NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang ego

Langkah kaki Sophie bergema di koridor yang sepi menuju kamar mandi khusus staf. Begitu pintu tertutup, ia segera menguncinya dan bersandar di balik pintu, napasnya tersengal seolah-olah ia baru saja berlari maraton. Jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging.

Ia melangkah menuju wastafel marmer yang dingin. Di bawah pantulan lampu neon yang terang, Sophie melihat dirinya di cermin. Bibirnya sedikit bengkak, dan matanya merah karena amarah yang tertahan.

Dengan tangan gemetar, ia menyalakan keran air dingin sekuat mungkin.

Sophie meraup air dengan kedua tangannya, membasuh wajahnya berkali-kali. Air dingin itu menusuk kulitnya, namun ia tidak peduli. Ia menggosok bibirnya dengan punggung tangan, lalu menggunakan sabun pencuci tangan hingga berbusa, menggosoknya dengan kasar seolah-olah ia bisa menghapus jejak bibir Maximilian dari sana.

"Kenapa..." bisiknya parau, menatap pantulan air yang mengalir ke lubang wastafel. "Kenapa harus seperti ini?"

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, bercampur dengan air yang membasahi wajahnya. Sophie mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku jarinya memutih.

Ini bukan rencananya. Sejak awal, ia masuk ke Hoffmann Motors dengan satu misi suci: membersihkan nama ayahnya. Ia ingin menjadi asisten yang tak terlihat, bayangan yang mengumpulkan bukti-bukti korupsi dari brankas Max, lalu pergi menghilang selamanya. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk dihina, dimaki, bahkan dikerjakan seperti budak.

Tapi ia tidak menyiapkan hatinya untuk ini.

Ia membenci Maximilian Hoffmann. Ia membenci pria yang telah merenggut masa mudanya, yang membuat ayahnya tergeletak tak berdaya di apartemen kumuh. Bagaimana mungkin pria itu berani menyentuhnya? Bagaimana mungkin pria itu menghancurkan batas profesionalisme yang selama ini Sophie jaga dengan taruhan nyawanya?

"Aku tidak boleh lemah," Sophie berbisik pada dirinya sendiri, mencoba menghentikan getaran di bahunya. "Jika aku pergi sekarang, aku kalah. Aku tidak akan pernah mendapatkan bukti itu, dan ayah akan mati sebagai seorang kriminal."

Ia mengambil tisu, mengeringkan wajahnya dengan kasar. Noda anggur di gaunnya semalam mungkin bisa hilang, tapi rasa jijik pada dirinya sendiri karena sempat merasa "tergetar" sesaat saat ciuman itu tadi, adalah hal yang paling sulit ia maafkan.

Sophie berdiri tegak kembali. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan membetulkan letak blazernya. Ia tidak akan membiarkan Max menang. Jika pria itu ingin bermain dengan api, maka Sophie akan memastikan Max-lah yang akan terbakar habis.

...****************...

Ruang rapat utama Hoffmann Motors adalah sebuah auditorium kaca yang menghadap ke cakrawala Berlin. Di dalamnya, sepuluh dewan direksi dan investor dari Swiss telah duduk melingkar. Maximilian berada di kursi utama, duduk tegak dengan setelan jas hitam yang sempurna. Namun, berbeda dari biasanya, ia sama sekali tidak menyentuh dokumen di depannya. Matanya terkunci pada satu objek: Sophie Adler.

Sophie berdiri di depan layar proyektor besar. Tangannya memegang laser pointer, dan suaranya mengalun tenang saat menjelaskan grafik ekspansi pasar. Secara profesional, penampilannya tanpa cela. Namun, bagi siapa pun yang mengenal Sophie, ada kekakuan yang tidak biasa pada bahunya.

"Jika kita melihat proyeksi di kuartal ketiga," ujar Sophie, mengarahkan laser ke layar, "pengurangan biaya operasional akan menyeimbangkan risiko inflasi di Berlin."

Sepanjang presentasi, Sophie melakukan sesuatu yang sangat sulit: ia berbicara kepada semua orang di ruangan itu, kecuali Maximilian.

Setiap kali pandangannya harus melewati kursi utama, Sophie akan mengalihkan fokusnya ke investor di sisi kiri atau sekretaris di sisi kanan. Ia memperlakukan Max seolah-olah kursi itu kosong. Keberadaan Max yang dominan dan tatapannya yang intens sengaja ia hapus dari radarnya.

Di sisi lain, Max justru tidak berusaha menyembunyikan obsesinya. Ia tidak memedulikan grafik atau angka-angka yang dipresentasikan. Ia hanya memperhatikan bagaimana bibir Sophie bergerak saat berbicara—bibir yang beberapa jam lalu ia cium dengan paksa. Ia memperhatikan bagaimana jemari Sophie sedikit gemetar saat mengganti slide, sebuah tanda kecil bahwa wanita itu tidak sedingin yang ia tunjukkan.

"Nona Miller," suara Max memotong penjelasan Sophie. Suaranya rendah, bergema di ruang rapat yang sunyi.

Sophie berhenti bicara. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tetap menolak untuk menatap mata Max. Ia menatap ke arah kerah kemeja Max. "Ya, Tuan Hoffmann?"

"Bagian risiko yang Anda sebutkan... apakah itu termasuk risiko internal? Risiko di mana seseorang kehilangan kendali atas situasinya?" tanya Max. Pertanyaan itu memiliki makna ganda yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Para investor saling berpandangan, bingung dengan arah pertanyaan sang CEO.

Sophie terdiam sejenak. Ia tahu Max sedang memprovokasinya, mencoba menarik perhatiannya kembali ke dalam permainan emosional mereka.

"Risiko internal selalu ada, Tuan," jawab Sophie dengan suara yang sangat stabil. "Namun, seorang profesional sejati tahu kapan harus menekan risiko tersebut dan tetap fokus pada tujuan utama. Emosi tidak memiliki tempat dalam kalkulasi ini."

Jawaban itu seperti tamparan halus di wajah Max di depan publik. Sophie baru saja menyatakan bahwa ciuman tadi siang hanyalah sebuah "kesalahan teknis" yang sudah ia lupakan.

Rahang Max mengeras. Ia bersedekap, bersandar pada kursi kulitnya dengan tatapan yang semakin tajam. "Menarik. Lanjutkan, Nona Miller. Saya ingin lihat seberapa jauh Anda bisa menjaga 'fokus' Anda."

Sophie menarik napas pendek dan melanjutkan presentasinya. Meski ia berhasil menjaga suaranya tetap tegas, ia bisa merasakan punggungnya berkeringat. Tatapan Max terasa seperti api yang membakar kulitnya, mengingatkannya bahwa meski ia bisa mengabaikan mata pria itu, ia tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari bayang-bayang Maximilian Hoffmann.

...****************...

Satu per satu direktur dan investor meninggalkan ruangan, suara pintu berat yang tertutup menjadi tanda bahwa panggung sandiwara profesional telah usai. Kini, hanya tersisa suara denting jemari Sophie di atas papan ketik laptopnya. Ia duduk di ujung meja rapat yang panjang, mencoba meringkas notulensi dengan mata yang tertuju hanya pada layar monitor.

Maximilian tidak bergerak dari kursinya. Ia masih duduk di sana, di ujung meja yang lain, memutar-mutar pena Montblanc di antara jarinya sambil terus menatap Sophie. Tatapannya tidak lagi tajam, melainkan berat dan penuh dengan ketegangan yang belum tuntas.

Lima menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Sophie bisa merasakan tatapan itu seperti beban fisik di pundaknya. Akhirnya, ia berhenti mengetik. Tanpa mengangkat wajah sepenuhnya, Sophie menarik napas panjang.

"Tuan Hoffmann," ucap Sophie, suaranya tenang namun tegas. "Jika tidak ada lagi dokumen yang perlu saya tinjau, saya mohon Anda kembali fokus pada pekerjaan Anda. Tatapan Anda... cukup mengganggu konsentrasi saya untuk menyelesaikan laporan ini dengan akurat."

Max terdiam sejenak, lalu terdengar suara tawa kecil yang kering—tawa yang tidak sampai ke matanya. Ia meletakkan penanya ke meja dengan suara tok yang pelan.

"Tentang kejadian tadi siang," Max membuka suara, suaranya terdengar sengaja dibuat santai, hampir acuh tak acuh.

Sophie membeku, namun ia tetap tidak mendongak.

"Aku ingin kau tahu bahwa itu tidak berarti apa-apa," lanjut Max. Ia berdiri, merapikan jasnya yang sebenarnya sudah rapi. "Itu hanya sebuah dorongan impulsif. Tekanan kerja, adrenalin dari negosiasi... kadang membuat saraf seseorang sedikit kacau. Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Lupakan semuanya, dan kembalilah menjadi asisten yang efisien."

Sophie terdiam selama beberapa detik. Di dalam hatinya, ada rasa perih yang tiba-tiba menusuk, tapi ia segera menguburnya dalam-dalam di bawah lapisan es harga dirinya. Ia justru merasa lega, karena Max baru saja memberikan jalan keluar baginya untuk tetap profesional.

Sophie perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap langsung ke mata Max, memberikan senyuman tipis yang sangat sopan—senyum yang biasa ia berikan kepada orang asing di jalan.

"Tentu saja, Tuan Hoffmann," jawab Sophie dengan nada yang sangat ringan, seolah-olah Max baru saja membicarakan masalah cuaca. "Sejujurnya, saya pun sudah melupakannya sejak saya keluar dari kamar mandi tadi siang. Bagi saya, itu hanyalah sebuah kesalahan teknis yang tidak perlu dibahas lagi. Saya senang kita sepaham."

Max terpaku. Ia mengharapkan reaksi lain—mungkin amarah, atau wajah yang memerah karena malu. Namun, melihat betapa "mudahnya" Sophie mengiyakan dan membuang kejadian itu ke tempat sampah, membuat sesuatu di dalam dada Max terasa seperti dihantam benda tumpul.

Ia yang tadi siang sangat membenci dirinya karena mencium Sophie, kini jauh lebih membenci dirinya karena ternyata ciuman itu sama sekali tidak membekas di hati wanita itu.

"Baguslah kalau begitu," sahut Max pendek, suaranya tiba-tiba menjadi lebih serak.

Ia segera memutar tubuhnya dan berjalan keluar ruang rapat dengan langkah lebar, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari sesuatu. Max tidak menyadari bahwa meski ia yang memegang kendali atas kata-kata "lupakan itu," Sophie-lah yang baru saja memenangkan pertempuran ego malam ini.

Begitu pintu tertutup dan Max menghilang, Sophie kembali menatap layarnya. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia tidak bisa melanjutkan mengetik. Ia baru saja berbohong. Dan ia tahu, Max juga baru saja melakukan hal yang sama.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!