🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat semua disiapkan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Mobil sempat berhenti di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian, Alexa kembali masuk ke dalam kendaraan dengan membawa sebuah kotak berisi obat-obatan.
Yura masih memalingkan wajahnya ke arah jendela, berpura-pura menaruh perhatian pada lalu lintas di luar, meski sorot matanya kosong.
Alexa duduk, lalu menoleh ke arah sopir. "Kau tunggu di luar sampai aku menyuruhmu masuk."
"Baik, Tuan," jawab sopir itu sigap sebelum turun dari mobil.
Pintu tertutup. Yura sontak melirik ke arah Alexa.
"Ke sini wajahmu," perintah Alexa singkat sambil membuka kotak obat dan mengeluarkan isinya satu persatu.
"Tidak perlu," sahut Yura dingin, lalu kembali menatap ke luar jendela. Nada suaranya masih mengandung sisa amarah.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tidak bisa memungkiri bahwa perasaannya telah sedikit melunak sejak melihat Alexa turun dan masuk ke apotek.
Ia dapat menebak bahwa pria itu merasa bersalah. Meski begitu, Yura menolak memperlihatkan bahwa hatinya begitu mudah luluh.
Alexa mengembuskan napas panjang.
"Baik. Aku salah," ucapnya akhirnya dengan nada suaranya lebih rendah. "Aku minta maaf. Sekarang, ke sini wajahmu. Kita obati lukanya sebelum bertemu kedua orang tua itu."
Yura terdiam sejenak sebelum perlahan menoleh.
"Ini akan sedikit perih. Tahan sebentar," lanjut Alexa.
Ia mulai membersihkan luka di kening Yura. Rasa perih langsung menjalar, membuat Yura meringis. Namun Alexa dengan sigap mengembuskan napas pelan ke arah luka itu, seolah berusaha meredam rasa sakitnya.
Yura terdiam.
Dalam diam itu, ia menyadari sesuatu. Alexa tidak sepenuhnya sejahat yang selama ini ia bayangkan. Ada nurani dalam diri pria itu, meski tersembunyi di balik sikap keras dan tutur kata yang kerap melukai.
"Saat ini, dengarkan aku baik-baik," ujar Alexa sambil tetap fokus mengobati luka Yura. Tangannya sempat menunjuk ke arah sopir yang berdiri tidak jauh dari mobil, tampak sesekali melirik ke dalam. "Kau harus waspada terhadap sopir itu."
Yura mengikuti arah pandang Alexa, menatap sopir tersebut sejenak, lalu kembali memandang Alexa dengan sorot mata penuh tanya. Namun ia menahan diri untuk tidak langsung bertanya.
"Dia kemungkinan adalah mata-mata kedua orang tua itu," lanjut Alexa tenang. "Dan bisa menimbulkan masalah baru jika kau bertindak gegabah. Jadi, berhati-hatilah."
Yura menunduk pelan.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanyanya kemudian.
Alexa mengangguk. "Silakan. Saat ini suasana hatiku sedang cukup baik."
Yura memutar bola matanya kesal. Dalam hati, ia tahu suasana hati Alexa membaik karena rasa bersalah yang tidak mau diakui pria itu.
Ia berdeham pelan, meniru kebiasaan Alexa untuk mengusir kecanggungan. "Sebenarnya, Anda bisa saja menolak pernikahan ini. Kenapa Anda tidak melawan dan justru mengikutinya? Apa Anda—"
"Aku tidak memiliki perasaan padamu," potong Alexa tiba-tiba sambil menekan plester di kening Yura. Gadis itu berdesis pelan karena nyeri.
Yura menatapnya tajam. "Dari mana Anda mendapatkan kepercayaan diri sebesar itu? Yakin sekali bahwa saya berpikir demikian."
"Lantas apa lagi, kalau bukan karena kau juga terpesona?" balas Alexa datar.
Yura mendecak kesal. "Lebih baik Anda dengarkan baik-baik." ia sedikit mendekat. "Anda bukan tipe ideal saya. Anda paham?"
Ia kembali menarik wajahnya menjauh. Alexa menelan ludah, tidak sepenuhnya percaya.
"Sekarang jawab saja," lanjut Yura. "Kenapa Anda tidak berontak dan menolak pernikahan ini?"
Alexa melirik ke arah lain sambil merapikan kembali peralatan obat.
"Hanya mereka yang aku miliki," ucapnya singkat. "Itu sudah cukup sebagai jawaban."
Ia meletakkan kotak obat di kursi depan. "Intinya, ikuti saja perintahku. Pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Setelah semuanya selesai, kita akan berpisah."
Yura menatapnya tanpa berkedip.
"Aku tidak berjanji," lanjut Alexa. "Tapi aku akan mengusahakannya. Kau akan mendapatkan imbalan. Kau juga bisa memperoleh apa yang kau inginkan. Kita sama-sama menuju tujuan masing-masing. Anggap saja saat ini kita berteman. Setelah semuanya berakhir, kita anggap tidak pernah saling mengenal."
Yura mengangguk pelan. "Jika Anda melanggar?"
Alexa menoleh, menaikkan satu alisnya. "Apa kau tidak mempercayai kata-kataku?"
Yura menggeleng. "Tapi aku memilih percaya. Semoga Anda menepatinya. Kalau tidak—"
Ia mendekat sedikit.
"Kalau tidak apa?" Alexa ikut mendekat, tidak mau kalah.
"Anda akan tahu akibatnya."
"Contohnya?"
"Rahasia."
Yura menjauhkan wajahnya. Alexa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ikut menarik tubuhnya menjauh.
"Oh ya," ucap Yura pelan. "Terima kasih sudah mengobati luka saya."
Alexa hanya mengangguk, walaupun di dalam hatinya, rasa penasaran perlahan tumbuh.
Ia ingin tahu apa yang akan Yura lakukan jika ia sampai melanggar kesepakatan mereka. Namun sebelum pikirannya melangkah terlalu jauh, Alexa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak berniat mengingkari perjanjian yang telah mereka sepakati.
......................
Di sebuah rumah mewah yang berdiri anggun di balik gerbang tinggi, Arshena berdiri di tengah ruang utama.
Pandangannya menyapu seisi ruangan yang telah ditata dengan rapi, seolah memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat.
"Apa semuanya sudah beres?" tanyanya sambil merapikan lipatan lengan gaunnya.
Kepala pelayan yang berdiri tegak di hadapannya segera menundukkan kepala dengan hormat. "Semua yang Nyonya inginkan telah kami laksanakan. Rangkaian bunga sudah diganti, hidangan juga telah disiapkan sesuai daftar yang Nyonya berikan."
Arshena mengangguk pelan, namun sorot matanya masih menyiratkan ketelitian. "Bagaimana dengan kamar Alexa? Semuanya sudah diganti yang baru, bukan?"
"Sudah, Nyonya. Bahkan kami menambahkan aroma lavender seperti yang Nyonya minta. Pencahayaan juga sudah disesuaikan agar terasa lebih hangat."
"Bagus," ucap Arshena puas. Ia melangkah beberapa langkah, lalu berhenti lagi. "Pastikan juga tidak ada pelayan yang bersikap ceroboh. Aku ingin dia merasa nyaman sejak pertama kali melangkah masuk ke rumah ini."
"Tentu, Nyonya. Semua staf sudah saya beri arahan khusus."
Kepala pelayan itu lalu memberanikan diri bertanya, "Jika boleh saya tahu, kira-kira kapan Tuan Muda dan Nona Muda akan tiba, Nyonya, agar kami dapat membereskan persiapan terakhir untuk menyambut mereka?"
"Mereka diperkirakan akan tiba sebentar lagi," sahut Arshena tanpa menyembunyikan antusiasmenya. "Lebih baik kau segera bersiap-siap. Aku tidak ingin ada yang kurang, sekecil apa pun."
"Baik, Nyonya," jawab kepala pelayan itu mantap. Ia membungkuk ringan, lalu mengundurkan diri untuk melanjutkan tugasnya.
Tak lama kemudian, Denales melangkah mendekat. Matanya mengamati dekorasi yang menurutnya tampak berlebihan, dari rangkaian bunga hingga susunan hidangan yang memenuhi meja panjang.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan hanya untuk menyambut mereka?" ucap Denales tenang, meski jelas terdengar heran.
Arshena menoleh cepat. Sorot matanya berbinar, senyum lebarnya sulit disembunyikan. "Kau jangan terlalu banyak khawatir. Semua ini adalah penyambutan untuk cucu baru kita," ujarnya penuh semangat. "Siapa tahu, sebentar lagi cucu kita akan memberi kita cicit. Kau seharusnya berterima kasih padaku untuk hal ini."
Denales terdiam. Ia menatap istrinya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. Ia tidak ingin memperdebatkan apa pun, terlebih ketika melihat wajah Arshena yang tampak begitu bahagia.
Sudah lama sekali ia tidak melihat istrinya memancarkan cahaya kegembiraan seperti ini, tanpa bayang-bayang kesedihan yang biasanya mengiringi.
"Terserah kau saja," ucap Denales akhirnya singkat.
Arshena tersenyum semakin lebar, seolah kata-kata itu adalah persetujuan penuh atas semua yang telah ia rencanakan.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺