Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protokol Siberia
Suhu mencapai minus empat puluh derajat Celsius. Angin kutub melolong melintasi dataran salju Siberia yang tak berujung, membawa serpihan es yang bisa menyayat kulit dalam hitungan detik. Di kejauhan, pegunungan Ural berdiri tegak seperti raksasa putih yang mengawasi.
Elara Vanya menarik napas dalam-dalam melalui masker oksigennya. Udara dingin itu terasa seperti pisau yang masuk ke paru-parunya. Dia mengenakan setelan infiltrasi thermal berwarna putih salju, lengkap dengan peralatan pendakian es. Di sampingnya, Zian Arkana tampak seperti hantu putih, senapan serbunya telah dimodifikasi agar tidak macet di suhu ekstrem.
"Kael, beri kami visual," bisik Zian. Suaranya sedikit pecah karena gangguan atmosfer kutub.
"Visual masuk," sahut Kael dari pusat kendali yang kini berada di sebuah kapal pemecah es di laut Arktik. "Pangkalan 'Severnaya-7' ada tepat di bawah kaki kalian. Pintu masuk utama adalah poros ventilasi udara yang disamarkan sebagai menara komunikasi cuaca. Hati-hati, sensor panas di sana sangat sensitif."
Elara melihat menara itu. Berdiri kesepian di tengah badai salju. "Zian, jika kita masuk lewat sana, kita harus menuruni kabel sejauh dua ratus meter. Jika mereka mendeteksi kita di tengah jalan, kita akan jadi sasaran empuk."
Zian menatap mata Elara yang terlindung goggle taktis. "Itulah sebabnya kita akan menggunakan muatan EMP kecil untuk mematikan sensor mereka selama tiga puluh detik. Waktu kita sangat sempit."
Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi namun senyap. Begitu sampai di kaki menara, Zian memasang perangkat EMP.
ZAP!
Lampu merah di menara mati sesaat. "Gerak!"
Mereka meluncur turun menggunakan tali rappel berkecepatan tinggi. Gravitasi menarik mereka masuk ke dalam kegelapan poros ventilasi. Elara mendarat dengan halus di atas kisi-kisi besi, segera mencabut pisaunya dan memotong kunci pengaman.
Mereka berada di dalam koridor beton tua yang lembap. Dindingnya ditutupi lapisan es tipis, dan bau minyak mesin tua menyeruak. Pangkalan ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak Perang Dingin, namun lampu LED biru yang modern di sepanjang lantai membuktikan bahwa Iron Sight telah merombaknya menjadi pusat syaraf digital mereka.
"Zian, lihat itu," Elara menunjuk ke sebuah pintu baja yang dijaga oleh dua robot sentri otonom. "Mereka tidak lagi menggunakan manusia untuk penjagaan dalam. Ini jauh lebih berbahaya."
"Robot itu memiliki pemindai panas dan deteksi gerak 360 derajat," Zian menganalisis. "Tapi mereka memiliki kelemahan pada frekuensi transmisi datanya. Kael, bisa kau bajak?"
"Sedang mencoba... Berhasil! Aku akan membuat mereka melihat 'hantu' di koridor sebelah. Kalian punya sepuluh detik!"
Elara dan Zian berlari secepat kilat melewati robot-robot yang tiba-tiba berputar ke arah yang berlawanan. Mereka berhasil menyelinap masuk ke ruang server pusat. Ruangan itu sangat luas, dipenuhi dengan ribuan unit server yang memancarkan cahaya biru neon. Di tengah ruangan, sebuah kubus kaca berisi unit pemrosesan pusat (CPU) yang didinginkan dengan nitrogen cair.
"Ini adalah 'Protokol Siberia'," gumam Elara. "Bukan sekadar penyimpanan data. Ini adalah kecerdasan buatan (AI) yang mengendalikan seluruh logistik senjata kimia Iron Sight di seluruh dunia secara otomatis."
Zian segera memasang alat penyedot data. "Jika kita mematikan ini, seluruh jaringan mereka akan buta. Mereka tidak akan bisa meluncurkan satu peluru pun."
Namun, saat proses penyalinan mencapai 50%, sebuah suara berat dan berwibawa menggema di ruangan itu. Bukan suara Tristan, melainkan suara seorang wanita.
"Kolonel Arkana, Mayor Vanya. Selamat datang di otak dunia baru."
Layar besar di dinding menyala, memperlihatkan seorang wanita berambut perak dengan setelan jas abu-abu yang elegan. Dia adalah Madame X, pemimpin tertinggi Iron Sight yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos.
"Madame X," desis Zian.
"Kalian sangat gigih," ujar Madame X dengan nada meremehkan. "Tapi kalian terlambat. Protokol Siberia sudah aktif. AI ini baru saja mengirimkan perintah ke sel-sel tidur kami di dua puluh negara. Dalam satu jam, revolusi global akan dimulai."
"Tidak jika kami menghancurkan tempat ini!" teriak Elara sambil mengarahkan senjatanya ke unit pendingin nitrogen.
"Lakukan saja, Mayor. Pangkalan ini dilengkapi dengan sistem pemusnah diri nuklir. Jika unit pusat rusak, seluruh area ini akan menguap. Kalian akan mati, dan perintah sudah terlanjur terkirim," Madame X tersenyum tenang.
Zian menatap Elara. Mereka tahu ini adalah jalan buntu. Namun, Elara melihat sesuatu di kode program yang sedang mengalir di layar.
"Zian, dia bohong," bisik Elara. "AI ini butuh konfirmasi manual setiap sepuluh menit dari konsol ini untuk menjaga perintah tetap aktif. Jika kita memutus koneksi satelitnya dan menghancurkan konsolnya, perintah itu akan kedaluwarsa sebelum mencapai sel tidur."
Zian mengangguk paham. "Kael, bisakah kau memutus koneksi satelit di atas pangkalan ini?"
"Aku butuh kalian meledakkan pemancar di puncak menara tadi! Tapi itu artinya kalian terjebak di bawah!" sahut Kael panik.
Elara menatap Zian. Ada keheningan panjang di antara mereka. Di kedalaman mata Zian, Elara melihat cinta, pengorbanan, dan tekad yang sama.
"Kita tidak akan terjebak," kata Zian sambil mengambil sebuah granat termit. "Kita akan meledakkan jalan keluar kita sendiri."
Zian melemparkan granat itu ke konsol pusat. Ledakan cahaya putih menyilaukan menghancurkan sistem kendali AI tersebut. Alarm peringatan meraung, lampu merah berputar, dan suara komputer mulai menghitung mundur untuk pembersihan pangkalan.
"Lari!" teriak Zian.
Mereka berlari kembali menuju poros ventilasi, namun kali ini tentara bayaran manusia mulai berdatangan dari segala arah. Pertempuran sengit pecah di koridor sempit. Elara menembak dengan akurasi mematikan, menjatuhkan musuh satu per satu sementara Zian memasang sisa peledak di pilar-pilar penyangga.
Mereka mencapai kaki poros ventilasi tepat saat langit-langit mulai runtuh.
"Naik, Elara! Cepat!" Zian mendorong Elara ke arah tali katrol mekanis.
Saat Elara mulai naik, sebuah tembakan mengenai bahu Zian. Zian terjatuh.
"ZIAN!" Elara berteriak, mencoba menghentikan katrolnya.
"Jangan berhenti, Elara! Ledakkan pemancarnya!" Zian berteriak dari bawah, sambil terus menembaki musuh yang mendekat.
Elara mencapai puncak menara di tengah badai salju yang semakin gila. Dia melihat pemancar satelit raksasa itu. Dengan tangan gemetar karena kedinginan dan air mata, dia memasang peledak terakhir.
BOOOM!
Pemancar itu runtuh, memutus seluruh komunikasi Iron Sight. Di bawah kakinya, bumi berguncang hebat. Pangkalan Severnaya-7 meledak, menelan semua rahasia dan—mungkin—Zian di dalamnya.
Elara jatuh berlutut di atas salju. Dunianya terasa kosong. Kesunyian Siberia kini terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Dia telah memenangkan pertempuran, namun dia merasa telah kehilangan segalanya.
Tiba-tiba, komunikator di telinganya berderit pelan.
"...Elara... kau... di sana?"
Suara itu lemah, terputus-putus, tapi Elara mengenalinya. Itu suara Zian.
Elara segera berlari menuju kawah ledakan yang tertutup salju. Di sana, di balik bongkahan beton, Zian merayap keluar. Dia terluka parah, tapi dia masih bernapas. Dia telah menggunakan ruang perlindungan darurat yang ia temukan di detik-detik terakhir.
Elara memeluk Zian di tengah badai salju, tangisannya pecah bersatu dengan lolongan angin. Mereka adalah dua hantu di tengah putihnya Siberia, terluka dan lelah, tapi masih berdiri.
"Kita belum selesai, kan?" bisik Zian dengan sisa tenaganya.
Elara menghapus air matanya, matanya kembali menatap tajam ke arah cakrawala yang mulai fajar. "Belum. Madame X masih di luar sana. Dan sekarang, dia tahu kita bisa menyentuhnya."