Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Wanita Yang Disiapkan Untuk Suamiku
Zahra pulang ke rumah menjelang sore dengan langkah pelan, seolah setiap inci lantai menyimpan kenangan pahit. .
Kepalanya masih penuh oleh kalimat-kalimat yang ia dengar siang tadi di kantor pengacara, tentang hak istri, tentang bukti, tentang kesabaran yang harus disertai kecerdikan..
Ia tidak menangis, bukan karena lukanya sudah sembuh, melainkan karena air matanya kini disimpan untuk waktu yang lebih tepat.
Begitu membuka pintu rumah, suara tawa terdengar dari ruang tamu, tawa perempuan. Lembut, dibuat-buat, dan terlalu akrab..
Langkah ku terhenti, aku melangkah perlahan dan berdiri di ambang pintu ruang tamu..
Di sana, ibu mertua ku duduk di sofa dengan wajah sumringah..
Di sebelahnya, Dini nampak sibuk menuangkan teh dan di kursi seberang… duduk seorang perempuan bergaun pastel, rambut panjang tergerai rapi, wajahnya cantik dengan senyum manis yang terasa menusuk.
Perempuan itu menoleh.
“Oh, ini pasti yang namanya Zahra ya?” katanya ramah...
"Perkenalkan aku Rena.” ucap nya sambil mengulurkan tangan sok akrab
Dunia Zahra seakan berhenti berputar, nama itu, nama yang semalam muncul di layar ponsel Mas Genta
Jantung ku berdegup kencang, tapi wajah ku tetap tenang, aku menarik napas panjang..
"Iya, saya Zahra” ucap ku tenang
"Aku teman kerjanya Mas Genta, aku juga sering dengar cerita tentang kamu loh.” ucap Rena lagi
"Cerita seperti apa?" Tanya ku sambil menjabat tangan nya sebentar.
"Oh iya,” Bu Ratna bersuara ceria,
“Rena ini baik sekali. Pintar, mandiri, dan perhatian. Ibu suka.” ucap ibu mertuaku mengalihkan pertanyaan ku
Kalimat itu tidak ditujukan untuk Rena, akan tetapi ditujukan untuk ku
Dini menimpali sambil tersenyum sinis, “Rena juga jago masak, Kak, beda sama sebagian orang yang masaknya cuma mie instan.”
Aku menatap mereka satu per satu..
"Kadang kebanyakan orang yang hanya masak mie instan saja seperti ucapan mu itu, tergantung bajet yang diberikan oleh suaminya, ya kan Mak?"
Di hadapan ku, sebuah sandiwara sedang dimainkan. Dan ia dipaksa menjadi penonton di rumahnya sendiri.
“Mas Genta di mana?” tanya ku akhirnya.
“Mas Genta sebentar lagi pulang, aku diajak ke sini sama Ibu, katanya pengin kenal lebih dekat.” jawab Rena ringan
Lebih dekat.
Aku tersenyum tipis..
“Silakan duduk, anggap saja rumah sendiri.”
Ucapan itu membuat Dini terdiam sejenak, Bu Ratna menyipitkan mata, seolah heran melihat aku yang tak meledak seperti biasanya..
Aku melangkah ke dapur, menyiapkan minuman tambahan, tangan ku sedikit gemetar, tapi pikiran ku jernih.
"Jadi ini rencana mereka, Rena kesini bukan karena kebetulan" batin ku
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka Mas Genta masuk dengan wajah terkejut saat melihat Rena di ruang tamu..
“Kamu sudah sampai Rena?” tanya Mas Genta terlalu cepat.
Rena tersenyum manis. .
“Iya Mas sudah dari tadi, Ibu mu baik banget undang aku ke sini.”
Tatapan Genta berpindah ke Zahra Ada keterkejutan, lalu kegelisahan yang cepat ia sembunyikan..
"Kamu gak bilang akan ada tamu,” katanya pada ku
Aku mengangkat bahu ringan..
“Aku juga baru tahu.”
Makan malam berlangsung canggung, Bu Ratna terus membandingkan...
Dini terus menyindir, Rena terus bersikap seolah ia sudah menjadi bagian keluarga.
"Rena itu anaknya cepat tanggap, kalau disuruh apa-apa langsung dikerjain.” ujar Bu Ratna sambil melirik kearah ku
“Iya, Bu, aku biasa mandiri.” sahut Rena manis
Aku mengunyah makanannya perlahan, setiap kata terasa seperti racun yang disengaja..
Mas Genta diam, tidak membela dan tidak menyangkal.
Dan di situlah Zahra benar-benar mengerti, pengkhianatan ini bukan sekadar soal perselingkuhan saja, Ini adalah konspirasi keluarga..
Setelah makan, aku membersihkan meja sendirian, Rena pamit tak lama kemudian, diantar Mas Genta sampai depan rumah.
Dari balik tirai, aku melihat mereka berbincang, terlalu dekat, terlalu lama.
Malam itu, Mas Genta masuk kamar tanpa bicara, aku sedang duduk di tepi ranjang, menunggu.
“Kita perlu bicara,” kata ku tenang.
“Tentang apa?” ucap Mas Genta menegang
“Rena.” ucap ku lagi
Hening.
Genta menghela napas..
“Dia cuma teman kerja.”
"Teman kerja yang namanya kamu simpan di ponsel dengan kata sayang" aku menatap lurus.
"Kamu ngintip HP aku?” wajah Mas Genta berubah
“Aku nggak perlu ngintip untuk tahu kamu berubah, aku istrimu, Mas" balas aku lirih
Genta berdiri..
“Kamu terlalu sensitif, Ibu cuma pengin yang terbaik buat aku dan dia juga menginginkan seorang cucu seperti aku yang sangat menginginkan keturunan" ucap Mas Genta
"Lalu aku apa? Aku ini apa di hidup kamu, Mas?” suara ku bergetar tapi mataku tajam
Mas Genta terdiam, diam yang menyakitkan.
“Sudah ku bilang, aku menginginkan seorang anak, kalau kamu belum bisa kasih aku keturunan,” akhirnya Genta berkata pelan..
“Maaf Zahra, aku juga harus mikir masa depan ku.” lanjutnya
Kalimat itu mematahkan sisa harapan ku yang tersisa, semuanya hancur berkeping-keping tidak ada sisa..
Aku tersenyum pahit..
“Jadi benar, kalian sudah menyiapkan pengganti ku.”
"Jangan lebay, Kamu tetap istriku, aku tidak akan menceritakan mu” jawab Genta dingin
"Tapi hatimu bukan lagi milikku Mas, aku cuma mau bilang satu hal, Mas.” ucap ku sambil bangkit berdiri
Mas Genta menatap ku..
“Aku mungkin perempuan yang sabar, tapi aku bukan perempuan bodoh Mas dan kesabaran ku ada batasnya Mas” ucap ku lagi
Aku melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Mas Genta dengan wajah gelisah..
Di balik pintu yang terkunci, aku menatap cermin, wajah ku pucat, mata ku sembab, tapi sorotnya berbeda, lebih tajam, lebih sadar.
"Bismillah, kalau kalian menyiapkan dia untuk menggantikan ku, maka aku akan menyiapkan diriku… untuk bangkit.” bisik ku
Di luar kamar, Bu Ratna dan Dini yang sedang menguping pertengkaran Zahra dan Genta, saling berbisik
"Lihat tuh Din, Mas mu Genta, bertengkar lagi dengan Zahra" ucap Bu Ratna
"Ya Mak, berarti rencana kita berjalan dengan baik" Dini menutup mulutnya sambil tertawa
"Emak berharap mereka secepatnya berpisah dan Mas mu menikah dengan Rena" ucap Bu Ratna bangga
"Dini yakin Mak, kak Zahra gak akan bertahan lama, hidup bersama Mas Genta, tinggal tunggu waktu saja Mak" jawab Dini
"Din, kita bicara disini, kamu yakin Zahra tidak mendengar obrolan kita?" Kata Bu Ratna
"Alah Mak, kalau dia dengar, itu malah jauh lebih baik" balas Dini
"Sudah yuk Din, sudah tidak ada suara lagi" ucap Bu Ratna
"palingan lagi menangis Mak, kan hanya itu yang kak Zahra bisa" ucap Dini sambil tertawa
Lalu Bu Ratna dan Dini pergi meninggalkan pintu kamar Genta
Zahra yang mendengar percakapan mereka hanya terdiam, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut, malah aku merasa siap untuk memberikan mereka pelajaran dengan caraku..