NovelToon NovelToon
SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rey.writerid

Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.

Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."

Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.

Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SINGGASANA YANG RUNTUH

Dua hari kemudian, suasana di dalam kamar tidur utama terasa begitu sunyi namun penuh persiapan. Di depan cermin rias yang besar, Winda menatap pantulan dirinya. Hari ini ia berdandan sangat cantik, sapuan riasan wajahnya begitu sempurna dengan lipstik merah merona yang mempertegas bibirnya. Tubuhnya dibalut oleh gaun hijau mewah berbahan sutra premium yang dibelikan oleh suaminya. Setelah selesai merapikan pakaian, Winda berniat memakai perhiasan seadanya dari kotak kecil miliknya.

Tepat di saat itu, Baskara melangkah masuk ke dalam kamar. Penampilannya sangat gagah dengan setelan jas hitam yang necis. Melihat istrinya yang tampak begitu menawan, sorot mata Baskara sempat meredupkan ketegangan.

Winda menoleh, lalu meminta tolong dengan nada lembut. "Mas, tolong ambilin perhiasan aku di dalam lemari itu, dong."

Baskara mengangguk, lalu berjalan mendekati lemari pakaian. Namun, alih-alih mengambil kotak perhiasan lama milik Winda, Baskara justru mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam yang sengaja ia sembunyikan di bagian dalam lemari. Baskara berjalan kembali mendekati Winda, lalu membuka kotak itu di hadapan istrinya.

Winda tersentak kaget. Matanya membelalak melihat seuntai kalung mutiara berwarna hijau yang sangat indah dan berkilau mewah di dalam kotak itu. "Mas... ini? Kok tiba-tiba ada perhiasan lain?"

Baskara tersenyum tipis, lalu perlahan memakaikan kalung mutiara itu ke leher jenjang Winda. "Ini kemarin aku beliin buat kamu, Sengaja disimpan buat kejutan. Kamu pakai aja malam ini, soalnya ini cantik banget dan pas, warnanya samaan sama baju kamu. Mutiara hijau."

Mendengar perhatian suaminya yang tampak begitu detail, Winda tersenyum manis menahan rasa haru. "Makasih ya, Mas."

Dengan perasaan yang membuncah penuh harapan bahwa rumah tangga mereka bener-bener sudah membaik, keduanya pun berangkat menuju tempat acara.

Sesampainya di gedung tempat corporate event berlangsung, kemegahan ruangan langsung menyambut mereka. Sebagai seorang manajer baru yang sedang naik daun, kedatangan Baskara dan Winda langsung disambut hangat oleh beberapa rekan kerja. Namun, saat Baskara berjalan sedikit di depan untuk menyapa jajaran direksi, langkah Winda mendadak melambat.

Telinganya menangkap bisik-bisik miring dari segerombolan orang kantor yang berdiri di sudut ruangan.

"Eh, lihat deh... itu istrinya Pak Baskara, kan? Cantik sih malam ini, tapi tetep aja... denger-denger dia itu cuma sekadar singgasana sementara buat Pak Baskara sebelum yang asli balik."

Kata-kata "hanya singgasana" itu seketika menggema dengan sangat keras dan menusuk di dalam kepala Winda. Dadanya mendadak terasa sesak. Di antara bisikan miring itu, memang ada beberapa orang yang tulus memujinya cantik malam ini, namun Winda hanya bisa terdiam membeku. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, memilih untuk mengabaikan semua omongan itu karena tidak mau memperpanjang masalah dan merusak malam berharga suaminya.

Winda mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula mewah itu. Dari kejauhan, ia melihat sosok Serena dan Aryo. Serena malam itu tampak sangat berwibawa dan anggun, ia sedang sibuk berbicara serius dengan orang-orang besar pemilik perusahaan hingga sama sekali tidak menyadari kehadiran Winda di ruangan itu. Sementara Aryo, yang berdiri setia di samping Serena, justru sedang menatap lurus ke arah Winda. Menyadari tatapan itu, Winda langsung melemparkan pandangan yang sangat sinis dan tajam ke arah Aryo, sebelum akhirnya memalingkan wajah.

Tiba-tiba, atmosfer di dalam aula besar itu mendadak berubah hening selama beberapa detik. Pintu masuk utama terbuka, menampilkan sosok seorang gadis cantik dengan kaki yang jenjang melangkah masuk ke dalam area acara.

Saat melihat sosok wanita itu, siapa pun yang berada di sana pasti akan langsung terpaku dan terpesona. Wanita itu mengenakan sebuah dress yang sangat mewah dan elegan. Namun, jantung Winda seolah berhenti berdetak saat menyadari satu hal: kain dan warna dress hijau yang dipakai wanita itu terlihat sangat mirip—bahkan hampir persis—dengan gaun hijau yang sedang Winda kenakan malam ini.

Perempuan cantik itu memiliki rambut hitam legam yang digerai indah, dengan sepasang mata berwarna biru yang sangat memukau semua orang di sana. Semua mata di dalam ruangan kini tertuju sepenuhnya pada pesona wanita misterius itu.

Tanpa diduga oleh siapa pun, langkah kaki jenjang wanita itu berjalan lurus melewati kerumunan, lalu berhenti tepat di hadapan Baskara yang sedang berdiri tak jauh dari Winda.

"Hai, Baskara... Udah satu tahun lebih ya kita enggak ketemu," sapa wanita itu dengan suara yang teramat lembut dan mengayun.

Baskara menengok ke arah sumber suara. Namun, ekspresi wajah Baskara tampak agak cuek dan biasa saja, mungkin karena ia sudah terlalu terbiasa melihat wajah cantik wanita itu di masa lalu. "Iya, hai. Oh iya, ini kenalin... istri aku," ucap Baskara dengan nada datar sembari mengarahkan tangannya menunjuk ke arah Winda.

Cewek cantik itu beralih menatap Winda, lalu mengulurkan tangannya yang lentik dengan senyuman manis. "Hai Winda... aku ALENA."

Deg!

Winda tercekat setengah mati di tempatnya berdiri. Tangannya mendadak dingin saat membalas uluran tangan wanita itu. "O-oiyah... iya, hai Alena," jawab Winda dengan suara yang mendadak gagap.

Winda tertegun, matanya menatap setiap detail wajah Alena. Di dalam hatinya, Winda terpesona sekaligus hancur di saat yang bersamaan. Cantik banget... Alena cantik banget, batin Winda perih. Detik itu juga, sebuah pemikiran menyakitkan langsung menghantam otaknya. Pantas saja... pantas saja selama ini Mas Baskara selalu menuntutku untuk berias dan memakai lipstik merah merona. Karena Alena... Alena juga selalu berpenampilan seperti ini.

Bisik-bisik dari anak-anak kantor yang menyaksikan pertemuan itu kembali terdengar riuh di telinga Winda, saling bersahutan membahas cinta masa lalu sang manajer. Namun, Winda sekuat tenaga mengabaikan rasa panas yang mulai membakar matanya.

Tak lama kemudian, Serena berjalan menghampiri Winda setelah menyelesaikan urusannya. "Hai Winda! Ya ampun, kamu kok dari tadi gak negur aku sih?" tegur Serena ceria.

Winda memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang mulai pucat. "Eh, iya Ser... tadi aku melihat kamu kayaknya lagi sibuk banget ngobrol sama relasi, jadi aku takut mengganggu."

"Ah, cuma ngobrol dikit kok," balas Serena santai.

Winda menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian lalu berbisik pelan ke arah Serena. "Ser... kamu kenal sama cewek itu?"

Serena mengernyitkan dahi. "Yang mana, Win?"

"Yang itu..." tunjuk Winda dengan lirikan matanya ke arah Alena yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.

"Oh, Alena! Iya, kenal banget kok. Dia itu pemilik butik terkenal yang cabangnya di mana-mana. Baju-baju yang sering aku pakai juga kebanyakan beli dari butik dia. Dia cantik banget, ya? Iya kan, Win?" ucap Serena tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Winda tidak bisa menjawab apa-apa lagi, ia hanya bisa tersenyum sangat tipis, menahan rasa sesak yang kian menggunung di dadanya. Namun, saat mata Winda kembali mencari keberadaan suaminya, ia melihat Baskara diam-diam berjalan melangkah ke arah koridor belakang gedung. Tak berselang lama, Winda juga melihat sosok Alena mendadak menghilang dari posisinya.

Firasat buruk langsung menguasai pikiran Winda. Didorong oleh rasa penasaran yang menyakitkan, Winda diam-diam melangkah keluar dari kerumunan pesta, berjalan mengikuti arah ke mana Baskara pergi. Ia menyusuri lorong sepi di bagian belakang gedung, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang tampak seperti ruang istirahat. Pintu ruangan itu ternyata terbuka sedikit, menyisakan celah kecil.

Winda melongokkan matanya ke dalam celah pintu. Dan di detik itu juga, dunianya bener-bener runtuh berkeping-keping.

Di dalam ruangan yang temaram itu, Winda melihat dengan mata kepalanya sendiri: Alena dan Baskara sedang berdiri saling berpelukan dengan sangat erat. Winda bisa mendengar suara bariton Baskara yang terdengar begitu bergetar dan penuh kerinduan.

"Aku kangen banget sama kamu, Alena..." ucap Baskara di dalam pelukan itu. Sementara Alena tampak menyandarkan kepalanya di dada Baskara sembari menggumamkan kata maaf berulang kali.

Air mata Winda seketika tumpah ruah membasahi pipinya. Rasa sakit, dikhianati, dan kemarahan yang luar biasa bergemuruh di dalam dadanya. Ternyata benar kata Aryo, dia hanyalah singgasana sementara. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Winda langsung berbalik dan berlari kencang keluar dari gedung acara sambil menangis tersedu-sedu.

Di luar, hujan deras tiba-tiba mengguyur kota dengan sangat lebat. Winda berjalan menerobos rintik hujan yang dingin, membiarkan gaun hijau mewahnya basah kuyup. Dalam keadaan pikiran yang hancur namun bener-bener sadar sepenuhnya atas apa yang ia lakukan, langkah kaki Winda membawa dirinya kembali ke sebuah hotel pinggiran kota—tempat di mana ia dan Aryo melakukan dosa terlarang kemarin malam.

Begitu berhasil memesan kamar dan masuk ke dalam, ponsel di tas kainnya terus bergetar keras. Ada panggilan masuk dari Baskara. Winda menatap layar itu dengan pandangan benci, lalu langsung mematikan panggilan tersebut tanpa niat untuk mengangkatnya. Tak lama, Serena juga menelepon berulang kali, mungkin karena diminta oleh Baskara yang panik mencari istrinya. Winda mengabaikan semuanya. Ia hanya mengirimkan satu pesan singkat ke nomor Baskara: "Aku pulang duluan."

Setelah itu, dengan kesadaran penuh tanpa pengaruh alkohol sedikit pun, Winda mencari kontak Aryo. Ia menekan tombol panggil.

Hanya dalam dua kali nada sambung, Aryo langsung mengangkat teleponnya. "Halo, Win? Kamu di mana?"

Winda tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Di ujung telepon, hanya suara tangisan histeris dan isakan pilu Winda yang terdengar memenuhi sambungan. Setelah beberapa detik hanya menangis, Winda langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. Dengan jemari yang gemetar, ia mengirimkan pesan berisi share location tempat hotel ia berada sekarang kepada Aryo. Setelah terkirim, Aryo sama sekali tidak membalas pesan tersebut.

Sementara itu, di dalam gedung acara, Aryo yang baru saja menerima pesan dari Winda langsung didera rasa panik dan gairah yang bercampur jadi satu. Tanpa membuang waktu, Aryo langsung menghampiri Serena yang masih asyik mengobrol.

"Sayang, ayo kita pulang sekarang. Aku udah capek banget, kepalaku agak pusing," dusta Aryo sembari memegangi pelipisnya.

Serena menoleh, menatap suaminya dengan canggung. "Aduh, kamu duluan aja deh gimana, Mas? Soalnya aku masih harus berjumpa dan ngobrol penting sama salah satu teman bisnis Papa di sini. Gak enak kalau ditinggal."

Mendengar jawaban Serena yang sesuai dengan rencananya, Aryo langsung mengangguk cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, mencium sekilas dahi Serena untuk pamit pulang. "Yaudah, aku duluan ya, Sayang. Kamu hati-hati nanti pulangnya."

Padahal, setelah keluar dari gedung, Aryo tidak pulang ke rumah mewah mereka. Ia langsung menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah hujan deras menuju lokasi hotel yang dikirimkan oleh Winda.

Cklek.

Pintu kamar hotel terbuka. Aryo melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu, pakaiannya agak basah karena air hujan yang deras di luar. Di dalam kamar yang temaram dan hanya diterangi lampu sudut yang redup, Winda sedang berdiri membeku. Gaun hijau mewah dari butik Alena itu tampak basah di beberapa bagian, dan sepasang mata manis Winda sudah sangat sembab karena habis menangis hebat.

Tanpa basa-basi atau banyak kata, Aryo langsung melangkah lebar mendekat. Rasa khawatir dan gairah yang tertahan membuat Aryo langsung menarik tubuh Winda ke dalam pelukan yang teramat erat. "Win, kamu kenapa? Ada apa?" tanya Aryo panik di dekat telinga Winda.

Winda terdiam seribu bahasa. Keheningan yang dingin melingkupi mereka, hanya menyisakan suara deru hujan yang menghantam kaca jendela hotel. Winda perlahan melepaskan pelukan Aryo, mendongak menatap sepasang mata pria di depannya. Ia mengangkat jari telunjuk kanannya, lalu meletakkannya tepat di depan bibir Aryo yang hendak bertanya lagi.

"Ssshhhttt... diam, Aryo. Jangan tanya apa-apa," bisik Winda dengan nada suara yang teramat serak dan dalam.

Rasa sakit hati yang membakar dadanya karena pengkhianatan Baskara membuat Winda kehilangan akal sehat. Dengan kesadaran penuh tanpa pengaruh alkohol sedikit pun, Winda mengambil langkah nekat yang tak terduga. Ia bergerak maju, langsung duduk di atas pangkuan Aryo yang tengah terduduk di tepi ranjang. Kedua tangan Winda yang gemetar namun menuntut, bergerak cepat membuka jaket tebal yang dikenakan Aryo, lalu mencampakkannya ke lantai begitu saja.

Winda mencondongkan tubuhnya ke depan, menangkup rahang Aryo, dan langsung mencium bibir pria itu dengan sangat intens, liar, dan penuh keputusasaan.

Aryo yang memang sudah mendambakan raga Winda sejak malam terlarang mereka tentu saja tidak menolak sedikit pun. Ia terkejut dengan keagresifan Winda malam ini, namun sedetik kemudian, gairah lelakinya langsung tersulut hebat. Aryo membalas ciuman Winda dengan tak kalah ganas, memperdalam tautan bibir mereka hingga deru napas keduanya berkejaran memenuhi keheningan kamar.

Sembari terus memperdalam ciumannya yang memabukkan, tangan kekar Aryo bergerak liar turun ke punggung Winda. Dengan napas yang memburu di ceruk leher Winda, jemari Aryo dengan cekatan menurunkan ritsleting gaun hijau mewah tersebut. Detik berikutnya, Aryo membuka baju gaun yang dikenakan Winda, membiarkannya merosot jatuh ke lantai kamar hotel, mengekspos kulit mulus Winda di bawah temaramnya lampu kamar.

Winda sedikit melengkungkan tubuhnya saat telapak tangan hangat Aryo menyentuh kulit telanjangnya. Aryo langsung mengalihkan ciumannya dari bibir, turun menyusuri rahang, dan mulai mencium leher Winda dengan sangat dalam dan posesif. Setiap kecupan dan hisapan hangat yang diberikan Aryo di lehernya membuat sekujur tubuh Winda merinding hebat, menciptakan sensasi panas yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya.

"Ar...hh," desah Winda lirih, tangannya meremas kuat rambut hitam Aryo, menenggelamkan kepala pria itu agar semakin dalam menciumi leher dan tulang selangkanya.

Malam itu, di bawah gemuruh hujan yang kian menggila di luar sana, pertahanan mereka bener-bener runtuh total. Aryo membawa tubuh lemas Winda ke tengah ranjang, dan mereka berdua langsung hanyut bersama ke dalam lautan gairah yang teramat panas dan intim. Di sepanjang penyatuan yang penuh peluh dan desahan pasrah itu, air mata Winda terus mengalir deras membasahi bantal, mengingat betapa kejamnya Baskara yang telah menjadikannya singgasana sementara. Namun, di dalam pelukan Aryo yang gragas dan mendominasi malam itu, Winda memilih membuang seluruh harga dirinya, membiarkan badai dosa menenggelamkan rasa sakit hatinya dalam-dalam.

1
Tamirah
Ikhlaskan Aryo untuk sahabat mu.serena sdh banyak membantu mu.masih banyak laki laki diluar sana yg lebihh baik dari Aryo .Jangan jangan Aryo hanya mengincar kedudukan di perusahaan ituu
Tamirah
cerita ini belummm jelas alur nya, sekilas Kalau winda cinta mati sama Aryo,cinta bertepuk sebelah tangan.Aryo memanfaatkan winda krn dekat dgn Serina.mungkin Karena Serina orang kaya, kalau sekedar cantik itu relatif.lanjut Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!