Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 PULANG KE NEW YORK
Anita Tumbler tersenyum manis pada Adrian Wilson.
Kini keduanya sedang bersama menuju Hotel Luxury Tumbler milik Anita Tumbler setelah mereka dari kediaman tinggal Anita Tumbler untuk mengambil sesuatu.
Rasa penasaran masih menggelayuti diri Adrian Wilson sejak dari gedung tua tempat tingga Anita Tumbler lalu dia menyempatkan diri untuk bertanya.
"Barang apa yang kau ambil di rumahmu, Anita ?"
"Bukan barang berharga hanya sebuah kalung tua peninggalan keluargaku."
"Oh, begitu, ya..."
"Ya, begitulah."
Jawab Anita Tumbler seraya tersenyum simpul pada Adrian Wilson.
"Kukira kau akan membawa banyak barang dari rumahmu tadi."
Adrian Wilson tertawa renyah setelah berkata demikian.
"Aku sudah mengemasi seluruh barang-barangku dan tinggal mengangkutnya ke rumahmu di Kota New York."
Anita Tumbler mencolek lengan Adrian Wilson agar dia menoleh ke arah depan.
Tampak tumpukan tas besar menjulang tinggi serta sebuah sofa merah yang tadi sempat ditempati oleh Adrian Wilson duduk saat di rumah Anita Tumbler.
Adrian Wilson langsung tercengang tak percaya dengan apa yang di lihatnya ini.
"Astaga ?!"
Adrian Wilson kaget bukan kepalang ketika dia melihat tumpukan barang-barang kepunyaan Anita Tumbler.
"Untuk apa kau membawa seluruh barang itu, Anita ?"
"Untukku pribadi sebab aku tidak tahu harus memilih barang apa saja yang harus kubawa ke New York bersamamu, Adrian."
"Tapi kau tidak perlu membawa seluruh barangmu ke New York, Anita."
"Tapi aku tidak punya pilihan dan kupikir ini yang terbaik bagi diriku pribadi."
"Dan untuk apa kau membawa serta sofa merah itu, Anita ?"
"Aku tadi sempat melihatmu duduk di sofa merah itu, kupikir bahwa kau menyukai sofa tersebut maka dari itulah aku membawanya serta bersama kita ke New York, Adrian."
"Ti-tidak perlu, aku hanya suka saja sofa itu karena tidak ada tempat lagi buat aku duduk di rumahmu tadi, Anita."
"Bukan masalah, aku senang membawanya, mungkin di New York nanti, aku akan membutuhkannya."
"Ba-bagaimana caranya kamu akan membawa semua barang-barang itu sedangkan kita hanya naik bus saja, mana muat buat mengangkut semuanya, Anita ???"
Anita Tumbler mengalihkan pandangannya ke arah Adrian Wilson seraya tersenyum manis lalu berkata datar.
"Tenang saja, kau tidak perlu kuatirkan itu sebab aku telah menyediakan kendaraan sendiri buatku pribadi."
"Apa aku tidak salah dengar, Anita ?"
"Tentu saja tidak, coba kau lihat kesana !"
Anita Tumbler mencolek sekali lagi lengan kemeja Adrian Wilson lalu mengarahkan ujung jari telunjuknya ke arah samping kiri mereka.
Tampak sebuah truck kontainer bermuatan besar terparkir di ujung kiri jalan.
Adrian Wilson semakin terkejut kaget saat dia melihatnya.
"Bagaimana cara Anita menyelesaikan semua ini begitu cepatnya bahkan memindahkan sofa merah dari rumahnya padahal kami baru saja dari sana ???"
Pikiran Adrian Wilson berputar cepat seraya menatap dengan penuh seksama kendaraan truck kontainer yang ada di ujung kiri jalan.
Rupanya Anita Tumbler mampu membaca pikiran Adrian Wilson serta menjawab rasa penasaran tersebut.
"Tidak usah kau pikirkan soal adanya truck kontainer itu lagi karena aku memang memilikinya satu untuk keperluanku berbisnis."
"Oh, yah ?"
Adrian Wilson terbelalak lebar sembari menatap tak percaya pada Anita Tumbler.
"Dan siapa yang akan menyetirinya ?"
"Siapa lagi kalau bukan dirimu, mana mungkin aku yang mengendarainya, aku kan perempuan !?"
"Apa ? Aku ?"
"Yups... !"
Anita Tumbler menjawab dengan anggukkan kepala pelan lalu tersenyum sembari memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Tampak Adrian Wilson berdiri tertegun seraya menatap tercengang.
"Ini kunci truck kontainernya !"
Adrian Wilson hanya memandangi kunci truck kontainer yang diserahkan oleh Anita Tumbler padanya.
"Aku mau menemui Alana dan Azka sekarang, kau bisa langsung memanasi truck kontainernya."
Tanpa banyak kata Anita Tumbler berjalan pergi dari hadapan Adrian Wilson sedangkan laki-laki yang wajahnya mirip dengan mendiang suami Anita Tumbler hanya bisa terbengong saja.
Terdengar suara sapaan dari Alana kecil sembari berlarian kecil, sempat lupa bahwa Anita Tumbler mempunyai seekor primata peliharaan yang kini di bawa oleh Alana kecil.
"Alana sayang, apa sudah siap kembali ke New York sekarang ?"
"Ya, mama Anita !"
"Woah, kau terlihat senang sekali, rupanya kau sudah tidak sabar pulang ke New York, sayangku..."
"Ya, karena mama Anita ikut bersama kami dan akan menikahi papa !"
Serentak semua orang yang ada di rombongan keluarga besar Adrian Wilson langsung memalingkan muka ke arah Alana kecil.
Pandangan mereka tertuju tajam kepada Anita Tumbler yang sedang bersama Alana kecil.
"Apa yang barusan kau katakan, Alana sayang ?"
Seorang pria macho langsung bereaksi cepat pada perkataan Alana kecil.
"Ya, paman Jack..."
"Mana Adrian sekarang, kenapa dia tidak memberitahukan apa-apa padaku soal rencananya yang akan menikah itu ?"
"Papa Adrian ada di sana, paman Jack !"
Azka Wilson segera menunjuk ke ujung kiri jalan, tepatnya ke arah sebuah truck kontainer bermuatan besar kemudian Jack Wilson bertanya pada keponakan laki-lakinya.
"Dimana papa kalian, Azka ?"
"Di truck kontainer, paman Jack !"
"Di dalam truck itu ?"
"Ya, paman Jack..."
Azka Wilson menjawab dengan anggukkan kepala pelan lalu Jack Wilson bergegas cepat menuju ke arah ujung kiri jalan dimana truck kontainer bermuatan besar itu terparkir disana.
"Gawat..., akan ada pertarungan besar..."
Ucap Azka sembari bergidik ngeri lalu menyembunyikan dirinya di balik punggung Alana kecil.
Anita Tumbler hanya melirik sekilas ke arah bocah kembar laki-laki itu lalu mengalihkan perhatiannya kepada truck kontainer di ujung kiri jalan.
Tampak Jack Wilson menarik turun Adrian Wilson dari dalam truck kontainer di depan sana.
Sepertinya mereka terlibat cekcok mulut serta sempat berselisih keras.
Anita Tumbler menoleh ke arah Tarsius Wilson yang ada di gendongan tangan Alana kecil seraya memberi isyarat kecil.
Mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Anita Tumbler segera Tarsius Wilson mengambil langkah cepat.
Satu hentakan tangan mungilnya maka waktu langsung berhenti berputar.
Seketika semua orang di sekitar Anita Tumbler berhenti bergerak total bahkan hembusan angin pun tak terasa lagi.
Tarsius Wilson melompat keluar dari dekapan gendongan tangan Alana kecil lalu berlari ke arah Anita Tumbler, dia hinggap di pundak kanan seraya berkata.
"Apa yang kita lakukan sekarang, Anita ?"
"Mempercepat waktu, aku tidak ingin melihat dua kakak adik itu bertengkar karena hal sepele, Tarsius Wilson."
"Apa kau ingin memisahkan mereka berdua sekarang ini ?"
"Ya, Tarsius Wilson..."
"Baiklah, sesuai permintaanmu maka aku akan mengabulkannya, Anita."
"Silahkan lakukan sekarang karena aku tidak ingin menunda terlalu lama lagi, Tarsius Wilson !"
''Ya, Anita..."
Sedetik kemudian...
Truck kontainer bermuatan besar bergerak pergi dari arah Hotel Luxury Tumbler ke arah tujuan Kota New York dan sedang menuju jalan utama sekarang ini.
Di tempat lain, tampak Jack Wilson telah bersandar di dalam bus rombongan keluarga besarnya yang melaju kencang di jalanan utama, berlawanan arah dengan jalan yang di tempuh oleh truck kontainer yang membawa Anita Tumbler, Adrian Wilson, dan dua anak kembarnya serta Tarsius Wilson yang mengendarai truck tersebut.
Terlihat Jack Wilson duduk dengan pandangan linglung seolah-olah dia telah melupakan seluruh kejadian tadi, sedangkan bus rombongan terus melaju kencang menuju kota persinggahan berikutnya. Begitu pula dengan kondisi Adrian Wilson dan dua anak kembarnya yang sama-sama duduk bersandar di ruangan truck kontainer dalam keadaan mereka tertidur lelap.