang prestasinya bagus dan harus didukung penuh agar bisa masuk universitas ternama.

 Namun, jika Revan yang meminta hal kecil sekalipun, jawabannya selalu template: "Mengalah ya, Van. Uang tabungan Ibu lagi mepet untuk keperluan Abangmu."

Mengalah, mengalah, dan mengalah. Revan merasa kehadirannya di dunia ini hanyalah sebagai bayangan hitam di bawah kilauan cahaya Arkael yang begitu diagung-agungkan.

Revan mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik saku celana abu-abunya hingga kukunya memutih. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi untuk membela diri, ia melangkah lebar-lebar menaiki anak tangga dan membanting pintu kamarnya di lantai dua dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang menggema ke seluruh penjuru rumah.

Di dalam kamar yang sepi dan remang-remang, Revan mengempaskan tubuhnya ke atas kasur tanpa berniat mengganti pakaiannya yang kotor. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata yang mendadak terasa panas dan berkaca-kaca. Rasa cemburu yang ia pelihara sejak kecil kini telah mendarah daging, berubah menjadi benih kebencian yang kuat, membakar habis sisa rasa hormat dan sayangnya pada sang kakak.

Sementara itu, di lantai bawah, suasana meja makan kembali hening setelah dentuman pintu kamar Revan reda. Ibu menghela napas panjang seraya memijat pelipisnya yang mendadak pening.

"Maafkan Revan ya, Arka. Dia selalu kekanak-kanakan dan gak tahu diuntung. Kamu jangan sampai kepikiran ya, Nak. Fokus aja sama ujian kamu esok hari. Ibu selalu berharap besar sama kamu," ujar Ibu, menatap putra sulungnya dengan binar penuh ekspektasi.

Arka hanya terdiam, jemarinya yang memegang sendok tampak sedikit kaku. Ia melirik ke arah tangga yang baru saja dilewati adiknya, lalu mengangguk pelan dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Iya, Bu. Arka paham."

Di balik dinding kamar yang tertutup rapat, Revan memejamkan mata dengan rapat sembari menutup telinganya menggunakan bantal. Ia benar-benar mengutuk ketidakadilan ini, berjanji di dalam hati bahwa suatu hari nanti, ia akan membuktikan bahwa ia bisa hidup sukses tanpa harus menjadi bayang-bayang si anak emas kesayangan Ibu. Revan tidak pernah tahu, bahwa narasi "anak emas" yang ia bangun di kepalanya malam itu, adalah awal dari sebuah labirin salah paham yang sangat panjang.

bersambung.....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!