Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oma Mia
Saat suasana kantor hening hanya terdengar suara dari keyboard yang bersentuhan dengan jari-jari tangan. Getaran ponsel Maura mengalihkan perhatian semuanya. Tertera nama Oma Mia pada layar. Dengan penuh pertimbangan Maura pun membuka panggilannya.
"Halo."
"Halo, ini Lala kan?"
Terdengar suara perempuan yang di pastikan bukan Oma Mia. Maura pun mengernyitkan dahinya dan kembali melihat pada layar. Terdengar lagi suara dari seberang.
"Ah, iya. Ini siapa ya? Bukannya ini ponsel Oma Mia.?" Tanya Maura.
Mendengar nama Oma Mia di sebut Tasya terdiam menatap sahabatnya itu.
"Iya benar. Saya Diana menantu Oma Mia. Maaf saya mengganggu Lala bekerja. Oma sudah dua hari sakit. Selalu menolak makanan yang kami berikan. Beberapa waktu terakhir Oma selalu senang jika membicarakan tentang Lala. Jadi, saya berinisiatif untuk menghubungi Lala. Apakah Lala ada waktu untuk mengunjungi Oma?" Jelas Perempuan bernama Diana.
"Oh, baiklah. Kirimkan saja alamatnya Bu. Nanti sore saya ke sana. Terima kasih informasinya." Maura.
"Sama-sama dan sepertinya saya yang harus berterima kasih Lala. Baiklah, saya kirim alamatnya ya. Selamat siang Lala." Ucap Diana mengakhiri percakapan.
"Sama-sama. Selamat siang." Maura.
Dari tatapan wajah Tasya seolah menyiratkan ada apa. Maura pun mengucapkan kalimat tanpa mengeluarkan suaranya. Dan itu di mengerti Tasya. Tasya tak memperpanjang lagi pertanyaannya. Diri nya akan bertanya pada Maura selepas pulang kerja nanti.
Begitu jam kerja usai Maura segera membereskan meja nya dirinya akan menjenguk Oma Mia sebentar saja. Maura pun sudah mengirimkan pesan pada sang Ibu mengabarkan jika dirinya pulang terlambat dan akan menjenguk Oma Mia terlebih dahulu.
Ojeg yang di tumpangi Maura berhenti di depan pos Maura mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Kenapa berhenti Pak?" Maura.
"Maaf neng. Neng harus lapor dulu saya belum pernah masuk ke komplek ini." Ucap supir ojeg nya.
"Oh, sebentar Pak." Ucap Maura turun dari motor.
"Selamat sore, ada yang bisa di bantu neng?" Sapa satpam yang berjaga.
"Maaf Pak. Saya mau ke alamat ini, benar di sini?" Tunjuk Maura pada layar ponselnya.
"Oh, betul neng. Masuk saja lurus rumah paling ujung." Ucap Satpam menginformasikan.
"Terima kasih Pak."
Maura melanjutkan perjalanannya bersama ojeg online nya. Maura di buat takjub ternyata rumah di komplek tersebut tidak bisa di bilang biasa. Semua terlihat mewah. Dan perasaannya mulai gelisah perihal siapa Oma Mia sebenarnya. Maura begitu takut dan merasa tak berarti.
"Pak, ini rumah nya?" Tanya Maura pada supir ojeg.
"Sesuai dengan alamat yang neng kasih dan petunjuk dari satpam tadi neng." Jawab supir ojeg nya.
"Ya sudah terima kasih ya Pak. Saya bayar di aplikasi." Maura.
"Baik. Terima kasih Neng. Mari saya pamit duluan."
Ojeg online itu pun pergi. Saat Maura masih berdiri di depan gerbang tinggi itu sebuah mobil datang dan tak lama gerbang itu pun terbuka. Maura pun memilih untuk kembali pulang saja. Dirinya merasa tak pantas. Bayangan perlakuan keluarga Aska berkelibatan di ingatannya.
"Kamu sedang apa di sini?" Tanya seseorang dari dalam mobil dan Maura mengenal suara itu.
Maura menoleh dan betapa terkejut dirinya melihat bos nya berada di tempat yang sama dengannya.
"Hah... Eh, maaf Pak. Saya di minta ke alamat ini. Tapi, saya rasa mungkin salah." Ucap Maura terbata.
"Siapa yang meminta kamu?" Tanya Radit dingin.
Ya, orang tersebut adalah Radit yang merupakan cucu dari Oma Mia. Radit pun tak mengetahui jika Maura mengenal Oma Mia.
"Hah?"
"Siapa yang meminta kamu datang ke alamat ini?" Radit.
"Hah! Eh, i itu. Namanya Ibu Diana." Maura.
Radit mengernyitkan dahinya. Dalam benaknya bertanya untuk apa Mami nya meminta Maura datang dan dari mana Mami nya memiliki nomer ponsel Maura. Namun, dirinya hanya diam memperhatikan Maura.
"Masuk saja. Beliau ada di dalam." Titah Radit.
"Hah! Ah, iya Pak."
Mobil Radit pun berlalu dari hadapannya. Satpam meminta Maura masuk dan menunjuk pintu depan rumah mewah tersebut. Maura pun berjalan menuju pintu utama tersebut.
Lanjut....