NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Berjalan di bawah hujan deras

Berjalan di bawah hujan deras mungkin jauh lebih baik daripada harus tertangkap kembali oleh orang-orang suruhan ayahnya malam ini. Anindira segera berdiri dari kursi bus yang empuk dengan jantung yang berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan.

Ia menatap pintu darurat di bagian belakang bus yang nampak sedikit terbuka akibat guncangan saat bus berhenti mendadak tadi.

Pria berbadan tegap itu sudah mulai melangkah masuk ke dalam lorong bus sambil menyapu pandangan ke setiap wajah penumpang. Sorot matanya yang sangat dingin dan kejam membuat Anindira merasa seperti sedang dikejar oleh malaikat maut.

Tanpa menunggu sedetik pun lagi, ia meloncat keluar melalui pintu darurat tepat sebelum pria itu mencapai baris kursinya.

"Hei! Ada penumpang yang melompat keluar!" teriak sang kondektur bus dengan suara yang sangat parau.

Anindira mendarat di atas aspal yang sangat licin hingga lututnya terbentur keras dan mengeluarkan darah segar. Rasa sakit yang sangat tajam menjalar ke seluruh tubuhnya namun ia segera bangkit dan berlari menuju rimbunnya semak di pinggir jalan raya.

Air hujan yang sangat lebat seketika membasahi seluruh pakaian dan rambutnya hingga pandangannya menjadi sangat terbatas.

Ia bisa mendengar suara pintu bus yang dibanting keras diikuti oleh derap langkah kaki beberapa orang yang mengejarnya. Kegelapan hutan di pinggir jalan raya menjadi satu-satunya tempat persembunyian yang bisa ia jangkau dalam waktu singkat.

Kakinya yang tidak beralas sepatu terasa perih saat menginjak ranting-ranting pohon yang patah dan tajam.

"Cari dia sampai ketemu! Tuan besar tidak akan memaafkan kita jika dia sampai lolos lagi!" teriak salah satu pria pengejar itu.

Anindira terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun meski napasnya mulai terasa sangat sesak. Ia memeluk tas kecilnya di depan dada seolah benda itu adalah pelindung terakhir bagi nyawa dan calon bayinya.

Berkali-kali ia terperosok ke dalam lubang lumpur yang dalam namun ia selalu memaksa dirinya untuk kembali berdiri tegak.

Dinginnya air hujan mulai membuat tubuh Anindira menggigil hebat hingga giginya bergemeretak tidak terkendali. Ia merasa kekuatannya mulai terkuras habis dan kesadarannya perlahan-lahan mulai memudar seiring dengan rasa lelah yang luar biasa.

Di depan sana, ia melihat sebuah cahaya lampu yang sangat redup dari sebuah bangunan tua yang nampak terbengkalai.

"Aku harus sampai ke sana sebelum mereka menemukanku di tengah hutan ini," bisik Anindira dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Langkahnya semakin melambat saat ia mulai memasuki area bangunan yang ternyata adalah sebuah gudang tua milik pabrik yang sudah tutup. Ia masuk melalui celah dinding kayu yang sudah lapuk dan segera meringkuk di balik tumpukan karung goni yang berbau apek.

Ia mematikan detak jantungnya yang liar dengan cara menahan napas dalam-dalam saat mendengar suara langkah kaki di luar gudang.

Cahaya senter mulai menyusup masuk melalui celah-celah dinding kayu dan menyapu ruangan yang dipenuhi dengan debu tebal itu. Anindira menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara isak tangisnya tidak memecah kesunyian malam yang sangat mencekam tersebut.

Ia melihat bayangan pria besar berdiri tepat di depan celah dinding tempatnya bersembunyi sambil memegang sebuah parang panjang.

"Aku tahu kamu ada di sekitar sini, Nona manis, sebaiknya menyerah saja sebelum kami bertindak kasar," ancam pria itu dengan nada yang sangat menjijikkan.

Anindira memejamkan mata sambil terus berdoa di dalam hati agar Tuhan memberikan keajaiban untuk melindunginya malam ini. Ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakinya dan menyadari bahwa seekor ular sawah sedang melintas di dekat tempatnya meringkuk.

Ketakutan yang berlipat-lipat membuat tubuhnya membeku layaknya sebuah patung batu yang tidak bernyawa.

Pria di luar gudang itu meludah ke tanah lalu bergerak menjauh karena merasa tempat itu terlalu kotor dan menjijikkan untuk diperiksa lebih lanjut. Anindira baru berani mengembuskan napas setelah suara langkah kaki itu benar-benar menghilang di balik deru suara hujan yang belum juga reda.

Ia jatuh lemas di atas tumpukan karung goni dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang kotor.

Malam terasa sangat panjang dan menyiksa bagi wanita muda yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan kenyamanan istana ayahnya. Ia menatap telapak tangannya yang penuh dengan luka sayatan kecil akibat duri-duri hutan yang ia lewati tadi.

Di tengah keputusasaan yang sangat mendalam, ia merasakan sebuah tendangan kecil yang sangat halus dari dalam perutnya yang masih rata.

"Ibu akan melindungimu, Nak, kita akan pergi ke tempat yang sangat jauh dari jangkauan mereka semua," janji Anindira dengan penuh keteguhan hati.

Ia mulai merayap keluar dari gudang tua itu saat fajar mulai menampakkan semburat cahaya merah di balik gumpalan awan hitam. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan kaku seolah setiap sendinya telah berkarat karena kedinginan sepanjang malam.

Dengan langkah yang sangat gontai, ia kembali menuju arah jalan raya sambil berharap ada kendaraan yang mau memberikan tumpangan.

Anindira berdiri di pinggir jalan dengan pakaian yang compang-camping dan wajah yang sangat pucat pasi seperti mayat hidup. Sebuah mobil bak terbuka yang membawa tumpangan sayuran segar perlahan-lahan berhenti tepat di depannya dengan suara rem yang mencit.

Seorang pria tua dengan caping bambu menatapnya dengan raut wajah yang sangat terkejut sekaligus kasihan melihat kondisi Anindira.

"Nak, apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu berada di tempat sepi ini sendirian?" tanya pria tua itu dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan.

Anindira tidak mampu menjawab karena tenggorokannya terasa sangat kering dan lidahnya mendadak menjadi sangat kaku untuk bicara. Ia hanya mampu menunjuk ke arah kota seberang dengan jari-jarinya yang masih gemetar hebat karena sisa-sisa ketakutan semalam.

Pria tua itu turun dari mobil dan membantu Anindira naik ke kursi penumpang dengan sangat hati-hati layaknya memperlakukan barang pecah belah.

Mobil itu mulai bergerak membelah sisa-sisa kabut pagi yang masih menyelimuti jalanan pegunungan yang sangat berkelok-kelok tajam. Anindira menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin dan mulai memejamkan matanya yang sudah sangat berat karena mengantuk.

Pertolongan dari tangan tak terduga ini menjadi awal dari babak baru perjuangan hidupnya sebagai seorang pelarian yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!