NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Fantasi Wanita
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 RUANG KANTOR

Langit Jakarta tampak cerah pagi itu, namun di balik dinding kaca gedung tinggi milik perusahaan Abraham Group, pikiran Ammar Abraham sama sekali tak seterang cuaca di luar. Ia duduk di balik meja kerja besar dari kayu mahoni, tumpukan berkas menanti untuk ditandatangani, layar laptop menyala dengan grafik dan laporan keuangan yang tak pernah ada habisnya.

Sejak pagi, Ammar sengaja menjejalkan dirinya ke dalam pekerjaan.

Rapat berturut-turut. Telepon yang tak berhenti berdering. Email yang harus dibalas secepat mungkin. Ia memilih tenggelam dalam kesibukan itu, seolah angka-angka dan target bisa menenggelamkan bayangan yang terus muncul di kepalanya.

Bayangan semalam.

Wajah Sari yang pucat. Tatapan takut yang jelas terlihat di matanya. Dan tangannya sendiri yang sempat kehilangan kendali.

Ammar mengatupkan rahang, jemarinya mencengkeram pulpen lebih erat.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” gumamnya pelan, lebih seperti pembelaan untuk dirinya sendiri.

Namun hatinya tak sepenuhnya sepakat.

Ia tahu, meski berhenti sebelum segalanya melampaui batas, niat itu sempat ada. Dan kesadaran itulah yang membuat dadanya terasa berat.

Gengsi.

Itulah benteng terakhirnya. Mengakui bahwa ia hampir menodai Sari seorang gadis desa yang tak bersalah adalah hal yang tak sanggup ia terima. Ammar Abraham tidak pernah terbiasa kalah oleh perasaannya sendiri.

Pintu ruangannya diketuk pelan.

“Masuk,” ucap Ammar tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

Betran melangkah masuk dengan membawa map hitam. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, profesional, dan tak banyak bicara. Ia berdiri beberapa langkah dari meja, menunggu momen yang tepat untuk berbicara.

“Tuan,” ucap Betran akhirnya. “Nanti malam ada jamuan makan malam di restoran. Klien dari Singapura sudah mengonfirmasi kehadiran.”

Ammar mengangguk kecil, namun tidak langsung menjawab. Ia menandatangani satu berkas, lalu yang lain. Seolah ucapan Betran hanyalah suara latar.

Betran memperhatikan tuannya dengan saksama. Ia sudah bekerja bertahun-tahun bersama Ammar. Ia tahu betul, sikap seperti ini biasanya menandakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ammar.

Ammar akhirnya meletakkan pulpen. Ia mengangkat wajahnya, melirik Betran bukan untuk menanggapi soal jamuan makan malam.

“Betran,” ucapnya datar.

“Ya, Tuan?”

“Apa sudah ada kabar dari istriku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa rencana. Bahkan Ammar sendiri sedikit terkejut menyadari betapa cepat nama Sabrina kembali muncul di benaknya.

Betran terdiam sejenak, lalu menggeleng sopan.

“Belum, Tuan.”

Ammar menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursinya. Tatapannya kosong, menembus dinding kaca, seolah mencari sesuatu yang tak terlihat.

“Baik,” ujarnya singkat.

Betran tetap berdiri. “Apakah Tuan akan menghadiri jamuan makan malam itu?”

Ammar mengangguk pelan. “Saya datang. Siapkan semuanya.”

“Baik, Tuan.”

Namun Betran tidak langsung pergi. Ada keraguan kecil di wajahnya.

“Tuan…,” panggilnya hati-hati.

Ammar menoleh. “Ada apa?”

Betran ragu sejenak, lalu memilih kata-kata yang aman. “Saya hanya ingin memastikan… keadaan di rumah baik-baik saja.”

Ammar menatapnya tajam sejenak, lalu menurunkan pandangan. “Rumah baik-baik saja. Queen baik. Tidak ada masalah.”

Jawaban itu terdengar terlalu cepat. Terlalu defensif.

Betran mengangguk, tak berani bertanya lebih jauh.

“Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit.”

Setelah pintu tertutup, Ammar kembali sendirian.

Ia menatap layar laptop, namun huruf-huruf itu tak lagi bermakna. Pikirannya melayang ke rumah.

Ke Queen.

Ke Sari.

Ia teringat pagi tadi. Cara Sari menghindar. Tatapan yang tak lagi berani terangkat. Gerak tubuh yang selalu menjaga jarak.

Rasa bersalah kembali mencuat, menekan dadanya.

“Aku hanya sedang lelah,” gumamnya. “Itu saja.”

Namun alasan itu terdengar semakin rapuh.

Di sela-sela kesibukan, ponsel Ammar beberapa kali ia periksa. Tak ada pesan masuk. Tak ada panggilan dari luar negeri. Nama Sabrina tak muncul di layar.

Istrinya yang secara sah masih menjadi bagian hidupnya terasa semakin jauh.

Ammar teringat bagaimana Melinda, ibu mertuanya, selalu berbicara atas nama Sabrina. Bagaimana setiap kali ia mencoba mendekat, selalu ada dinding bernama karier yang menghalangi.

Ia mengepalkan tangan.

“Seharusnya aku sudah terbiasa,” gumamnya getir.

Namun ia belum pernah benar-benar terbiasa dengan kesepian.

Menjelang sore, Ammar menutup laptopnya. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar ruangannya. Dari lantai tinggi itu, kota tampak sibuk, hiruk-pikuk, penuh kehidupan.

Berbeda dengan rumahnya yang terlalu tenang.

Entah mengapa, wajah Queen muncul di benaknya. Suara kecil itu kembali terngiang.

“Semenjak ada Kak Sari, aku jadi nggak pernah kesepian lagi.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan pelan.

Ammar menutup mata.

Ia sadar, Sari telah mengisi ruang kosong yang selama ini ia biarkan terbuka. Dan itulah yang membuatnya takut. Takut kehilangan kendali. Takut melangkah terlalu jauh.

“Ini tidak boleh terjadi,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia membuka mata, mengambil jasnya, dan bersiap meninggalkan kantor untuk menghadiri jamuan makan malam. Wajahnya kembali dingin, sikapnya kembali tegas.

Ammar Abraham kembali menjadi pria yang dikenal dunia CEO yang rasional, suami dari seorang model ternama, ayah yang bertanggung jawab.

Namun jauh di dalam hatinya, ada konflik yang belum selesai.

Kesibukan mungkin bisa menunda ingatan.

Gengsi mungkin bisa menahan pengakuan.

Tapi rasa bersalah dan benih perasaan yang tak seharusnya tumbuh tak akan bisa dihapus hanya dengan kerja keras.

Dan Ammar tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya.

1
Reni Anjarwani
terlalu bodoh ammarrt
Felycia R. Fernandez
Makanya jadi laki laki itu yang tegas,bukan hanya nafsu doank.di ajak hiha hiho langsung melempem.gak ingat apa yang udah terjadi ma Sari.bukannya cepat2 dinikahi.
ollyooliver🍌🥒🍆
gak usah peduliin, nanti ammar malah kesenangan..merasa direbutkan dua wanita😒
Felycia R. Fernandez: setuju
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ibu SETAN!
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kamu kenap gak tegas sebagai kepala keluarga Ammar,masa istri durhaka begitu masih dipelihara..
Nurminah
wanita tidak tahu diri plus tidak bersyukur
Felycia R. Fernandez
ya sakit donk... karena Ammar juga sudah memperkosa mu
Apriana Suci
bagus ammer kamu harus tegas💪💪
Felycia R. Fernandez
firasat seorang ibu gak akan pernah salah 🥺
Felycia R. Fernandez
Harus...Ammar harus bisa bertanggung jawab...
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kasihan Sari🥹
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagus Ammar kamu harus tegas jadi laki² apalagi kamu kaya jangan mau disetir sama istrimu🥹
ollyooliver🍌🥒🍆
suaminya gak tegas pdhl kepala RT, pantas istri dan mertua semena" ..banyak mengalah, orng suaminya kek kue lapis.


lembek🙃
ollyooliver🍌🥒🍆
rumah tangga siapa yg punya? siapa.yg menjalani?...

kaulah ,...bodoh!
ollyooliver🍌🥒🍆
kerja keras apaan..lo dari jalur orng dlm njirrr😒
ollyooliver🍌🥒🍆
tdk sopan🙄
Sweetie blue
queen anak yang manis😍
Sweetie blue
Sari semangat💪
Felycia R. Fernandez
jiaaaah...
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...
Felycia R. Fernandez
😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!