Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Situasi salah paham.
Flashback Bang Rico on..
Bang Rico menemui Kinan. Ada rasa bersalah yang begitu membuat perasaannya tertekan, tapi apapun itu.. Dirinya harus bisa menetralkan suasana karena dirinya adalah kepala keluarga.
"Dek..!!"
Kinan langsung beranjak dari posisinya. Rasa terkejutnya membuat perutnya seketika kram. Sejenak Bang Rico terdiam lalu kembali mendekat.
"Jangan pukul lagi, sakit..!!" Kata Kinan.
Langkah Bang Rico berhenti seketika, matanya penuh kesedihan dan rasa bersalah. Ia mengangkat tangan perlahan, menunjukkan bahwa tidak akan menyakitinya lagi. "Nggak akan, dek..!!" ucapnya dengan suara pelan dan bergetar. "Abang tidak akan pernah lagi menyentuhmu dengan kekerasan. Abang sungguh minta maaf atas semua yang Abang lakukan."
Ia berjongkok di depan Kinan, tidak berani mendekat yang terlalu dekat. "Apa perutmu sakit? Abang akan panggil dokter." Kata itu keluar spontan, menunjukkan kekhawatirannya yang tulus.
Kinan menunduk, tangan masih erat menyentuh perutnya. "Tidak usah." jawabnya lirih. "Hanya kram kecil. Kinan.. Kinan hanya takut Abang marah lagi."
Flashback Bang Rico off..
Pagi ini suasana sarapan menjadi sangat canggung. Bang Rico duduK menyantap sarapannya di meja makan, melihat Kinan yang sedang membersihkan meja dapur.
Satu minggu berlalu, komunikasi antara dirinya dan Kinan belum juga pulih. Masih sama, kaku dan tanpa suara.
Beberapa saat kemudian Kinan membawa beberapa sendok dan meletakan pada wadah di atas meja.
"Duduklah, Abang mau bicara. Nanti setelah apel pagi, Abang jemput. Sudah waktunya kita ke dokter kandungan." Kata Bang Rico membuka suara.
Kinan duduk tapi kemudian mengangkat kepala, mata merah karena menahan air mata. "Abang tidak perlu tanggung jawab karena hal yang tidak di sengaja."
Bang Rico terdiam sejenak, lalu menghembus nafas dalam. "Sengaja atau tidak, tetap saja itu anak Abang, anak kita berdua. Abang tidak hanya tanggung jawab, tapi Abang juga menyayanginya. Dan... Abang menyayangi kamu juga." Kata-kata itu keluar dengan susah payah, seperti berusaha melepaskan beban yang lama tertahan dalam dada.
Kinan terkejut, air mata akhirnya menetes. "Kenapa sekarang Abang baru bilang? Apa karena rasa bersalah sudah menghajar Kinan sampai lebam?"
"Ada hal yang begitu sulit untuk di ungkapkan, bahkan lewat kata." ucap Rico dengan suara bergetar. "Rasa takut kehilangan lagi setelah Rania tiada, takut kamu akan tersakiti karena........ Lebih daripada itu, Abang salah. Menjauhi dan menyakitimu bukan cara terbaik melindungimu." Bqng Rico berusaha menggapai tangan Kinan, sedikit lebih dekat, tangan terulur tapi sama sekali belum berani menyentuh. "Abang mengajukan pengajuan nikah bukan hanya karena anak. Abang mau hidup denganmu, menjaga kalian berdua."
Kinan kembali menunduk, memikirkan kata-kata Rico. "Kinan takut, Bang. Takut Abang akan kembali seperti kemarin."
"Abang akan buktikan, tidak akan menyakitimu lagi." jawab Rico dengan tegas. "Mulai dari hari ini, Abang akan lebih memperhatikanmu, mulai dari hal kecil sekalipun. Bolehkah Abang mencobanya?"
Kinan tidak menjawabnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaan dan membuat Bang Rico bingung.
'Dia menolak atau menerima?? Haruskah aku merayunya???'
...
Bang Rico duduk merokok usai apel pagi. Ia belum juga pulang. Dalam hatinya menjadi gelisah karena Kinan seakan tetap bersikap dingin padanya.
"Katanya mau ke dokter kandungan??? Kenapa masih disini??" Sapa Bang Rama.
"Saya bingung dengan sikap Kinan. Saya sudah mencoba minta maaf, tapi dia masih dingin seolah tidak peduli dengan usahaku untuk memperbaiki semua." Jawab Bang Rico.
"Ya kembali ke rencana awal, kamu rayu lah istrimu." Kata Bang Arben.
"Bagaimana caranya??" Bang Rico serasa frustasi karena harus belajar merayu.
"Merayu itu alamiah, merayu istri juga membuat istrimu senang. Kamu kangen, kan??"
"Nggak juga." Jawab Bang Rico menghindar.
"Ya sudah kalau begitu kau tidur di barak saja. Lagipula kamu juga tidak butuh istri." Sambar Bang Arben.
Bang Rico hanya melirik dalam diam namun siapa pun yang melihat pasti paham Letnan Intel tersebut sedang gelisah.
...
Dokter tersenyum melihat hasil USG kandungan Kinan.
"Alhamdulillah semua bagus, Ric. Bayinya tumbuh dengan baik. Vitaminnya di lanjut ya, makan yang banyak juga." Pesan Bang Yudha selaku dokter kandungan di rumah sakit tentara disana.
Bang Rico tersenyum mendengarnya. "Alhamdulillah. Apa sudah bisa di pastikan jenis kelaminnya?"
"Penasaran ya??" Goda Bang Yudha. "Pendekar ini, boss.. Tuh pedangnya mulai kelihatan."
Bang Rico terdiam namun matanya basah seolah membendung air mata. Tangannya ingin mengusap perut Kinan tapi ia mengurungkannya.
Kinan melirik Bang Rico. Hatinya terasa pedih.
'Ternyata Bang Rico memang tidak pernah bisa menerima Kinan. Bang Rico bahkan tidak senang Kinan mengandung anak laki-laki.'
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara