Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merelakan senja
Ruang Makan Pesantren – Malam Hari
Abah Danardi berjalan berdampingan dengan Gus Azka menuju ruang makan ndalem. Langkahnya pelan, wajahnya teduh seperti biasa.
“Azka,” ucap Abah Danardi sambil tersenyum, “makan malam dulu sama kami. Jangan langsung pulang.”
Gus Azka terdiam sejenak. Ada ragu di matanya, tapi ia tak mungkin menolak ajakan seorang guru yang sangat ia hormati.
“Kalau Abah berkenan… saya ikut,” jawabnya sopan.
Ummi Siti menimpali sambil tersenyum hangat,
“Alhamdulillah. Kebetulan masakannya sederhana, tapi insyaallah berkah.”
Mereka pun masuk ke ruang makan. Di sana sudah duduk Muhammad Fatih, Ahmad Zaki, dan Aisyah Zakia.
Fatih langsung berdiri.
“Assalamu’alaikum, Gus Azka.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Azka sambil menyalami Fatih. “Masyaallah, sekarang sudah makin dewasa.”
Zaki dan Zakia menyusul menyalami, sedikit malu-malu.
“Gus Azka beneran kayak di cerita,” celetuk Zakia polos.
Zaki mengangguk cepat.
“Iya, Kak Senja dulu sering cerita—”
Kalimatnya terhenti saat Fatih menepuk lengannya pelan.
Zakia langsung menutup mulut.
“Eh… maaf.”
Suasana sempat hening sesaat.
Gus Azka tersenyum tipis, menenangkan.
“Tidak apa-apa.”
Senja di Asrama
Sementara itu, di asrama putri, Senja duduk di antara teman-temannya. Suasana ramai, ada yang belajar, ada yang bercanda pelan.
Nadin melirik Senja.
“Kamu nggak ikut makan di ndalem?”
Senja menggeleng pelan.
“Aku di sini aja. Lebih rame.”
“Takut sepi?” tanya Lulu pelan.
Senja tersenyum kecil, tapi matanya redup.
“Iya… kalau sendirian, pikiranku ke mana-mana.”
Hana meraih tangan Senja lembut.
“Di sini sama kita aja. Kamu nggak sendiri.”
Senja mengangguk.
“Makasih.”
Kembali ke Ruang Makan
Ummi Siti menuangkan sayur ke piring Gus Azka.
“Makan yang banyak, Nak. Dari Kairo ke sini pasti capek.”
“Terima kasih, Ummi.”
Abah Danardi memandang sekeliling, lalu bertanya pelan,
“Senja tidak ikut makan?”
Fatih menjawab hati-hati,
“Kak Senja pilih di asrama, Bah.”
Abah Danardi mengangguk pelan, seolah sudah menduga.
“Baik.”
Tak ada yang memaksa. Tak ada yang menyebut nama Senja lagi. Semua paham, ada luka yang masih perlu dijaga jaraknya.
Gus Azka menunduk, menatap nasinya. Dalam hatinya, ia berdoa—tanpa suara, tanpa tuntutan.
Makan malam itu berjalan sederhana. Tidak ramai, tidak pula dingin. Hanya penuh adab, saling menghormati, dan perasaan yang disimpan rapi di tempatnya masing-masing.
Ruang Tamu Ndalem – Malam Semakin Larut
Lampu ruang tamu menyala temaram. Suasana hening, hanya suara jangkrik dari halaman pesantren. Abah Danardi duduk berhadapan dengan Gus Azka, secangkir teh hangat masih mengepul di antara mereka.
Abah Danardi menarik napas panjang lebih dulu.
“Azka…”
“Iya, Bah,” jawab Gus Azka lembut.
Abah Danardi menatapnya dengan mata penuh kebapakan.
“Abah ingin minta maaf.”
Gus Azka terkejut, spontan meluruskan duduknya.
“Abah, jangan begitu. Tidak ada yang perlu Abah minta maafkan.”
Abah Danardi menggeleng pelan.
“Sebagai orang tua, Abah merasa perlu menjelaskannya langsung ke kamu. Tentang Senja… tentang keputusan yang dulu Abah ambil.”
Gus Azka terdiam. Tangannya terlipat rapi di pangkuan.
“Semua itu terjadi sangat cepat,” lanjut Abah Danardi lirih.
“Waktu itu, Abah hanya punya satu pikiran: menjaga Senja. Menyelamatkan kehormatannya. Menjaga nama baik keluarga… dan masa depannya.”
Gus Azka menunduk, suaranya nyaris berbisik.
“Saya mengerti, Bah.”
“Abah tahu,” Abah Danardi melanjutkan, “keputusan itu melukai banyak hati. Termasuk hatimu. Dan Abah sungguh menyesal tidak sempat bicara panjang denganmu saat itu.”
Gus Azka tersenyum tipis, pahit tapi ikhlas.
“Saya memang kecewa, Bah. Sangat. Tapi saya tidak pernah marah. Saya tahu Abah melakukan itu sebagai ayah… dan sebagai kyai.”
Abah Danardi memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali.
“Kamu anak baik, Azka.”
Hening sejenak.
“Abah,” ucap Gus Azka pelan, “jujur… saya ingin mengenal sosok yang sekarang menjadi suami Senja. Bukan untuk membandingkan, bukan juga untuk mencampuri. Saya hanya ingin tahu… siapa orang yang Allah pilih untuk menjaga dia.”
Abah Danardi menatap Gus Azka lama, lalu tersenyum kecil.
“Namanya Langit,” kata Abah Danardi. “Anak Jakarta. Keras di luar, tapi hatinya… jauh lebih lembut dari yang dia tunjukkan.”
Gus Azka mengangkat wajahnya, mendengarkan dengan saksama.
“Dia memang tengil,” Abah Danardi tersenyum samar.
“Awalnya Abah ragu. Sangat ragu. Tapi dia datang dengan tanggung jawab. Dia tidak lari. Dia menjaga Senja, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai amanah.”
“Dia mencintai Senja?” tanya Gus Azka jujur.
“Dengan caranya sendiri,” jawab Abah Danardi mantap.
“Dia mungkin tidak setenang kamu. Tidak seteduh kamu. Tapi saat Senja jatuh… dialah yang berdiri paling depan.”
Gus Azka menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi wajahnya tetap tenang.
“Dan setelah semua yang terjadi… kehilangan anak mereka,” lanjut Abah Danardi lirih, “Langit tidak pergi. Dia hancur, tapi dia tetap bertahan untuk Senja.”
Gus Azka mengangguk pelan.
“Berarti… Senja berada di tangan yang tepat.”
Abah Danardi menatapnya penuh rasa hormat.
“Doamu masih dibutuhkan, Azka. Bukan sebagai masa lalu… tapi sebagai saudara seiman.”
Gus Azka tersenyum, matanya berkaca-kaca.
“Saya akan selalu mendoakan Senja, Bah. Dari tempat paling jauh di hati saya.”
Mereka terdiam. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
Malam itu, dua laki-laki dewasa duduk saling memahami—tanpa dendam, tanpa penyesalan yang berisik, hanya penerimaan yang pelan tapi ikhlas.
Halaman Depan Pesantren Mambaul Ulum – Malam Menjelang Larut
Angin malam berembus pelan. Lampu-lampu pesantren menyala temaram. Gus Azka berdiri di hadapan Abah Danardi, tas kecil sudah tersampir di bahunya. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam.
Abah Danardi memandang Azka lama, lalu membuka suara dengan nada hangat,
“Azka… sebelum pulang, Abah mau bicara sedikit.”
Azka menunduk hormat.
“Inggih, Bah.”
Abah menarik napas pelan.
“Abah sebenarnya ingin sekali kamu menetap di sini. Mengajar di pesantren ini. Santri-santri kami butuh anak muda yang ilmunya matang, akhlaknya terjaga.”
Azka tersenyum. Senyum yang sopan, tenang, tapi ada garis tipis kesedihan di sudutnya.
“Terima kasih banyak, Bah. Itu kehormatan besar buat saya,” ucapnya tulus. “Namun… mohon maaf, untuk saat ini saya belum bisa memenuhi permintaan Abah.”
Abah Danardi mengangguk, tidak memotong.
“Saya sudah diterima mengajar sebagai dosen di Universitas Bunga Bangsa, di Cirebon,” lanjut Azka. “Selain itu, Abah dan Ummi saya juga meminta saya pulang. Mereka ingin saya mulai mengelola pesantren keluarga.”
Abah Danardi tersenyum bijak.
“Itu amanah besar, Nak. Tidak semua orang diberi kepercayaan seperti itu.”
Azka menunduk lebih dalam.
“Saya hanya ingin menjalankan apa yang dititipkan Allah melalui orang tua saya, Bah.”
Abah Danardi terdiam sejenak, lalu berkata lembut,
“Kalau begitu, Abah tidak akan menahanmu. Tapi Abah minta satu hal.”
Azka mendongak.
“Inggih, Bah?”
“Sesekali, kalau ada waktu… Abah berharap kamu mau mengisi kajian atau materi di sini.”
Tanpa ragu, Azka mengangguk.
“InsyaAllah, Bah. Dengan senang hati.”
Abah Danardi mengulurkan tangan. Azka menyalaminya penuh takzim, lalu mencium punggung tangan Abah.
“Hati-hati di jalan, Azka,” ujar Abah lirih. “Semoga Allah jaga hatimu dan langkahmu.”
“Aamiin. Terima kasih atas segalanya, Bah.”
Mobil mulai bergerak pelan, meninggalkan gerbang pesantren. Gus Azka menoleh ke belakang, menatap bangunan yang dulu menjadi saksi masa mudanya.
Di sinilah aku belajar mengaji…
Di sinilah aku tumbuh.
Dan di sinilah aku pertama kali mengenal rasa bernama cinta.
Azka menarik napas panjang.
Senja…
Kita hanya terpaut lima tahun. Dulu aku pikir, waktu akan berpihak. Ternyata tidak.
Tangannya mengerat di setir.
Aku tidak kalah.
Aku juga tidak ditinggalkan.
Aku hanya datang terlambat.
Bayangan Senja dengan senyum tenangnya terlintas di benaknya. Senyum yang dulu sering ia jaga dari kejauhan.
Aku pernah berharap menjadi imam di hidupmu. Sekarang, tugasku hanya satu: merelakan.
Mobil terus melaju, semakin jauh dari pesantren.Aku harus pergi agar hatimu tenang. Aku harus menjauh agar kenangan ini berhenti menyakiti.
Azka menutup mata sejenak.
Selamat berbahagia, Senja.
Aku akan menyimpan namamu rapi… di tempat yang tidak akan pernah kamu datangi lagi.
Mobil itu akhirnya menghilang di tikungan jalan. Meninggalkan pesantren. Meninggalkan masa lalu.Dan meninggalkan cinta yang harus benar-benar dilupakan.