Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Farhan sedikit kecewa dengan apa yang di katakan oleh ibu nya, dia berharap Mawar bisa tinggal bersama pak Amin dan bu Rosi. Dengan begitu Mawar akan mendapat kan kasih sayang yang utuh yang belum pernah dia dapat kan selama ini.
"Maaf pak bu, jika bapak dan ibu memang menginginkan salah satu anak perempuan saya untuk bapak dan ibu urus. Di sini ada Indah, dia anak perempuan saya yang bungsu!" Bu Munah menunjuk Indah yang saat ini berada di samping nya.
"Bu Munah, saya jatuh cinta pada Mawar sejak pertama kali saya bertemu dengan nya, saya cuma mau Mawar!" Bu Rosi menolak usul dari bu Munah.
Seketika wajah bu Munah dan Indah jadi masam, keinginan nya agar Indah bisa hidup enak seketika sirna mendengar penuturan dari bu Rosi.
"Apa sih kelebihan nya Mawar sampai mereka cuka mau Mawar saja, aku juga tidak kala sam Mawar!" Omel Indah di dalam hati.
"Maaf pak, bu. Semua keputusan ada di tangan ibu saya, saya tidak bisa memaksa nya!" Farhan ikut bersuara.
"Tidak papa Farhan, Mawar adalah anak yang pintar. Dia selalu juara sejak masuk SMP hingga sekarang!" Bu Rosi tersenyum sambil memuji Mawar.
Indah menjadi sangat kesal mendengar pujian yang di tujukan pada Mawar, rasa iri dan dengki seketika menyelimuti hati nya.
Sementara itu Mawar mendengar semua nya dari balik tirai pembatas ruang tengah, Mawar bisa melihat sorot kebencian di mata Indah untuk diri nya.
"Kalau begitu kamu pamit dulu, bu Munah Farhan! Ini sudah larut malam!" Pak Amin berkata sambil berdiri dan mereka bersalaman dengan bu Munah.
Sementara Farhan mencium kedua tangan guru nya itu dengan sopan.
Setelah pak Amin dan bu Rosi pergi dari rumah nya, seketika Indah mencak- mencak. Dia sangat kesal karena kedua nya menolak membawa diri nya dan cuma menginginkan Mawar.
"Bu, mereka kenapa sih? Kok cuma mau Mawar saja, padahal Indah kan sama - sama anak perempuan!" Dengus Indah dengan kesal.
"Lagian kan mereka gaya amat, main mau adopsi anak orang segala. Mereka pikir aku tidak mampu menghidupi anak - anak ku, mentang - mentang mereka kaya!" Bu Munah juga masih kesal dengan pasangan suami istri itu.
"Ibu kesal karena dia menolak membawa Indah kan, mereka cuma mau nya Mawar. Lagian kenapa ibu gak biarkan saja Mawar bersama pak Amin dan bu Rosi, dengan begitu Mawar akan mendapat kan kehidupan yang lebih baik di sana!" Farhan mengutarakan isi hati nya.
Bu Indah terdiam sejenak, memang benar apa yang di katakan oleh Farhan. Bu Munah tidak ingin Mawar mendapat kan sesuatu yang lebih baik dari Indah, dan satu hal lagi, bu Munah akan kehilangan orang yang bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga nya jika Mawar pergi.
Sementara itu, pak Amin dan bu Rosi pergi dari rumah bu Munah dengan perasaan kesal. Impian kedua nya untuk memilik Mawar sebagai putri mereka sirna seketika, penolakan bu Munah membuat nya kecewa.
"Padahal ibu sudah berharap banyak agar Mawar bisa ikut dengan kita pak, ternyata semua nya tidak sesuai harapan!" Bu Rosi berkata pada suami nya.
"Mungkin belum rejeki kita bu, udah lah semoga kita di anugerah kan sekarang anak perempuan suatu hari nanti!" Pak Amin mencoba menghibur istri nya.
Pak Amin dan bu Rosi tidak berniat untuk merebut Mawar dari orang tua nya, mereka juga tahu akan hal itu. Mereka berdua cuma mau Mawar tinggal di rumah mereka dan mereka akan membiayai semua keperluan Mawar dan keluarga nya. Termasuk membiayai Mawar hingga di perguruan tinggi.
Bu Rosi memang sangat menyukai Mawar sejak pertama kali bertemu, di tambah lagi sekarang Mawar juga kehilangan sosok ayah nya. Hati bu Rosi dan pak Amin tergerak untuk membantu gadis tersebut.
Di tempat yang berbeda, di rumah kediaman bu Munah.
"Pasti kamu sengaja kan meminta agar kedua guru mu itu membawa mu pergi dari rumah ini!" Bu Munah memarahi Mawar.
"Tidak bu!" Jawab Mawar sambil menggeleng kan kepala nya.
"Alah, jangan bohong kamu. Kamu sengaja melakukan semua itu agar bisa lepas dari rumah ini, kamu tidak mau ibu suruh mengerjakan semua pekerjaan rumah lagi kan, dasar anak durhaka kamu, aku yang membesar kan mu tapi setelah besar kau mau pergi begitu saja dari rumah ini!" Bu Munah memaki Mawar yang sejak tadi terus menunduk kan kepalanya.
"Mereka itu benar - benar menyebalkan, masa mau nya cuma Mawar aja. Coba kalau bisa di tukar, aku mau loh jadi anak angkat mereka!" Indah berkhayal seandainya dia yang menjadi putri angkat pak Amin dan bu Rosi tadi.
"Kamu memang anak yang tidak tahu terima kasih Mawar, berani - berani nya kau mau meninggal kan rumah ini. Ingat Mawar, tidak akan ku biar kan kau keluar dari rumah ini, kau tidak boleh kemana - mana sampai kapan pun!" Dengus bu Munah dengan wajah kesal nya.
Mawar segera berlalu dari hadapan ibu dan juga adik nya, dia sendiri tidak tahu jika guru nya menginginkan dia untuk menjadi anak angkat nya. Bu Munah dan Indah masih menyalahkan Mawar dan mengeluarkan kata - kata pedas yang melukai hati dan perasan Mawar.
Malam ini Farhan sendiri tidak bisa tidur, pikiran nya masih tentang Mawar yang ingin di adopsi oleh Pak Amin dan bu Rosi.
"Ibu dan Indah benar - benar keterlaluan, disini mereka memperlakukan Mawar dengan buruk. Tapi di saat ada yang menginginkan Mawar, mereka malah menahan nya. Harus nya jika mereka tidak bisa menyayangi Mawar maka biarkan sama Mawar hidup bersama orang lain!" Guman Farhan di tengah malam yang mulai larut.
Farhan tiba - tiba teringat dengan pesan dari sang ayah, almarhum pak Harto meminta Farhan untuk menjaga Mawar. Itu adalah pesan terakhir dari bapak nya.
"Pak, bapak yang tenang di sana. Farhan akan melaksanakan perintah bapak, Farhan janji pak. Farhan janji pada diri Farhan sendiri dan juga Allah, Farhan akan menjaga Mawar dengan baik. Farhan tidak akan pernah menikah dan meninggal kan Mawar jika Mawar belum bertemu dengan orang yang tepat yang bisa menjaga nya!" Bisik Farhan pada diri nya sendiri.
Farhan memang telah bertekad, bahwa dia tidak akan pernah menikah sebelum Mawar menikah dan memastikan bahwa dia bahagia dengan suami nya kelak. Masa kecil Mawar yang penuh dengan penderitaan telah membuat Farhan bersumpah untuk tidak akan pernah meninggal kan sang adik dalam keadaan apapun.
Amanat dari sang ayah tidak akan pernah dia ingkari, dia akan bekerja lebih keras lagi agar bisa mengantar kan Mawar pada impian nya.