Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pengkhianat atau Penyelamat?
Gema tembakan di Dek 4 masih berdenging di telinga Baskara. Air yang meluap dari pipa yang pecah kini sudah mencapai betis, menciptakan hambatan berat bagi setiap gerakan. Di ujung koridor yang remang-remang, Linda berdiri dengan posisi menembak yang sempurna. Matanya yang dingin memancarkan kebencian murni; baginya, Baskara bukan lagi putra dari atasannya, melainkan hama yang harus dimusnahkan.
"Kau seharusnya tetap berada di Singapura, Baskara," teriak Linda di sela deru air. "Kau punya segalanya—kekayaan, nama besar, masa depan. Tapi kau memilih untuk menggali kuburanmu sendiri demi gadis yang bahkan tidak tahu siapa dirinya."
Baskara menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya akibat serpihan besi. Ia menarik napas pendek, mencoba menstabilkan tangannya yang memegang Glock-19. "Dunia yang kau bangun bersama Sarah adalah istana pasir, Linda. Dan malam ini, air laut akan meruntuhkannya."
DOR! DOR!
Dua peluru kembali dilepaskan Linda. Baskara berguling di air, berlindung di balik tumpukan peti kemas logam. Ia tidak bisa bertahan di sini selamanya. Ia harus mencapai tangga tempat Alea menghilang. Namun, Linda adalah penembak jitu. Sedikit saja Baskara menunjukkan kepala, peluru akan menembus tengkoraknya.
Di lantai atas, di dalam pusat kendali yang mulai bergetar karena sabotase Reno, Sandi berdiri dalam dilema yang menyiksa. Di layar monitor di depannya, ia melihat melalui kamera termal bahwa Baskara terpojok. Di saat yang sama, Sarah sedang berdiri di dekat helipad, berteriak melalui radio agar Linda segera menyelesaikan eksekusi.
Sandi menatap jam tangannya. Sisa waktu dua menit sebelum sistem pembersihan gas halon benar-benar mengosongkan udara di lantai bawah.
"Sandi! Kenapa kau diam saja?" Suara Sarah menggelegar melalui interkom pusat kendali. "Aktifkan penguncian magnetik di tangga darurat! Jangan biarkan tikus itu naik ke atas!"
Jari Sandi melayang di atas keyboard. Jika ia mengunci pintu itu, Alea akan terjebak di ruang hampa udara antara dek, dan Baskara akan mati di tangan Linda. Namun, jika ia menolak perintah Sarah sekarang, ia akan langsung ditembak oleh pengawal pribadi Sarah yang berjaga di pintu ruang kendali.
‘Maafkan aku, Nyonya,’ batin Sandi.
Sandi tidak mengunci pintu. Sebaliknya, ia menyuntikkan perintah ilegal ke dalam sistem navigasi helikopter yang sedang dipanaskan di atas. Ia mengatur agar bahan bakar cadangan helikopter terkunci, membuat jangkauan terbangnya hanya terbatas beberapa mil saja—cukup untuk membuat Sarah merasa bisa melarikan diri, namun tidak cukup untuk mencapai daratan.
Itu adalah pengkhianatan yang tenang. Sebuah sabotase yang tak terlihat.
Sementara itu, Reno yang berada di dalam lift barang sisi timur berhasil mencapai lantai yang sejajar dengan ruang arsip rahasia. Dengan linggis di tangan, ia mencongkel pintu lift yang macet.
"Ayo, ayo, bergeraklah..." gumam Reno panik.
Begitu pintu terbuka, ia disambut oleh aroma kertas tua dan debu. Di sana, di dalam sebuah koper baja yang tertinggal dalam kepanikan, Reno menemukan apa yang ia cari. Dokumen asli dengan cap basah dari tahun 1990-an. Aset Tersembunyi—Keluarga Dirgantara.
Reno memeluk koper itu erat-erat. "Aku mendapatkannya, Bas! Aku mendapatkannya!" teriaknya ke radio. Namun, yang ia dengar hanyalah suara statis dan dentuman ledakan dari arah Dek 4.
"Reno! Keluar dari sana sekarang!" Suara Baskara terdengar pecah di radio. "Anjungan ini mulai tidak stabil! Bawa koper itu ke perahu karet! Aku akan menyusul bersama Alea!"
Reno menoleh ke arah jendela. Ia melihat api mulai menjalar di pilar-pilar penyangga. Anjungan Brankas 00 mulai miring beberapa derajat ke arah timur. Struktur ini tidak dirancang untuk menahan ledakan internal dan banjir sekaligus.
Kembali ke Dek 4, Baskara menyadari bahwa ia harus melakukan langkah nekat. Ia mengambil sebuah tabung pemadam api kecil yang menggantung di dekatnya. Sambil menghitung dalam hati, ia melemparkan tabung itu ke arah Linda.
"Sekarang!"
DOR!
Linda secara instinktif menembak tabung yang melayang itu. Ledakan bubuk kimia putih segera memenuhi koridor, menciptakan tabir asap yang pekat. Dalam hitungan detik, Baskara berlari menembus kabut putih itu. Ia tidak menembak untuk membunuh; ia hanya butuh waktu.
Saat kabut mulai menipis, Linda terbatuk-batuk, mencoba mencari targetnya. Namun Baskara sudah berada di depannya. Sebuah tendangan keras menghantam tangan Linda, membuat senjatanya terlempar ke air yang dalam.
Baskara mencengkeram kerah baju Linda, menatapnya dengan kemarahan yang dingin. "Katakan pada Sarah, aku akan datang untuk menjemput sisa-sisa nyawanya."
Baskara tidak menghabisi Linda. Ia meninggalkannya yang terduduk lemas karena sisa gas halon dan kelelahan. Baskara melompat ke tangga monyet, memanjat dengan kecepatan yang didorong oleh adrenalin murni.
Di puncak tangga, pintu baja menuju helipad terbuka. Alea berdiri di sana, menatap ngeri ke arah landasan helikopter. Sarah Mahardika berdiri di sana, dikelilingi oleh empat pengawal bersenjata. Helikopter sudah mulai mengangkat beban dari lantai, baling-balingnya menciptakan badai angin yang dahsyat.
"ALEA!" teriak Sarah, suaranya terdengar melengking mengatasi deru mesin. "Kemari kau, dasar anak tidak tahu diri! Kau pikir kau bisa menghancurkan apa yang kubangun selama puluhan tahun?!"
Alea berdiri tegak, meski rambutnya berantakan diterjang angin laut. Ia mengangkat tas berisi dokumen asli tinggi-tinggi. "Kau tidak membangun apa-apa, Sarah! Kau hanya mencuri! Kau mencuri orang tuaku, kau mencuri namaku, dan kau mencuri masa depanku!"
Sarah tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar sangat gila. "Dunia ini milik pemenang, Alea! Dan orang tuamu adalah pecundang! Mereka mati karena mereka terlalu lemah untuk memegang kekuasaan ini!"
Sarah memberi isyarat kepada pengawalnya untuk maju dan mengambil dokumen itu dari tangan Alea. Namun, tepat saat itu, pintu tangga darurat di belakang Alea terbanting terbuka.
Baskara muncul dengan wajah penuh luka dan pakaian yang basah kuyup. Ia langsung berdiri di depan Alea, menodongkan senjatanya ke arah Sarah.
"Berhenti di sana!" teriak Baskara.
Sarah tertegun. Ia menatap Baskara dengan tatapan tidak percaya. "Baskara... kau masih hidup?"
"Aku belum bisa mati sebelum melihatmu memakai baju tahanan, Sarah," balas Baskara dingin.
"Tembak mereka!" perintah Sarah kepada pengawalnya.
Namun, sebelum para pengawal itu bisa menarik pelatuk, sebuah ledakan besar kembali mengguncang anjungan. Kali ini berasal dari bawah kaki mereka. Pilar penyangga utama anjungan patah. Seluruh bangunan besi itu mulai miring secara drastis ke arah laut.
"Nyonya! Kita harus pergi sekarang! Anjungan ini akan runtuh!" teriak pilot helikopter.
Sarah menatap Baskara dan Alea dengan kebencian yang mendalam. Ia menyadari bahwa jika ia tetap di sana, ia akan tenggelam bersama rahasianya. Dengan geram, ia melompat masuk ke dalam helikopter yang mulai menjauh dari landasan yang miring.
"Nikmati sisa hidupmu di dasar laut, Baskara! Alea!" teriak Sarah saat helikopter itu terbang menjauh ke arah kegelapan malam.
Baskara menurunkan senjatanya. Ia menoleh ke arah Alea, yang tampak lemas melihat helikopter itu pergi. "Dia lolos, Bas... dia membawa segalanya..."
"Tidak, Alea," bisik Baskara sambil merangkul bahu gadis itu. "Dia tidak membawa apa-apa. Reno sudah mendapatkan dokumen aslinya, dan Sandi sudah menyabotase helikopter itu. Dia tidak akan sampai ke daratan."
Anjungan Brankas 00 kembali berderit keras. Lantai besi di bawah mereka mulai retak.
"Sekarang, kita harus keluar dari sini sebelum tempat ini menjadi makam kita," ujar Baskara.
Ia menatap ke bawah, ke arah laut yang mengamuk. Di kejauhan, ia melihat lampu kecil yang berkedip—perahu karet Reno. Hanya ada satu jalan keluar: melompat ke dalam kegelapan samudera dan berharap mereka bisa bertahan hidup sekali lagi.
"Percayalah padaku, Alea," ujar Baskara.
Alea menatap mata Baskara, lalu ia menggenggam tangan pria itu erat-erat. "Aku percaya."
Tanpa ragu, mereka berdua berlari menuju tepian anjungan yang mulai tenggelam dan melompat bersama ke dalam pelukan ombak laut utara yang dingin.