"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Atap Orang Lain
“Awas ya! Kalau kamu berani ngadu ke ayahmu!” bentak ibu tirinya suatu pagi.
Rara menangis di pojok rumah. Tubuhnya gemetar. Alisya ikut duduk di sebelahnya, memeluk lengannya erat.
“Piring saya itu mahal!”
Belum sempat Rara menjawab, tutup periuk aluminium melayang dan menghantam bahunya. Rara menjerit pelan.
Ia refleks berdiri dan meraih tangan perempuan itu, berusaha menahan pukulan berikutnya.
“Jangan!” teriak Rara, suaranya pecah.
Namun wanita itu semakin naik pitam. Ia meraih sapu ijuk dan menghantamkan ke kaki Rara. Rara terhuyung, nyaris jatuh.
Rara mendorong tubuh ibu tirinya menjauh, bukan untuk melawan, melainkan untuk menyelamatkan diri.
“Kurang ajar!” sumpah serapah keluar dari mulut perempuan itu tanpa henti.
Ia mengusir Rara keluar rumah. Rara masih sesenggukan saat akhirnya duduk di pojok dapur. Ia menatap Alisya, wajah adiknya pucat ketakutan.
Tak lama kemudian, Alea lewat di hadapan mereka, berjalan menuju sumur. Ia melirik sekilas, bibirnya melengkung dalam senyum mengejek.
“Makanya jangan belagu. Sudah numpang tapi nggak tahu diri,” ucapnya sambil melototi Rara dan Alisya.
“Kalau Ayah tahu, dia bakal belain kita nggak?” tanya Alisya polos.
Rara terdiam. Ia tak sanggup menjawab.
“Kak, kita cari pinang, yuk?”
Ide tiba-tiba itu membuat mata Rara sempat berbinar.
Namun baru beberapa langkah mereka beranjak, suara wanita itu menggema dari dalam rumah.
“Kalian beres-beres rumah dulu! Antar sapi merumput ke embung!” ujarnya berapi-api.
Rara mengangguk pelan. Matanya sembab, pundaknya terasa makin berat.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melaksanakan perintah ibu tirinya. Setelah selesai beberes, Rara kembali keluar menuju kandang sapi yang tak jauh dari rumah.
Ia menggiring sapi itu ke depan embung, membiarkannya merumput di bawah terik matahari. Setelah menemukan batang kayu yang cukup kuat, Rara mengikat tali sapi di sana.
“Kak, kita mau ke mana lagi?” tanya Alisya pelan.
Rara menoleh dan tersenyum kecil.
“Kita cari pinang, yuk, Dek. Nanti kalau sudah kering, kita jual. Dapat uang. Bisa buat jajan,” ucapnya, berusaha terdengar bersemangat.
“Ayo, Kak.”
Alisya menarik tangan kakaknya, namun langkahnya tiba-tiba melambat.
“Tapi… kalau ketahuan Ibu gimana, Kak?”
Rara terdiam sejenak.
“Pasti dia bakal marah,” lanjut Alisya dengan wajah memelas.
Rara menghela napas pendek.
“Nanti kita sembunyikan saja, Dek. Jangan sampai dia tahu,” jawabnya pelan, meski hatinya sendiri tak sepenuhnya yakin.
Mereka menyusuri jalan setapak di tengah persawahan, tepat di depan rumah lama mereka yang berdiri di dekat embung. Untuk sesaat, Rara dan Alisya bernyanyi kecil, mencoba melupakan rasa takut, meski keduanya tahu, entah kejutan apa yang menanti saat mereka pulang nanti.
Setelah melewati pematang sawah yang panjang, mereka memasuki perkebunan warga. Mereka tak mencuri, hanya memungut pinang-pinang masak yang berjatuhan di tanah, sebagian bahkan sudah bertunas.
Setiap kali menemukan pinang, Alisya berseru kegirangan, seolah baru saja mendapat harta karun.
“Kak, aku dapat banyak!” serunya riang.
Ia memasukkan pinang-pinang itu ke dalam kantong lusuh yang ia temukan di tempat sampah, lalu menatap Rara dengan mata berbinar, mata yang masih menyimpan harapan kecil, meski hidup tak pernah benar-benar ramah pada mereka.
Tak terasa matahari makin merendah, Rara melihat adiknya. Sudah hampir dua jam mereka mengelilingi ladang-ladang kecil yang berada persis di belakang rumah warga.
"Pulang yuk, Dek! kalau kesorean nanti ibu marah lagi sama kita."
"Iya kak, Alisya juga lapar Kak, apakah hari ini kita bisa makan enak?" ujarnya polos.
Ia kembali menyusuri pematang sawah. Kembali ke embung untuk membawa sapi pulang, sebelum akhirnya kembali ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, Rara menggiring sapi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menenteng sekantong plastik asoy berisi pinang hasil pencarian mereka.
Beberapa langkah sebelum sampai rumah, langkah Rara terhenti mendadak.
Ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Berkacak pinggang. Sorot matanya tajam dan dingin.
“Dari mana saja kamu, Ra?” bentaknya.
Tangan Rara mencengkeram tali sapi erat-erat. Jantungnya berdegup tak karuan.
“Bukannya ibu cuma suruh kalian antar sapi, nggak usah ditungguin,” sahut wanita di sebelah ayahnya dengan senyum palsu.
“Rara cuma main sebentar sama Alisya, Yah,” jawab Rara lirih. Suaranya bergetar.
“Itu apa di kantong hitam itu?” Ayah menunjuk tajam ke arah kantong yang dipegang Alisya.
“Pinang, Yah,” jawab Rara hampir tak terdengar.
Ayah melangkah mendekat. Dengan kasar, ia merampas kantong itu dari tangan Rara. Wajahnya tampak suram, entah aduan apa yang telah ia dengar.
“Bikin malu saja kamu! Untuk apa pinang beginian?” bentaknya.
Rara menunduk. Tak berani menatap wajah ayahnya.
“Jawab!”
Tubuh Rara gemetar.
“Untuk dijual, Yah,” ucapnya akhirnya.
Bruukk!
Kantong pinang itu dibanting ke tanah. Isinya berhamburan.
Mata ayahnya melotot merah, penuh amarah.
Di belakangnya, ibu tiri dan Alea menatap dengan sorot kemenangan.
“Kurang jajan kalian?” bentak ayahnya.
“Iya, Ra. Bukannya kalian dikasih jajan tiap hari?” timpal wanita itu, penuh fitnah.
Rara mendongak. Untuk pertama kalinya, ada keberanian yang muncul di dadanya.
“Tapi Rara sama Alisya nggak pernah jajan, Yah,” ucapnya datar, menahan tangis.
“Eh, nggak boleh bohong!” potong wanita di sebelahnya.
“Kalian kan sama-sama dikasih jajan kayak Alea!” sambungnya lagi.
Mata Rara berkaca, ia pasrah membela diri pun percuma. Ayah hanya akan percaya pada istrinya.
"Yuk makan dulu, tadi Ibu suruh makan kamu nggak mau!" ucapnya lembut mencari perhatian ayahnya.
Rara tak menjawab, ia hanya menunduk. Mengembalikan sapi ke kandangnya, lalu masuk ke dalam rumah.
Rara membuka tudung saji.
Masakan itu ada.
Ia menoleh ke ayah yang sedang bercengkerama hangat dengan ibu tirinya. Tiba-tiba ada sakit yang tidak bisa ia jelaskan. Untuk pertama kalinya, ia sadar, rumah ini bukan lagi tempat pulang.