Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Living together
Setelah empat tahun menempuh pendidikan, akhirnya Selina Saraswati resmi menyandang gelar Sarjana Kedokteran dengan predikat cumlaude. Aula kampus dipenuhi tamu, dan keluarga besarnya hadir lengkap.
“Bapak bangga banget sama kamu, Sel,” ucap Bejo, menahan haru saat memeluk putri bungsunya.
Selina tersenyum lembut. “Iya, Pak. Makasih… ini semua berkat doa Bapak dan Ibu.”
“Sudah, ayo kita makan di restoran depan. Kasihan keluarga yang lain, pasti lapar,” celetuk Sri, ibunya.
“Ibu, Bapak, kalian duluan aja ya. Aku mau ketemu teman-temanku bentar.”
“Ya sudah, jangan lama-lama,” sahut Sri sambil menggiring keluarga besar keluar aula.
Begitu semua pergi, Selina menoleh mencari seseorang. Dan ketika melihat Evan berdiri bersandar di tiang aula dengan setangkai mawar, jantungnya menghangat.
“Baby… selamat ya. Cumlaude, lagi. Aku bangga banget sama kamu,” ucap Evan sembari mencium pipinya.
Selina tersipu. “Aku juga bangga sama kamu.”
Namun Evan tiba-tiba merapikan jaketnya. “Sayang, aku harus pulang dulu. Ortu nungguin.”
Selina menahan lengannya. “Van… kita sudah dua tahun pacaran. Kamu nggak ada niat ngenalin aku ke orang tua kamu?”
Evan menghela napas, tampak tak nyaman. “Belum saatnya, Baby. Nanti juga aku kenalin.”
“Sampai kapan? Keluargaku sudah mendesak aku cepat nikah. Kamu tahu sendiri mulut tetangga di kampung gimana. Umurku udah dua puluh satu… tapi belum ngasih kepastian.”
“Sel, kita masih muda. Kenapa sih harus dengerin omongan orang?”
“Bapak aku udah tua, Van. Sakit-sakitan. Impian beliau cuma pengen lihat aku menikah. Minimal tunangan dulu. Kamu lamar aku… itu aja.”
Evan terdiam lama, lalu menjawab lirih, “Maaf, Sel. Aku belum bisa lamar kamu sekarang. Aku nggak punya tabungan.”
Selina tertegun. “Tapi kemarin kamu ngajak aku tinggal bareng setelah koas. Nikahin aku nggak mau, tapi ngajak tinggal bareng mau?”
Evan mengangkat bahu, seolah itu hal biasa. “Sel, living together itu wajar. Jangan kolot gitu, dong. Semua teman-temanku udah tinggal bareng pacarnya sejak awal kuliah.”
Rahangnya mengeras. “Bapak aku tuh haji, Van. Ini bukan soal kolot atau nggaknya. Ini prinsip hidupku. Kalau kamu mau tinggal bareng, ya kita nikah dulu.”
Evan mendengus kesal. “Ribet banget sih. Ya udah, mending kita putus aja. Kamu beda dengan Slvi. Dia mau diajak tinggal bareng… dan dia lebih bisa memuaskan hasrat aku.”
Jantung Selina seperti diremas. “Jadi selama ini itu yang kamu incar? Bukan aku, tapi tubuhku?”
“Ya… kalau kamu nggak ngasih, ya aku cari yang mau dong,” jawab Evan tanpa rasa bersalah.
Selina menahan air mata, tapi suaranya tegas. “Baik. Kita putus. Semoga kamu bahagia sama Silvi.”
Ia membalikkan badan, menahan isak. Dengan langkah terseok, ia pergi meninggalkan aula—dan meninggalkan dua tahun hubungan yang hancur hanya karena satu prinsip yang tak dihargai.
Selina menghapus air mata sebelum masuk ke restoran tempat keluarganya menunggu.
Hari kelulusannya seharusnya bahagia… tapi hatinya baru saja patah.
Selina menarik napas panjang, menghapus air matanya berulang kali sampai tak ada jejak merah di mata. Ia menegakkan bahu dan masuk ke restoran, memaksakan senyum yang terasa kaku.
“Sel sini duduk,” panggil Sri, ibunya.
Selina duduk di sebelah kedua orang tuanya, berusaha terlihat tenang. Namun pertanyaan pertama langsung menyerang.
“Pacarmu mana, Sel?” tanya Arga, kakak pertamanya sambil mengangkat alis.
“Iya, tumben dia nggak gabung. Biasanya nempel terus kaya perangko,” tambah Tias, istri Arga.
Bejo mencondongkan tubuh, wajah khawatir. “Kalian baik-baik aja, kan?”
Selina tersenyum tipis. “Baik-baik aja, Pak.”
Namun pertanyaan berikutnya membuat dadanya semakin sesak.
“Kapan Evan mau ngelamar kamu, Sel?” suara Fitri, tantenya, terdengar penuh penasaran.
“Kita masih mau kerja dulu, Tante. Belum mikirin nikah.”
Arga mendesah berat. “Sel… Bapak udah tua. Beliau cuma ingin lihat kamu menikah. Minimal lamaran dulu.”
Selina menunduk. “Maunya gitu… tapi Evan belum mau.”
Handoko, omnya, segera nimbrung. “Kalau gitu mending kamu cari laki-laki lain aja. Dari pada digantung tanpa kepastian.”
“Sudah, sudah… jangan dipaksa-paksa. Biar Selina memilih jalannya sendiri,” kata Bejo sambil memegang dadanya. Jemarinya bergetar halus. Ia memang menderita sakit jantung—akibat kebiasaan merokok yang sulit ia tinggalkan.
Selina memandangi bapaknya, hatinya mencubit. Kalau aku bilang sudah putus… apa Bapak bakal tambah sedih?
Bejo menatap putrinya tajam, seperti bisa membaca isi hatinya. “Sel… kamu kenapa? Bilang aja sama Bapak. Jangan ditutup-tutupin.”
Selina mengepalkan tangan. “Aku… aku sama Evan putus, Pak.”
Hening sejenak—lalu Arga langsung berseru.
“Nah! Tuh kan! Mas udah bilang. Dia itu nggak serius sama kamu dari dulu.”
Fitri menggeleng-geleng. “Sayang banget, tapi ya sudahlah. Lebih baik begini.”
Bejo menghela napas panjang, lalu menyentuh tangan Selina. “Sel… sebenarnya… ada yang melamar kamu. Dia minta kamu jadi menantunya. Kalau kamu mau… Bapak…”
Selina menatap ayahnya yang tampak lebih lemah dari biasanya. Tanpa pikir panjang ia berkata, “Pak… kalau itu bisa bikin Bapak bahagia… siapapun pria itu, asal pilihan Bapak… aku mau.”
Sri terperanjat. “Kamu serius, Sel? Kamu bener-bener mau?”
Selina mengangguk pelan, tapi tegas. “Iya, Bu. Aku serius.”
Bejo tersenyum lega, hampir berkaca-kaca. “Dia pria yang baik. Sopan. Rajin. Bapak yakin kamu bakal suka.”
Selina hanya mengangguk, meski hatinya bergetar.
Ia baru saja patah hati… tapi ia sudah harus menyiapkan diri untuk sebuah pernikahan yang bahkan belum tahu siapa calon suaminya.