"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah saatnya
"Ada apa denganmu? Kenapa kau memukulku?"
Anjas menyeka darah segar yang keluar dari sudut bibirnya akibat pukulan dari Javier. Tangan kanannya masih bergetar, Anjas masih tidak percaya kalau pria yang biasanya selalu terkendali dan terlihat tenang itu bisa berubah menjadi buas.
"Benar, santai saja. Jangan marah seperti itu, Anjas hanya sedang bercanda."
Keeny berdiri di tengah mereka berdua, tangan kanannya memegang lengan Javier dengan lembut, mencoba mengembalikan situasi menjadi kembali kondusif. Mata Keeny menatap ke arah Anjas, lewat sorot mata itu Keeny meminta Anjas untuk diam agar kemarahan Javier tidak semakin menjadi.
Anjas mengangkat bahu, meskipun sakitnya masih terasa tajam. Dia tidak mau kalah dalam pertarungan mulut ini.
"Jangan-jangan rumor yang beredar selama ini tentang kau yang diam-diam mencintai Dokter Yasmin adalah benar? Kau lebih brengsek dari kami karena mencintai istri dari sahabatmu sendiri." Ucap Anjas dengan nada mengejek, matanya menatap tajam ke arah Javier.
Javier membelokan matanya ke arah pintu, bayangan Yasmin sudah tidak ada di sana. Pria itu bisa sedikit bernafas lega. Jangan sampai Yasmin tahu tentang perasaannya karena hal itu akan merusak persahabatan mereka. Javier sudah kehilangan Yasmin sebagai seorang wanita yang dicintainya, Ia tidak mau kehilangan Yasmin lagi sebagai seorang sahabat.
"Kenapa kau diam? Yang aku katakan benarkan?" Nada bicara Anjas seakan sedang menantang Javier.
Udara di sekitar mereka seolah berhenti sejenak. Javier mengangkat wajahnya, mata hitamnya memancarkan cahaya yang menakutkan.
"Seperti apapun perasaanku terhadap Yasmin, sama sekali bukan urusanmu! Jika kau berani berkata seperti itu lagi tentang Yasmin, aku akan merobek mulutmu sampai tidak bisa bicara lagi!"
Ucapan Javier terdengar tenang, namun penuh dengan tekanan yang membuat tulang belakang Anjas merinding. Anjas hanya bisa menelan salivanya dengan susah saat mendengar ancaman dokter berwajah dingin itu. Anjas tahu Javier bukan orang yang berbicara kosong, setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu ada artinya.
"Ada apa ini? kenapa kalian bertengkar?" tanya Jacob yang masih dalam keadaan mabuk, kepalanya bergoyang-goyang seperti tidak bisa menahan beratnya. Jacob baru saja terjaga setelah sempat tertidur sejenak.
Javier memalingkan pandangannya dari Anjas ke arah Jacob. Tanpa berkata apa-apa, Javier mengambil gelas berisikan air dingin yang ada di atas meja, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Jacob. Air dingin memantul ke segala arah, membuat Jacob terkejut dan langsung bangkit dari duduknya, kepalanya seolah menjadi lebih jernih.
"Jangan mabuk lagi, kau mengatakan hal menjijikan saat sedang mabuk!" kata Javier dengan nada yang datar, sebelum berbalik dan mengarah ke pintu keluar. Langkahnya mantap, tanpa memalingkan wajah lagi.
"Ada apa ini?" Tanya Jacob dengan wajah bingung.
"Entahlah." Keeny mengangkat bahu sebagai jawaban.
Anjas berdiri diam, melihat sosok Javier yang menghilang di balik pintu. Darah masih mengalir dari bibirnya, namun yang lebih menyakitkan adalah perasaan bersalah yang muncul di hatinya. Anjas tahu dia telah melanggar batas. Kata-katanya tentang dokter Yasmin memang sudah keterlaluan.
Keeny menggenggam bahu Anjas, matanya penuh dengan keresahan. Pesta ulang tahunnya hancur sudah.
"Seharusnya kau tidak berkata semua itu pada Javier, Anjas. Besok minta maaflah pada Javier." Keeny menyarankan.
"Dia yang sudah memukulku, kenapa aku yang harus minta maaf?" Anjas tidak terima.
***
Di luar club, Javier berjalan dengan cepat menelusuri jalanan yang sedikit gelap. Namun jejak Yasmin tidak bisa ia temukan di manapun.
"Maafkan aku Yasmin, tapi sudah saatnya kau tahu siapa Jacob sebenarnya." Gumam Javier. Ingatan Javier kembali tertuju pada malam di mana Ara memasuki ruang kerja Dokter Jacob dengan gerak-gerik yang tidak biasa. Dua jam lamanya Javier menunggu, tapi Ara tak kunjung keluar dari dalam sana. Javier langsung bisa menebak dengan apa lagi yang terjadi selanjutnya. Dan malam ini semua kecurigaan Javier terbukti benar.
Bersambung...