NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Simfoni Badai dan Tinta Petir

Suara baling-baling helikopter tempur yang membelah keheningan malam Navasari terdengar seperti ribuan pisau raksasa yang mencabik-cabik kain sutra. Cahaya lampu sorot halogen dari langit mulai menyapu halaman rumah kakek Surya, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding kayu tua yang mulai rapuh. Di dalam menara observasi, Alana berdiri terpaku. Di dalam Zona Isolasinya yang berpendar indigo, ia merasa seperti seekor burung langka yang terperangkap di dalam sangkar kristal yang dialiri listrik tegangan tinggi. Setiap kali lampu sorot itu mengenai membran energinya, ia merasakan sengatan yang menjalar hingga ke tulang sumsumnya.

"Mereka sudah di atas kita, Alana! Mereka tidak datang untuk bernegosiasi!" seru Arlo dari balik panel kontrol darurat yang ia rakit secara terburu-buru dari sisa-sisa logam kapsul. Wajah Arlo tampak semakin transparan, tanda bahwa keberadaannya di bumi sedang mengonsumsi sisa nyawanya dengan sangat cepat. "Sensor mereka sudah mengunci tanda tangan frekuensimu secara presisi. Jika mereka menembakkan gelombang penetral dari atas sana, frekuensi di dalam sel tubuhmu akan menjadi tidak stabil. Kau tidak akan sekadar mati; kau akan menjadi bom atom manusia yang akan meratakan bukit ini!"

Alana menempelkan telapak tangannya ke dinding kaca menara. Ia bisa merasakan getaran mesin helikopter itu bukan melalui telinganya, melainkan melalui aliran darahnya. Mata indigonya kini tidak lagi hanya melihat cahaya tampak; ia bisa melihat garis-garis tekanan udara dan muatan elektromagnetik yang berkumpul di awan-awan hitam di atas mereka. Ia menyadari bahwa atmosfer Navasari malam ini sangat jenuh, penuh dengan listrik statis yang siap meledak jika dipicu oleh frekuensi yang tepat.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh rumah ini, Arlo. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan satu-satunya tempat di mana kakek menyimpan kenangannya," bisik Alana. Suaranya kini memiliki lapisan gema yang aneh, seolah-olah awan di langit sedang ikut berbisik bersama setiap kata yang ia ucapkan.

"Apa yang akan kau lakukan? Senjata mereka dirancang untuk melumpuhkanmu!" Elian berteriak dari bawah tangga menara, wajahnya diterangi oleh kilatan lampu sorot musuh yang masuk melalui celah-celah jendela. Ia memegang sebatang besi tua, meski ia tahu itu tidak akan berguna melawan teknologi militer di luar sana.

"Aku akan menulis surat yang bisa mereka baca tanpa bantuan teleskop," jawab Alana tegas.

Alana mulai menggerakkan jari-jari tangannya di udara, seolah sedang memimpin sebuah orkestra raksasa yang tak terlihat. Ia menarik energi indigo dari inti dadanya—sisa-sisa Embun Keabadian—dan menyambungkannya dengan kelembapan udara yang terjebak di dalam ruangan. Di luar menara, sebuah fenomena mustahil terjadi. Uap air yang turun sebagai kabut dingin mulai membeku seketika di udara, membentuk huruf-huruf raksasa dari kristal es yang melayang di angkasa, berpendar biru tajam di kegelapan.

Pesan itu terbaca jelas di layar radar dan monitor kokpit helikopter musuh: PERGI ATAU TERBAKAR.

"Unit satu, abaikan gangguan visual! Itu hanya manipulasi optik dari target!" suara komandan musuh dari darat terdengar melalui pengeras suara yang sangat keras hingga membuat kaca-kaca rumah bergetar. "Target melakukan manipulasi atmosfer tingkat lanjut. Aktifkan meriam gelombang penetral sekarang! Targetkan langsung ke puncak menara!"

Sebuah perangkat berbentuk cakram di bawah perut helikopter utama mulai berpijar merah membara. Sebuah dentuman frekuensi rendah yang sangat berat dilepaskan. Gelombang itu menghantam menara observasi dengan kekuatan yang membuat struktur kayu rumah berderit hebat seolah akan runtuh.

Alana menjerit kesakitan. Di dalam Zona Isolasinya, ia merasa seperti sedang dihancurkan oleh ribuan palu tak terlihat. Pendaran indigo di kulitnya mulai berfluktuasi liar, berubah menjadi jingga panas yang menyakitkan, menunjukkan bahwa energinya mulai terkontaminasi oleh interferensi musuh.

"Alana! Jangan menyerah! Tahan frekuensinya!" Arlo mencoba menyeimbangkan energi melalui konsolnya, namun panel buatan itu meledak dalam percikan api biru, melemparkan Arlo ke sudut ruangan.

Dalam rasa sakit yang luar biasa itu, Alana teringat semua surat cinta yang pernah ia baca di kotak pos kakeknya. Ia teringat bahwa cinta sejati bukan hanya tentang kelembutan dan rindu, tapi juga tentang perlindungan yang sengit dan keberanian untuk berdiri tegak saat badai datang. Ia berhenti melawan rasa sakitnya; ia justru memeluknya. Ia menarik seluruh energi panas dari gelombang penetral musuh ke dalam tubuhnya, mengubahnya menjadi amunisi, lalu memuntahkannya kembali ke arah langit melalui jari-jarinya.

"Jadilah tintaku! Jadilah suaraku!" teriak Alana ke arah langit.

Seketika, langit Navasari yang hitam pekat berubah menjadi ungu membara. Petir-petir indigo raksasa menyambar bukan dari awan ke bumi, melainkan dari menara observasi melonjak ke arah awan. Alana sedang "menulis" di cakrawala menggunakan petir sebagai pena dan langit sebagai perkamennya. Garis-garis cahaya raksasa itu membentuk pola rasi Cygnus yang sangat besar, menyelimuti seluruh desa Navasari dengan perisai listrik yang indah namun mematikan.

Gelombang elektromagnetik masif dari petir buatan Alana menghantam sirkuit elektronik helikopter musuh. Mesin-mesin turbin mereka mati mendadak. Semua instrumen navigasi menjadi putih. Kendaraan-kendaraan lapis baja di jalan setapak bukit mulai mengeluarkan asap tebal karena korsleting massal. Para agen "Penjemput Fajar" berteriak panik saat senjata-senjata canggih mereka mendadak menjadi sangat panas di genggaman tangan.

Satu per satu, helikopter-helikopter itu terpaksa melakukan autorotasi, melakukan pendaratan darurat di lembah yang jauh dari pemukiman. Perisai cahaya yang diciptakan Alana telah memutus semua teknologi manusia di radius lima kilometer, mengembalikan Navasari ke zaman kegelapan mekanis yang murni.

Navasari kembali jatuh ke dalam kesunyian, namun kali ini adalah kesunyian yang penuh dengan gema kemenangan.

Alana jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Cahaya indigo di tubuhnya meredup menjadi pendaran lembut yang tenang seperti lampu tidur. Zona Isolasinya kini tampak lebih jernih dan stabil, seolah-olah ia baru saja membuang seluruh racun frekuensi yang sempat mengontaminasinya.

Elian berlari naik ke atas menara, langkah kakinya terdengar terburu-buru di tangga kayu. Ia berhenti tepat di depan membran transparan, menatap Alana dengan rasa takjub dan pemujaan yang tak terlukiskan. "Alana... kau... kau baru saja memerintah langit untuk tunduk."

Alana tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang masih terasa hangat sisa ledakan petir. "Aku hanya mengirimkan surat yang sedikit lebih keras dari biasanya agar mereka benar-benar membacanya, Elian."

Arlo bangkit perlahan, menatap ke arah langit yang kini perlahan-lahan kembali ke warna hitam alaminya, meski rasi Cygnus tampak tetap berpendar indigo tipis di sana. "Kau baru saja menyatakan perang pada hukum alam yang statis, Alana. Para Penjaga yang Lebih Tua di luar sana tidak akan senang dengan pertunjukan kekuatan yang begitu vulgar ini. Tapi untuk malam ini... kau telah menyelamatkan setiap nyawa di desa ini."

Alana melihat ke arah telapak tangannya. Ada bekas luka berbentuk petir kecil yang permanen di sana, memancarkan cahaya biru redup sebuah stempel abadi dari "tinta petir" yang ia gunakan. Ia menyadari bahwa perannya kini telah sepenuhnya berubah. Ia bukan lagi Alana yang rapuh; ia adalah Sang Penjaga Cakrawala.

Di Bab 18 ini, ia telah membuktikan bahwa surat cinta yang paling tulus terkadang harus ditulis dengan kekuatan badai, untuk memastikan bahwa kedamaian dan orang-orang yang dicintainya tetap aman di bawah naungan langit.

"Tuliskan satu pesan lagi untuk mereka di bawah, Elian," kata Alana pelan, suaranya mulai kembali normal. "Katakan pada penduduk desa bahwa langit sedang beristirahat. Katakan pada mereka bahwa selama aku masih di sini, mereka tidak perlu lagi takut pada lampu-lampu sorot itu."

Elian mengangguk pelan, lalu bergegas turun untuk menenangkan warga. Alana menatap Arlo, yang kini tampak mulai menua secara drastis kulitnya keriput dan tangannya bergetar. Mereka tahu, kemenangan ini memiliki harga, dan waktu mereka untuk bersama di bumi ini mungkin jauh lebih singkat daripada yang mereka bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!