NovelToon NovelToon
Bos Tampan Itu Kekasihku

Bos Tampan Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Fantasi Wanita
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Calon Pewaris

Puncak keanehan ngidamnya Aulia terjadi saat mereka sedang meninjau proyek Lavana. Aulia mendadak berhenti di depan sebuah tumpukan pasir kontruksi yang baru saja di datangkan.

"Mas..." kata Aulia tiba-tiba.

"Ya, Sayang. Kamu haus? Ryan sigap memayungi Aulia.

"Bau pasir ini, enak banget," gumam Aulia sambil menghirup aroma tanah dan debu konstruksi itu dalam-dalam. "Boleh nggak aku bawa pulang sedikit di plastik? Aku mau taruh di samping tempat tidur biar aku cium setiap mau tidur."

Ryan melongo, "Aulia, itu debu! Nggak sehat buat pernapasanmu!" seru Ryan, merasa aneh dengan ngidamnya Aulia.

"Tapi aku suka, Mas. Kalo nggak ada pasir itu, aku nggak mau makan malam!" kekeh Aulia bersikeras hendak membawa pasir itu.

Alhasil, malam itu di penthouse mewahnya mereka yang berlantai marmer, terdapat wadah kecil berisi pasir bangunan di atas nakas mewah. Ryan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berdoa agar anaknya nanti tidak lahir dengan keinginan makan semen.

Kehamilan ini memang membawa warna baru. Ryan yang dingin kini menjadi sosok yang hangat dan penyabar. Ia sadar dinding es di hatinya tidak hanya hancur oleh keberanian Aulia, tapi kini sedang dilecehkan sepenuhnya oleh kehadiran nyawa kecil yang sedang tumbuh di rahim istrinya.

Kerepotan Ryan ternyata hanya awal dari badai ngidam Aulia. Segera saja, kedua calon nenek, Ibu Ratna dan Ibu Reni, ikut terseret dalam arus keinginan aneh sang arsitek junior.

Siang itu, di dapur super mewah dan steril milik Ibu Ratna, mendadak kacau. Aulia duduk di kursi bar, memegang duren, tapi ia menolak memakannya.

"Ibu.. aku nggak mau makan durennya. Aku cuma mau Ibu-ibuku yang cantik ini masak kolak duren bareng-bareng," pinta Aulia dengan mata bulatnya yang menggemaskan.

Ibu Ratna yang seumur hidupnya lebih sering memegang sendok perak daripada ulekan tampak bingung. Sementara Ibu Reni tertawa kecil sambil mengenakan celemek. Ya Ibu Ratna yang meminta Ibu Reni datang untuk menemaninya.

"Tapi sayang, Ibu mertuamu mana tahu cara mengaduk santan biar nggak pecah." bisik Ibu Reni menggoda besannya.

"Nggak apa-apa, Bu Reni. Saya akan belajar sekarang demi cucu!" Sahut ibu Ratna semangat. "Ayo, ajari saya memeras santan pakai tangan! Aulia bilang dia nggak mau santan kemasan.!"

Dua wanita dari latar belakang berbeda itu akhirnya berperang di dapur. Ibu Ratna yang biasanya elegan, kini rambutnya terkena cipratan santan, sementara Ibu Reni sibuk memberi instruksi. Aulia duduk manis sambil menghirup aroma masakan mereka, merasa sangat puas melihat kedua ibunya rukun karena perintah sang bayi.

Beberapa saat kemudian kolak duren masakan Ibu Ratna dan Ibu Reni telah siap. Aroma santan dan durennya membuat Aulia tidak sabar untuk segera menyicipi kolak masakan kedua ibunya.

"Nih, Sayang. Cobain masakan Ibu. Tapi hati-hati, di tiup dulu karena masih panas" Ibu Ratna menyodorkan mangkuk berisi kolak duren masakannya.

Aulia menerimanya dan langsung mencicipi kolak itu. "Woaa... Ibu. Ini enak banget. Coba deh." Kata Aulia sambil terus mencicipi kolak yang masih panas itu.

"Masa sih?" tanya Ibu Ratna penasaran. Dia kemudian menyendok kolak ke dalam mangkok dan mencobanya. "Wah, beneran. Besan ini enak banget." Kata Ibu Ratna.

Ibu Reni pun akhirnya mengambil kolak buat dirinya sendiri. Mereka bertiga pun menikmati kolak duren itu dengan semangat.

"Ternyata Ibu mertuaku ini pintar juga membuat kolak duren," puji Aulia.

"Itu karena Ibumu yang ajarin. Coba kalo Ibu yang buat sendiri pasti rasanya akan beda lagi," kata Ibu Ratna, tertawa membayangkan. seandainya dia sendirian memasak kolak duren itu.

Namun, kebahagiaan itu terusik. Clarissa yang merasa terhina setelah diusir dari kantor, tidak tinggal diam. Ia tahu ia tidak bisa menyerang dari sisi material bangunan lagi, maka ia menyerang dari sisi legalitas dan personal.

Sore hari, saat Ryan sedang memijat kaki Aulia di penthouse, Mira menelpon dengan suara yang gugup.

"Pak Ryan, ada surat panggilan dari kepolisian. Clarissa melaporkan bu Aulia atas tuduhan "Pencurian ide desain" dan "pencemaran nama baik" terkait rekaman di pesta tempo hari.

Aulia tersentak, "Pencurian Ide? Itu murni hasil coretan sendiri!"

"Dia mengklaim bahwa konsep Green Architecture di Lavana adalah miliknya yang pernah ia diskusikan secara lisan dengan Bapak, Tahun lalu," tambah Mira takut-takut.

Tak lama kemudian, Clarissa menelpon Ryan. Suaranya terdengar sangat manis namun berbisa. "Hallo, Ryan? Sudah terima suratnya? Aku nggak butuh uangmu. Aku hanya ingin melihat istrimu yang suci itu, memakai baju oranye di berita nasional. Bayangkan apa yang akan terjadi pada janin di perutnya jika ia stres di penjara?"

Genggaman tangan Ryan pada ponselnya mengeras, hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu sudah keterlaluan, Clarissa."

"Pilihannya mudah Ryan. Umumkan bahwa Aulia menjiplak karyaku, batalkan pernikahan kalian -karena secara teknis itu diawali denga kontrak palsu yang bisa kubongkar- lalu kembalilah padaku. Maka semua laporan ini aka. ku cabut."

Ryan hendak meledak, namun Aulia menahan lengan suaminya. Meski sedang hamil dan sering mual, otak arsiteknya tetap tajam.

"Mas, jangan pakai emosi. Dia ingin kita panik." bisik Aulia. Dia mengambil ponsel Ryan dan menekan tombol load speaker.

"Clarissa," suara Aulia tenang namun dingin. "Kamu bilang itu idemu? kamu lupa satu hal. Setiap coretan desainku memiliki time stamp digital di server pribadiku yang sudah diproteksi enkripsi tingkat tinggi. Dan soal 'kontrak palsu' yang ingin kamu bongkar? silahkan saja."

Aulia tersenyum sinis ke arah Ryan. "Masyarakat mungkin akan kaget soal kontrak itu, tapi mereka akan lebih kaget melihat video CCTV dari hotel di Maladewa dan laporan USG ini. Kami mencintai satu sama lain sekarang. Publik lebih suka cerita 'Fake marriage turns into Real Love' daripada cerita wanita gila harta yang mencoba memenjarakan ibu hamil."

"Kamu... kamu gertak sambal!" teriak Clarissa di seberang telepon.

"Coba aja," tantang Aulia. "Dan Mas Ryan punya sesuatu untukmu, kan?"

Ryan mengambil alih ponselnya. "Clarissa, aku baru saja membeli 30% saham manufaktur ayahmu secara diam-diam melalui shell company. Satu langkah salah lagi darimu, aku akan melakukan hostile takeover (pengambilan paksa) dan menendang ayahmu dari kursinya sendiri. Pilihlah: egois atau masa depan keluargamu. "

Hening di seberang sana. Clarissa tahu Ryan nggak pernah bermain-main dengan ancamannya. Telepon pun ditutup dengan kasar.

Setelah ketegangan itu reda, Aulia mendadak lemas dan bersandar di dada Ryan.

"Hebat sekali istriku ini," puji Ryan sambil mencium kening Aulia. "Tapi Mas akan benar-benar menghancurkan perusahaannya kalau dia berani muncul lagi."

Aulia terkekeh pelan. "Sudahlah Mas. Sekarang yang lebih penting..."

"Apalagi, ngidam apalagi?"Ryan sudah bersiap mengeluarkan dompetnya.

Aulia menatap Ryan dengan tatapan penuh arti. "Aku mau Mas Ryan tidur di lantai, malam ini, tanpa bantal, cuma pakai selimut. Katanya bayi kita, kasurnya terlalu empuk."

Ryan melongo menatap lantai marmer yang keras. "Aulia, ini benar-benar ngidam atau balas dendam karena aku pernah bilang kamu 'alat'?"

Aulia hanya tersenyum misterius sambil berjalan menuju ranjang empuknya. "Naluri, Mas. Hanya naluri."

Ryan hanya menatap Aulia hang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.

"Sayang, ini serius?" kata Ryan memelas.

Aulia duduk lagi lalu mengambil selimut dan memberikan kepada Ryan. "Sayang, ini masih sore lho. Kita belum makan malam juga. Apa kamu sudah mau tidur?" tanya Ryan, tetapi tetap menerima selimut yang diberikan oleh Aulia.

"Oh iya, kita belom makan malam ya?" kata Aulia lalu kembali bangun dari tidurnya.

"Mas, aku mau makan pecel lele di pinggir jalan depan pasar malam." kata Aulia membuat Ryan melongo lagi.

"Emang nggak ada makanan lain yang bisa dimakan? Apa harus pecel lele?" tanya Ryan.

Sesungguhnya Ryan paling nggak suka makan pecel lele.

"Iya, Mas. Aku lagi membayangkan dagingnya yang empuk dimakan pakai sambel ulek terasi, hmmm pasti nikmat. Ayo dong, Mas " ajak Aulia dengan wajah memelasnya.

Ryan menghela napas panjang, "Ya udah, ayok," kata Ryan sambil menggandeng tangan Aulia turun dari kamar mereka.

Aulia mencium pipi Ryan, "Mas Ryan memang terbaik," bisik Aulia.

Ryan hanya memutar bola matanya malas. "Demi calon pewaris Aditama, Aku rela ngelakuin apa pun permintaanmu." kata Ryan lagi.

Bersambung.......

1
mamayot
haiiiii aku mampir thor. semangat
Rachel Imelda: Makasih.....😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!