"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Javier
Yasmin dan Javier duduk bersebelahan di atas sofa yang terletak di balkon Vila, menikmati pemandangan pegunungan dan danau yang terlihat begitu menyejukan mata. Angin pegunungan yang segar membelai lembut kulit mereka, sinar matahari yang hangat menyinari puncak bukit dari kejauhan, membuat suasana terasa syahdu.
Setelah memakan puding coklat buatan Javier, perasaan Yasmin jadi sedikit lebih tenang. Tidak lagi terbayang dengan pengkhianatan Jacob dengan seorang wanita bernama Ara. Lapisan coklat yang meleleh di lidahnya seolah membungkus rasa gelisah yang telah mengganggunya selama ini.
"Terima kasih Javier, sejak kecil kau selalu ada saat aku merasa sedih." Ucap Yasmin dengan suara yang lirih, saking pelannya suara itu, bahkan hampir terkalahkan oleh desis angin yang berhembus.
Namun Javier masih bisa mendengarnya, telinganya seolah terlatih untuk menangkap setiap suara Yasmin, meski sekecil apa pun.
"Kenapa kau jadi lemah seperti ini Yasmin? Aku nyaris tidak mengenalimu. Ke mana perginya Yasmin yang penuh semangat dan ambisi seperti yang aku kenal dulu?" tanya Javier, matanya penuh kekhawatiran melihat wajah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya yang kini terlihat pucat dan menyedihkan.
"Aku tidak tahu." Yasmin menggeleng pelan, air matanya kembali mengembang. Namun Yasmin cepat-cepat memalingkan wajahnya, agar Javier tidak bisa melihat wajah sedihnya. Yasmin tidak ingin dianggap lemah lagi, terutama oleh Javier.
"Menangislah Yasmin. Menangislah sepuasnya hari ini, tapi mulai besok, berjanjilah kau tidak akan menangis lagi." Javier membawa Yasmin ke dalam dekapannya, mengelus bahunya yang mulai bergetar dengan lembut. Pelukan itu penuh rasa sayang dan perlindungan, sesuatu yang sudah lama tidak Yasmin rasakan.
"Dasar bajingan, berani sekali kau memeluk istriku."
Tiba-tiba saja Jacob sudah berdiri di belakang mereka. Matanya menyalak tajam di sertai rahangnya yang mengeras.
Di saat tengah kebingungan mencari keberadaan Yasmin, Jacob berpapasan dengan Mars yang sedang menuju arah kota. Jacob menghadang mobil Mars, menarik Mars turun, kemudian memaksa Mars untuk memberitahukan di mana keberadaan Yasmin. Awalnya mars menolak, namun pertahanan Mars runtuh setelah Jacob mengancam akan menghancurkan karir yang telah Mars bangun dengan susah payah jika ia tetap tidak mau memberitahukan di mana keberadaan sang Istri.
"Apa di Dunia ini tidak ada wanita lain lagi sampai kau harus merayu istri dari sahabatmu sendiri, Javier? Menjijikan!"
Suara keras Jacob merobek kedamaian Vila. Jacob menarik Javier dari sang istri dengan kekuatan penuh, memukul rahang Javier hingga membuat sudut bibirnya terluka dan darah segar sedikit menetes ke dagunya.
"Hentikan Jacob! Apa yang kau lakukan?!"
Yasmin pasang badan untuk melindungi Javier, menempatkan dirinya di antara dua pria yang teramat mencintainya.
Melihat reaksi Yasmin yang begitu peduli pada Javier, membuat kemarahan Jacob semakin memuncak. Tangan Jacob sudah terkepal erat, bersiap untuk melayangkan tinju lagi ke wajah Javier.
"Jangan, Jacob!" seru Yasmin dengan suara yang lebih tegas dari yang dia sangka bisa keluarkan.
"Yasmin kau lebih membela pria bajingan itu dari pada aku suamimu sendiri?" tanya Jacob dengan rahang yang mengeras, matanya menyala tajam dengan api cemburu. Hati Jacob begitu terluka kala melihat wanita yang dicintainya lebih peduli pada pria lain.
Tanpa ragu sedikitpun, Yasmin menjawab, "Ya."
Kata itu keluar begitu saja, seperti beban yang akhirnya Yasmin lepaskan setelah lama Ia pendam. Jacob menatapnya dengan tidak percaya, seolah tidak mengenal wanita yang telah dia nikahi tiga belas tahun yang lalu itu.
"Cukup main-mainnya Yasmin. Kesabaranku ada batasnya, ayo kita pulang." Jacob menarik tangan Yasmin keluar dari balkon, tanpa memperdulikan perlawanan yang dia lakukan.
Saat pintu vila tertutup dengan keras, Javier berdiri sendirian di balkon. Pria itu menghapus darah dari bibirnya sambil menatap jalan yang ditempuh oleh pasangan suami istri itu.
"Tunggu saja Yasmin, aku pasti akan membebaskanmu dari semua penderitaan ini." Janji Javier.
Di balik pemandangan pegunungan dan danau yang masih tenang, Javier tahu bahwa hari ini akan mengubah segalanya untuk mereka bertiga.
Bersambung.