NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

          Alya terdiam, menatap Zaki dalam-dalam sambil pikirannya melayang. Darimana Zaki bisa tahu soal ini. 

          “Maksud lo apa, sih?” tanya Alya sambil tersenyum tipis, meski hatinya berdebar kencang karena rahasianya hampir terbongkar.

          “Lo nggak usah takut, jawab jujur aja… Lo udah nikah sama cowok yang nganterin lo tadi, kan?” kata Zaki lirih, tatapannya sendu.

          Alya diam memikirkan semuanya. Semakin lama ia menyimpan rahasia ini, semakin ia takut Zaki akan menaruh harapan besar padanya suatu saat nanti.

         “Betul, gue udah nikah sama dia.” ucap Alya lirih.

          “Kapan itu terjadi?” tanyanya lirih, matanya menatap penuh rasa penasaran.

          “Sekitar beberapa minggu lalu.” jawab Alya, suaranya tenang tapi hatinya berdebar karena dustanya.

          “Selamat… semoga lo bahagia.” ucap Zaki singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi, meninggalkan Alya dalam hening.

          “Gue minta maaf, Zaki.” sahut Alya lirih, menunduk sedikit.

          “Darimana dia bisa tahu lo udah nikah?” bisik Luna, matanya berbinar penasaran.

          “Gue nggak peduli, mending nggak usah dibahas.” sahut Alya singkat.

          “Kasihan juga sih dia, sejak pertama kuliah, hatinya udah kepincut sama lo.” sahut Luna gemas.

          “Gue salahnya di mana? Dia nggak ngomong ke gue dari awal, jadi wajar kalau gue nggak tahu.” sahut Alya dengan nada tegas.

          “Hmm… ya, iya deh.” sahut Luna pelan, sedikit mengalah.

          Sementara itu, di kantor, Romeo tenggelam dalam tumpukan pekerjaan. Tiba-tiba sebuah pesan masuk, dan seketika membuat amarahnya meledak.

          “Kenapa, Rom?” tanya Satria, matanya melihat perubahan raut wajah Romeo saat membaca pesan.

          “Tania, dia ternyata selingkuh.” sahutnya lirih, nada suaranya penuh amarah.

          “Darimana lo tau?” tanyanya, nada penuh selidik.

          “Gue dapat info dari mata-mata gue… dia selingkuh sama pria Inggris dan tinggal di Paris.” ujar Romeo, matanya menatap tajam.

          “Jadi, rencanamu selanjutnya apa?” tanyanya dengan tatapan tajam.

          “Tania harus tanggung akibat perbuatannya. Gue nggak bisa biarin dia berkhianat sama gue, apalagi udah jahat sama si kembar.” kata Romeo tegas, menahan amarah.

          “Romeo, gue mau jujur… beberapa hari lalu gue tau Tania selingkuh, dan sekarang dia di Paris.” ucap Satria lirih, menatap tajam.

          “Sat… kenapa baru sekarang lo bilang?” ucap Romeo, rahangnya kencang menahan emosi.

          “Gue nggak mau lo sampai ribut sama klan Jenaka. Lo tau kan, kekasih Tania itu salah satu anggotanya.” jelas Satria sambil menatap tajam.

          “Ini bikin kepala gue pecah,gue benci berurusan sama mereka, tapi gue juga nggak bisa ngelepas dendam ini begitu aja.” keluh Romeo.

          “Menurut gue, mending lo berhenti di sini,tania kabarnya mau menikah sama pria Inggris itu. Kalau dia udah punya suami, balas dendam bukan pilihan yang bijak. Dia bakal dilindungi penuh. Ingat, Rom, lo punya tanggungan. Anak dan istri lo.” ujar Satria serius.

          “Gue belum mau ambil langkah sekarang,tapi jangan salah, gue nggak lupa apa yang dia perbuat ke gue dan anak-anak. Untuk sementara, gue bakal diam. Biar dia ngerasa aman… sebelum semuanya berubah.” kata Romeo dingin.

          Di sisi lain, orang yang sedang dibicarakan Romeo kini ribut hebat dengan Akram, sang kekasihnya.

         “Sayang, aku harus pulang ke Indonesia harus bilang sama keluarga, kan? Kita harus minta restu mereka dulu, apalagi kamu yang bakal jadi pendamping hidupku.” rayu Tania lembut, menatap matanya penuh harap.

          “Aku nggak akan membiarkanmu pergi Tania,suruh orangtuamu saja yang datang ke sini. Aku menolak ke Indonesia. Pekerjaanku menumpuk di sini, dan pernikahan kita harus tetap jalan. Aku tak bisa membiarkan perusahaan terbengkalai karena urusan ini.” geram Akram, suaranya tegas.

          Tania termenung, hatinya dipenuhi kebingungan. Apa lagi yang harus ia lakukan agar bisa lepas dari cengkeraman Akram? Sebenarnya, hatinya sudah bulat ia ingin melarikan diri. Pikiran itu terus menghantui, terutama ketika ia menyadari tuntutan Akram dan keluarganya,pernikahan ini bukan sekadar ikatan cinta, tapi kewajiban untuk menghadirkan keturunan, dan harus seorang anak perempuan. Tania merasa beban itu terlalu berat untuk dipikulnya.

          Maklum saja, kondisi di Inggris memang unik. Banyak pasangan, termasuk istri-istri bangsawan, yang memilih tidak memiliki anak karena berbagai alasan. Populasi dan angka kelahiran bayi di sana begitu rendah, hingga negara itu kekurangan warga asli. Akram sendiri bukan sembarang orang ia termasuk keturunan bangsawan yang kelak wajib melahirkan penerus untuk memastikan garis ahli waris tetap berjalan. Kewajiban itu tak bisa ia abaikan, sekalipun hatinya pun terselip perasaan pribadi.

          Dua hal itu membuat Tania ragu untuk melanjutkan rencananya dengan Akram. Ia tak ingin membiarkan keinginannya memiliki anak mengubah tubuhnya, merusak apa yang sudah dimilikinya. Belum lagi, saat pertama kali menginjakkan kaki di Inggris untuk bertemu keluarga Akram, ia sudah ditegaskan ia diharapkan melahirkan keturunan bagi garis keluarga mereka. Tania menolak membiarkan semua itu terjadi.

          “Gimana caranya gue bisa kabur dari sini, ya Tuhan…?Gue nggak siap menghadapi semua itu mengandung, melahirkan, apalagi menyusui. Tidak, sama sekali nggak mau! Tubuh gue nggak boleh rusak karena semua ini.” gumam Tania di dalam hati, dadanya berdebar.

          “Ayolah, sayang… cuma sebentar kok, tiga hari saja,setelah itu, aku akan bawa orangtuaku ke sini, sesuai yang kamu mau. Tapi aku harus jemput mereka dulu, bertemu mereka sebentar. Lagipula, fans aku di Indonesia juga harus tahu kalau aku akan menikah sama kamu, sayang.” rayu Tania lembut, menatap mata Akram. 

          “Siapa yang memberimu hak bilang ke semua orang kalau kau akan menikah denganku, hmm?” desis Akram, matanya menatap Tania dengan tajam penuh amarah.

          “Apa maksudmu, sayang?” Tania menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. Matanya tak berani menatap langsung tatapan tajam Akram yang membuatnya gugup seketika.

          “Lupakan saja. Intinya, aku tak akan membiarkanmu pergi dari apartemen ini… bahkan dari negara ini… tanpa izin dariku. Ingat itu, Tania.” desis Akram, nadanya dingin dan penuh ancaman.

          Usai mengucapkan kata-katanya, Akram berbalik dan meninggalkan Tania seorang diri di kamarnya. Tania tetap terpaku, hatinya diliputi rasa cemas. Sebuah firasat buruk mulai merayap di benaknya sesuatu yang gelap dan menakutkan seakan menanti jika ia benar-benar menikah dengan Akram kelak.

          “Sial… bagaimana caranya gue bisa lepas dari pria ini?” gumam Tania, suaranya bergetar karena ketakutan.

          Tania menyesali keputusannya untuk kabur ke Paris, tapi apa daya. Uangnya hanya cukup untuk tiket penerbangan ke sana, sementara semua tabungannya telah habis untuk kesenangan belakangan ini. Satu-satunya harapannya tersisa pada kartu Romeo, namun sesampainya di Paris, ia menemukan kenyataan pahit kartu itu telah dinonaktifkan oleh Satria, tanpa sepengetahuan Tania.

          “Nggak ada jalan lain… harus gue lakukan ini biar bisa bebas dari Akram. Dia cuma mau nikah buat bikin gue jadi mesin pencetak anak, dan itu nggak akan pernah terjadi!Tunggu aja… Akram, lo bakal dapat balasannya.” gumam Tania, rahangnya menegang.

          Tanpa sepengetahuan Tania, Akram telah diam-diam menyelidiki kehidupan Tania di Indonesia. Ia mengetahui sesuatu yang membuat darahnya mendidih Tania ternyata sudah memiliki kekasih, seorang pengusaha sukses bernama Romeo. Fakta itu membuat Akram murka; baru sekarang ia menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah selingkuhan Tania.

          “Kamu nggak bisa kemana-mana  Tania,ku akan memastikan kamu melahirkan anak-anakku. Setelah itu terserah padamu mau memanfaatkan semua kekayaanku, aku tak akan peduli lagi.” desis Akram dengan nada dingin dan tenang.

          **********

          Hari ini, Romeo memang datang menjemput Alya di kampusnya. Kedatangannya yang tiba-tiba langsung menjadi pusat perhatian, membuat beberapa mahasiswi berbisik-bisik tak henti, penasaran dengan sosok pria yang begitu terkenal itu.

          "Eh, itu siapa ya?" tanya salah satu mahasiswi, matanya tak lepas dari sosok pria itu.

          "Ah, itu kan pengusaha terkenal itu, yang super kaya itu." celetuk seorang mahasiswi sambil menatap penuh takjub.

          "Sepertinya iya, ya tapi kenapa dia sampai datang ke kampus kita?" bisik seorang mahasiswi, penuh rasa penasaran.

          Sepanjang langkahnya di koridor kampus Alya, berbagai bisik dan komentar bisa terdengar jelas oleh Romeo. Namun, ia tetap berjalan tenang, menampilkan sikap acuh tak acuh seolah tak terganggu sedikit pun.

          "Permisi, kelas Alya Dewita ada di mana, ya?" tanya Romeo dengan suara tenang namun tegas pada seorang mahasiswa.

          "Alya? Dia ada di ruangan yang keempat dari sini." gumamnya sambil tersenyum tipis.

          "Terima kasih." ujar Romeo sambil menyelipkan beberapa lembar uang merah ke tangan pria yang baru saja memberinya petunjuk.

          "Gila, cuma kasih tau ruangan Alya, aku dapat delapan ratus ribu!" kekehnya sambil tertawa lepas, wajahnya penuh kegembiraan.

          Dengan langkah tenang dan wibawa yang memikat, Romeo membuat siapa pun yang melihatnya terpana. Akhirnya, ia sampai di pintu yang baru saja diberitahu kepadanya.

          "Alya Dewita." panggil Romeo dengan suara datar tapi tegas, wajahnya tetap memancarkan kesan angkuh yang sulit diabaikan.

          Mendengar namanya dipanggil, Alya pelan menoleh ke arah pintu, rasa penasaran dan sedikit waswas terlihat di matanya.

          "Tuan Romeo." bisik Alya pelan, suaranya bergetar malu.

          "Mari pulang bersamaku, sayang." ucap Romeo dengan nada lembut tapi penuh wibawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!